Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Pagi hari di kediaman keluarga Andreas datang dengan suasana yang jauh lebih tegang dari biasanya. Sinar matahari baru saja merayap naik menembus jendela-jendela kaca besar mansion, namun di dalam rumah utama, atmosfernya terasa begitu membeku dan mencekam.
Di ruang keluarga, Nenek Fia duduk di sofa dengan wajah pucat pasi, napasnya memburu dan tangannya yang keriput mencengkeram erat kepala tongkat kayunya. Di hadapannya, Tante Thania menangis histeris sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri, sementara Mama Dania mondar-mandir dengan gelisah, wajah anggunnya dipenuhi keringat dingin. Papa Freddy sendiri berdiri kaku di dekat jendela besar, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menatap kosong ke arah halaman luar.
Berita besar yang mengguncang pagi itu menghantam keluarga terpandang tersebut bagaikan petir di siang bolong. Sherly, anak perempuan kesayangan Tante Thania dan kebanggaan keluarga Andreas, baru saja mengaku bahwa dirinya tengah berbadan dua, yang artinya ia hamil di luar nikah dengan pacarnya yang bukan dari kalangan terpandang, jauh sebelum hari pernikahannya dengan Brian, putra sulung keluarga Raymond yang merupakan rekan bisnis paling berpengaruh bagi kerajaan bisnis mereka.
Di luar mansion, di area pekarangan belakang yang panas dan berdebu, Kyra sedang berlutut membersihkan lantai teras menggunakan sikat kasar dan ember air sabun. Karena statusnya yang dianggap sebagai pembawa sial dan hanya berstatus sebagai pembantu kasar, Kyra sama sekali dilarang menginjakkan kaki di dalam rumah utama selama jam-jam sibuk keluarga.
Meski begitu, suara tangisan histeris Tante Thania dan bentakan tertahan dari Papa Freddy masih terdengar sayup-sayup sampai ke tempat Kyra bekerja.
Tak berselang lama, pintu kaca samping terbuka dan keluarlah Mila, salah satu pelayan muda yang bertugas di bagian dalam rumah. Wajah Mila tampak pucat dan matanya melotot lebar, seolah baru saja melihat hantu. Mila berjalan tergesa-gesa menghampiri Kyra yang sedang mengelap lantai.
"Non Kyra... Non Kyra nggak bakal percaya sama apa yang baru aja terjadi di dalam!" bisik Mila dengan suara bergetar, napasnya tersengal-sengal karena panik.
Kyra mendongakkan kepalanya, memasang raut wajah polos dan penasaran yang sangat pas untuk menutupi pikirannya yang sedang berputar cepat, ia meletakkan sikat di tangannya lalu menatap Mila.
"Ada apa, Mil? Kenapa di dalam ribut sekali? Aku dengar suara Tante Thania menangis dari sini," tanya Kyra pelan.
Mila mendekatkan wajahnya, merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik di dekat telinga Kyra. "Gawat, Non Kyra! Ini tentang perjodohan antara Nina Sherly dan Tuan Brian," ucap Mila.
Kyra mengangguk pelan, meskipun ia tidak mengerti. Kenapa memangnya dengan perjodohannya?" tanya Kyra.
"Batal... eh, bukan batal lagi, tapi hancur berantakan!" ucap Mila histeris.
"Hancur? Kok bisa?" yanya Kura, yang semakin penasaran.
"Tadi pagi, Non Sherly tiba-tiba muntah-muntah parah di kamarnya. Tante Thania yang panik langsung manggil dokter pribadi keluarga, dan kamu tahu apa hasilnya? Dokter bilang Non Sherly positif hamil! Usia kandungannya sudah mau memasuki bulan kedua!" jawab Mila.
Mata Kyra sedikit membelalak, namun sepersekian detik kemudian ia berhasil mengendalikannya kembali. Sebuah senyuman dingin terukir sangat tipis di balik bayangan tubuh Mila, begitu cepat hingga rekan kerjanya itu tidak menyadarinya.
"Hamil...?" gumam Kyra pura-pura terkejut.
"Bukannya sebentar lagi Tuan Brian akan pulang dan akan menikah dengan Non Sherly?" tanya Irma, salah satu pelayan yang baik pada Kyra.
"Itu dia masalahnya!" potong Mila dengan wajah pucat.
"Keluarga Raymond itu terkenal sangat terhormat, kolot dan menjunjung tinggi moralitas. Kalau sampai mereka tahu Non Sherly hamil anak pria lain sebelum menikah, bukan cuma pernikahan itu yang dibatalkan, tapi seluruh kerja sama bisnis bernilai ratusan miliar antara keluarga Andreas dan Keluarga Raymond bakal diputus seketika! Perusahaan Tuan Freddy bisa langsung bangkrut dalam waktu semalam!" sambung Mila.
Kyra menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Mila dengan saksama. Di dalam dadanya, rasa kepuasan yang luar biasa bergejolak hebat. Masalah besar ini bukan sekadar skandal keluarga biasa, melainkan bom waktu yang siap menghancurkan fondasi kebanggaan keluarga Andreas yang selama ini dibangun di atas penderitaannya.
"Lalu... apa yang akan dilakukan Papa Freddy, Mama Dania dan Tante Thania?" tanya Kyra pura-pura cemas.
"Mereka lagi pusing setengah mati di dalam! Nyonya Thania tadi hampir pingsan, sedangkan Nyonya besar terus-terusan marah dan menyumpah serapah. Mereka bingung bagaimana cara menyelamatkan muka keluarga dan menutupi aib ini dari keluarga Raymond. Kalau perjodohan dibatalkan begitu saja, hancur sudah nama baik keluarga mereka," ucap Mila sambil menggelengkan kepala.
"Sudah ya, Non Kyra, aku harus balik ke dalam sebelum Bi Inah mencariku. Nanti kalau ketahuan ngobrol sama Non Kyra di sini, aku bisa kena imbasnya," tambah Mila buru-buru bangkit dan melangkah masuk kembali melalui pintu samping.
Pintu kaca tertutup rapat, meninggalkan Kyra seorang diri di bawah teriknya matahari pagi. Kyra perlahan berdiri dan membersihkan sisa debu di lutut celananya, ia menatap ke arah jendela besar lantai dua tempat kamar Sherly berada lalu tersenyum tipis.
"Keluarga Andreas... kehancuran kalian ternyata tidak perlu menunggu lama, bahkan aku tidak harus melakukan apapun agar kalian hancur," gumam Kyra pelan pada angin pagi.
Sementara itu, suasana di dalam ruang keluarga utama keluarga Andreas benar-benar kacau dan mencekam. Udara di ruangan berpendingin itu terasa sangat panas bagi orang-orang yang berada di dalamnya, seolah-olah AC berkapasitas besar itu tidak mampu mendinginkan gejolak amarah dan kepanikan yang membakar dada mereka.
Tante Thania terduduk lemas di atas sofa beludru mewah, air matanya bercucuran tanpa henti membasahi pipinya yang dipoles riasan mahal dan isakannya terdengar parau, mencerminkan keputusasaan yang teramat sangat.
Di sampingnya, Sherly berlutut di lantai marmer dengan kepala tertunduk dalam dan rambut panjangnya tergerai menutupi wajahnya yang pucat pasi, sesekali terisak kecil menahan takut.
"Bagaimana bisa ini terjadi, Sherly!" bentak Mama Dania dengan suara melengking tinggi, wanita paruh baya itu mondar-mandir di depan mereka dengan jemari tangan yang gemetar hebat.
"Kamu tahu betul siapa keluarga Raymond! Mereka bukan keluarga sembarangan! Mereka adalah orang-orang terpandang yang sangat menjunjung tinggi moral dan kehormatan! Kalau sampai mereka tahu kamu mengandung anak dari pria tidak jelas itu sebelum pernikahan dilangsungkan, hancur sudah nama baik keluarga kita!" lanjut Mama Dania dengan napas memburu.
Nenek Fia yang duduk di kursi kebesarannya memukul-mukul lantai menggunakan tongkat kayunya dengan penuh amarah, suara hantaman kayu itu menggema keras dan memecah keheningan yang dipenuhi isak tangis.
"Sudah kubilang dari dulu, Thania! Kamu tidak bisa mendidik anak! Lihat sekarang apa yang dibawanya ke rumah ini! Aib! Ini aib besar yang bisa membuat seluruh keturunan keluarga Andreas menanggung malu seumur hidup!" jerit Nenek Fia dengan suara seraknya yang penuh kutukan.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧