NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desas-Desus dan Duri di Dalam Daging

Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah-celah gorden tipis di paviliun belakang, tempat kamar para pelayan berada. Kirana terbangun dengan kebugaran yang selalu terjaga.

Di pergelangan tangan kanannya, bekas cengkeraman Adrian semalam masih meninggalkan rona merah samar. Bukannya merasa ngeri, Kirana justru menatap bekas itu sambil tersenyum kecil di depan cermin saat menyisir rambut hitamnya yang panjang.

"Setidaknya, dia tahu kalau aku nyata, bukan sekadar bayangan pelayan yang lewat," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin.

Setelah memastikan seragam apronnya terpasang sempurna tanpa cela, Kirana melangkah keluar. Namun baru saja ia menginjakkan kaki di selasar yang menghubungkan paviliun dengan rumah utama, telinganya yang tajam menangkap suara bisik-bisik dari balik ruang binatu.

"Aku bertaruh dia tidak akan bertahan sampai akhir bulan ini," suara Mawar terdengar sinis, memimpin obrolan pagi itu di antara dua pelayan magang lainnya. "Kalian lihat sendiri kan bagaimana Tuan Muda menyeret seseorang ke ruang bawah tanah kemarin sore? Dan si Kirana itu... dia dengan lancang naik ke lantai tiga malam-malam mengantarkan kopi yang tidak diminta. Dia pikir dia siapa? Menjual tampang cantiknya untuk menggoda Tuan Muda? Menjijikkan sekali."

"Tapi Mawar, kudengar dari Ibu Maya, Tuan Muda menghabiskan kopi buatan Kirana semalam," sahut Sinta dengan suara pelan, mencoba membela teman sekamarnya. "Biasanya kalau Tuan Muda marah, pelayan yang masuk tanpa izin pasti langsung dipecat hari itu juga."

"Itu hanya keberuntungan sepele!" ketus Mawar, wajahnya berkerut kesal karena pembelaan Sinta. "Liat saja nanti. Tuan Muda Adrian itu bukan pria sembarangan yang bisa ditekuk oleh senyuman pelayan murahan. Sekali dia membuat kesalahan kecil, habislah riwayatnya."

Kirana yang berdiri di balik pilar tidak merasa sakit hati sedikit pun. Alih-alih melabrak dengan amarah yang meledak-ledak, kecerdasannya menuntunnya untuk masuk dengan gaya yang jauh lebih elegan. Ia melangkah maju dengan ketukan sepatu yang disengaja, membuat ketiga gadis di dalam ruang binatu itu tersentak kaget dan langsung membungkam mulut mereka.

"Wah, pagi-pagi begini sepertinya topik pembicaraannya seru sekali ya?" Kirana masuk sambil membawa keranjang anyaman kosong, wajahnya menampilkan senyuman riang yang sangat cerah tanpa beban.

Mawar memalingkan muka dengan angkuh, sementara Sinta tampak salah tingkah.

Kirana berjalan mendekati Mawar, menatap langsung ke dalam mata gadis yang penuh kedengkian itu. dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh penekanan, Kirana meletakkan keranjangnya di atas meja setrika.

"Mawar, daripada kamu membuang energimu yang berharga untuk memikirkan berapa lama aku akan bertahan di sini, bagaimana kalau kamu membantuku memastikan handuk-handuk sutra untuk lantai tiga ini wangi? Kasihan Tuan Muda kalau harus mencium bau detergen murahan yang tertinggal akibat pekerjanya terlalu sibuk bergosip."

"Kamu—!" Mawar menunjuk wajah Kirana dengan jari gemetar, wajahnya memerah padam karena malu dan kesal.

"Sudah, sudah! Apa yang kalian lakukan di sini pagi-pagi?!" suara bariton yang tegas memotong perdebatan itu.

Hendra, kepala pengawal pribadi Adrian yang bertubuh tegap dengan luka segaris di pipi kirinya, melangkah masuk ke ruang binatu. Kehadirannya yang membawa aura militer langsung membuat atmosfer ruangan menjadi sangat tegang. Mawar dan pelayan lainnya segera menundukkan kepala dalam-dalam.

Namun, Kirana tetap tegak. Ia mengangguk hormat pada Hendra dengan senyum ramah yang profesional. "Selamat pagi, Pak Hendra. Kami hanya sedang memastikan persiapan harian untuk lantai tiga berjalan lancar."

Hendra menatap Kirana dengan pandangan menyelidik. Sebagai orang kepercayaan terdekat Adrian yang mengurusi keamanan, ia tahu betul apa yang terjadi semalam di ruang kerja Tuan Mudanya. Ia tahu bahwa gadis ini adalah satu-satunya orang yang tidak gemetar saat Adrian meletupkan amarahnya.

"Kirana, ikut saya ke ruang depan sekarang. Ibu Maya mencarimu," ujar Hendra pendek tanpa ekspresi.

"Baik, Pak." Kirana memberikan keranjang pada Sinta dengan kedipan mata yang menenangkan, lalu berjalan mengekor di belakang langkah besar Hendra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!