Hani tidak menyangka dia akan menikah di saat karirnya sedang bagus-bagusnya dengan Alex — seorang CEO yang tanpa sengaja dia temui di Paris.
Pertemuan mereka awalnya tidak bermakna, tetapi anehnya Alex melamarnya begitu sampai di Indonesia.
Awalnya Hani menolak tetapi karena umurnya sudah menginjak 27 tahun, kedua orangtuanya menyetujui lamaran Alex Dan dimulailah kehidupan pernikahan yang penuh keanehan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissTheolland_Reihan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PH | 9
Seraya menarik kopernya memasuki bandara, Hani menatap sekeliling. Dia tersenyum tipis lalu berjalan menuju waiting area karena penerbangannya sekitar 3 jam lagi. Dia duduk di salah satu tempat duduk kosong
Karena haus dia pergi untuk membeli minuman. Saat ingin kembali ke tempat Saat ingin kembali ke tempat duduknya, tanpa sengaja dia melihat seseorang yang tidak asing di pandangannya. Dia berjalan perlahan untuk memastikan orang itu benar seperti yang ada di dalam pikirannya.
Hani yakin jika itu adalah pria bertubuh besar yang sebelumnya menyapa Alex di restoran. Namun dia tidak punya suatu alasan untuk berbicara dengan pria itu karena dia memang tidak punya urusan dengannya. Tidak bermaksud untuk mengajaknya berbicara, Hani berlalu pergi.
Saat sedang menyesap minumannya, seorang perempuan cantik berjalan anggun di depannya. Hani harus mengakui jika perempuan itu sangat cantik bak model ternama. Dia terus menatap perempuan itu hingga orang itu hilang diantara kerumunan.
Setelah menunggu sekitar 2 jam, sebuah pengumuman meminta penumpang di penerbangan yang digunakan Hani agar sudah bisa masuk. Hani bergegas menarik kopernya. Seraya menunggu gilirannya, Hani menatap seluruh bandara singkat. Mungkin dia akan kembali ke tempat ini beberapa tahun kemudian, tidak mungkin dalam waktu dekat.
Mata Hani menyipit saat melihat pria yang terlihat akrab baginya berjalan dengan beberapa pria berjas hitam disampingnya. Salah satunya adalah pria bertubuh besar yang tadi juga menarik perhatiannya.
Dahinya berkerut, “Alex?” gumamnya.
***
Setelah penerbangan yang cukup memakan waktu, Hani akhirnya tiba di Jakarta. Ayahnya sudah menunggu saat dia tiba.
Sepanjang perjalanan ke rumah, Hani banyak bercerita tentang liburannya di Paris. Dia menceritakan secara rinci apa yang dia lihat dan dia rasakan. Ayahnya tersenyum lebar karena senang melihat putrinya itu bahagia.
“Apa kamu tidak menemukan jodohmu di sana, Nak?” kekeh Ayah sembari fokus dengan kemudinya.
Hani mendecak kesal, “Ayolah, Ayah. Aku kesana bukan untuk memburu pria,” jawabnya. Ayah terkekeh puas mendengar jawaban singkat Hani.
Dia tiba-tiba teringat dengan Alex. Dia tentu tidak memberitahu Ayahnya perihal pertemuannya dengan pria itu di Paris. Tapi satu hal yang janggal bagi Hani tentang apa yang dilihatnya di bandara. Dia sungguh bingung siapa pria itu sebenarnya. Dilihat dari penampilannya tadi, Alex itu bukan orang biasa. Tetapi Hani tidak bisa menyimpulkan siapa sebenarnya laki-laki itu.
“Siapa kau sebenarnya, Alex?” gumamnya kecil.
***
Saat mereka sampai di rumah. Mamanya dan Jhoni menyapa mereka hangat. Hani suka dengan keluarga sederhana mereka. Setelah memeluk Mamanya, Hani bergegas masuk ke dalam rumah. Dia ingin cepat-cepat ke kamarnya lalu tidur. Dia sudah kehabisan tenaga.
Jhoni mendekat lalu menyenggolnya pelan. Dia tersenyum jahil, “Bagaimana dengan Bang Alex?” kekehnya.
Hani mendecak kesal lalu menatapnya tajam, “Lo jangan bilang-bilang tentang dia sama Papa Mama. Awas lo!” ancamnya.
Tidak peduli dengan ancaman Kakaknya, Jhoni mengangkat bahunya, “Kenapa sih lo sembunyiin dari kita, Kak?”
Hani menghela napas, “Kita nggak ada apa-apa, Dek.”
“Terus kalo nggak ada apa-apa, kok Mama Papa nggak boleh tau. Kan gue juga nggak bakal bilang di pacar lo.”
“Kita memang engggak pacaran. Ntar kalo Mama Papa tahu, mereka malah berharap gue ketemu cowok di sana,” jelas Hani.
Jhoni menggeleng kecil, “Ah, terserah lo deh, Kak. Gue nggak ngerti.”
“Btw, lo kenapa balik? Bukannya lo masih kuliah?” tanya Hani.
Jhoni menggeleng lalu berlalu pergi, “Gue libur juga kali, Kak. Tidur gih, lo udah capek.”
Benar kata Jhoni, dia kecapaian dan dia ingin merebah di kasurnya secepat mungkin. Melepaskan penat yang sudah hinggap di tubuhnya.
***
lanjut...
selamatkan alex... jangan biarkan bersama ulat bulu... kasian hani