NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004: Interogasi Pertama

"Bawa dia masuk, Bu Iptu. Kalau saya benar, pembunuhnya tidak pernah meninggalkan gedung ini."

Adira Larasati tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya memberi isyarat kepada Bambang Wicaksono.

Lima menit kemudian, Hendra Wijaya duduk di Ruang Interogasi lantai dua Polrestabes Surabaya. Di depannya ada meja logam, segelas air mineral yang belum disentuh, dan kamera kecil yang sudah menyala.

Adira duduk di seberangnya.

Arka tidak masuk. Ia berdiri di ruang observasi di balik kaca satu arah, bersama Bambang. Dari sana, ia bisa melihat Hendra dengan jelas.

Label merah masih menggantung di atas kepala pria itu.

[Pelaku]

Arka menahan dorongan untuk langsung menunjuk kaca.

Label tidak bisa masuk berkas.

Yang harus ia cari adalah celah di dunia nyata.

Adira membuka map tipis. "Saudara Hendra Wijaya, status Anda saat ini masih pemberi keterangan. Karena hasil pemeriksaan jenazah berubah dari dugaan bunuh diri menjadi dugaan pembunuhan, kami perlu mengulang beberapa poin. Anda paham?"

Hendra mengangguk cepat. "Saya paham, Bu. Saya juga ingin pelakunya ditangkap. Sari tidak mungkin dibunuh orang begitu saja."

Kalimatnya rapi.

Terlalu rapi.

Adira tidak bereaksi. "Jam berapa terakhir Anda berkomunikasi dengan Sari Rahayu?"

"Sekitar pukul sebelas siang. Lewat WhatsApp. Dia bilang mau istirahat. Setelah itu saya kerja."

"Kerja di mana?"

"Kantor cabang logistik di Rungkut. Saya masuk jam satu siang, pulang jam empat lewat sedikit. Ada absensi elektronik. Sidik jari, Bu. CCTV kantor juga ada."

Di ruang observasi, Bambang bersiul pelan. "Dia sudah siap."

Arka tidak menjawab.

Hendra memang siap. Jawabannya tidak mencari jalan keluar, tetapi sudah menyediakan pagar sebelum ditanya. Absensi elektronik. Sidik jari. CCTV. Semua kata itu dilempar lebih dulu agar polisi berjalan ke arah yang ia mau.

Adira menulis satu baris. "Siapa yang bisa memastikan Anda berada di kantor?"

"Supervisor saya, Pak Dedi. Teman satu shift juga ada. Saya bisa kasih nomor mereka."

"Setelah pulang?"

"Saya ke kos Sari. Saya WA dia beberapa kali, tidak dibalas. Saya telepon, tidak diangkat. Saya panik, lalu minta penjaga kos buka pintu. Tapi pintunya terkunci dari dalam. Kami panggil tukang kunci. Setelah terbuka..."

Hendra menutup wajah.

Bahu bergetar.

Tapi Arka melihat matanya melalui celah jari.

Tidak tertutup rapat.

Ia sedang memantau Adira.

Adira membiarkan tangis itu berjalan lima detik. "Saudara Hendra, tangan Anda di atas meja."

Hendra berhenti terlalu cepat. "Apa, Bu?"

"Tangan Anda. Taruh di atas meja. Dua-duanya."

"Kenapa?"

"Prosedur pemeriksaan biasa."

"Saya bukan tersangka, kan?" Suara Hendra mulai naik. "Saya pelapor. Saya yang menemukan dia. Kenapa saya diperlakukan seperti ini?"

Adira tetap datar. "Saya belum menyebut Anda tersangka. Saya meminta Anda menaruh tangan di atas meja."

Hendra meletakkan tangan kanan.

Tangan kiri tetap di bawah meja.

Di ruang observasi, Arka menajamkan pandangan.

Modul Penguatan Visual membuat gerakan kecil itu terbaca jelas. Punggung tangan kiri Hendra menempel pada paha, ibu jarinya menekan area luar tangan seperti mencoba menutup sesuatu.

Ada garis kemerahan di sana.

Lebih jelas dari yang ia lihat di lobi.

Goresannya tidak lurus seperti benturan meja. Polanya juga terlalu terarah untuk luka acak. Ada dua garis sejajar pendek, kasar, dengan kulit sedikit terkelupas di tepi. Polanya seperti gesekan benda tipis yang ditarik kuat saat tangan melawan tegangan.

Tali kecil.

Atau kabel.

Arka mengambil ponselnya. Ia mengetik pesan WhatsApp kepada Adira.

Perhatikan punggung tangan kiri. Minta dua tangan di atas meja. Jangan beri dia waktu menyentuh luka.

Di ruang interogasi, ponsel Adira bergetar di samping map.

Ia melirik layar, hanya sepersekian detik.

Lalu ia menatap Hendra lagi.

"Tangan kiri juga, Saudara Hendra."

"Saya sakit, Bu. Tadi tergores kucing di kos. Tidak ada hubungannya."

Adira menutup map. "Saya belum bertanya soal luka."

Hendra membeku.

Bambang di sebelah Arka tersenyum tipis. "Nah. Itu dia."

Adira mendorong gelas air sedikit ke samping. "Kalau hanya goresan kucing, tunjukkan. Kami catat, selesai."

"Saya keberatan."

"Keberatan atas apa?"

"Saya tidak nyaman. Saya masih berduka, Bu. Sekarang tangan saya juga mau diperiksa? Ini keterlaluan."

Tangisnya hilang. Suaranya menjadi keras. Defensif.

Adira tidak menaikkan suara. "Saudara Hendra, perempuan yang Anda sebut calon istri baru saja kami temukan dengan tiga tanda pencekikan. Anda pelapor pertama. Anda punya riwayat komunikasi terakhir. Anda juga punya luka di tangan yang Anda sembunyikan. Saya punya alasan cukup untuk meminta pemeriksaan awal."

"Tiga tanda apa?" Hendra langsung bertanya.

Terlalu cepat.

Adira diam satu detik. "Saya belum menyebut jumlah tanda."

Wajah Hendra berubah.

Kecil. Cepat. Tapi terlihat.

Arka melihat label [Pelaku] berdenyut lebih tajam.

Bambang menoleh kepadanya. "Dok, bisa bedakan luka kucing dan gesekan tali dari jauh?"

"Dari jauh, belum cukup untuk laporan," jawab Arka. "Tapi cukup untuk alasan pemeriksaan. Kalau saya lihat langsung, saya bisa jelaskan perbedaannya."

"Mau masuk?"

Arka melihat Adira melalui kaca. Perempuan itu tidak menoleh, tapi tubuhnya sedikit bergeser ke arah pintu, seolah sudah membuka ruang.

"Saya perlu izin Kanit," kata Arka.

Bambang membuka pintu observasi. "Bu Iptu, Dok Arka minta masuk sebagai pendamping pemeriksaan luka."

Adira menjawab tanpa ragu, "Masuk."

Arka memasuki ruang interogasi.

Hendra langsung menatapnya. "Dia siapa lagi?"

"Dokter Muda dari IKF," kata Adira. "Dia akan melihat tangan Anda."

"Tidak." Hendra menarik tangan kirinya makin jauh. "Saya menolak."

Arka berdiri di samping meja, tidak mendekat berlebihan. "Saudara Hendra, kalau itu luka kucing, polanya biasanya berupa goresan dangkal, tidak sejajar sempurna, tepinya tajam, dan sering ada lebih dari satu arah karena cakaran bergerak. Luka gesekan tali atau kabel berbeda. Kulit terkelupas karena tekanan tarik, tepinya lebih kasar, sering mengikuti arah tegangan."

Hendra menelan ludah. "Saya bilang kucing."

"Kalau begitu pemeriksaan akan membuktikan ucapan Anda."

"Saya tidak mau disentuh."

Adira mencondongkan badan. "Menolak pemeriksaan tidak membuat Anda terlihat lebih aman."

Hendra tertawa pendek, tanpa humor. "Jadi sekarang saya dipaksa? Mana suratnya? Mana status saya? Saya pelapor. Status saya belum tersangka."

Arka menatap tangan kiri yang masih disembunyikan itu.

Di sinilah batasnya. Mereka belum bisa memaksa terlalu jauh tanpa membuat pembela nanti menyerang prosedur. Tapi penolakan itu sendiri sudah menjadi tekanan baru.

Arka berkata pelan, "Orang yang benar-benar terkena cakaran kucing biasanya kesal saat diperiksa. Reaksi Anda lebih dekat ke takut."

Hendra menatapnya tajam. "Apa maksud Anda?"

"Maksud saya sederhana, Saudara Hendra. Refleks Anda tidak seperti orang yang ingin menjelaskan luka. Refleks Anda seperti orang yang tahu luka itu akan menjelaskan dirinya sendiri."

Ruangan diam.

Adira menatap Hendra. Bambang berdiri di pintu. Kamera masih merekam.

Hendra menarik napas cepat. "Saya tetap menolak."

Arka melihat punggung tangan kiri itu menghilang sepenuhnya di balik paha Hendra.

Ia lalu berkata, cukup jelas untuk masuk rekaman, "Orang yang menolak pemeriksaan seperti ini biasanya hanya punya satu alasan: dia tahu hasilnya bisa menghabisi dirinya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!