Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Yang Menggemparkan
Senin pagi. Suasana Kantor Kecamatan kembali dipenuhi oleh kesibukan aktivitas seperti sedia kala. Para pegawai mulai tampak sibuk berkutat dengan tumpukan berkas di meja masing-masing, sementara beberapa warga sudah mulai terlihat mengantre dengan tertib di depan loket pelayanan terpadu.
Satria baru saja meletakkan tas kerjanya di atas meja, ketika sebuah suara yang sudah sangat akrab di telinganya mendadak terdengar menyapa dengan lantang.
"Selamat pagi... wahai calon pengantin baru kita!" seru Doni dengan volume suara yang sengaja dikeraskan.
Satria bahkan belum sempat mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerja. "..."
Ia hanya bisa mengembuskan napas pendek secara perlahan sembari menatap tajam sahabatnya itu.
Doni menghampiri kubikel Satria dengan cengiran lebar yang menghiasi wajahnya. "Gimana? Semalam bisa tidur dengan nyenyak tidak, wahai calon suami?"
Kinan ikut melangkah mendekat dan menyenggol pelan bahu Satria. "Atau jangan-jangan, semalaman Mas Satria cuma bisa senyum-senyum sendiri di kamar sambil menatap langit-langit?"
"Hahaha!"
Seketika itu juga, seisi ruangan pelayanan langsung dipenuhi oleh gelak tawa riuh dari para rekan kerja yang lain.
Satria tidak meladeni dan memilih untuk membuka map laporan di mejanya. "Apakah acara bercanda kalian pagi ini sudah selesai?"
"Tentu saja belum!" sahut Doni cepat.
Ia langsung menarik sebuah kursi kosong, lalu duduk dengan santai di samping meja kerja Satria. "Jujur saja pada kami, Sat."
"Jujur tentang apa?" tanya Satria tanpa mengalihkan pandangan dari berkas.
"Perempuan hijab yang sama-sama makan malam dengan keluargamu di restoran hari Sabtu kemarin... itu benar calon istrimu, kan?" tuntut Doni dengan tatapan menyelidik.
Satria akhirnya menolehkan kepalanya sekilas, menatap Doni dengan raut wajah tenang. "Iya."
Ruangan kerja yang tadinya bising mendadak berubah menjadi hening senyap selama beberapa detik.
"APA?!" seru Doni histeris hingga suaranya menggema keras sampai ke ruangan seberang. "Lo serius, Sat?!"
Kinan sampai refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena terkejut. "Ya ampun... jadi gosip kemarin itu benar-benar nyata, Mas?"
Dani yang baru meletakkan map ikut membelalakkan matanya tidak percaya. "Berarti perempuan itu benar Mbak Naira?"
"Iya," jawab Satria pendek.
"Mbak Naira yang punya toko Naira Cake House di seberang gang kantor kita ini?!" cecar Dani memastikan sekali lagi dengan nada tidak santai.
"Iya," sahut Satria lagi, tetap dengan ekspresi datarnya.
Doni langsung memegangi kepalanya sendiri dengan raut wajah tidak habis pikir. "Pantas saja waktu kita jajan ke tokonya tempo hari, kalian berdua bersikap kaku seperti orang yang tidak saling kenal!"
"Hahaha!" Kinan tertawa terpingkal-pingkal. "Kami semua mengira Mas Satria cuma pelanggan biasa yang kebetulan lewat!"
"Ternyata malah calon istri yang punya toko!" timpal Dani ikut terbahak-bahak.
Gelak tawa kembali pecah dengan begitu hebatnya. Bahkan, beberapa pegawai dari ruangan divisi lain yang penasaran sampai ikut melangkah mendekat ke arah kubikel Satria karena merasa tertarik.
"Pak Satria mau menikah dalam waktu dekat?" tanya salah seorang pegawai dari divisi arsip.
"Sama pemilik toko kue yang viral di seberang itu?" sahut rekan yang lain ikut menimpali.
"Wah... selamat ya, Pak Satria. Semoga lancar!" ucap mereka bergantian.
"Terima kasih," jawab Satria singkat, menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat tulus.
Doni ternyata masih belum berniat untuk menghentikan aksi godaannya. "Berarti..." Ia mengarahkan telunjuknya ke arah luar jendela kantor yang menghadap ke jalan raya. "...toko kue yang sering kita datangi itu bakal resmi jadi toko langganan keluarga besar kantor kecamatan, dong?"
"Hahaha!"
Kinan menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat, menyetujui ucapan Doni. "Mulai sekarang, kita semua tidak boleh ada yang jajan atau pindah ke toko kue lain. Kalau sampai pindah, nanti Pak Kasubag Satria bisa marah besar."
"Tidak akan," bantah Satria pelan.
Namun, jawaban singkat dari Satria itu justru membuat rekan-rekannya tertawa semakin keras karena gemas dengan sikap kakunya.
Dani menyeringai jail. "Pak Satria mah kalau marah versinya tetap kalem dan berwibawa."
Doni menepuk-nepuk bahu tegap Satria dengan bangga. "Sat."
"Hm? Apa lagi?" sahut Satria.
"Lo diam-diam ternyata pergerakannya paling jauh dan cepat di antara kita semua ya," puji Doni dengan raut dramatis.
"Maksudmu bagaimana?" tanya Satria kurang mengerti.
"Ya maksudnya, kami di sini statusnya masih pada jomblo karatan, sedangkan lo tiba-tiba saja sudah mau naik ke pelaminan!" seru Doni yang langsung disambut anggukan setuju dari Dani.
Ruangan kerja itu kembali dipenuhi oleh gelak tawa yang membuncah. Satria hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib teman-temannya.
"Kalian semua ini sebenarnya niat masuk kerja atau hanya ingin bergosip terus sepanjang hari?" tegur Satria mengalihkan pembicaraan.
"Niatnya sih kerja, Sat. Tapi boleh lah gosip dulu lima menit untuk pemanasan," sahut Doni tanpa rasa bersalah.
Tak lama setelah itu, pintu ruangan camat terbuka dan Pak Camat berjalan keluar dari ruangannya. "Ada kehebohan apa ini? Dari tadi saya di dalam ruangan sampai dengar suara ketawa kalian terus."
Doni langsung bangkit berdiri dari kursinya dan mengambil sikap tegap. "Lapor, Pak Camat!"
"Iya, ada laporan apa, Doni?" tanya Pak Camat heran.
"Pak Satria dalam waktu dekat ini mau melangsungkan pernikahan, Pak!" lapor Doni dengan penuh semangat.
Pak Camat spontan menolehkan pandangannya ke arah Satria dengan raut wajah terkejut sekaligus gembira. "Benar begitu, Satria?"
Satria menganggukkan kepalanya dengan takzim. "Insyaallah benar, Pak."
Senyuman lebar yang sangat hangat langsung menghiasi wajah Pak Camat. Ia melangkah mendekat. "Wah, selamat ya, Satria! Akhirnya salah satu staf andalan saya melepas masa lajang juga."
"Terima kasih banyak, Pak," balas Satria sopan.
"Nanti kalau undangannya sudah jadi, jangan sampai lupa untuk mengundang kami semua yang ada di kantor ini, ya," pesan Pak Camat.
"Tentu saja, Pak. Pasti akan saya bagikan," jawab Satria mantap.
Pak Camat menepuk pelan bahu Satria sebelum kembali ke ruangannya. "Semoga seluruh proses tindak lanjutnya diberikan kelancaran sampai hari H nanti, ya."
"Aamiin, ya Allah. Terima kasih, Pak," doa Satria tulus.
Siang harinya, saat jam istirahat kantor tiba, ponsel milik hampir seluruh pegawai di kantor kecamatan mendadak berbunyi secara bersamaan karena sebuah pesan masuk di grup WhatsApp resmi Pegawai Kecamatan Harapan Jaya.
Satria Baskara
'Assalamualaikum, Bapak/Ibu dan rekan-rekan semua. Mohon doa restunya agar proses menuju pernikahan saya diberikan kelancaran. Insyaallah apabila kartu undangan sudah selesai dicetak, saya akan segera membagikannya kepada seluruh keluarga besar Kantor Kecamatan. Terima kasih banyak atas segala doa dan dukungannya.✉️✉️'
Tak sampai satu menit berlalu, bilah notifikasi langsung membanjiri layar ponsel Satria dengan sangat cepat.
Pak Camat
'Waalaikumsalam. Selamat ya, Satria. Semoga kelak menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Ditunggu undangannya.✉️✉️'
Doni
'Masya Allah... akhirnya manusia paling serius dan kaku di kantor kecamatan resmi laku juga! Siap hadir di barisan paling depan buat menghabiskan prasmanan!✉️✉️'
Kinan
'Selamat ya, Pak Satria! Semoga seluruh persiapannya dilancarkan sampai hari akad nanti.✉️✉️'
Dani
'Jangan lupa menu pondokan makanannya harus yang enak-enak ya, Pak. Kan calon istrinya sudah ahli sekali dalam urusan bikin kue dan dessert✉️✉️'
Bagas
'Fix... nanti menu cuci mulut di pesta pernikahannya pasti bakal jadi yang paling enak sedunia.✉️✉️'
Dalam hitungan menit saja, puluhan pesan berisi ucapan selamat dan doa-doa baik terus mengalir memenuhi ruang obrolan grup. Satria membaca satu per satu pesan dari rekan kerjanya tersebut sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.
Doni yang duduk di sebelahnya kembali menyenggol lengan Satria dengan sengaja. "Satria."
"Hm? Apa?" sahut Satria tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Sekarang satu kantor sudah tahu semua tentang rencana pernikahanmu," ujar Doni.
"Iya, saya tahu," jawab Satria tenang.
"Lalu, bagaimana rasanya setelah rahasiamu terbongkar?" tanya Doni penasaran, ingin tahu tanggapan sahabatnya.
Satria mematikan layar ponselnya, lalu menjawab dengan intonasi suara yang sangat tenang namun mantap. "Terasa ramai."
"Hahaha! Dasar kaku!" Doni terkekeh geli mendengar jawaban khas Satria. "Baru juga terasa ramai di grup WhatsApp. Nanti pas hari pernikahanmu tiba, siap-siap saja satu kantor bakal menyerbu toko kue milik istrimu sampai antre panjang."
Satria hanya menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum tipis mendengarkan celotehan Doni.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, status hubungan yang selama ini hanya diketahui oleh pihak keluarga inti, kini telah resmi diketahui oleh seluruh rekan kerjanya di kantor kecamatan. Dan entah mengapa, Satria sama sekali tidak lagi merasa keberatan atau terganggu dengan kehebohan tersebut.
Justru, ada sebersit rasa bangga dan hangat yang perlahan membubung di dalam dadanya ketika ia mengingat satu nama yang dalam beberapa hari terakhir ini selalu berhasil melintas dan menetap di dalam pikirannya.
Naira Azzahra.
Bersambung..