NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Rasa yang Tak Bisa Dijelaskan

Empat hari setelah malam amal, nama Anindya kembali muncul di layar kerja Arkana.

Bukan pada daftar kru. Bukan pula pada laporan medis penerbangan. Namanya berada di lampiran evaluasi mitra program pendidikan, tepat di bawah kolom peninjau Klub Enggar.

Arka membaca halaman itu untuk ketiga kalinya.

“Pak Arkana?”

Fajar berdiri di depan meja dengan dua map kontrak. Ia jelas sudah menunggu cukup lama sampai merasa perlu memanggil.

“Sejak kapan Anindya bekerja dengan Klub Enggar?” tanya Arka.

“Saya tidak tahu apakah bisa disebut bekerja. Di dokumen kerja sama, posisinya mitra program.”

“Cari tahu struktur kewenangannya.”

Fajar tidak langsung mencatat. “Untuk kepentingan uji tuntas program, atau kepentingan pribadi?”

Pertanyaan itu terlalu jujur untuk seorang bawahan, tetapi Fajar telah berdiri bersamanya di Merapi dan di luar ruang operasi. Ia termasuk sedikit orang yang berani memaksa Arka membedakan keduanya.

“Kepentingan program,” jawab Arka akhirnya. “Saya tidak mau ada konflik kewenangan karena dia juga awak penerbangan kita.”

“Kalau begitu, tim kepatuhan hanya akan memeriksa jabatan, kewenangan tanda tangan, dan potensi konflik. Bukan rekening, keluarga, atau kegiatan pribadinya.”

“Saya tidak meminta itu.”

Fajar menatap layar yang masih menampilkan nama Anindya. “Baik.”

Dua jam kemudian, hasilnya tidak banyak. Klub Enggar tercatat dikelola Enggar Saputra. Struktur anggota, pemberi dana, dan perjanjian privat dilindungi sesuai kebijakan organisasi. Anindya memiliki mandat sah untuk meninjau penerima beasiswa, tetapi tidak tercatat sebagai pegawai tetap ataupun pengurus publik.

Semua rapi. Terlalu rapi untuk memuaskan rasa ingin tahu yang sejak awal tidak ada hubungannya dengan kontrak.

Arka menutup berkas.

“Jadwal saya setelah pukul lima?”

“Kosong, kecuali Anda ingin memindahkan rapat evaluasi sponsor ke hari ini.”

Arka berdiri dan mengambil jas. “Saya akan meninjau tindak lanjut program di Klub Enggar.”

Fajar menahan napas pendek. “Tentu. Tindak lanjut program.”

Arka mengabaikan nada itu.

Lalu lintas SCBD menjelang petang bergerak lambat. Sepanjang perjalanan, ia menyusun pertanyaan yang terdengar wajar. Tentang pelaporan dana. Tentang audit sekolah. Tentang kewenangan Anindya sebagai mitra. Namun ketika mobil berhenti di depan Klub Enggar, semua pertanyaan profesional itu terasa seperti alasan yang dipinjam.

Lobi klub diselimuti cahaya keemasan. Seorang petugas penerima tamu menyambutnya dan meminta waktu untuk menghubungi Sisi, sebab Enggar sedang menangani urusan di luar kota.

Arka baru hendak menyerahkan kartu nama ketika pintu lift privat terbuka.

Anindya keluar sambil membaca dokumen pada tabletnya. Ia mengenakan kemeja putih dan celana hitam sederhana. Rambutnya diikat rendah. Tidak ada gaun, topeng, atau panggung amal, tetapi kehadirannya tetap membuat semua alasan di kepala Arka lenyap.

Ia mengangkat wajah. Langkahnya berhenti satu detik.

“Pak Arkana.”

“Kamu selalu memanggil saya begitu sekarang?”

“Kita sedang berada di tempat kerja.”

“Tempat kerja siapa?”

Tatapan Anindya berubah lebih dingin. “Kalau Anda datang untuk rapat program, Sisi akan menemui Anda.”

“Saya ingin tahu posisi kamu di sini.”

“Posisi saya sudah tertulis dalam perjanjian.”

“Mitra program tidak biasanya keluar dari lift privat yang bahkan tidak ditawarkan kepada tamu komisaris.”

Anindya mematikan layar tabletnya. “Anda mengamati terlalu banyak hal yang tidak berkaitan dengan beasiswa.”

“Karena selama tiga tahun, kamu tidak pernah menyebut Klub Enggar.”

“Selama tiga tahun, Anda juga tidak pernah bertanya apa yang saya kerjakan ketika tidak sedang menjadi istri rahasia Anda.”

Kalimat itu mengenai tepat pada tempat yang tidak dapat dibantah Arka.

Ia pernah pulang dan menemukan makan malam siap. Pernah melihat Anindya membaca hingga larut, menerima panggilan singkat di balkon, lalu menutup laptop ketika ia masuk. Arka menganggap diam perempuan itu sebagai kesederhanaan. Kini ia mulai memahami bahwa mungkin Anindya hanya berhenti menawarkan bagian hidupnya kepada orang yang tidak pernah sungguh-sungguh melihat.

“Saya salah,” katanya.

Jari Anindya mengencang tipis di sisi tablet.

Arka melanjutkan sebelum keberaniannya hilang. “Saya salah karena tidak bertanya. Tapi sekarang saya bertanya. Apa hubunganmu dengan Enggar?”

“Hubungan profesional yang sah.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu satu-satunya jawaban yang berhak Anda terima.”

Arka maju setengah langkah, lalu berhenti sendiri. Ia teringat kamar rumah sakit, tatapan Dewa, dan cara Anindya menegang ketika sentuhan datang tanpa izin. Jarak di antara mereka tetap utuh.

“Saya tidak akan memaksa,” ujarnya. “Tapi saya juga tidak akan berpura-pura tidak melihat.”

“Melihat tidak sama dengan memiliki hak.”

Anindya berjalan melewatinya. Aroma sabun yang samar, langkah yang teratur, dan jeda sangat kecil sebelum ia menjawab tadi terasa lebih akrab daripada seharusnya. Di dekat pintu, ia berhenti tanpa menoleh.

“Jangan gunakan Grup Adiwijaya untuk menyelidiki hidup pribadi saya, Arka.”

Untuk pertama kalinya petang itu, ia tidak memakai sapaan formal.

“Saya sudah membatasi pemeriksaan pada kontrak,” jawabnya.

“Pastikan batas itu tetap ada.”

Pintu kaca menutup setelah Anindya pergi.

Petugas penerima tamu mendekat dengan hati-hati. “Pak Arkana, Bu Sisi siap menerima Anda. Untuk hal di luar program, kami tidak bisa memberikan informasi tentang Bu Anindya. Semua pertemuan pribadinya harus melalui konfirmasi langsung.”

“Apakah aturan itu berlaku untuk semua mitra?”

Petugas itu tersenyum profesional. “Saya hanya bisa menyampaikan aturan yang diberikan kepada saya, Pak.”

Jawaban tanpa jawaban lagi.

Sisi datang membawa laporan kuartal pertama dan mengajaknya ke ruang rapat kecil. Selama dua puluh menit, mereka membahas jadwal pencairan, pemeriksaan kesehatan calon penerima, serta larangan menggunakan foto siswa untuk promosi tanpa persetujuan.

Tidak satu pun pembahasan membutuhkan kehadiran Anindya. Namun pada setiap lampiran, catatan koreksi dengan tinta digital berwarna biru menunjukkan ketelitian yang Arka kenal dari lembar penerbangan.

“Semua catatan ini dari Bu Anindya?” tanyanya.

“Catatan tim,” jawab Sisi.

“Berapa lama dia menjadi bagian dari tim kalian?”

Sisi menutup map tanpa kehilangan senyum. “Pertanyaan itu tidak memengaruhi kewajiban Grup Adiwijaya dalam program, Pak Arkana.”

Arka bersandar. “Kalian semua dilatih memberi jawaban seperti itu?”

“Kami dilatih menjaga kepercayaan orang yang bekerja dengan kami.”

Sindiran itu halus, tetapi tidak meleset. Arka menandatangani berita acara rapat dan tidak mengajukan pertanyaan pribadi lagi.

Di dalam mobil, Arka membuka dompet kulit yang selama ini tersimpan di saku dalam jasnya. Di balik kartu identitas, cincin polos Anindya masih berada dalam kantong kecil beritsleting. Ia tidak pernah berani memakainya. Menyimpan benda itu pun tidak memberinya hak apa pun, tetapi ia belum mampu melepaskannya.

Fajar mengirim hasil akhir pemeriksaan kepatuhan. Tidak ada konflik kepentingan. Tidak ada pelanggaran. Hanya satu catatan bahwa mandat Anindya dikonfirmasi langsung oleh kantor Enggar Saputra tanpa rincian jabatan tambahan.

Arka menutup dompet dan memandang pintu Klub Enggar dari balik kaca mobil.

Semakin sedikit yang ia temukan, semakin jelas satu kenyataan: tiga tahun berada di sisi Anindya tidak pernah berarti ia benar-benar masuk ke dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!