NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INTUISI SEORANG SAHABAT

Sinar matahari pagi menyinari koridor Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang mulai ramai oleh hilir mudik mahasiswa. Queen melangkah melewati gerbang utama dengan gaya santai andalannya, mengenakan kemeja rajut oversized berwarna krem yang dipadukan dengan celana jins kulot denim. Tas ransel kecil tersampir malas di bahu kanannya.

Namun, ada satu hal yang berbeda dari penampilannya pagi ini. Langkah kaki Queen tampak tidak selincah biasanya. Setiap beberapa langkah, ia akan sedikit menahan bobot tubuhnya, membuat ritme jalannya terlihat agak lambat dan sedikit mengangkang efek dari pertempuran panas dan pengobatan salep di apartemennya kemarin yang belum pulih seutuhnya.

"Queen! Woi, Cegil! Sini!"

Sebuah teriakan melengking dari arah koridor tengah membuat Queen menoleh. Di dekat mading besar, tampak Karin dan Alya sedang berdiri melambaikan tangan ke arahnya. Queen menyunggingkan senyum manis khasnya, lalu mempercepat langkah kakinya sebentar untuk menghampiri kedua sahabat dekatnya itu.

"Lama banget sih lo, jam kelas Pak Arga bentar lagi mau d—" Kalimat Karin terhenti di udara.

Mata Karin dan Alya kompak turun ke bawah, memperhatikan cara berjalan Queen yang terlihat sangat aneh dan kaku saat mendekati mereka. Begitu Queen berdiri tepat di depan mereka, Alya langsung menyipitkan mata bulatnya, menaruh curiga yang teramat besar.

"Gue perhatiin dari tadi lo jalan aneh banget, Queen," selidik Alya langsung, melipat kedua tangan di dada dengan tatapan menuntut penjelasan. "Lo kenapa? Jalan agak ngangkang gitu kayak orang habis jatuh dari kuda."

Queen tersedak ludahnya sendiri mendengar celetukan Alya. Di dalam hatinya, ia menjerit panik. Tentu saja ia tidak boleh membocorkan bahwa cara jalannya ini adalah mahakarya dari dosen paling ditakuti di kampus mereka, Arga Dirgantara. Hubungan mereka harus di-privat secara absolut demi keselamatan bersama, apalagi status Arga adalah pria beristri.

Fakta penting lainnya, status Alya sebagai adik kandung Arga juga tertutup rapat seperti brankas besi. Di kampus ini, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa mahasiswi bernama Alya itu adalah adik dari sang Dosen Killer termasuk Queen dan Karin. Keluarga Dirgantara sengaja merahasiakannya demi profesionalisme dan kenyamanan kuliah Alya, sehingga Alya terpaksa menyimpan rapat rahasia rumah tangga kakaknya sendirian.

"Eh? Ah, ini... gue kemarin habis jatuh dari tangga apartemen, Al! Iya, pantat gue duluan yang mendarat di lantai, jadi agak memar dan kaku begini kalau jalan," kilat Queen dengan senyum baby face-nya yang dibuat sealami mungkin.

Karin mengangguk percaya sambil meringis ngeri, namun tidak dengan Alya. Sebagai seorang adik yang tahu persis tabiat kakaknya dan tahu bahwa kemarin siang kakaknya mengamuk hebat karena mendapati istrinya berselingkuh lagi di restoran, insting wanita Alya mendadak bekerja sangat tajam. Matanya yang jeli terus mengamati penampilan Queen dari atas sampai bawah.

Saat embusan angin koridor meniup beberapa helai rambut bergelombang Queen ke belakang, kerah kemeja rajutnya sedikit bergeser ke bawah. Detik itu juga, mata Alya menangkap sebuah bercak kemerahan yang teramat pekat berbentuk seperti buah ceri yang digigit tepat di ceruk leher putih mulus Queen.

Deg!

Alya membelalakkan matanya sempurna. Ia sangat tahu noda apa itu. Itu adalah hickey alias tanda kepemilikan yang ditinggalkan oleh seorang pria dewasa setelah malam yang panas.

"Queen... leher lo kenapa itu?!" pekik Alya dengan suara tertahan, langsung maju selangkah dan menarik kerah kemeja Queen untuk memastikan.

"Eh, apa? Mana?" Queen panik, langsung menutup lehernya dengan telapak tangan hangatnya.

"Gak usah bohong lo! Itu tanda merah di leher lo beneran tanda 'habis dipakai' kan?!" cecar Alya dengan rentetan pertanyaan yang bertubi-tubi, wajahnya berubah cemas dan syok secara bersamaan. "Lo udah punya pacar? Sejak kapan?! Siapa cowoknya, Queen?! Kenapa lo gak cerita sama gue dan Karin?!"

Di dalam benak Alya, ketakutan yang teramat besar mendadak melanda. Alya tahu Queen selama ini gila-gilaan mengejar Arga. Namun melihat tanda ini, Alya sangat takut jika Queen akhirnya menyerah pada pesona Arga yang selalu bersikap dingin seperti batu dan memilih berpaling ke pelukan pria lain. Alya bener-bener menyayangkan jika hal itu terjadi, karena di dalam hatinya, Alya sangat berharap Queen bisa menjadi penyelamat hidup kakaknya dari jeratan Keysha istri tak tahu diri yang tidak pernah berubah itu.

"Aduh, Al, lo nanya kayak wartawan dapet gosip artis aja," sahut Queen mencoba bersikap bar-bar dan tenang untuk menutupi kegugupannya. "Ini cuma... digigit serangga kemarin malam waktu gue tidur!"

"Serangga apaan yang bisa bikin tanda se-estetik itu, Queen?! Jujur gak lo sama gue?!" potong Alya kesal, matanya menatap tajam menuntut kejujuran.

"Udah ah, kelas Pak Arga satu menit lagi dimulai! Kalau telat, kita bisa kena semprot singa jantan itu!" Karin yang sejak tadi diam langsung menengahi situasi, menarik lengan Alya dan Queen secara paksa untuk segera masuk ke dalam ruang kuliah sebelum dosen killer mereka tiba. Queen mengembus napas lega dalam hati karena berhasil lolos dari interogasi maut Alya untuk sementara waktu.

Cklek.

Pintu ruang kuliah kelas Teori Makroekonomi terbuka tepat waktu. Langkah kaki tegap yang berwibawa terdengar menghentak lantai kelas yang mendadak berubah menjadi sunyi senyap.

Arga Dirgantara melangkah masuk dengan setelan kemeja formal berwarna biru dongker yang lengannya digulung rapi hingga ke siku, memamerkan jam tangan kulit mewahnya. Wajah tegasnya tampak begitu segar, dingin, dan kaku seperti biasa tidak menunjukkan riak emosi apa pun setelah pertikaian hebat di rumahnya kemarin malam atau aktivitas liarnya bersama Queen kemarin pagi.

Arga meletakkan tas laptopnya di atas meja dosen dengan ketukan pelan. Sebelum memulai pelajaran, mata elangnya menyapu seluruh penjuru kelas untuk memeriksa kehadiran mahasiswa. Pandangannya sempat bertabrakan selama dua detik penuh dengan sepasang mata bulat milik Queen yang duduk di barisan tengah bersama Alya dan Karin.

Arga dengan cepat mengalihkan pandangannya, bersikap profesional seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Begitu pula dengan Alya yang hanya menatap Arga datar, menjaga rahasia bahwa pria berwibawa di depan sana adalah kakak kandungnya.

"Selamat pagi semuanya. Buka buku kalian halaman 142. Hari ini kita akan membahas tentang kebijakan moneter dan dampaknya terhadap inflasi domestik," ucap Arga dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan penuh karisma yang mendominasi ruangan.

Selama jalannya perkuliahan, Arga bener-bener menunjukkan kelasnya sebagai seorang dosen profesional yang berdedikasi tinggi. Penjelasannya begitu runut, tegas, dan tidak memberikan celah bagi mahasiswa untuk bermain-main. Ia menuliskan beberapa poin penting di papan tulis digital dengan gerakan tangan yang mantap.

Namun, profesionalisme Arga bener-bener diuji oleh tingkah laku kekasih rahasianya sendiri.

Di barisan tengah, Queen sama sekali tidak fokus pada rumus-rumus ekonomi yang ada di papan tulis. Gadis cegil itu menopang dagunya dengan satu tangan, sementara matanya terus-terusan menatap lurus ke arah Arga dengan tatapan yang teramat genit dan penuh damba. Setiap kali Arga berbalik untuk menjelaskan materi, Queen akan sengaja mengerlingkan matanya nakal, membasahi bibir bawahnya yang ranum secara sensual, atau memberikan senyuman miring yang menggoda.

Bahkan, saat Arga sedang berjalan memutari deretan meja mahasiswa sambil menjelaskan materi, Queen dengan berani menurunkan sedikit kerah kemejanya di depan wajah Arga saat sang dosen melintas di samping mejanya sengaja memamerkan tanda kemerahan di lehernya yang merupakan hasil karya bibir pria itu sendiri.

Arga yang melihat tingkah genit nan bar-bar Queen dari sudut matanya seketika menghentikan kalimat penjelasannya selama satu detik penuh. Rahang tegasnya mengetat rapat, dan ia terpaksa berdehem keras untuk menetralkan detak jantungnya yang mendadak berdegup kencang karena digoda secara ugal-ugalan di depan umum.

"Ehem!" Arga berdehem kencang, suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. "Saudara Queen... jika Anda terus menatap saya seperti itu tanpa mencatat materi, saya tidak akan segan memberikan Anda tugas tambahan lima puluh halaman mengenai inflasi ekonomi pekan depan."

Mendengar teguran dingin nan mematikan dari sang dosen killer, seluruh mahasiswa di dalam kelas langsung menahan napas ngeri, mengasihani nasib Queen yang dinilai cari mati karena berani memancing emosi Arga Dirgantara.

Alya yang duduk di sebelah Queen langsung menyikut lengan sahabatnya itu dengan keras. "Gila lo ya, Queen! Nyari mati lo natap Pak Arga kayak gitu! Bisa-bisa lo gak lulus mata kuliah dia, dia itu kejam banget!" bisik Alya panik, menyembunyikan rasa cemasnya sebagai adik yang tahu betul bagaimana watak keras kakaknya jika sudah marah.

Namun, bukan Queen namanya jika ia merasa takut. Alih-alih menciut, Queen justru meledakkan senyum manis tak berdosanya yang teramat lebar ke arah Arga.

"Baik, Pak Arga ganteng... saya akan catat materi dari Bapak dengan sepenuh hati," jawab Queen dengan nada manja yang sengaja disamarkan, namun matanya tetap memberikan kedipan sebelah mata yang teramat seksi ke arah sang dosen yang berada di depan kelas.

Arga dengan cepat membalikkan tubuhnya kembali menghadap papan tulis, memejamkan matanya pasrah selama satu detik seraya menarik napas panjang ngos-ngosan. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, sebuah rasa hangat dan getaran gairah yang menggelitik kembali membuncah. Arga tahu, memiliki kekasih seorang mahasiswi cegil seperti Queen bener-bener akan membuat hari-harinya di kampus tidak akan pernah membosankan, melainkan dipenuhi oleh ketegangan manis yang siap meledak kapan saja di balik hubungan privat mereka yang tidak diketahui siapa pun bahkan oleh Alya sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!