seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keadaan untuk ayah
Keesokan harinya,Matahari baru naik setengah tiang, tapi Alun-alun Kerajaan Sanata sudah dipenuhi lautan manusia. Puluhan ribu rakyat berdesakan, bahu dibahu. Para pedagang, petani, prajurit pensiunan, bahkan pengemis pun datang. Kabar menyebar seperti api: Kaisar akan mengumumkan sesuatu yang mengguncang kerajaan.
Di atas panggung batu putih, singgasana Kaisar Sanata Ardian berdiri megah. Kaisar duduk di sana. Jubah kuning keemasannya tampak kusut. Wajahnya pucat, matanya cekung hitam karena semalaman tidak tidur. Tangannya menggenggam segel giok erat-erat, seolah takut segel itu melayang sendiri.
Di barisan depan, para pejabat tinggi kerajaan berjejer. Perdana Menteri, kakek Hana, berdiri paling depan. Wajahnya pucat pasi. Dahinya berkeringat meski udara pagi masih dingin. Ia terus mengusap janggut putihnya gugup.
"ada apa dengan mu perdana menteri? kenapa kamu terlihat ketakutan pagi ini ? bukankah Hana adalah cucumu dari mantan menantu mu bisa ? bisik seorang menteri muda di sampingnya.
"Entahlah," jawab Perdana Menteri pelan. Suaranya bergetar. "Aku... aku memperlakukan cucuku sendiri seperti budak selama ini. Memberinya pekerjaan kasar, memukulinya jika salah. Padahal dia darah dagingku."
" apa ? kamu sungguh keterlaluan,tapi bukankah dulu Hana itu gadis penakut ? Yang hanya bisa menangis di dapur?"tanya nya lagi,saat dia sering berkunjung kerumahnya perdana menteri,dia jelas melihat Hana hanya bisa menangis dan penakut.
Perdana Menteri menutup matanya. "Itu dulu. tapi Sekarang Gadis itu kemarin malam membantai tiga ratus prajurit elit tanpa berkedip... dia sudah bukan Hana yang aku kenal."jawab perdana menteri dengan suara bergetar.
mendengar itu menteri muda terdiam,dia sangat yakin Hana pasti tidak akan melepaskan pria tua yang ada disamping nya ini Fikirnya.
Di tengah kerumunan, rakyat juga bergosip tanpa henti. Suaranya seperti lebah.
"Kalian dengar belum? Katanya seluruh pasukan elit tewas semalam di kediaman wanita bernama Hana!"
"Tiga ratus prajurit! Tanpa sisa! Leher mereka putus semua! aku tentu mendengar kabar itu "
"Siapa wanita itu? Kok bisa sekuat itu?"
"Katanya dia putri Bima, tawanan yang ada di perbatasan. wanita itu Bukan manusia, tapi iblis!"
"Shhh, jangan keras-keras. Kalau Kaisar dengar kita bisa dipenggal."
Para prajurit pengawal istana menelan ludah. Tombak mereka gemetar. Mereka masih ingat kabar mayat rekan-rekannya tergeletak seperti daun kering semalam.
Tiba-tiba, kerumunan di gerbang timur terbelah.
Langkah kaki beradu dengan batu.
drappppppp... drappppp
Semua orang menoleh.
disana mereka melihat Hana Muncul. dia mengenakan jubah hitam sederhana, ujungnya kotor tanah dan darah kering. Rambutnya digerai, tapi tidak acak-acakan. Di punggungnya, ia menggendong seorang pria paruh baya kurus. Tubuh pria itu lemah, tapi wajahnya teduh. Itu Bima, ayahnya.
Hana melangkah tanpa ragu. Punggungnya tegak. Tatapannya lurus ke depan. Seolah puluhan ribu mata yang menatapnya tidak ada artinya.
Di belakang Hana, lima pengawal setianya berjalan berbaris. Jay, Leo, Jek, Logan, dan Dex. Wajah mereka tegas, dada mereka bangga. Mereka baru saja menyaksikan nona mereka menghancurkan ratusan prajurit semalam. Kini mereka berjalan di belakang wanita yang mereka anggap sebagai majikan terhebat di dunia.
"Lihat itu, Jay," bisik Logan pelan. "Nona Hana... dia tidak gemetar sama sekali."
"Dia bukan manusia biasa, Logan," jawab Jay dengan mata berbinar kagum. "Dia ratu kita. Ratu kegelapan yang sesungguhnya."
Dex mengepalkan tinjunya. "Aku bersumpah akan mati untuknya jika perlu. Majikan seperti dia tidak akan kita temukan lagi."
Hana berhenti tepat di bawah panggung. Ia menurunkan Bima perlahan dan mendudukkannya di kursi kayu yang sudah disiapkan pengawal Kaisar. Kursi itu empuk, dilapisi beludru merah. Bima menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Hana... anakku..."
"Ayah, duduklah di sini," Hana tersenyum lembut. "Hari ini dunia akan mendengar kebenaran. Tidak ada yang berani menyentuh Ayah lagi."
Bima menggenggam tangan Hana. Tangan kasar penuh kapalan itu bergetar. "Ayah tidak pantas..."
"Shhh," Hana menempelkan jari di bibir ayahnya tapi hanya beberapa jarak . "Ayah pantas. Pantas mendapat segalanya."
sedangkan Perdana Menteri terbelalak dari kejauhan. Lututnya lemas. "Bima... benar-benar selamat. Hana benar-benar membawanya kembali. Ya dewa, gadis yang dulu kuanggap bodoh dan penakut... sekarang membuat Kaisar pun takut padanya."
Kaisar berdiri dari singgasananya. Seluruh Alun-alun langsung hening. Hanya suara angin yang berdesir.
Kaisar Sanata Ardian mengangkat segel giok tinggi-tinggi. Suaranya serak, tapi lantang.
"Rakyat Kerajaan Sanata, dengarkanlah!"
Hening.
"Delapan belas tahun yang lalu, seorang lelaki bernama Bima dituduh mencuri obat milik Ibu Suri. Ia dijatuhi hukuman kerja paksa di perbatasan. Hari ini, setelah menyelidiki kembali, Aku, Kaisar Sanata Ardian, menyatakan: Bima tidak bersalah. Tuduhan itu adalah fitnah."
_Deggg!_
Kerumunan langsung bergemuruh. Rakyat saling dorong, berbisik kencang.
"Apa? Bima tidak bersalah?"
"Berarti Ibu Suri yang memfitnah?"
"Kaisar sendiri yang bilang!"
Para pejabat saling pandang. Keringat dingin membasahi pelipis mereka. Tidak ada yang berani protes.
Kaisar melanjutkan, suaranya makin rendah. "Bukan hanya itu. Aku juga memutuskan, Ibu Suri akan diasingkan ke Kuil Gunung Salju. Mulai hari ini, beliau tidak lagi menjabat sebagai Ibu Suri. Segala hak dan mahkotanya dicabut."
Alun-alun meledak. Teriakan, gasp, bisikan, semua bercampur jadi satu.
"Di... diasingkan? Ibu Suri?"
"Kaisar mengusir ibunya sendiri?"
"Wanita bernama Hana itu... dia berhasil!"
Di sisi panggung, kereta kayu hitam ditarik empat kuda hitam mendekat. Pintunya terbuka paksa.
Muncul Ibu Suri. Rambutnya awut-awutan, mahkota emasnya miring. Wajahnya merah padam karena marah. Dua pengawal Kaisar menyeret lengannya keras.
"Lepaskan aku! Beraninya kalian!" teriak Ibu Suri, suaranya melengking memecah udara. "Aku ini Ibu Suri! Ibu kandung Kaisar! Beraninya kalian memperlakukan aku seperti penjahat!"
Ia meronta, kuku-kukunya mencakar udara.
"Kaisar! Anak durhaka! Kau akan menyesal! Kutuk aku jika perlu, tapi kau tidak akan pernah damai!"
Kaisar tidak menoleh. Matanya tetap lurus ke depan.
Ibu Suri melihat Hana. Matanya menyala penuh kebencian. "Kau! Wanita iblis! Ini semua karena kau! Kau merasuki anakku! Kau menghancurkan keluargaku! Aku akan mengutukmu sampai tujuh turunan!"
Hana tidak menjawab. Ia hanya menatap Ibu Suri dingin. Mata merahnya menyala sekilas, lalu kembali hitam. Senyum tipis muncul di bibirnya.
Dua pengawal mendorong Ibu Suri masuk ke dalam kereta. Ibu Suri masih berteriak, memaki, menendang pintu kereta dari dalam.
"Turunkan aku! Aku Ibu Suri! Aku... akuuu!"
_Braak!_
Pintu kereta ditutup. Kunci digembok dari luar.
Kereta melaju perlahan meninggalkan Alun-alun, menuju Gunung Salju yang puncaknya diselimuti salju abadi. Teriakan Ibu Suri masih terdengar samar: "Kaisar! Anak durhaka!"
Rakyat terdiam. Tidak ada yang berani bersorak. Mereka baru saja menyaksikan Ibu Suri, wanita paling berkuasa selama 30 tahun, diusir seperti penjahat biasa. Dan pelakunya adalah seorang gadis berusia 20 tahun.
Kaisar menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah Hana dan Bima. Untuk pertama kalinya, senyum lembut muncul di wajahnya yang pucat.
"Bima," panggil Kaisar. "Majulah."
Bima terkejut. Ia menatap Hana bingung. Hana hanya mengangguk, mendorong bahu ayahnya pelan.
Bima berjalan tertatih ke atas panggung. Lututnya masih lemah karena 18 tahun kerja paksa.
Kaisar menatapnya lekat, lalu berkata dengan suara yang didengar seluruh kerajaan: "Mulai hari ini, Bima diangkat menjadi Pejabat Tingkat Dua Kerajaan Sanata. Ia akan duduk di Dewan Penasihat Kerajaan, sejajar dengan para menteri."
_Wuuuusss..._
Sekali lagi Alun-alun heboh. Para pejabat terbelalak. Menteri Keuangan sampai menjatuhkan gulungan kertasnya.
"Pejabat Tingkat Dua? Orang buangan?"
"Dia kan mantan tawanan!"
"Kaisar gila apa?"
Tapi tidak ada yang berani bicara keras. Semua masih ingat mayat tiga ratus prajurit semalam.
Bima terpaku. Ia menatap Hana dari atas panggung. Matanya basah. "Hana... Ayah... Ayah tidak pantas..."
Hana tersenyum dari bawah. Senyum tulus pertamanya sejak 18 tahun lalu. "Ayah pantas, Ayah. Ayah pantas mendapat penghormatan yang Ayah kehilangan 18 tahun lalu."
Bima menunduk, air matanya jatuh. Ia berlutut dan mencium punggung tangan putrinya. "Ayah bangga padamu, anakku. Bangga sekali."
Di barisan pejabat, Perdana Menteri menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia bergumam dalam hati, suaranya hanya ia yang dengar: "Kamu sendiri yang membuat ini, Kakek tua bodoh. Kamu memperlakukan cucumu seperti budak... dan sekarang dia berdiri di atas semua orang. Termasuk kamu."
Jay, Leo, Jek, Logan, dan Dex berdiri di belakang Hana. Dada mereka membusung. Mata mereka berkaca.
"dengar itu, Leo? Nona kita mengangkat Ayahnya jadi pejabat tinggi," bisik Jek.
"Siapa lagi majikan yang bisa begitu? Hanya Nona Hana," jawab Leo bangga.
Dex menepuk bahu Logan. "Mulai sekarang, siapa pun yang menyentuh keluarga Nona, harus melewati mayat kita dulu."
Hana menatap ke arah kerumunan. Rakyat yang tadinya bergosip kini menunduk hormat. Tidak ada lagi yang menyebutnya "wanita iblis". Yang ada hanya rasa takut... dan kagum.
Kaisar menepuk bahu Bima. "Selamat datang kembali, Bima. Kerajaan ini berhutang banyak padamu."
Acara selesai. Genta kerajaan dibunyikan tiga kali. Tanda pengumuman resmi telah sah.
Perlahan rakyat bubar. Tapi bisik-bisik mereka tidak berhenti.
"Kalian dengar? Bima jadi pejabat tinggi!"
"Wanita bernama Hana itu... dia yang bikin Kaisar nurut."
"Kerajaan tetangga pasti akan dengar kabar ini. Sanata sekarang punya ratu baru."
Berita itu menyebar seperti wabah. Ke Kerajaan Barat, ke Kerajaan Timur, ke wilayah para bangsawan. Dalam tiga hari, semua penguasa tahu: ada seorang gadis bernama Hana yang membuat Kaisar Sanata Ardian berlutut dan mengusir ibunya sendiri dan mereka sangat penasaran dengan sosok itu.
Hana memeluk Bima erat. "Selesai, Ayah. Satu dendam telah lunas."
Bima mengusap rambut putrinya. "Terima kasih, anakku. Tapi Ayah tidak ingin kau menjadi iblis karena Ayah."
Hana menggeleng. Matanya menatap jauh ke arah kediaman Bupati di ujung kota. "Aku bukan iblis, Ayah. Aku hanya anak yang menuntut keadilan."
Ia berbalik. Lima pengawalnya langsung membentuk barisan di belakangnya.
"Selanjutnya," bisik Hana pelan, hanya cukup pengawalnya yang dengar. "Ajeng."
Angin berhembus kencang. Jubah Hana berkibar. Di kejauhan, awan gelap mulai mengumpul di atas kediaman Bupati.
Besok, giliran ibu kandungnya.