Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Panggilan dari Ayah
Malam itu, Arthur masih duduk di dalam mobil, menatap amplop yang ditemukan Aldi di dalam mobil hitam. Tulisan di atasnya masih terngiang di kepalanya. "Jika ingin melihat anakmu hidup, jangan cari dia. Tunggu instruksi kami."
Arthur mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa diam. Dia harus mencari James. Tapi dari mana? Tidak ada petunjuk, tidak ada jejak, hanya sebuah ancaman.
Ponselnya bergetar. Arthur menatap layar. Nama kontak yang muncul membuatnya mengerutkan kening.
Robert Fernando. Ayahnya.
Arthur ragu sejenak, lalu mengangkat telepon. "Ayah? Ada apa? Aku sedang sibuk."
Suara berat Robert Fernando terdengar di ujung telepon. "Arthur, aku tahu kamu sedang di Surabaya. Tapi aku perlu kamu pulang ke Jakarta sekarang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
Arthur menggeleng meski ayahnya tidak bisa melihat. "Ayah, aku tidak bisa. Ada urusan pribadi yang belum selesai. Aku tidak bisa pulang sekarang."
Robert terdiam sejenak, lalu suaranya menjadi lebih tegas. "Arthur, dengar. Aku tidak akan bicara dua kali. Jika kamu tidak datang ke rumah malam ini, kamu akan menyesal seumur hidupmu. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Tentang masa lalu. Tentang Helena. Dan tentang anakmu."
Arthur terkesiap. Jantungnya berdegup kencang. Ayah tahu tentang James? "Ayah... apa maksudmu?"
"Kamu tahu apa maksudku, Arthur. Aku tidak akan membahasnya di telepon. Datanglah ke sini. Bawa Helena jika kamu mau. Tapi datanglah. Malam ini juga."
Robert menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Arthur menatap ponselnya, perasaannya campur aduk. Ayahnya tahu tentang James? Bagaimana bisa? Dan mengapa dia baru bicara sekarang?
Arthur menghela napas panjang. Dia harus mengambil keputusan. Di satu sisi, dia harus mencari James. Di sisi lain, ayahnya mungkin memiliki jawaban yang bisa membantunya.
Dia berbalik ke arah Aldi yang duduk di kursi pengemudi. "Aldi, aku harus pergi ke Jakarta. Ayahku memanggil. Dia bilang dia tahu sesuatu tentang James."
Aldi mengerutkan kening. "Pak, apakah ini jebakan? Bisa jadi orang tua Bapak terlibat dalam penculikan James."
Arthur menatap Aldi dengan tatapan tajam. "Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencari tahu. Jika ayahku tahu sesuatu, aku harus mengetahuinya. Dan jika dia terlibat..." Arthur mengepalkan tangannya. "...aku tidak akan memaafkannya."
Aldi mengangguk. "Saya akan menyiapkan pesawat, Pak. Kami bisa berangkat dalam dua jam."
Arthur menghela napas. "Aku harus membawa Helena. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di sini. Dia akan semakin panik jika aku pergi tanpa dia."
Aldi ragu. "Tapi Pak, Nona Helena mungkin menolak. Dia sedang mencari James."
Arthur menggeleng. "Aku akan meyakinkannya. Tunggu di sini."
Arthur keluar dari mobil, berjalan menuju rumah Helena. Dia mengetuk pintu dengan pelan, lalu masuk. Helena masih duduk di sofa, dengan mata merah dan wajah pucat. Rina duduk di sebelahnya, berusaha menenangkan.
"Hel, aku harus pergi ke Jakarta," ucap Arthur langsung.
Helena langsung berdiri. "Apa? Jakarta? Arthur, James masih hilang! Kamu tidak boleh pergi!"
Arthur berjalan mendekati Helena, memegang kedua bahunya. "Hel, dengar. Ayahku menelepon. Dia bilang dia tahu sesuatu tentang James. Dia memintaku pulang. Aku tidak tahu apakah ini jebakan atau bukan, tapi aku harus mencari tahu. Dan aku ingin kamu ikut denganku."
Helena membelalak. "Apa? Kamu ingin aku ikut ke Jakarta? Arthur, James sedang dalam bahaya! Aku tidak bisa pergi!"
Arthur menatap Helena dengan tatapan lembut tapi tegas. "Hel, aku tahu kamu takut. Aku juga takut. Tapi jika ayahku tahu sesuatu, kita harus mencari tahu. Dan aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini. Aku takut jika ada yang mencoba menyakitimu juga."
Helena menangis, air matanya mengalir. "Arthur... aku tidak tahu harus apa."
Arthur menarik Helena ke dalam pelukannya. "Percayalah padaku, Hel. Aku akan melindungimu. Dan aku akan menemukan James. Tapi untuk sekarang, kita harus pergi ke Jakarta. Bersama."
Helena terdiam dalam pelukan Arthur. Setelah beberapa saat, dia mengangguk perlahan. "Baik. Aku akan ikut. Tapi Arthur, jika ayahmu tahu sesuatu tentang James, aku ingin mendengarnya langsung."
Arthur mengangguk. "Aku berjanji. Kita akan mencari tahu bersama."
---
Dua jam kemudian, Arthur dan Helena sudah berada di dalam pesawat pribadi menuju Jakarta. Helena duduk di kursi jendela, menatap gelapnya langit malam. Pikirannya melayang pada James. Dia tidak tahu di mana anaknya berada. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya.
Arthur duduk di sebelah Helena, memegang tangannya dengan erat. "Hel, aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada James. Aku janji."
Helena tidak menjawab. Dia hanya menatap Arthur, dengan mata yang penuh ketakutan.
Di samping mereka, Aldi sibuk dengan ponselnya, memantau pergerakan tim di Surabaya. "Pak, tim masih bergerak. Kami belum menemukan jejak baru. Tapi ada beberapa petunjuk yang sedang diselidiki."
Arthur mengangguk. "Terus pantau. Kabari aku jika ada perkembangan."
Aldi mengangguk, lalu kembali fokus pada layar ponselnya.
Arthur menatap Helena yang masih diam. "Hel, apa kamu yakin tidak ada yang tahu tentang James selain kamu dan Rina? Tidak ada teman, tidak ada kerabat?"
Helena menggeleng. "Tidak. Hanya Rina yang tahu bahwa James adalah anakmu. Aku tidak pernah memberitahu siapa pun. Bahkan James sendiri tidak tahu."
Arthur menghela napas. "Kalau begitu, bagaimana ayahku tahu? Dan bagaimana para penculik tahu?"
Helena menatap Arthur. "Arthur... mungkin ini ada hubungannya dengan masa lalu. Mungkin orang-orang yang memisahkan kita dulu sekarang mencoba mengambil James."
Arthur mengepalkan tangannya. "Jika itu benar, aku tidak akan membiarkan mereka. Aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba menyakiti keluargaku."
Pesawat mendarat di Jakarta pukul 23.00. Arthur dan Helena turun dari pesawat, dan mobil sudah menunggu mereka. Arthur menatap Helena. "Kita akan ke rumah orang tuaku. Bersiaplah, Hel. Mungkin ini bukan pertemuan yang menyenangkan."
Helena mengangguk. Dia sudah siap menghadapi apa pun. Demi James, dia akan melakukan apa saja.
---
Di rumah orang tua Arthur, suasana sangat hening. Arthur dan Helena masuk ke ruang tamu yang luas, di mana Robert Fernando sudah duduk di kursi utama, ditemani oleh istri nya, dan seorang pengacara keluarga. Wajah Robert terlihat serius, dengan mata yang tajam.
"Arthur, Helena, duduklah," perintah Robert.
Arthur dan Helena duduk di sofa berhadapan. Helena menatap Robert dengan tatapan hati-hati. Dia belum pernah melihat Robert sejak dia pergi lima belas tahun lalu.
Robert menghela napas panjang. "Arthur, aku tahu kamu sedang mencari anakmu, James. Dan aku tahu kamu marah padaku karena mungkin aku terlibat dalam penculikannya. Tapi aku harus memberitahumu sesuatu."
Arthur menegakkan tubuhnya. "Apa itu, Ayah?"
Robert menatap Arthur dan Helena bergantian. "Aku tahu siapa yang menculik James. Dan aku tahu di mana dia berada."
Arthur langsung berdiri. "Kamu tahu? Ayah, kenapa kamu tidak bilang dari awal? Di mana James?"
Robert mengangkat tangannya, meminta Arthur untuk tenang. "Duduklah, Arthur. Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi kau harus mendengarkanku sampai selesai."
Arthur menatap ayahnya, lalu duduk kembali. Helena menggenggam tangan Arthur erat.
Robert menatap Helena. "Helena, maafkan aku. Lima belas tahun lalu, aku adalah salah satu orang yang memisahkanmu dari Arthur. Tapi aku melakukannya untuk melindungi kalian berdua. Ada musuh di dalam keluarga kita yang ingin menghancurkan kalian. Dan sekarang, musuh itu telah menculik James untuk memaksa kita menyerah."
Arthur membelalak. "Siapa? Ayah, siapa yang menculik James?"
Robert menatap Arthur dengan tatapan berat. "Sayangnya... orang itu adalah kakak iparku. Dan dia adalah orang yang paling dekat dengan kita."
Arthur mengepalkan tangannya. Dia tidak percaya. Selama ini, dia mengira ayahnya adalah musuh. Tapi ternyata ada orang lain yang lebih berbahaya. Dan orang itu sekarang sedang memegang anaknya.