NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Hitung-hitungan Dapur

Uang tunai mereka tidak hilang sekaligus. Ia menipis sedikit demi sedikit, lewat beras, sewa, obat, minyak, dan ongkos menuju kecamatan.

Laras menuliskan semuanya di buku kas.

Pada akhir minggu pertama, ia mengumpulkan keluarga di dapur. Rukmini masih memasak dengan takaran seperti di Menteng. Sekar membuka bahan makanan tanpa mencatat. Arya membeli paku dan kayu lebih banyak daripada yang dibutuhkan karena mengira akan selalu berguna.

“Kalau begini, uang kita cukup berapa lama?” tanya Sekar.

“Tidak sampai dua bulan.”

Rukmini terdiam. “Mama bisa mengurangi lauk.”

Guntur membuka dompet dan meletakkan sisa uang pribadinya di meja. “Masukkan ini.”

Laras menggeleng. “Bapak tetap pegang sebagian untuk komunikasi dengan pengacara dan transportasi dokumen. Kalau semuanya masuk dapur, nanti kita mengambilnya kembali tanpa catatan.”

Arya menunjuk beberapa angka. “Upah saya belum bisa dianggap pemasukan tetap selama status keluarga diperiksa. Pakai hanya yang benar-benar masuk.”

Laras mencoret perkiraan gaji dari kolom pendapatan. “Benar. Kita tidak belanja dengan uang yang belum ada.”

Sekar melihat anggaran data ponsel. “Kenapa punyaku paling kecil?”

“Karena tiga malam terakhir kamu menghabiskan data untuk menonton video.”

“Aku stres.”

“Boleh stres, tapi pilih video yang lebih pendek.”

Arya menunduk menyembunyikan senyum. Sekar memelototinya, lalu mencoret sendiri rencana membeli camilan minggu itu.

Rukmini melepas cincin dari jarinya. “Kalau dijual, kita bisa bernapas lebih panjang.”

Laras menutup jemari ibu mertuanya kembali di sekitar cincin. “Belum. Perhiasan adalah cadangan darurat untuk rumah sakit atau bantuan hukum. Kita belum menjual cadangan untuk membeli lauk harian.”

“Tapi kalian tidak boleh kelaparan.”

“Kita tidak kelaparan. Kita hanya tidak bisa makan seperti dulu.”

Guntur memandang Laras lama. “Kamu membedakan kebutuhan dan ketakutan.”

“Kalau panik, semua pengeluaran terasa penting. Karena itu kita menulis.”

Mereka menetapkan tiga amplop: makan dan sewa, kesehatan, serta darurat. Setiap uang yang masuk harus dibagi sebelum dibelanjakan.

“Bukan hanya mengurangi,” kata Laras. “Kita harus membuat setiap bahan bertahan lebih lama.”

Tomat pasar dimasak menjadi sambal botol. Ikan asin dibagi per porsi. Kacang disangrai agar tidak lembap. Laras meminta Arya membuat rak tinggi supaya makanan tidak dijangkau tikus.

Di halaman, mereka menanam kangkung, cabai, daun bawang, dan bayam dari bibit yang dibeli resmi. Tidak ada hasil instan. Mereka tetap harus menunggu tanah dan cuaca.

Sekar mengeluh saat kukunya penuh tanah. “Dulu aku membayar orang untuk merawat satu pot bunga.”

“Sekarang satu bedeng sayur akan membayar kita,” jawab Laras.

Rukmini mencoba membuat keripik dari singkong murah, tetapi irisan pertama terlalu tebal dan menyerap banyak minyak. Ia menatap hasilnya kecewa.

“Tidak apa-apa,” kata Laras. “Yang ini kita makan sendiri. Besok iris lebih tipis.”

“Minyaknya terbuang.”

“Kesalahan pertama adalah biaya belajar. Kesalahan kedua baru pemborosan.”

Rukmini tersenyum kecil.

Pada percobaan kedua, Sekar menggunakan alat pengiris sederhana buatan Arya. Hasilnya tipis dan matang merata. Mereka membumbui separuh dengan garam, separuh dengan cabai, lalu membagikan beberapa bungkus kecil kepada Ningsih dan tetangga yang pernah membantu.

“Bukannya kita sedang hemat?” tanya Sekar.

“Mencicipkan bukan membuang,” jawab Laras. “Kalau mereka suka dan mau membeli, kita punya tambahan pemasukan.”

Benar saja, Ningsih memesan tiga bungkus untuk arisan keluarga. Nilainya tidak besar, tetapi singkong murah berubah menjadi uang tanpa risiko tinggi.

Dua contoh jahitan dari pasar dikerjakan bergantian oleh Rukmini dan Sekar. Jahitan tangan mereka rapi, tetapi memasang kancing sepuluh potong akan memakan waktu. Laras teringat Ningsih memiliki mesin jahit.

Ia membawa contoh itu ke rumah Ningsih. Perempuan tersebut memeriksa pola, lalu menyelesaikan satu sisi dengan cepat.

“Kalau pemilik toko memberi pekerjaan, kita bagi upah,” kata Laras. “Kamu pakai mesin, kami bantu pasang kancing dan merapikan benang.”

“Boleh. Tapi jangan beri tahu Bu Sri dulu. Kalau tahu ada uang, semua orang rumah merasa punya bagian.”

Laras tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mencatat pembagian dengan jelas.

Masalah datang dua hari kemudian. Pemilik rumah menagih sewa bulan berikutnya lebih awal karena mendengar rekening keluarga Reksonegoro akan dibekukan. Pada hari yang sama, vitamin kehamilan Laras tinggal tiga tablet.

Sekar marah. “Belum jatuh tempo.”

“Dia takut kita tidak mampu bayar,” kata Rukmini.

Laras memeriksa kontrak. Tidak ada kewajiban membayar lebih awal. Ia menemui pemilik rumah bersama Arya dan menawarkan jalan tengah: pembayaran tetap pada tanggal jatuh tempo, tetapi mereka memberi bukti dana sewa sudah dipisahkan dalam amplop tersegel dan ditandatangani kedua pihak.

Pemilik rumah setuju setelah Arya menunjukkan kuitansi bulan pertama.

Uang vitamin tidak perlu disentuh.

Sore itu Ningsih datang membawa kabar bahwa contoh jahitan diterima. Toko memberi dua puluh potong pekerjaan dengan upah per potong. Nilainya kecil, tetapi cukup membeli vitamin dan menambah beras.

Pemilik toko menyertakan daftar jumlah kancing untuk tiap pakaian. Laras membuat lima ikatan, masing-masing berisi empat potong, agar tidak ada barang yang tertukar. Ia juga memotret kondisi pakaian sebelum dikerjakan.

“Untuk apa difoto?” tanya Rukmini.

“Kalau ada noda lama, kita punya bukti bukan kita yang membuatnya.”

Sekar menghela napas. “Mbak Laras mencatat semuanya.”

“Karena orang miskin tidak punya ruang untuk membayar kesalahan orang lain.”

Kalimat itu membuat semua orang bekerja lebih hati-hati.

Mereka membagi pekerjaan di ruang tengah. Rukmini memasang kancing, Sekar merapikan benang, Ningsih mengoperasikan mesin, Laras memeriksa jumlah dan kualitas sambil duduk bersandar.

Guntur keluar membawa teh untuk semua orang.

“Bapak tidak perlu,” kata Rukmini.

“Saya bisa membawa gelas.”

Kehidupan sempit membuat mereka belajar bahwa bantuan tidak memiliki pangkat.

Malamnya, Laras masih menghitung upah ketika lampu minyak meredup. Arya pulang setelah membantu Jarwo memperbaiki pagar dan menerima sedikit bayaran berupa beras.

Ia meletakkan karung kecil di dapur, mencuci tangan, lalu melihat Laras menguap di depan buku.

“Tidur.”

“Tinggal menghitung tiga potong.”

Arya menaikkan sumbu lampu, mengambil selendang, dan menyampirkannya ke bahu Laras.

“Tiga potong. Setelah itu tutup buku.”

Laras menulis angka terakhir. Pendapatan mereka belum besar. Kebun belum panen. Tuduhan terhadap Guntur belum selesai.

Namun sewa aman, vitamin terbeli, dan beras bertambah tanpa menjual satu pun peninggalan keluarga.

Untuk pertama kalinya, angka di buku kas tidak hanya menunjukkan apa yang berkurang.

Ia juga menunjukkan bahwa keluarga ini mulai mampu berdiri dengan tangan mereka sendiri.

Arya mengambil pensil dan melingkari tanggal sewa berikutnya. “Sebelum hari ini, kita isi amplop satu bulan lagi.”

Laras menuliskan target itu di bawah angka terakhir. Kini bukan hanya dirinya yang merencanakan cara bertahan sedikit demi sedikit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!