NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024: Pintu Gerbang Kota Harapan

Tiga ratus orang bergerak keluar dari hotel saat pagi belum sepenuhnya terang.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada rombongan kacau.

Nadira membagi barisan seperti memindahkan stok hidup.

Kelompok tempur di depan dan samping.

Kelompok kerja di tengah.

Logistik dan obat di belakang.

Meilan menjaga antrean barang.

Meiling memegang daftar orang.

Dara berjalan di sisi kanan dengan kapak taktis di bahu.

Kiara berjalan di kiri, terlalu sunyi untuk orang yang baru mencapai Tingkat 3.

Arga berada paling depan.

Jalan menuju utara tidak kosong.

Beberapa kelompok kecil bersembunyi di ruko, atap, dan balik bus rusak. Mereka melihat rombongan itu dengan mata lapar, takut, dan iri.

Tidak ada yang berani mendekat.

Tiga ratus perempuan bersenjata itu bergerak seperti pasukan.

Itu pasukan.

Nama Tim Elite Nadira berjalan mendahului mereka.

"Itu mereka."

"Kelompok dari hotel."

"Semua Evolver?"

"Jangan cari masalah."

Arga mendengar semuanya.

Ia tidak peduli.

Reputasi adalah pagar pertama.

Kalau cukup tinggi, orang lemah tidak perlu banyak mati.

Kota Harapan terlihat sebelum tengah hari.

Bukan kota utuh.

Hanya potongan Semarang yang dipaksa punya bentuk.

Jalan besar diblokir bus, kontainer, pagar besi, dan beton bekas proyek. Di atasnya berdiri menara pengawas darurat. Beberapa pria bersenjata senapan rakitan dan tombak berjaga. Ada bendera kain putih dengan tulisan hitam: KOTA HARAPAN.

Di dalam pagar, asap dapur naik.

Suara manusia terdengar.

Tangisan bayi.

Perintah pendek.

Suara palu.

Suara antrean.

Kasar.

Sempit.

Tetapi ada urutan.

Arga menatap pos pemeriksaan itu.

Surya bergerak lebih cepat.

Dalam kehidupan sebelumnya, Kota Harapan baru punya bentuk seperti ini satu bulan kemudian. Sekarang, dua ribu lebih orang sudah bernafas di balik pagar.

Seorang penjaga di gerbang mengangkat tangan.

"Berhenti! Nama kelompok?"

Nadira maju setengah langkah.

"Kami ingin registrasi tim dan membeli wilayah."

Penjaga itu melihat jumlah mereka.

Wajahnya berubah.

"Tunggu."

Ia berlari ke dalam.

Dara berbisik, "Dia takut."

Kiara menjawab, "Dia seharusnya takut."

Lima menit kemudian, seorang petugas yang lebih tua keluar. Sikapnya lebih rapi. Bekas militer, mungkin. Ia melihat formasi, lalu melihat Arga.

"Pemimpin?"

"Aku."

"Nama?"

"Arga Bayu Pratama."

Petugas itu mencatat.

"Jumlah?"

Nadira menjawab, "Tiga ratus aktif. Kapasitas registrasi lima ratus."

Petugas itu menatap Nadira.

"Biaya registrasi untuk kapasitas lima ratus: tiga puluh Kristal Tingkat 1."

Nadira mengeluarkan kantong kecil.

Tiga puluh Kristal jatuh ke wadah logam dengan bunyi dingin.

Petugas itu tidak lagi bertanya terlalu banyak.

Mereka dibawa ke aula registrasi.

Aula itu dulunya gedung olahraga sekolah. Sekarang meja-meja kayu disusun menjadi loket. Di dinding ada papan peraturan: larangan membunuh di zona aman tanpa alasan, pajak masuk, biaya sewa tempat, kewajiban lapor kelompok bersenjata.

Nadira mengisi formulir.

Arga berdiri di samping, membaca peta wilayah.

Kiara melihat Nadira menulis nama tim.

Lalu alisnya naik.

"Nadira."

"Ya?"

"Apa itu?"

Nadira tidak berhenti menulis.

"Nama tim."

Arga menoleh.

Di kolom nama tertulis jelas:

Tim Harem Arga.

Dara batuk.

Meilan pura-pura melihat lantai.

Meiling langsung mencatat sesuatu, mungkin efek psikologis nama terhadap negosiasi.

Arga menatap Nadira.

"Serius?"

Nadira mengangkat wajah polos.

"Secara branding, nama itu mudah diingat."

"Secara akal sehat?"

"Juga akurat."

Kiara diam dua detik.

Lalu berkata, "Tidak salah."

Arga menatap Kiara.

Kiara mengangkat dagu.

"Apa? Mereka semua memang mengikutimu."

Dara tertawa keras sampai petugas registrasi menoleh.

Petugas itu membaca nama tim, lalu wajahnya berusaha keras tetap profesional.

"Tim... Harem Arga. Kapasitas lima ratus. Pemimpin Arga Bayu Pratama. Manajer Nadira Kusumawardani."

Nadira mengangguk.

"Benar."

Arga tidak membatalkan.

Kadang lelucon yang cukup berani menjadi senjata.

Orang akan mengingatnya.

Dan orang yang mengingat akan berhitung sebelum menyerang.

Setelah registrasi, mereka menuju meja wilayah.

Peta Kota Harapan dibentangkan.

Bagian tengah sudah padat.

Selatan mahal.

Barat dekat pasar sementara.

Timur dekat gudang air.

Utara hampir kosong.

Berbatasan dengan pagar luar dan reruntuhan.

Petugas menunjuk wilayah itu.

"Dua puluh ribu meter persegi. Murah karena berisiko. Enam Kristal Tingkat 2."

Nadira menatap Arga.

Meiling langsung berbisik, "Harga per meter rendah. Tapi biaya pertahanan tinggi."

Meilan menambahkan pelan, "Kalau bisa dikendalikan, ruangnya cukup untuk tempat tinggal, dapur umum, dan pasar kecil."

Arga menunjuk wilayah utara.

"Ambil."

Petugas itu memastikan sekali lagi.

"Wilayah utara sering diserang Zombie dari luar pagar."

"Bagus."

Petugas itu terdiam.

"Bagus?"

"Mudah berburu."

Dara menyeringai.

Nadira tidak bertanya di depan orang luar.

Tetapi ia tahu ada alasan lain.

Arga membayar enam Kristal Tingkat 2.

Surat hak wilayah dicap dengan stempel merah.

Dua puluh ribu meter persegi.

Utara Kota Harapan.

Mulai hari itu, Tim Harem Arga punya tempat untuk menancapkan kaki.

Mereka keluar dari aula registrasi menuju wilayah baru.

Jalan di dalam Kota Harapan lebih ramai daripada yang diperkirakan banyak anggota tim. Orang-orang berbaris untuk makanan. Anak-anak duduk di depan kelas darurat. Beberapa mantan tentara melatih pria muda memegang tombak. Ada papan kerja harian, pos medis, dan gudang pajak.

Kasar.

Belum bersih.

Tetapi Surya memang membangun dasar.

Arga menghormati itu.

Lalu suara tawa kasar memotong jalan.

Di persimpangan menuju utara, ratusan orang berdiri menutup setengah jalan.

Kelompok Serigala.

Di tengah mereka, seorang pria bermata satu duduk di atas kap mobil.

Serigala.

Tubuhnya tidak sebesar Bang Jago.

Wajahnya juga tidak bengis secara berlebihan.

Justru itu yang membuatnya berbahaya.

Ia tersenyum seperti orang yang bisa menunggu seminggu hanya untuk menusuk di jam terbaik.

"Tim Harem Arga," katanya, sengaja mengeraskan suara. "Nama yang menarik."

Beberapa anak buahnya tertawa.

Tidak ada anggota Arga yang tertawa.

Arga berjalan paling depan.

"Minggir."

Serigala melompat turun dari mobil.

"Kota Harapan punya jalan umum. Semua orang boleh lewat."

"Kalau begitu lewat."

Serigala tersenyum lebih lebar.

"Aku cuma ingin menyapa tetangga baru."

Telepati menyapu kelompok itu.

Pikiran kotor.

Hitungan.

Niat mengukur.

Dan di belakang barisan kiri, lima orang yang pikirannya berbeda.

Mereka datang membawa niat merampas dan mempermalukan.

Mereka mengenali Arga.

Mereka pernah mendengar namanya dari Eko.

Eko Prasetyo.

Mahasiswa pembunuh yang di kehidupan lama mengacaukan beberapa kelompok kecil sebelum akhirnya menjual manusia ke kekuatan yang lebih besar. Di kehidupan ini, beberapa tangannya sudah bergerak lebih awal, menyebar kabar tentang stok hotel, membujuk kelompok luar untuk menunggu kesempatan merampas anggota perempuan.

Lima orang itu ada di sini.

Satu lagi tidak.

Orang yang mereka sebut "nomor dua" belum muncul.

Arga berhenti.

"Keluarkan lima orang di belakang kiri."

Serigala memiringkan kepala.

"Apa?"

"Lima orang. Jaket cokelat, topi hitam, pria kurus dengan luka di pipi, satu yang memegang parang merah, dan yang bersembunyi di belakang motor."

Kelima orang itu langsung berubah wajah.

Serigala tidak menoleh.

Itu yang membuat Arga tahu ia sudah tahu sebagian.

"Mereka orangku."

"Mereka orang Eko."

Nama itu membuat beberapa wajah bergerak.

Kiara melangkah maju.

Bayangan di bawah kakinya menggelap.

Serigala mengangkat tangan.

Dua anak buahnya langsung menarik seorang perempuan muda dari kerumunan pinggir jalan. Salah satu pisau menempel ke leher perempuan itu.

Bukan anggota inti, tetapi anggota baru Tim Harem Arga yang sedang membawa obat.

Kiara berhenti.

Matanya menjadi sangat gelap.

Serigala tersenyum.

"Cepat sekali. Tapi di kota ini, kecepatan kadang membunuh orang lain."

Dara hampir maju.

Arga mengangkat tangan.

Semua berhenti.

Nadira menatap Kiara.

Kiara tidak menurunkan belati, tetapi ia mundur setengah langkah.

Pelajaran masuk.

Kekuatan tanpa kontrol bisa menjadi celah.

Arga menatap Serigala.

"Kamu menyentuh anggota wilayah terdaftar."

Serigala mengangkat alis.

"Wilayah?"

Nadira mengeluarkan surat hak wilayah yang baru dicap.

"Tim Harem Arga terdaftar sebagai pemilik wilayah utara. Anggota kami berada dalam perpindahan resmi menuju wilayah. Mengganggu perpindahan wilayah bersenjata berarti pelanggaran administratif dan ancaman keamanan."

Petugas registrasi yang mengantar mereka pucat, tetapi tidak bisa membantah.

Aturan baru Kota Harapan masih kasar.

Tetapi ada satu hal yang jelas: Surya tidak suka kelompok bersenjata membuat kekacauan di jalur resmi.

Arga melanjutkan, "Serahkan lima orang itu. Sekarang. Atau aku seret masalah ini ke pos militer Surya dan kita lihat siapa yang lebih ingin dia potong dulu."

Serigala menatap Arga.

Tawa di belakangnya hilang.

Ia bisa menyerang.

Ratusan melawan tiga ratus.

Tetapi di dalam Kota Harapan, di depan saksi, melawan kelompok baru yang baru membayar registrasi dan membeli wilayah, itu bukan perampokan mudah.

Itu perang politik.

Serigala belum siap.

Belum hari ini.

Ia menjentikkan jari.

Kelima orang itu didorong keluar.

Salah satu mencoba lari.

Dara bergerak.

Ketangguhan tidak perlu diaktifkan.

Satu tendangan menghantam lututnya.

Pria itu jatuh menjerit.

Arga menatap Nadira.

"Kamu."

Nadira tahu maksudnya.

Untuk sepersekian detik, wajahnya kosong.

Ini manusia.

Ini manusia.

Jahat.

Berbahaya.

Tetap manusia.

Telepati menangkap pikirannya yang menajam.

Kalau saya hanya bisa mengatur makanan, saya akan selalu berdiri di belakang orang lain.

Kalau saya ingin berdiri di samping protagonis, saya harus bisa memotong.

Nadira mengambil pisau pendek.

Pembelah aktif.

Tidak ada cahaya besar.

Hanya rasa dingin yang sangat tipis di sepanjang mata pisau.

Orang pertama berteriak, "Tunggu! Aku cuma ikut Eko! Aku tidak menyentuh siapa pun!"

Arga berkata, "Kamu yang menandai kamar perempuan untuk dijual."

Wajah pria itu membeku.

Nadira mengayun.

Pisau itu melewati leher seperti melewati air.

Darah menyembur.

Kerumunan mundur.

Nadira tidak muntah.

Tangannya sedikit gemetar.

Tapi ia maju ke orang kedua.

Arga menyebut dosa mereka satu per satu.

"Kamu membakar tangga agar kelompok lain terjebak."

Tebas.

"Kamu menukar dua gadis dengan satu dus makanan."

Tebas.

"Kamu membunuh orang yang membawa obat."

Tebas.

"Kamu mengirim kabar tentang hotelku ke Eko."

Tebas.

Lima tubuh jatuh.

Pembelah padam.

Nadira berdiri di tengah darah.

Wajahnya pucat.

Tetapi matanya tidak pecah.

Arga mendekat dan mengambil pisau dari tangannya.

"Cukup."

Nadira mengangguk.

"Nomor dua tidak ada."

"Aku tahu."

Serigala menatap lima mayat itu.

Senyumnya hilang.

"Kamu membunuh orang di jalan Kota Harapan."

Arga mengangkat surat wilayah.

"Aku mengeksekusi pengganggu perpindahan wilayah yang terbukti menyerang anggota dan menyelundupkan informasi untuk kelompok kriminal. Kalau kamu keberatan, lapor ke Surya."

Nama Surya membuat Serigala diam.

Belum waktunya.

Telepati menangkap pikirannya.

Aku ingat.

Tim perempuan ini.

Pria ini.

Kalau aku dapat senjata api di gudang lama itu, aku akan buka wilayah mereka dari dalam.

Perempuan-perempuan itu...

Arga menatapnya tanpa ekspresi.

Kamu tidak akan punya kesempatan.

Serigala mundur satu langkah.

"Ayo."

Kelompok Serigala membuka jalan.

Kiara berjalan melewati Serigala dengan mata dingin. Kali ini ia tidak menyerang.

Itu kemajuan.

Dara memanggul kapak.

Meilan menenangkan anggota baru yang hampir menjadi sandera.

Meiling mencatat lima nama mati dan satu "nomor dua" yang hilang.

Nadira berjalan di samping Arga.

Tangannya sudah tidak gemetar.

"Saya baru saja membunuh lima orang."

"Ya."

"Saya tidak merasa seperti yang saya bayangkan."

"Bagaimana rasanya?"

Nadira melihat darah di ujung sepatunya.

"Seperti menutup kebocoran."

Arga meliriknya.

"Itu sebabnya kamu cocok."

Ia tidak tahu apakah itu pujian.

Tetapi Nadira menerimanya sebagai beban.

Mereka terus berjalan ke utara.

Di tangan Nadira, surat hak wilayah masih bersih dari darah.

Di belakang mereka, Kota Harapan mulai berbisik tentang nama baru yang aneh.

Tim Harem Arga.

Dan tentang perempuan berkacamata dingin yang memotong lima pria di jalan tanpa ragu kedua.

Di depan, wilayah utara menunggu.

Dua puluh ribu meter persegi reruntuhan, tanah kosong, tembok rusak, dan peluang.

Arga menatapnya.

Tempat ini akan menjadi papan permainan.

Ini papan catur.

Dan hari ini, bidak pertama sudah diletakkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!