NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Hantaman Pertama di Arena Batu

​Matahari pagi menyinari Arena Utama Sekte Daun Angin, memantulkan cahaya keemasan dari ubin-ubin batu granit putih yang menyusun empat panggung pertarungan raksasa.

​Suasana di sekitar arena bagaikan lautan manusia yang mendidih. Ribuan Murid Luar berpakaian jubah biru duduk di tribun, bersorak-sorai dan mendiskusikan jagoan mereka. Di tribun kehormatan yang terletak lebih tinggi, para Tetua Sekte duduk dengan tenang, mengawasi jalannya babak penyisihan untuk mencari bibit-bibit berbakat yang layak diangkat menjadi Murid Dalam.

​Babak penyisihan berjalan cepat. Hantaman energi Qi, kilatan pedang, dan ledakan elemen silih berganti menghiasi panggung. Bagi kultivator tingkat rendah, panggung ini adalah ajang pamer kekuatan.

​"Panggung nomor tiga! Pertandingan selanjutnya!" Suara keras seorang wasit bergaung menggunakan pengeras suara dari formasi Qi. "Nomor urut 312, Murid Luar Lin Feng, melawan nomor urut 804... Murid Pelayan Awan!"

​Seketika, tribun di sekitar panggung nomor tiga menjadi riuh.

​"Murid Pelayan? Serius ada pelayan yang ikut turnamen?"

"Ini pasti orang gila yang kemarin mendaftar di Paviliun. Kudengar dia tidak punya setetes Qi pun!"

"Lin Feng berada di Alam Pengumpul Qi Tingkat Tiga! Bukankah ini sama saja dengan mengirim seekor domba ke kandang harimau?"

​Di tengah cemoohan dan tatapan merendahkan, Awan melangkah naik ke atas panggung batu. Ia mengenakan seragam abu-abu kasarnya yang sudah dicuci bersih, dengan pedang Kayu Besi Hitam terikat erat di punggungnya. Langkahnya tenang, napasnya teratur, dan matanya sedatar permukaan danau es.

​Dari sisi seberang, lawannya, Lin Feng, melompat naik ke atas panggung dengan gerakan ringan bagai bulu, memamerkan kendali Qi-nya. Ia memegang sebuah pedang baja putih yang memancarkan kilau tajam.

​Melihat lawannya hanya seorang pelayan tanpa aura spiritual, wajah Lin Feng memerah karena merasa direndahkan.

​"Sekte ini pasti sudah gila membiarkan sampah sepertimu berdiri di arena yang sama denganku," dengus Lin Feng sambil mengarahkan ujung pedangnya ke wajah Awan. "Berlututlah, patahkan tanganmu sendiri, dan merangkak turun dari panggung. Aku tidak ingin mengotori pedangku dengan darah manusia fana."

​Wasit menatap Awan sejenak, memastikan pemuda itu tidak ingin menyerah, lalu mengangkat tangannya. "Pertandingan... Dimulai!"

​Begitu aba-aba dijatuhkan, Lin Feng tidak membuang waktu. Ia ingin mengakhiri lelucon ini secepat mungkin. Energi Qi berwarna biru pucat meledak dari Dantiannya, mengalir ke kaki dan pedangnya.

​"Langkah Angin Menyapu Daun!"

​Lin Feng melesat ke depan, tubuhnya meninggalkan bayangan samar. Kecepatannya membuat banyak Murid Luar di tribun bersorak kagum. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan Awan. Pedang baja putihnya menusuk langsung ke arah dada Awan, dibungkus oleh angin tajam yang bisa merobek baju zirah.

​"Mati kau, gembel!" teriak Lin Feng.

​Bagi penonton, serangan itu terlalu cepat untuk dihindari oleh manusia fana. Namun, di mata Awan... serangan itu penuh dengan kelemahan.

​Selama lima tahun, Awan telah membedah gerakan pedang dasar hingga ke akar-akarnya. Ia telah menebas, menusuk, dan menangkis jutaan kali. Ia bisa membaca pergerakan otot bahu Lin Feng, sudut pinggulnya, dan pergeseran berat badannya sebelum pedang itu bahkan meluncur.

​Qi mungkin membuat pedang itu bergerak cepat, tetapi tubuh Lin Feng sendiri bergerak sangat kaku.

​Terlalu banyak tenaga di pergelangan. Kuda-kudanya terlalu ringan.

​Satu detik sebelum ujung pedang itu menembus dadanya, Awan bergerak. Ia tidak mundur, melainkan melangkah setengah langkah menyamping dengan presisi milimeter. Pedang Lin Feng yang dilapisi Qi menderu melewati sisi tubuh Awan, hanya memotong udara kosong.

​Mata Lin Feng membelalak. Dia menghindar?!

​Sebelum Lin Feng bisa menarik pedangnya, Awan menggeser berat badannya. Ia tidak mencabut pedang kayunya. Sebagai gantinya, tangan kanannya mengepal. Meminjam hukum momentum, Awan memutar pinggulnya, mengunci tulang punggungnya, dan melontarkan pukulan keras tepat ke arah ulu hati Lin Feng.

​DUAAGH!

​Suara benturan teredam terdengar menyakitkan.

​Mata Lin Feng nyaris melompat dari rongganya. Ia merasa seolah-olah baru saja ditabrak oleh bongkahan batu raksasa yang menggelinding dari atas gunung. Energi Qi pelindung di sekitar tubuhnya hancur berkeping-keping di bawah tekanan fisik murni Awan.

​Lin Feng terbatuk hebat, memuntahkan air liur, dan tubuhnya terpental ke belakang, terseret di atas ubin batu hingga beberapa meter.

​Tribun penonton mendadak sunyi senyap. Mulut para Murid Luar ternganga lebar.

​Apa yang baru saja terjadi? Seorang Murid Luar di Alam Pengumpul Qi Tingkat Tiga dipukul mundur oleh seorang manusia fana murni?!

​"B-bajingan..." Lin Feng bangkit dengan susah payah, wajahnya memerah karena malu dan marah yang meledak-ledak. Ulu hatinya terasa mati rasa, tapi harga dirinya jauh lebih terluka. "Kau berani menggunakan trik murahan padaku?! Aku akan membunuhmu!"

​Lin Feng mengamuk. Ia menyalurkan seluruh sisa Qi di Dantiannya ke dalam pedangnya. Angin berpusar dengan ganas di sekeliling bilah bajanya, menciptakan pusaran udara yang tajam. Ini adalah teknik andalannya.

​"Tebasan Badai Pemecah Batu!"

​Lin Feng melompat tinggi ke udara, menebas ke bawah dengan kekuatan penuh. Tekanan angin dari pedangnya bahkan membuat ubin panggung retak sebelum tebasan itu mengenai sasarannya. Ini bukan lagi serangan untuk mengalahkan, ini adalah serangan untuk membunuh!

​Melihat tebasan mematikan itu turun, ekspresi Awan tetap datar. Kali ini, ia tidak menghindar.

​Tangan kanannya perlahan merayap ke balik punggungnya, menggenggam gagang tebal pedang Kayu Besi Hitam. Otot-otot lengannya mengembang seketika, urat-urat menonjol seperti cacing tanah di balik kulit tembaganya.

​Ia menarik napas panjang, menanamkan kedua kakinya kuat-kuat ke lantai batu.

​Gerakan Dasar: Menangkis dari Bawah!

​Awan menarik pedang kayu seberat lima puluh kilogram itu dari punggungnya dan mengayunkannya ke atas dalam satu gerakan melengkung yang mulus. Tidak ada cahaya spiritual. Tidak ada aura magis. Yang ada hanyalah tenaga kinetik murni, massa, dan kecepatan otot yang dilatih di ambang kematian.

​Ayunan pedang kayu raksasa itu membelah udara dengan suara ledakan sonik kecil.

​BOOOM!

​Pedang kayu hitam bertabrakan langsung dengan pedang baja Lin Feng di tengah udara. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menyapu debu di atas panggung.

​Hening sejenak.

​Lalu... KRAAAKK!

​Pedang baja putih yang dibanggakan Lin Feng hancur menjadi puluhan serpihan logam. Kayu Besi Hitam milik Awan tidak berhenti di situ; momentumnya terus melaju, menghancurkan pusaran Qi Lin Feng layaknya palu raksasa menghancurkan kaca jendela, dan menghantam dada Lin Feng dengan keras.

​Tubuh Lin Feng terlempar ke udara seperti boneka kain yang putus talinya, melayang keluar dari batas panggung, dan jatuh berdebum keras di tanah pelataran. Ia memuntahkan darah segar dan langsung pingsan tak sadarkan diri.

​Di atas panggung yang kini retak-retak, Awan berdiri tegak. Ia mengayunkan pedang kayunya dengan santai untuk menghilangkan debu, lalu menyarungkannya kembali ke punggung. Ia bahkan tidak bernapas berat.

​Wasit di pinggir panggung ternganga, lupa akan tugasnya, sampai akhirnya ia tergagap dan berteriak, "K-keluar ring! Pemenangnya... Murid Pelayan, Awan!"

​Kesunyian di tribun akhirnya pecah oleh hiruk-pikuk yang tak terkendali. Tidak ada yang bersorak untuk Awan, melainkan teriakan keterkejutan, horor, dan kebingungan. Manusia fana itu baru saja menghancurkan senjata spiritual tingkat rendah dengan sebatang kayu!

​Di kejauhan, di tribun para Tetua, Penatua Kuang mengelus jenggot putihnya. Matanya memancarkan cahaya yang terang.

​"Dia tidak memiliki Qi," gumam Penatua Kuang pelan. "Tapi kepadatan otot, ketepatan, dan tenaganya... anak ini telah menempa tubuhnya sendiri hingga mencapai batas yang tidak masuk akal. Menarik. Sangat menarik."

​Awan berjalan menuruni tangga panggung dengan tenang, tidak memedulikan ribuan mata yang kini menatapnya seperti monster.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!