NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Kabur dari Lamaran

Tidak seorang pun menjawab keputusan Ratna selama beberapa detik.

Keisha menatap Arya, menunggu pria itu menyelamatkan keadaan. Arya justru menatap ibunya seakan sedang menyusun ulang seluruh rencana di kepala.

"Bunda," katanya akhirnya, "kami baru mulai mengenal satu sama lain."

"Empat bulan bukan baru," balas Ratna.

Kebohongan mereka menggigit balik lebih cepat daripada dugaan.

Eyang Menur tersenyum lebar. "Lamaran bukan akad nikah. Keluarga bertemu dulu, bicara baik-baik, lalu kalian punya waktu menyiapkan semuanya."

"Tapi keluarga saya..." Tenggorokan Keisha mengering. "Mereka belum tahu soal Arya."

"Besok beri tahu," kata Ratna. "Akhir pekan depan kami datang."

"A-akhir pekan depan?"

"Terlalu lama? Kita bisa lebih cepat."

"Bukan! Maksud saya... saya perlu ke toilet."

Kalimat itu meluncur begitu saja. Keisha berdiri sebelum siapa pun sempat mencegah, membungkuk singkat kepada kedua perempuan tua, lalu mengikuti arah yang ditunjukkan seorang pelayan.

Ia melewati pintu toilet.

Lorong di sampingnya berujung pada taman dan gerbang samping. Keisha berjalan semakin cepat, membuka aplikasi Gojek, lalu memesan GoCar ke titik terdekat. Mobil baru enam menit lagi, tetapi enam menit terasa seperti hukuman penjara.

"Keisha."

Suara Arya datang dari belakang.

Ia menoleh. Pria itu menyusul tanpa jas, langkahnya panjang dan wajahnya kembali seperti pintu besi yang diejek Eyang tadi.

"Anda mau ke mana?"

"Pulang."

"Lewat jendela toilet?"

"Saya lewat pintu samping. Jangan melebih-lebihkan."

Arya berhenti dua langkah darinya. "Setidaknya pamit."

"Pamit supaya ibu Anda sempat menentukan tanggal akad sekalian?"

"Tidak ada yang membicarakan akad."

"Belum." Keisha menekan suara agar tidak terdengar sampai ruang tamu. "Anda hanya bilang jadi pacar bohongan selama satu bulan. Anda tidak bilang saya akan dilamar."

"Saya juga tidak tahu Bunda akan mendorong sejauh itu."

"Bukankah Anda orang yang selalu punya rencana?"

"Biasanya."

"Berarti kali ini rencana Anda buruk."

Arya mengatupkan rahang. Untuk pertama kalinya ia tidak langsung punya jawaban yang menyebalkan. Ketidaksiapan itu seharusnya membuat Keisha puas. Aneh, yang muncul justru sedikit rasa lega. Setidaknya Arya tidak sengaja menjebaknya sampai pernikahan.

"Kita bisa menolak lamaran," katanya.

"Kita? Anda tinggal bilang saya berubah pikiran. Saya yang akan terlihat mempermainkan keluarga."

"Saya tidak akan melempar kesalahan kepada Anda."

"Janji dari orang yang baru saya kenal sembilan hari tidak cukup."

Lampu sebuah mobil muncul di ujung jalan. Aplikasi Keisha menunjukkan pengemudi telah tiba.

Arya melihat layar ponselnya. "Saya antar pulang."

"Tidak perlu."

"Sudah malam."

"Saya memesan kendaraan resmi. Lokasi dibagikan ke Bu Sukma. Saya bisa menjaga diri."

"Keras kepala."

"Penipu."

"Anda juga berbohong di depan Eyang."

"Karena dibayar oleh Anda."

Pintu utama terbuka. Ratna dan Eyang Menur berdiri di teras, ditemani seorang pelayan. Pelarian Keisha resmi tertangkap.

Keisha segera memasang senyum. "Maaf, Eyang, Bu. Rumah sakit menghubungi. Saya harus kembali lebih cepat."

Arya melirik ponselnya yang tidak berbunyi, tetapi tidak membongkar alasan itu. "Saya sudah memesankan mobil untuk Keisha," katanya, mengambil alih kebohongan tanpa jeda.

Ratna tampak curiga. Eyang Menur justru melambaikan tangan.

"Pergilah. Pasien tidak bisa menunggu. Arya, pastikan dia sampai."

"Iya, Eyang."

Arya membuka pintu belakang GoCar. Keisha masuk dan memasang sabuk pengaman. Sebelum pintu ditutup, ia berbisik, "Urus lamaran itu."

"Kita bicara besok."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Saya tidak mau menikah."

Arya menahan pintu sebelum Keisha menariknya. "Kalau Anda membatalkan pekerjaan malam ini, saya tidak akan menahan Anda."

Keisha menatapnya. "Uang muka akan saya kembalikan."

"Biaya Bu Anin jangan disentuh. Anggap pembayaran untuk pertemuan hari ini dan risiko yang muncul karena keluarga saya."

"Pertemuan satu jam tidak seharga itu."

"Saya yang menentukan harga pekerjaan saya."

"Ini pekerjaan saya."

"Kalau begitu kirim tagihan versi Anda. Sisanya tetap untuk perawatan."

Keisha ingin menolak lagi, tetapi ia teringat monitor di sisi ranjang Mama dan ancaman Herman. "Saya tidak mau berutang budi."

"Ini bukan budi. Kesalahan saya membuat situasi melewati kesepakatan. Saya membayar akibatnya."

Nada Arya tetap dingin. Namun untuk pertama kalinya, uang yang ia berikan tidak terasa seperti alat untuk menguasai. Ia tidak menggunakan kebutuhan Mama untuk menahan Keisha. Justru ia membuka jalan keluar ketika rencananya sendiri berantakan.

Itu membuat Keisha lebih tidak nyaman.

Lebih mudah membenci laki-laki yang sepenuhnya buruk.

"Kenapa Anda tidak langsung bilang kepada mereka bahwa saya bukan calon istri?" tanyanya.

"Karena Bunda akan membawa Vanya kemari besok."

"Jadi Anda tetap butuh saya."

"Saya butuh solusi. Tapi saya tidak akan memaksa Anda menjadi solusi itu."

Mata mereka bertahan beberapa detik. Di teras, siluet Ratna bergerak di balik tirai. Waktu mereka habis.

Pintu tertutup di antara mereka.

Mobil bergerak meninggalkan halaman. Melalui kaca belakang, Keisha melihat Arya masih berdiri di gerbang, satu tangan di saku, menatap mobil sampai berbelok.

Begitu rumah itu hilang dari pandangan, kekuatan di bahunya runtuh.

Ia menelepon Bu Sukma. Perempuan itu menjawab pada dering pertama.

"Bagaimana pertemuannya?"

"Aku kabur lewat pintu samping."

"Icha!"

"Mereka mau langsung lamaran, Bu. Aku baru setuju pura-pura pacaran, sekarang ibunya sudah mau datang ke keluarga."

Bu Sukma terdiam, lalu bertanya pelan, "Laki-laki itu memaksamu?"

"Tidak." Keisha memandang lampu kota yang mengalir di kaca. "Dia juga kaget. Tapi semua ini gila. Pak Sugiarto mau menikahiku untuk menutup utang perusahaan. Arya mau memakai aku untuk menghindari mantannya. Kenapa semua orang merasa hidupku bisa dipindahkan seperti kursi di showroom?"

"Karena mereka pikir kamu sendirian."

Kalimat itu membuat mata Keisha panas.

"Aku siapa pun tidak mau nikah," katanya. "Bukan sama Sugiarto, bukan sama Arya."

"Kalau begitu jangan. Kita cari jalan lain. Besok Bu hubungi kenalan pengacara. Jangan tanda tangan apa pun."

"Waktunya hampir habis. Pak Herman memegang pembayaran kamar dan hak wali Mama."

"Kita tetap cari jalan."

Keisha mengangguk meski Bu Sukma tidak bisa melihat dengan jelas. Setelah panggilan berakhir, ia membuka percakapan dengan Arya. Pesan terakhir hanya alamat rumah dan pengingat waktu.

Jarinya sempat mengetik: Batalkan semuanya.

Ia menghapusnya.

Ponsel bergetar lebih dulu. Pesan dari Herman muncul di layar.

Besok pukul sepuluh Pak Sugiarto datang untuk lamaran resmi. Jangan mempermalukan keluarga kalau kamu masih ingin ibumu dirawat.

Napas Keisha tercekat.

Di luar jendela, hujan tipis mulai membasahi jalan. GoCar berhenti di lampu merah. Keisha membaca pesan itu sekali lagi, lalu membuka nomor Arya.

Harga dirinya menyuruhnya menutup layar. Bayangan tangan Mama yang dingin di atas seprai memaksanya bertahan. Besok pagi terlalu dekat untuk terus berpura-pura masih punya banyak pilihan.

Kali ini, ia yang menekan tombol panggil.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!