NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Dosa Dua Puluh Tahun

Akhir pekan pada minggu kedelapan, Liana menerima telepon dari Panti Jompo Kasih Mulia.

Bukan dari Kim Hwa. Dari perawat administrasi.

"Bu Liana, maaf mengganggu. Hasil pemeriksaan paru Bu Kim Hwa sudah keluar. Dokter bilang kistanya jinak, tapi tetap disarankan tindakan kecil. Kami sudah menghubungi Pak Albert dan Pak Jason, tetapi belum ada yang datang mengambil hasil."

Liana berdiri di dapur rumah Jessy dengan sendok masih di tangan.

Di meja, ada folder bukti untuk Dennis. Di sampingnya, ponsel baru dari Edwin menyala dengan pengingat jadwal kerja Senin. Hidupnya sedang bergerak menjauh dari Phua, sedikit demi sedikit. Ia sudah tidak wajib berlari setiap kali nama Kim Hwa disebut.

Namun tiga puluh tahun kebiasaan bukan kain yang bisa digunting sekali.

"Apakah hasilnya harus segera dibawa ke dokter?" tanya Liana.

"Lebih baik begitu, Bu. Bukan darurat, tapi perlu dijadwalkan."

Liana memejamkan mata.

Jessy yang sedang memotong buah menoleh. "Apa lagi?"

Liana menutup telepon dulu, lalu menjelaskan singkat.

Jessy langsung mengerutkan kening. "Albert dan Jason ke mana?"

"Tidak datang."

"Lalu kamu mau pergi?"

Liana tidak menjawab.

Jessy meletakkan pisau. "Lia, kamu tahu aku tidak akan larang kamu berbuat baik. Tapi jangan pergi karena merasa masih menantu mereka."

"Aku tahu."

"Pergi karena kamu memilih. Bukan karena mereka masih punya tali di lehermu."

Kalimat itu membuat Liana menatap sahabatnya lama. Lalu ia mengangguk.

"Aku pergi karena kalau nanti terjadi apa-apa, aku tidak mau hatiku menyesal. Setelah itu, selesai."

Jessy mengambil kunci mobil. "Aku antar."

"Tidak usah. Aku naik taksi online. Ini cuma ambil hasil dan memastikan obatnya benar."

"Kirim lokasi."

"Iya."

Di perjalanan menuju Tangerang, Liana menatap jalan dari balik kaca mobil. Langit siang mendung tipis. Gedung, flyover, papan iklan, dan deretan ruko lewat seperti potongan hidup orang lain. Ia membawa tas kecil berisi ponsel baru, dompet, tisu, dan buku catatan. Di dalam tas itu juga ada keberanian yang belum tentu cukup, tetapi ia membawanya juga.

Panti Jompo Kasih Mulia tampak sama seperti terakhir kali ia datang bersama Albert beberapa bulan lalu. Cat krem di dinding, tanaman dalam pot, bau disinfektan dan bubur ayam dari dapur belakang. Beberapa penghuni duduk di kursi roda dekat taman kecil, menatap televisi yang suaranya terlalu keras.

Perawat administrasi menyambut Liana dengan lega.

"Terima kasih sudah datang, Bu."

Liana menerima amplop hasil pemeriksaan. "Keluarga lain belum datang?"

Perawat itu tampak tidak enak. "Belum, Bu. Kami sudah telepon beberapa kali."

Liana tidak berkomentar.

Ia masuk ke kamar Kim Hwa dengan amplop di tangan. Perempuan tua itu sedang duduk di ranjang, selimut kusut sampai lutut, meja samping penuh gelas plastik bekas, bungkus biskuit, dan obat yang belum diminum. Rambutnya yang dulu selalu disisir rapi oleh Liana kini berantakan di sekitar telinga.

Kim Hwa menoleh.

Matanya melebar sesaat, lalu wajahnya berubah menjadi masam.

"Kamu datang buat apa?"

Liana berdiri di ambang pintu. "Hasil pemeriksaan paru sudah keluar."

"Mau lihat aku jadi bahan tertawaan?"

"Tidak."

"Sekarang kamu senang? Aku tua, dibuang di sini, anakku sibuk, cucuku tidak peduli. Kamu datang untuk merasa menang?"

Liana masuk tanpa menjawab tuduhan itu. Ia meletakkan amplop di meja, mengumpulkan gelas plastik satu per satu, lalu menekan tombol panggil untuk meminta kantong sampah. Gerakannya tenang. Terlalu terlatih.

Kim Hwa menatapnya dengan curiga. "Jangan pura-pura baik."

"Obat siang sudah diminum?"

"Tidak mau."

"Dokter bilang harus diminum sebelum tindakan kecil dijadwalkan."

"Kamu bukan menantuku lagi."

Tangan Liana berhenti sebentar di tutup botol obat. "Benar."

Satu kata itu membuat Kim Hwa kehilangan bahan serangan untuk beberapa detik.

Liana menuang air hangat, membaca label obat, lalu memisahkan tablet sesuai dosis. Perawat masuk membawa kantong sampah dan menjelaskan bahwa dokter memberi obat tambahan yang membuat pasien mudah mengantuk.

"Kalau Bu Kim Hwa minum sekarang, mungkin nanti tertidur," kata perawat.

"Tidak apa-apa," jawab Liana. "Saya tunggu sebentar."

Kim Hwa menggerutu, tetapi akhirnya menelan obat karena Liana menunggu dengan gelas di tangan seperti dulu. Bukan memohon. Bukan takut. Hanya sabar yang sudah menjadi kebiasaan otot.

Setelah itu Liana merapikan bantal, mengganti sarung meja kecil, dan membuka jendela sedikit agar udara kamar tidak pengap. Setiap gerakan mengoyak sesuatu di dalam dirinya. Tiga puluh tahun ia melakukan semua ini dengan harapan kalau ia cukup baik, keluarga ini akan menerimanya. Hari ini ia melakukannya tanpa harapan apa pun.

Kim Hwa mulai mengantuk.

Kelopak matanya turun naik. Mulutnya masih bergerak, mengeluarkan keluhan yang makin tidak jelas.

"Kamu pikir kamu bersih..." gumamnya.

Liana sedang memasukkan kertas hasil lab ke folder. "Istirahat saja."

"Semua salahmu..."

Liana tidak menoleh.

"Kalau kamu tidak melahirkan anak itu..."

Jari Liana berhenti.

Ruangan mendadak kehilangan suara televisi dari lorong. Bahkan angin dari jendela seperti tertahan.

Kim Hwa memiringkan kepala di bantal, mata setengah terbuka, tetapi tatapannya tidak fokus. "Dede... Dede selalu bikin Albert ingat kamu. Semua orang sayang dia. Aku bilang jangan terlalu dimanja..."

Liana perlahan berdiri.

"Kim Hwa?"

Perempuan tua itu tidak menjawab panggilan. Tangannya bergerak di atas selimut, mencari sesuatu yang tidak ada.

"Dede tidak hilang..." bisiknya.

Darah di tubuh Liana seperti berhenti.

Kim Hwa tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. Pegangannya tidak kuat, tetapi cukup untuk membuat Liana tidak bisa bergerak.

"Tidak hilang... aku yang taruh dia di tempat itu..."

Liana menatap wajah Kim Hwa. "Apa yang kamu katakan?"

"Aku pikir ada orang yang akan ambil. Banyak orang lewat di sana. Aku cuma mau kamu menangis. Cuma mau kamu tahu rasanya kehilangan..."

Napas Liana pecah.

Dede.

Anak kecil dengan sweater biru. Tangan mungil yang dulu menggenggam ujung bajunya. Suara yang memanggil Mama dari halaman. Dua puluh tahun tangisan yang ia telan sendirian. Dua puluh tahun ia bangun malam dengan dada sesak karena mimpi melihat Dede berlari menjauh.

Selama ini, ia mengira tangannya sendiri yang lalai.

Ternyata ada tangan lain yang melepaskan.

Kim Hwa terus bergumam. "Hujan waktu itu... aku bawa dia naik angkot dulu, lalu turun dekat deretan ruko lama. Di belakangnya ada tempat sampah besar. Dia menangis panggil kamu. Aku bilang tunggu sebentar... aku bilang Mama sebentar lagi datang..."

Tubuh Liana hampir jatuh.

Ponsel.

Pikirannya yang hancur masih menemukan satu kata itu.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponsel baru dari tas. Jari-jarinya salah menekan layar dua kali. Air mata sudah turun tanpa suara. Ia membuka aplikasi perekam, menekan tombol merah, lalu meletakkan ponsel di atas meja dekat bantal.

"Kim Hwa," suaranya nyaris tidak keluar, "kamu bawa Dede ke mana?"

"Jangan tanya..." Kim Hwa mengerang pelan. "Aku sudah tua. Jangan salahkan aku. Aku tidak tahu dia benar-benar tidak ditemukan."

"Di mana?"

"Dekat ruko lama... ada papan bengkel... daerah Grogol sebelum jalan besar. Hujan deras. Aku pakai payung cokelat. Sweater biru itu basah. Ada gambar beruang... hurufnya... DD. Kamu yang buat, kan? Kamu selalu pamer kamu ibu baik..."

Liana menggigit bibir sampai terasa asin.

"Kenapa?" tanyanya. "Kenapa kamu lakukan itu?"

Kim Hwa membuka mata sedikit. Untuk satu detik, kebencian lama muncul di balik kabut obat.

"Karena setelah dia lahir, Albert makin mendengarmu. Karena anak itu membuatmu merasa punya tempat di rumahku. Karena kamu harus tahu... di rumah itu, yang menentukan nasib orang adalah aku."

Kalimat terakhirnya berakhir dalam napas berat.

Lalu Kim Hwa tertidur.

Begitu saja.

Seolah ia tidak baru saja menghancurkan dua puluh tahun hidup seseorang.

Liana berdiri di samping ranjang, tubuhnya kaku. Ponsel masih merekam suara napas Kim Hwa yang berat, suara kipas angin, suara perawat tertawa pelan di lorong. Dunia tetap berjalan. Hanya dunia Liana yang runtuh tanpa suara.

Ia menekan tombol berhenti.

File tersimpan.

Nama otomatisnya hanya angka tanggal dan jam. Angka biasa untuk dosa yang tidak biasa.

Liana mengambil ponsel, amplop hasil lab, dan tasnya. Ia keluar dari kamar tanpa membangunkan Kim Hwa. Di koridor, perawat bertanya apakah ia baik-baik saja. Liana menjawab, "Saya perlu udara."

Ia berjalan sampai parkiran.

Begitu pintu kaca panti tertutup di belakangnya, kakinya kehilangan tenaga. Liana berjongkok di samping mobil taksi online yang belum ia pesan, satu tangan menekan dada, satu tangan menggenggam ponsel.

Tangisnya keluar tanpa bentuk.

Tidak cantik. Tidak tenang. Tidak seperti perempuan kuat yang selama ini ia paksa tampilkan. Ia menangis seperti ibu yang baru diberi tahu bahwa luka lamanya bukan kecelakaan, melainkan sengaja dibuat dengan tangan manusia.

Orang lewat menoleh. Liana tidak peduli.

Ia membuka kontak Jessy.

Panggilan tersambung pada dering kedua.

"Lia? Kamu sudah selesai? Kenapa suaramu..."

"Jess..." Liana menutup mata, tetapi air mata tetap jatuh. "Dede..."

Di seberang, suara Jessy langsung berubah. "Apa yang terjadi?"

"Dede... bukan aku yang menghilangkan dia." Napas Liana tersendat. "Bukan aku, Jess. Selama dua puluh tahun aku menyalahkan diriku sendiri, tapi bukan aku."

Jessy terdiam satu detik, lalu suaranya ikut pecah. "Apa maksudmu?"

"Kim Hwa." Nama itu keluar seperti darah dari luka. "Kim Hwa yang membuang dia. Dia mengaku. Aku rekam."

"Ya Tuhan..."

Liana menunduk sampai dahinya hampir menyentuh lutut. "Anakku, Jess. Anakku menangis panggil aku, dan aku tidak tahu. Aku tidak datang. Aku tidak tahu..."

Jessy menangis di seberang, tetapi ia memaksa suaranya tetap jelas. "Lia, dengar aku. Kamu bukan yang membuang dia. Kamu dengar? Kamu bukan pelakunya."

Liana menggigit tangan sendiri agar tidak menjerit.

"Kirim lokasi. Aku jemput kamu sekarang."

"Aku... aku perlu memastikan rekamannya ada."

"Pastikan, lalu jangan sendirian terlalu lama."

Panggilan terputus beberapa menit kemudian, setelah Jessy berjanji berangkat. Liana duduk di bangku parkiran, membuka file rekaman. Ia menekan play beberapa detik.

Suara Kim Hwa terdengar lagi.

Dede tidak hilang...

Liana langsung menekan pause, tetapi itu cukup.

Rekaman berhasil.

Tangannya masih gemetar ketika ia membuka Google. Huruf-huruf di layar kabur oleh air mata. Ia menghapus salah ketik dua kali, lalu memasukkan kalimat yang sejak dulu tidak pernah berani ia cari dengan sungguh-sungguh.

Jakarta organisasi pencarian anak hilang

Hasil pencarian muncul.

Baris pertama membuat napasnya berhenti.

Yayasan Temu Kembali.

Ketua: Bryan Thung.

1
sri rahayu
Dari awal sampai episode ini masih menarik dan bikin penasaran.
Yusnani Siregar
👍
Yusnani Siregar
👍👍
Lulu kartika Mediani
aduuh beneran yaah..pantesan Albert sifat nya gitu..licik dan manipulatif ternyata nurun dr emak nya...Kim hwa ,buah jatuh tak jauh dr pohon nya.. 😄😄..parraaahh..dasar ratu drama...😌
Lia Aulia
tapi yang ini menantu mode badas
Lia Aulia
kok aku ketemunya mertua laknat semua ya
Lulu kartika Mediani
si Albert licik nya kebangetan yah...suhu nya manipulatif ..😮‍💨😮‍💨
Lulu kartika Mediani
Bagus sekali cerita ini...tidak bertele2..tapi konflik nya seru dan tak mudah ditebak.....dan masih relate dgn dunia nyata...cuman duuh yg jahat ,jahat nya kebangetan..kayak si Yuni itu ..udah mah merebut tpi masih ada niat juga buat nyelakain ,fitnah istri sah .. dunia jetset itu penuh duri tajam yah... kejahatan pun bisa datang dr keluarga sendiri,, apalagi klo bukan soal harta... bnerr lah ..harus bermental baja masuk kedunia org2 kaya raya mah...
Lulu kartika Mediani
Liana apa kamu lupa...Dede punya tanda lahir bentuj bulan sabit berwarna coklat kan di bahu nya..knp ga di cek...😌😮‍💨
Aprilinda
novel nya keren
EMINEM Resi
lanjut baca,
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Soraya Febriyanti
thor.. berarti Kevin dan Isha nikah beda agama yah..??
Yusnani Siregar
siapa yg bocor rahasia klrg loh
Yusnani Siregar
👍👍👍
Soraya Febriyanti
apa apa an ini..baru satu kali nyangkul..kok langsung garis dua.. ngapain nyimpen teks pack. di tas Kalu gk pernah maen sama cowok.. author ini bikin pusing pembaca aja
Yusnani Siregar
yes
/Pray/
Yusnani Siregar
ok
Yusnani Siregar
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!