NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029: Pengkhianat

Tiga minggu setelah Vina Maharani duduk di kursi CEO Es Madu Kopi, rasa madu di gelas pelanggan mulai berubah.

Bukan karena resepnya.

Karena suasananya.

Harga menu naik lebih dari lima puluh persen. Poster baru ditempel di setiap gerai dengan tulisan rapi: Penyesuaian Harga untuk Standar Global. Kata-katanya terdengar profesional, tetapi pelanggan hanya melihat satu hal: minuman yang kemarin murah kini terasa mahal.

Di ruang karyawan, perubahan lebih tajam.

Gaji dipotong tiga puluh persen untuk "restrukturisasi efisiensi".

Makan siang gratis dihentikan.

Cuti sakit berbayar diperketat.

Lembur ganda dihapus dan diganti menjadi "kompensasi performa".

Pelatihan yang dulu dilakukan dengan sabar kini berubah menjadi target harian yang ditempel seperti ancaman.

Seorang barista muda menatap slip gaji barunya, lalu berkata pelan, "Kalau begini, lebih baik saya keluar."

Temannya menjawab, "Kalau keluar, N+3 masih berlaku?"

Pegawai HR lama menunduk ke dokumen kontrak.

"Kalau perubahan syarat kerja dilakukan sepihak dan kita menolak, kompensasi N+3 tetap tercatat dalam perjanjian."

Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada memo Vina.

Dalam dua hari, ratusan surat keberatan masuk.

Dalam satu minggu, jumlahnya menjadi ribuan.

Sebagian karyawan tidak langsung marah di media sosial. Mereka hanya mengirim surat resmi, menyalin kontrak kerja, dan meminta hak mereka dibayar. Ironisnya, budaya administrasi rapi yang dulu dibangun Garuda Emas kini menjadi senjata melawan pemilik baru.

Di kantor CEO, Vina membaca laporan itu dengan wajah dingin.

"Mereka pikir perusahaan ini panti sosial?"

Manajer HR yang baru ditunjuk Yamamoto menelan ludah.

"Bu, jumlah pengajuan kompensasi meningkat cepat. Jika semua diproses sesuai kontrak..."

"Tahan dulu."

"Tapi kontraknya..."

Vina menutup map.

"Kontrak bisa ditafsirkan. Saya tidak membayar orang untuk pergi hanya karena mereka tidak suka standar baru."

Keputusan itu membuat situasi memburuk.

Video antrean karyawan di kantor HR bocor ke media sosial. Seorang mantan barista menulis bahwa Es Madu Kopi di era Garuda Emas memberi mereka gaji layak dan jam kerja manusiawi, sementara manajemen baru menaikkan harga untuk pelanggan dan memotong hak pekerja. Tagar lama kembali hidup, kali ini dengan nama baru:

#KembalikanEsMadu

Di tengah arus itu, sebuah berita berbeda muncul.

Awalnya kecil, hanya laporan investigasi dari portal hukum independen. Judulnya tidak sensasional.

Mantan Pegawai Kopi Segar Mengajukan Gugatan Kekerasan Seksual, Diduga Melibatkan Putra Pengusaha Besar.

Rian membaca judul itu di kantor PT Garuda Emas Group.

Ia hampir melewatinya.

Lalu nama di paragraf ketiga membuat jarinya berhenti.

Aldo Maulana.

Teguh Prasetya, yang duduk di seberang meja, melihat perubahan wajah Rian.

"Pak?"

Rian membaca perlahan.

Korban menggunakan nama samaran Nadia Sari. Usianya dua puluh dua tahun saat kejadian. Ia pernah bekerja sebagai staf promosi yang ditempatkan di Kopi Segar, perusahaan milik jaringan Pak Herman Maulana. Dalam laporannya, Nadia menyebut dirinya mengalami kekerasan seksual oleh Aldo Maulana setelah acara promosi tertutup. Setelah mencoba melapor, ia diancam akan dibuat tidak bisa bekerja lagi di industri minuman dan ritel.

Tidak ada detail vulgar.

Tidak perlu.

Setiap kalimat yang ada sudah cukup membuat ruangan terasa sempit.

Rian melanjutkan membaca. Selama lebih dari satu tahun, kasus itu tertahan. Saksi takut bicara. Bukti komunikasi hilang dari ponsel lama. Pengacara sebelumnya mundur setelah keluarga korban menerima tekanan. Nadia sempat bekerja di jaringan yang kemudian terkait dengan Es Madu Kopi, tetapi identitasnya tenggelam di antara ribuan pekerja kontrak.

Sekarang, ketika Vina memotong hak karyawan dan banyak orang mulai membuka pengalaman lama mereka, nama Nadia muncul kembali.

Rian meletakkan ponsel di meja.

Ia tidak melihat sistem panel.

Ia tidak menghitung apakah bantuan hukum bisa menjadi biaya.

Ia bahkan tidak peduli apakah publik akan memujinya.

Di kepalanya hanya ada satu kalimat.

Ini salah.

Sangat salah.

"Teguh," katanya.

Teguh duduk lebih tegak.

"Ya, Pak."

"Cari tahu apakah korban punya pendamping hukum yang benar."

"Saya sudah mulai cek. Portal itu menyebut tim kecil, tapi sumber daya mereka terbatas."

"Berapa biaya untuk membawa kasus seperti ini sampai serius?"

Teguh berhenti sebentar. "Tergantung perlawanan pihak Aldo. Jika dia memakai pengacara besar, saksi perlu perlindungan, bukti perlu forensik digital, dan mungkin ada gugatan balik. Bisa ratusan juta."

"Siapkan Rp 500.000.000."

Teguh menatapnya.

"Pak?"

"Buat dana hukum. Cari pengacara terbaik untuk korban. Bukan yang paling ramai di media. Yang paling kuat di pengadilan. Kalau perlu psikolog, pendamping korban, forensik digital, biaya transport saksi, semuanya dibayar."

Rian menelan emosi yang naik ke tenggorokan.

"Jangan jadikan dia alat kampanye Garuda Emas. Jangan paksa dia muncul ke publik. Tanya dulu apa yang dia mau. Kalau dia ingin diam, kita lindungi diamnya. Kalau dia ingin melawan, kita berdiri di belakangnya."

Teguh tidak langsung menulis.

Untuk pertama kalinya, wajah formalnya retak oleh rasa hormat yang jelas.

"Baik, Pak. Saya akan atur dengan hati-hati."

Rian menatap ponsel yang sudah gelap.

"Tidak peduli berapa lama. Tidak peduli siapa lawannya. Bantu dia mendapatkan keadilan."

Di luar kantor, Bagas yang baru datang membawa kopi berhenti di depan pintu. Ia mendengar sebagian kalimat itu dan tidak masuk. Ia hanya berdiri diam, lalu menunduk.

Kadang, ia lupa bahwa Rian masih berusia dua puluh tiga.

Kadang, Rian terdengar seperti orang yang sudah terlalu sering melihat dunia rusak dan tetap memutuskan untuk tidak ikut rusak.

Sore itu, Teguh mulai menghubungi jaringan hukum, lembaga pendamping korban, dan konsultan forensik digital. Satu per satu, dokumen lama dikumpulkan: pesan ancaman, catatan kerja, jadwal acara, nama saksi, riwayat laporan yang tidak pernah bergerak.

Di sela penyusunan file, Teguh menemukan sesuatu.

Ia kembali ke ruangan Rian dengan map tipis.

"Pak, ada hubungan yang perlu Bapak tahu."

Rian mengangkat kepala.

"Aldo Maulana adalah anak Pak Herman Maulana."

Nama itu membuat udara berubah.

Pak Herman Maulana.

Pendiri Kopi Segar.

Salah satu orang yang sejak awal memiliki jalur ke Yamamoto Group.

Teguh melanjutkan, "Dari data lama, Kopi Segar pernah menjadi pintu kontak awal antara jaringan Maulana dan Yamamoto. Jika kasus Nadia dibuka, perkara Aldo bisa menyeret hubungan bisnis yang lebih besar."

Rian menatap map itu lama.

Kemarahan di matanya tidak meledak.

Ia justru menjadi tenang.

Terlalu tenang.

Keheningan itu membuat Teguh tidak berani memotongnya.

"Bagus," katanya pelan.

Teguh menunggu.

Rian menutup ponselnya. Matanya sedikit basah, tetapi suaranya stabil.

"Siapkan Rp 500.000.000. Tidak peduli habis berapa, bantu dia menuntut keadilan."

Lalu ia menambahkan, lebih dingin, "Dan kali ini, jangan biarkan nama Maulana bersembunyi di balik uang."

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!