karya ini terdapat alur maju mundur ya, baca beberapa bab baru baru bisa mengerti jalan ceritanya.😁
Garina Jelita, gadis malang yang telah disia siakan selama 10 tahun, ia berada dititik terendahnya saat suami yang ia percaya mampu melindunginya justru mengusirnya dari kehidupannya.
percayalah penyesalan akan selalu ada bagi mereka yang berbuat kesalahan, namun waktu belum tentu memberi kesempatan bagi mereka untuk menebusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deodoran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sagara membawa Garina kesalah satu Resto Jepang yang menyediakan ruangan privat.
Gadis yang duduk sopan dengan kedua lutut ditekuk kebelakang itu terus menatapnya lekat, sampai nampak tak acuh dengan pelayan yang meletakkan beberapa hidangan asing dihadapan Garina.
"Sebenarnya Tuan ini siapa? Kenapa bisa tahu perkara tasku?" Tatapan Garina penuh selidik namun sesekali masih mencuri pandang pada jejeran makanan Jepang dihadapannya. Ada 4 macam shusi yang nampak elegan serta dua cangkir teh hijau.
Salah satu dari keempat sushi itu pernah ia coba saat ayahnya diberikan oleh Tuan Sagara katanya.
"Makan Dulu" Sagara mengulum senyumannya ia bisa membaca isi hati Garina.
Gadis ini benar benar lucu, pikir Sagara.
"Baik ittadakimassss" Seru Garina semangat lalu mulai melahap sushi dihadapannya satu persatu dengan menggunakan tangan, ia kemudian berbicara dengan mulut penuh.
"Tuan sebenarnya anda ini siapa?"
"Minum dulu" Sagara menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diteguk Garina hingga setengah isi.
Sagara sama sekali tidak menyentuh makanan dihadapannya hanya sesekali menyesap teh Hijau yang ia pesan. Selain sudah kenyang karena baru saja makan siang bersama klien, Sagara merasa lebih nikmat melihat gadis kecil dihadapannya makan dengan lahap.
"Tuan sebenarnya anda siapa?" Garina mengulang pertanyaan yang sama setelah mengisi lambungnya.
"Menurutmu aku siapa?"
"Saya tidak tahu tuan, mengapa anda bisa mengetahui perkara tas yang diberikan tuan Sagara padaku?"
"Karena aku Asistennya" Entah mengapa hanya itu jawaban yang bisa difikirkan Sagara.
Seketika Garina sulit menelan Salivanya, Matanya membulat menatap kagum sang Asisten konglomerat, tangan Garina bergetar terulur ingin menjabat pria tampan dihadapannya.
Sagara meyambutnya dengan menahan tawa, gadis ini benar benar menghiburnya.
Garina menepuk pipinya tak percaya jika bertemu dengan Asisten Sagara saja ia segugup ini bagaimana dengan bertemu dengan Sagara Ganendra secara langsung.
Gadis itu menatap penuh kagum pria dihadapannya. Asistenya saja setampan ini bagaimana dengan atasannya?
"Maafkan Aku Tuan karena tidak mengenali anda"
"Tidak apa apa oh iya siapa namamu?"
"Garina Jelita Tuan, Tuan sendiri?"
"Jhon" Jawab Sagara singkat.
"Ehmm Garina bisa jangan bertingkah seperti ini"Sagara tidak nyaman dengan kelakuan Garina yang tiba tiba berubah sangat sopan layaknya pelayan kerajaan, bagaimana jika gadis itu tahu jika ia Sagara Ganendra mungkin Garina akan sujud dihadapannya.
Sagara terkekeh geli.
Garina akhirnya melemaskan tubuhnya yang sempat menegang, bahunya seketika terkulai lega, ia bersyukur asisten Sagara ternyata tidak kaku.
"Aku tegang sekali tuan hah" gadis itu menghela nafas ia sudah tak canggung lagi, Garina tersenyum lebar memperlihatkan jejeran gigi putihnya yang rapi dan mata yang membentuk bulan sabit.
Melihat pemandangan yang begitu menyegarkan dihadapannya Sagara tak sadar ia ikut menarik kedua sudut bibirnya keatas.
.
.
.
"Tak ada yang bisa mengalahkan senyumannya" Sagara meletakkan sloki kosong dihadapannya.
Mini bar disalah satu Apartemen mewahnya ini menjadi saksi bisu bagaimana kondisinya selama 10 tahun ini.
Setiap kali Rindu yang ia balut rasa bersalah datang menyapa Sagara selalu kesini meneguk satu atau dua gelas minuman beralkohol sambil memindai jejak jejak yang ditinggalkan Garina, jujur 8 tahun hidup sebagai suami Bella sebelum mengetahui kebusukan wanita itu Sagara masih memikirkan Garina, sedikitpun ingatan mengenai istri yang ia nikahi dibawah tangan itu tak pernah hilang dari benaknya.
Namun sudah 2 tahun ini Sagara setiap hari pasti menyempatkan mengunjungi apartemen yang pernah ditinggali Garina selama beberapa bulan menjadi istrinya. Terkadang ia menangis sembari membayangkan bayangan Gadis itu yang seakan masih memenuhi setiap sudut Ruangan di Apartemen ini.
"Tuan botolnya sudah setengah isi, besok akan ada rapat dewan komisaris sebaiknya anda tidak mabuk malam ini" Jhon yang sedari tadi berdiri disamping atasannya mulai mengingatan. Meski tak pernah sampai mabuk namun Jhon merasa perlu mengingatkannya.
Jhon lalu melirik rolexnya, 12 tahun bekerja sebagai orang terdekat Sagara menjadikan ia terbiasa mengenakan barang barang branded bahkan dua anaknya bisa masuk disekolah internasional.
"Sudah pukul 8 malam Tuan" Lanjut Jhon lagi karena pria itu hanya bergeming dengan tatapan kosong menerawang jauh.
Sagara mengacuhkan Jhon dengan langkah lunglai ia membawa tubuhnya masuk kedalam kamar.
Pria 35 tahun yang masih nampak menawan itu duduk di tepi ranjang sambil mengusapnya perlahan.
Disini ia memastikan bahwa seorang Sagara Ganendra adalah pria pertama bagi gadis 17 tahun yang masih duduk di bangku kelas 12 SMA saat itu, begitu pun sebaliknya, Garina adalah wanita pertama yang ia sentuh.
"Heh...heh......" Sagara tertawa pilu, ia kembali menatap meja hias, ada sebuah ransel coklat dan cincin berlian yang ia pakaikan dijari manis Garina ketika ia menikahi gadisnya itu. Posisi kedua benda yang ditinggalkan Garina masih sama seperti 10 tahun yang lalu.
Sagara berhasil mempertahankan semua posisi benda di Apartemen ini persis seperti 10 tahun lalu. Sepertinya ia harus menambah gaji Bi Asih wanita paruh baya yang ia tugaskan menjaga Apartemen ini.
"Apa cita citamu? kau ingin jadi dokter? atau kau ingin kuliah di Luar negri?" Sagara memeluk tubuh polos Garina yang ditutupi selimut dari belakang, iapun tak kalah polosnya.
"Aku ingin jadi seorang istri dan ibu yang memiliki umur yang panjang" Jawab Garina, ia tak ingin mengikuti jejak ibunya.
Sagara tersenyum mendengar jawaban Garina, hatinya menghangat memikirkan jika gadis muda itu secara tidak langsung mengatakan ingin terus berada disisinya.
Cita cita yang begitu simpel, namun Sagara justru menjadi orang yang mematahkan impian Garina Jelita.
"Dimanapun kau berada tolong sampaikan pada Tuhan agar menghukumku sekeji mungkin" Ucap Sagara penuh harapan, netranya kembali berembun sebelum akhirnya pintu kamar itu diketuk perlahan.
Bi Asih masuk setelah mendengar Sagara mengijinkannya. wanita paruh baya itu terlebih dahulu menyampaikan maksudnya pada Jhon ingin bertemu dengan Tuan Sagara yang terhormat.
"Tuan" cicit Bi Asih Lirih sembari menunduk dalam.
"Hemmm" Sagara membalas dengan deheman.
"Tuan ada yang ingin saya sampaikan, beberapa orang dari Bank Xxx kemarin datang ke Apartemen, mereka menanyakan apa benar ini adalah alamat unit milik salah satu nasabah mereka"
Alis Sagara seketika bertaut bingung.
"Nasabah mereka?" tanya Sagara.
Sementara Jhon masih berusaha menyimak apa yang hendak disampaikan Bi Asih.
"Benar Tuan nasabah mereka bernama Garina jelita, mereka ingin bertemu" Bi Asih memang tak mengenal Garina karena Ia baru dipekerjakan setelah kepergian Garina, ia juga tak pernah mencari tahu prihal Mengapa ia harus tetap merawat beberapa benda milik seorang wanita di Apartemen ini agar tetap terjaga.
Sagara memang pernah membuka rekening atas nama Garina dan menuliskan alamat unit ini, karena ia memang membeli apartemen ini khusus untuk Garina namun saat hendak pergi gadis itu justru mengembalikan semua yang pernah diberikan Sagara, ia hanya membawa ATM dan buku tabungan pemberian Sagara dimana didalamnya Sagara sudah mengisi uang sebanyak 5 milyar sebagai konpensasi Talak Garina.
Namun mengapa pihak Bank mencari Garina disini?
"Iya Tuan, rekening atas nama Garina Jelita katanya sudah 10 tahun tidak melakukan transaksi sementara ada uang dengan jumlah banyak didalamnya katanya mereka ingin memastikan apakah pemilik rekening masih hidup atau tidak, jika masih hidup mereka ingin menawarkan Deposito jangka panjang agar dana itu bisa lebih bermanfaat bagi bank dan nasabah, namun jika sudah wafat mereka ingin bertemu dengan ahli warisnya untuk menentukan nasib rekening itu" jelas Bi Asih.
Seketika dua pria didalam kamar mewah itu saling pandang penuh tanda tanya.
"Garina?" Tiba tiba dada Sagara seperti diremat kuat, rasanya sakit dan sesak disaat bersamaan.
Apa arti semua ini?
Terimakasih thor tuk karya hebatnya
Padahal novel ini udah ku baca berulang kali 😭