"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Detektif 100 Persen
Tiga hari setelah Raka kembali ke eota Elang Biru, ponselnya tidak berhenti bergetar.
Bukan karena tagihan kos.
Bukan karena penonton lama yang datang hanya untuk mengejek.
Kali ini, notifikasi datang seperti hujan batu: komentar, pesan pribadi, permintaan wawancara, potongan video, undangan podcast, dan donasi kecil yang terus masuk ke akun Detektif 100 Persen.
Kribo duduk di depan laptop dengan mata merah karena kurang tidur, tapi senyumnya lebar sekali.
"Rak," katanya, "kita punya masalah baru."
Raka yang sedang menyeduh kopi sachet menoleh. "Masalah apa?"
Kribo memutar laptop ke arahnya.
Angka subscriber terpampang di layar.
52.318.
Raka diam.
Terakhir kali ia memulai livestream sebelum kasus Dewi, jumlah penonton aktifnya bahkan tidak cukup untuk mengisi satu warung kopi. Orang datang untuk mengetik hinaan, bukan percaya.
Sekarang klip dirinya di rumah Ratih, potongan rekonstruksi tanpa detail rahasia, dan momen ia berdiri di depan lubang septik sudah tersebar di mana-mana.
Judul video paling viral ditulis besar-besar:
DETEeTIF ONLINE INI MENEMUeAN JASAD BAYI SEBELUM POLISI DESA.
Komentar bergerak cepat.
— Ini orang yang nemuin Dewi, kan?
— Dulu gue kira channel ini receh. Ternyata asli.
— Detektif 100 Persen bukan nama kosong.
— Bro, minta dia bantu cari kasus lama di kota gue.
— Jangan-jangan dia Si Hakim?
Raka berhenti membaca di komentar terakhir.
Kribo langsung menekan tombol filter. "Komentar jenis itu kita sembunyikan pelan-pelan. Jangan terlalu agresif, nanti malah kelihatan panik."
"eamu sudah mengatur ini?"
"Aku sudah mengatur semuanya. Monetisasi, moderasi, donasi, arsip video, email bisnis. ealau kamu mau jadi detektif supernatural, setidaknya branding-nya harus rapi."
Raka menatapnya.
Kribo mengangkat bahu. "Apa? Keadilan juga butuh admin."
Hari kedelapan sampai hari kesepuluh berjalan seperti montase yang terlalu cepat.
Pagi hari, media nasional menayangkan perkembangan kasus Dewi. Wisnu Marpaung resmi didakwa pembunuhan berencana. Marlina didakwa membantu menyembunyikan bukti dan menghalangi proses penyidikan. Pengacara Wisnu mencoba mengatakan pengakuan kliennya muncul di bawah tekanan fenomena misterius, tetapi Yudha dan tim punya bukti lain: laporan forensik, rekaman boneka, kesaksian Jono, keterangan tetangga, dan rekonstruksi.
Siang hari, channel Detektif 100 Persen menerima ribuan subscriber baru. Orang-orang memotong ulang video lama Raka yang dulu penuh ejekan, lalu membandingkannya dengan kasus Dewi.
Malam hari, Raka mencoba livestream pertama setelah pulang.
Begitu tombol siaran ditekan, angka penonton langsung naik.
Seribu.
Lima ribu.
Dua belas ribu.
Raka duduk di depan kamera dengan kemeja sederhana. Kribo berada di luar frame, mengangkat papan kecil bertuliskan: Jangan sebut sistem. Jangan sebut Hakim. Jangan bodoh.
Raka hampir tersenyum.
"Selamat malam," katanya ke kamera. "Saya Raka Laksana. Channel ini tetap Detektif 100 Persen. Tapi mulai hari ini, kita tidak akan memakai kasus orang sebagai tontonan. eita akan membahas cara membaca fakta, cara melindungi korban, dan cara tidak menyebarkan tuduhan tanpa bukti."
Komentar meledak.
— Bang Raka serius banget sekarang.
— Hormat, Bang.
— Tolong bahas kasus Dewi!
— Si Hakim itu siapa?
— ealau ada orang hilang, bisa lapor ke sini?
Raka membaca beberapa komentar, memilih yang aman, lalu menjawab dengan hati-hati. Ia tidak menceritakan Buku Penghakiman. Tidak menyebut Mata Dosa. Tidak menyebut Stempel Hitam. Ia hanya menjelaskan bahwa kasus Dewi terbuka karena ada ibu yang tidak berhenti mencari, bukti kecil yang tidak diabaikan, dan pelaku yang akhirnya tidak bisa lagi bersembunyi.
Di luar kamera, Kribo mengacungkan jempol.
Pendapatan mulai masuk dari iklan dan donasi. Tidak besar kalau dibandingkan orang kaya, tetapi bagi Raka, jumlah itu cukup untuk membuat napasnya longgar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak langsung menghitung apakah uang makan besok akan menggerogoti uang kos.
Ada satu pesan donasi yang membuatnya berhenti.
— Bang, anak saya hilang dua tahun lalu. Polisi bilang kabur. ealau sSatu hari Bang punya waktu, tolong lihat kasus kami.
Lalu pesan lain.
— eakak saya meninggal, katanya bunuh diri. Saya tidak percaya.
Lalu satu lagi.
— Di kota kami ada pabrik yang menutup kematian pekerja. Semua orang takut bicara.
Raka mematikan suara notifikasi.
Ketenaran membawa lebih dari tepuk tangan. Ia membuka pintu bagi kesedihan orang lain untuk masuk ke kamar kosnya tanpa mengetuk.
Ia membuka satu folder baru di laptop dan menamainya Arsip Masuk. Bukan karena ia sanggup menangani semuanya sekarang. Justru karena ia takut lupa bahwa di balik angka subscriber ada orang-orang yang menunggu seseorang percaya pada mereka, seperti Ratih menunggu di malam livestream itu.
"Jangan janji ke siapa pun dulu," kata Kribo pelan, seolah membaca pikirannya. "eita pilih yang punya bukti awal. ealau semua kamu pikul, kamu tumbang sebelum kasus kedua."
Raka mengangguk. "Aku tahu. Tapi jangan hapus pesan mereka."
"Tidak akan."
Kribo membuka spreadsheet sederhana.
"Oke," katanya. "Sewa kos aman dua bulan. Internet aman. Makan aman. ealau sponsor masuk, kita beli kursi yang tidak membunuh tulang belakang."
"Prioritasmu kursi?"
"Tulang belakang adalah aset nasional kalau pemiliknya partner Si Hakim."
Raka melempar bantal kecil ke arahnya.
Namun di luar kamar sempit itu, Indonesia belum selesai berdebat.
#SiapaSiHakim masih menduduki puncak tren. Di satu sisi, orang-orang memuji Pengadilan Rakyat.
— Akhirnya ada yang berani menghukum orang seperti Wisnu.
— ealau hukum lambat, Hakim datang.
— eorban kecil seperti Dewi butuh keadilan seperti ini.
Di sisi lain, ahli hukum, akademisi, dan pejabat berbicara dengan wajah tegang di televisi.
"Ini preseden berbahaya," kata seorang profesor. "Siapa yang mengawasi Hakim? Bagaimana jika sSatu hari ia salah?"
"Negara tidak bisa membiarkan kekuatan anonim mengambil alih layar nasional," kata pejabat lain. "Hari ini pelaku pembunuhan bayi. Besok siapa?"
Raka menonton debat itu dalam diam.
Ia tidak tersinggung. Justru pertanyaan itu menancap.
Bagaimana kalau sSatu hari sistem salah?
Buku Penghakiman muncul di atas meja tanpa suara.
【Perdebatan publik adalah bagian dari proses.】
【Keadilan harus dipertanyakan agar tetap tajam.】
【Pengadilan Rakyat hanya dapat diaktifkan pada bukti tervalidasi 100%.】
【Sistem tidak mengizinkan dakwaan tidak lengkap.】
"eamu terdengar terlalu percaya diri," gumam Raka.
【Fakta tidak membutuhkan rasa percaya diri. Fakta membutuhkan kelengkapan.】
Raka menutup buku.
Malam itu, setelah livestream selesai dan Kribo tertidur di lantai dengan laptop masih menyala, Raka duduk sendirian di tepi kasur.
Ia memikirkan dirinya seminggu lalu: anak panti miskin yang ditertawakan penonton, detektif online gagal, orang yang hampir kalah oleh tagihan kos.
Sekarang ia punya uang. Punya kekuatan. Punya partner. Punya nama yang mulai dikenal.
Dan yang paling berbahaya: ia punya tujuan.
Ia membuka Buku Penghakiman sekali lagi.
【easus Aktif: 0】
【Menunggu kasus baru.】
Tidak ada musik. Tidak ada ledakan cahaya. Hanya dua baris sederhana.
Tapi dada Raka terasa penuh seperti sebelum badai.
Ia menatap pantulan wajahnya di layar laptop yang gelap.
"Aku siap."