Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Sama-Sama Terjebak.
Pengobatan terus di lakukan Dikta, bahkan dia juga membawa botol infus dan memasangkan pada Zivanna agar memiliki tenaga. Sementara saat ini tangan kiri Zivanna sedang ditarik pelan oleh Dikta untuk mendapatkan terapi agar tangan tersebut bisa digerakkan dan begitu juga dengan kakinya.
Dikta melakukan semua yang bisa dia lakukan dengan obat-obatan yang telah dia bawa dan digunakan dengan baik kepada istrinya.
Dikta kemudian berdiri dan melihat di sekelilingnya, Dikta melihat ada wadah persegi yang membuatnya mengambil wadah itu, Zivanna hanya memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh pria itu.
Bisa ditebak sepertinya ruangan itu akan dijadikan lap, karena susunan ruangannya memang terlihat seperti itu dan makanya ada rak dan lemari yang berjatuhan. Memang ruangan itu selamat dari runtuhan tetapi tetap saja jika diturunkan alat berat untuk mengevakuasi, maka ruangan itu juga akan runtuh.
Keberuntungan datang pada Dikta dan Zivanna menemukan galon besar yang mungkin saja itu adalah milik para tukang. Dikta memeriksa dan ternyata galon itu penuh dengan air. Untuk bertahan di dalam tempat itu sampai menemukan jalan keluar air yang dibutuhkan.
Dikta kemudian langsung membukanya dan menuangkan air tersebut ke dalam wadah persegi mending kembali menghampiri Zivanna.
Dikta membasahkan kain putih berukuran kecil dan kemudian meremas kain putih tersebut hal yang dilakukannya ternyata mencoba untuk membersihkan wajah Zivanna, tetapi karena kesulitan Dikta melepaskan hijab yang masih terpasang sebagai penutup aurat itu Zivanna diam saja dan membiarkan apapun yang Dikta, karena saat ini tidak punya waktu untuk protes atau marah-marah.
Rambutnya sedikit berantakan yang Dikta menggulung rambut tersebut sehingga wajahnya terlihat lebih fresh dan apalagi ketika dibersihkan. Wajah sang istri memang sedikit lepek dan lembab bagaimana tidak air matanya mengering di pipinya.
"Bagaimana? Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Dikta yang membuat Zivanna menganggukkan kepala.
"Syukurlah, jika kamu masih selamat," ucap Dikta.
Kondisi Zivanna sudah pasti jauh lebih baik-baik saja saat ini dibandingkan sebelumnya karena sudah mendapat pengobatan dan belum lagi infus untuk menambah tenaganya.
Dikta juga merasa lega, dengan mengusap pipi Zivanna dan menatapnya begitu dalam mampu Zivanna luluh yang hanya diam dengan saling menatap dengan Dikta.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Dikta meyakinkannya dan bahkan membawa Zivanna kedalam pelukannya.
Dikta memeluknya dengan erat, pelukan itu sudah bertanda bahwa dia memang sangat takut jika sampai Zivanna kenapa-napa dan begitu juga dengan Zivanna yang ternyata sangat nyaman diperlukan itu dengan matanya terpejam, mungkin sekarang semangat hidupnya sudah kembali karena keberadaan Dikta di ruangan itu dan dia tidak sendiri lagi.
Ruangan itu hanya diterangi oleh senter yang dibawa Dikta dan mungkin saja senter itu juga baterainya akan habis.
Mungkin ada sekitar 3 jam Dikta berada di ruangan itu, tetapi sudah merasa pengap dan panas dan apalagi Zivanna yang bahkan sudah hampir 24 jam.
Saat ini posisi Zivanna tidak bersandar pada dinding lagi tetapi sudah berbaring dengan posisi yang sudah jauh lebih nyaman dan kakinya juga sudah tidak terasa sakit.
Karena istrinya kondisinya belum sepenuhnya membaik membuat Dikta mengurungkan diri untuk mencari jalan keluar dari ruangan tersebut.
Pasangan suami istri itu memilih saling berbaring dengan menatap langit-langit ruangan tersebut dan mungkin saja kapanpun langit itu bisa runtuh menimpa mereka, tapi mereka hanya berdoa agar hari itu tidak terjadi.
"Kenapa selalu mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu?" tanya Zivanna membuat Dikta menoleh ke arahnya.
"Bangunan ini belum sepenuhnya sempurna dan bahkan belum ada uji untuk ditempati, tidak memeriksa dan mengambil keputusan untuk memindahkan pasien isolasi ke rumah sakit ini," ucap Zivanna masih memiliki tenaga untuk membahas kekesalannya Dikta karena terlalu ceroboh.
"Jadi kamu pikir aku yang mengambil keputusan itu?" tanya Dikta.
"Lalu siapa lagi? Dokter Irfan jelas-jelas mengatakan bahwa keputusan diambil dari pusat dan kamu bagian dari orang yang memutuskan hal itu dan lihat aku menjadi korban," ucap Zivanna.
"Zivanna pernah tidak sekali saja di dalam hidup kamu, sebelum mengambil kesimpulan dicari tahu dulu kebenarannya, bukan aku yang memutuskan untuk seluruh pasien Isolasi dipindahkan ke rumah sakit ini, tetapi sudahlah aku juga tidak punya waktu untuk berdebat dengan kamu dan ini bukan waktunya kita berdebat. Ingat kita berdua belum tentu hidup di tempat ini dan belum tentu bisa diselamatkan, daripada menambah dosa lebih baik menggunakan waktu yang singkat ini untuk berbuat baik agar mengurangi dosa!" tegas Dikta sepertinya juga mulai menyerah tidak akan bisa keluar dari tempat itu.
"Aku sudah meminta maaf sebelumnya, memang kamu tidak minta maaf kepadaku," gumam Zivanna.
"Kamu bicara apa?" tanya Dikta hanya mendengar samar-samar suara sang istri.
"Tidak! Aku tidak berbicara apapun," jawabnya tidak mau mengakui.
"Kalau begitu sekarang kamu sebaiknya istirahat dan tidur, infus kamu akan segera habis dan semoga saja kamu memiliki tenaga dan kita masih bisa mencari jalan keluar untuk pergi dari tempat ini," ucap Dikta
"Aku tidak bisa tidur," jawabnya.
"Lalu kamu mau apa? Tidak ada yang bisa dilakukan dan jika kita sekarang bergerak untuk mencari jalan keluar dan maka itu sama saja," ucap Dikta.
"Kamu ceritakan saja kepadaku bagaimana suasana di luar dan apakah benar rumah sakit ini benar-benar lumpuh hancur lebur keseluruhan?" tanya Zivanna.
"Ya, saat pertama kali aku sampai ke desa ini dan yang pertama kali aku lihat adalah rumah sakit ini, dari luar rumah sakit ini memang terlihat runtuh, tetapi tim penyelamat terus saja bergerak mencari di manapun titik yang bisa mereka lewati," jawab Dikta.
"Apa banyak orang yang terjebak di dalam reruntuhan ini?" tanya Zivanna.
"Kabar yang aku dapatkan ketika masih berada di Jakarta, dua orang dinyatakan meninggal dan sebagian luka-luka dan sementara 5 orang terjebak di dalam reruntuhan ini termasuk kamu, ketika aku sampai di sini satu orang keluar tanpa nyawa," jawab Dikta.
"Lalu bagaimana dengan orang tuaku? apa mereka mengkhawatirkan ku?" tanya Zivanna.
"Sudah pasti. Papa ikut bersamaku ke desa ini dan sekarang dia sedang di luar," jawab Dikta.
"Jadi Papa ikut," Zivanna seketika menjadi mewek dan mungkin tidak percaya jika ayahnya begitu khawatir padanya.
"Aku pikir Papa tidak sayang padaku lagi, selama ini tidak pernah berpihak kepadaku dan selalu berpihak kepada kamu," ucapnya.
"Kamu salah Zivanna, kamu pikir selama ini semua baik-baik saja, kamu pikir Papa selalu sepaham dengan apa yang aku katakan, tidak pernah," batin Dikta.
Di luar sepengetahuan Zivanna hubungan Dikta dan ayah mertuanya memang tidak seperti apa yang dilihat oleh Zivanna, mereka juga sering berdebat karena tidak sepaham dan bahkan perdebatan mereka jauh lebih serius dibandingkan pasangan suami istri itu.
Bersambung ...