Perjalanan Rumah tangga yang harus kandas. Karena Fitnah dan rekayasa dari seorang Ibu mertua. Yang ternyata diam-diam tak menyukai sang menantu. hingga suatu peristiwa membuat Bagas menjatuhkan talak kepada istrinya.
"Baiklah Mas. Ternyata tiga tahun kita bersama, tidak membuat mas percaya. Mas hanya percaya apa yang terlihat oleh mata, tapi tidak mencari tahu kebenarannya dulu. Selama tiga tahun ternyata kesetiaanku kau ragukan, tanyakan pada hatimu Mas. Apa Aku sanggup mengkhianatimu, tapi itu semua percuma. Cintamu ternyata tak sebesar cintaku,tak ada gunanya aku menjelaskan semuanya,selamat tinggal Mas."
Itulah kata terakhir yang Ratih ucapkan sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Kini penyesalanku tak berguna, besarnya rasa sesalku tak akan membuat Ratihku kembali!" Jeritan hati Bagas. Kesalahpahaman yang terjadi antara Ratih dan Bagas,disebabkan oleh ibu dari Bagas.
Mampukah Bagas membawa kembali Ratih dalam hidupnya? Dan bagaimana kisah rumah tangga Bagas dan Ratih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naraaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 sisi lain Ratih 2
Tatapan tajam tampak dilayangkan Ratih pada benda datar di depannya. Yang menunjukkan aktivitas seorang perempuan di dalam hotel.
"Ternyata dia murahan juga!" Ratih tersenyum mengejek.
"Kamu." Tunjuk Ratih pada salah satu Anggotanya, "Awasi terus pergerakan wanita itu, cari tau apa hubungan dia dengan Naga merah!" perintah Ratih.
"Baik, Queen."
"Lepaskan tikus itu, biarkan pemimpin mereka tau apa yang sudah aku lakukan dengannya." Ratih beranjak dari ruangan tersebut.
Tak menunggu lama, Ratih sudah berada di dalam mobilnya kembali. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. jalanan yang dilewati Ratih menuju rumah tampak begitu sepi. Namun tak begitu jauh di depan sana, Ratih bisa melihat dengan jelas seorang pengendara motor tengah tergeletak di tengah jalan. Ratih tetap melajukan kendaraannya, dengan santai tanpa takut itu adalah kawanan begal dengan modus yang baru. Saat body mobil Ratih melewati pengendara motor tersebut, tampak dari kaca spion, seseorang muncul dari arah semak belukar. Dan dari depan mobil Ratih yang melaju, tampak ada dua orang yang berusaha menghentikan laju kendaraan Ratih, dengan memarkirkan motornya tepat di tengah jalan.
Ratih mendengus kesal, " Bisa nggak! Sehari saja hidupku nggak direcoki."
"Serahkan barang-barangmu! Jika tidak mau nyawa kamu melayang," ujar Lelaki yang memegang senjata tajam itu, berupa celurit.
Yang sudah berdiri di samping pintu mobil.
Sedang Ratih yang berada di dalam mobilnya, tampak begitu santai. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang berada di luar mobilnya itu. Karena tak ada pergerakan apapun dari Ratih, lelaki yang memegang celurit itu, hendak melangkan senjata tajam itu ke arah kaca mobil yang Ratih kendarai.
Bukk
"Maaf tidak sengaja." Ratih sudah berdiri di samping mobilnya dengan santai.
"Serahkan semua barang berharga yang kau miliki. Jika tidak! maka nyawa kamu akan melayang." lelaki itu mengacungkan celurit ke hadapan Ratih.
"Kenapa saya harus menyerahkan semua barang berhargaku? kamu tidak berhak sama sekali," ucap Ratih dengan santai seraya memperhatikan warna kukunya. Yang membuat para begal itu tampak geram dan emosi, karena merasa di remehkan.
"Kita habisi saja perempuan congkak ini, Bos." lelaki yang memegang celurit tersebut tampak begitu emosi.
"Jangan terburu-buru, saya ingin menjelajahi dulu setiap lekuk tubuhnya," ujar Bos begal itu, dengan tatapan mesumnya. Yang menatap tubuh Ratih begitu liar.
"Jangan memandangku seperti itu. Jika tidak ingin kehilangan kedua bola matamu." Ratih menatap tajam lelaki itu.
"Selain cantik, dia juga punya keberanian yang besar,Bos."
"Tunggu apa lagi, lumpuhkan dia. Tapi, jangan membuatnya kehilangan kesadaran. Karena aku ingin mendengar des*h*n kenikm*t*n dari bibirnya." Tatapan matanya semakin liar. Hingga tanpa sadar membangkitkan sisi lain dari Ratih.
"Kuberi kesempatan untukmu mengucapkan kata perpisahan, kepada istri dan anakmu. Karena bisa kupastikan kau akan pulang hanya tinggal nama. Dan jasadmu yang akan mereka angkat." Tatapan Ratih setajam elang. Siap melumpuhkan mangsanya walau dari kejauhan.
"Jangan banyak bicara!" lelaki yang memegang celurit itu maju dan mengayunkan celurit kehadapan Ratih.
Dengan keahlian berkelahinya, Ratih bisa menghindari musuh dari berbagai arah. Sakali serangan Ratih bisa melumpuhkan lelaki itu. Dengan cara mengg*r*k lehernya menggunakan senjata tajam yang digunakan tadi.
Sedang Bos begal itu, hanya bisa terdiam. Ia begitu terkejut melihat gadis yang diremehkan tadi, bisa berubah menjadi mal*ik*t pencabut ny*w*h. Satu persatu begal itu meregang ny*w*h di tangan Ratih. Bos preman itu tak bisa melakukan apapun lagi, saat ia hendak melarikan diri, Ratih sudah berdiri di hadapannya. Entah sejak kapan ia berada di sana, Bos begal itu tidak tahu sama sekali.
"Mau kemana kamu?" tanya Ratih begitu dingin.
"Ampuni saya Nona, saya tidak akan mengulangi perbuatanku!" Bos begal itu berlutut di hadapan Ratih dengan memohon.
Ratih tersenyum mengerikan. "Tidak ada kata maaf bagi orang sepertimu, kamu bahkan tidak menghargai seorang perempuan. Di matamu perempuan hanya pemuas nafsu saja bagimu. Kamu bahkan tidak tau diri dan lupa, jika kamu dilahirkan oleh seorang perempuan.
Dengan sekali tendangan, Bos begal itu jatuh terlentang di hadapan Ratih. Tanpa basa-basi Ratih mengeluarkan pisau lipat dari balik saku baju yang dikenakannya. Sekali t*s*k*n Bos begal itu meregang nyawah di depan Ratih.
"Ini akibat karena kamu sudah berani menghalangi jalanku, terlebih sudah berani menghinaku dan kaumku." Ratih meninggalkan m*y*t itu yang tergeletak di tengah jalan. Celurit yang digunakan begal itu Ratih letakkan kembali ke tangan lelaki yang sejak awal menggunakan itu. Beruntung Ratih saat berkelahi, tidak melepaskan sarung tangannya, sehingga jika ada penyelidikan tak akan meninggalkan jejak sama sekali maupun sidik jari. Namun, tanpa Ratih sadari ada satu Cctv yang merekam sebagian perkelahian itu, sebelum Cctv itu mati karena mengalami kerusakan. Dalam Cctv itu, wajah Ratih tak nampak jelas, namun terlihat jika dia seorang wanita yang tengah berkelahi.
Pukul 4 Subuh mobil yang dikendarai Ratih, sudah tiba di depan rumahnya. Saat ini Ratih hanya tinggal seorang diri, bibi yang menemaninya mengambil cuti dari kemarin. Sehingga Kedatangan Ratih tak ada yang mempertanyakan.
Setelah melepas semua pakaian yang dikenakannya, Ratih beranjak ke dalam bak mandi. Ia hendak berendam beberapa saat, karena merasa sangat lelah karena kejadian tadi. Setelah 30 menit berendam, Ratih segera menyelesaikan ritual mandinya. Dalam keadaan seperti ini, Ratih butuh sandaran hidup, butuh teman untuk berbagi keluh kesah, meski Ratih bisa melakukan apapun tanpa seorang lelaki. Namun, Ratih tidak bisa mengelak jika ia butuh partner hidup dalam segala hal. Ratih sadar ia juga wanita, yang juga butuh imam untuk membimbingnya.
Keesokan harinya, siaran televisi sudah menyiarkan penemuan 4 orang mayat pria dewasa yang tergeletak di tengah jalan. Tampak dalam chanel berita itu, polisi tengah memasang garis polisi, dan tengah melakukan penyelidikan atas penemuan mayat itu. Banyak yang warga yang bergembira karena meninggalnya 4 orang lelaki itu. Sebab mereka sudah tau, komplotan itu adalah begal sekaligus preman yang sangat meresahkan para warga, yang melintas di jalanan sepi. Warga tampak bersyukur atas kematian 4 pria dewasa itu. Meski di dalam siaran televisi itu, Ratih bisa melihat ada seorang wanita yang menggendong seorang balita, tengah meraung menangis meratapi kematian salah satu dari 4 mayat itu.
"Cari tau keluarga begal yang tewas di tanganku malam tadi, yang saat ini beritanya tengah disiarkan televisi." Perintah Ratih melalui sambungan ponselnya. "Saya ingin informasinya siang nanti, sedetail mungkin! " Ratih memutuskan panggilan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari orang di seberang sana.
Kasus penemuan mayat itu, tengah ditangani oleh seorang polisi, yang diberi tugas untuk melakukan penyelidikan.
Takdir tak dapat diubah, dari kasus yang terjadi malam itu. Ratih tak pernah tau jika kasus itu Membawanya bertemu seseorang yang tak pernah ia bayangkan.
good Author