NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029: Geng Macan Hitam

Rahmat "Macan" tidak tinggal di gang sempit.

Ia tinggal di rumah besar dekat dermaga, dengan pagar tinggi, kamera di setiap sudut, dan belasan motor besar berjajar di halaman. Orang luar menyebutnya preman. Orang Kota Selatan menyebutnya penguasa malam.

Rahmat sendiri lebih suka disebut pengusaha keamanan.

Di ruang tengah, ia duduk di kursi kulit, tubuhnya besar, lengannya penuh tato hitam, dan wajahnya keras seperti batu pelabuhan. Di depannya, Herman Santoso duduk dengan ekspresi tidak sabar.

"Aku tidak membayarmu untuk mendengar alasan," kata Herman.

Rahmat menyalakan rokok. "Dan aku tidak bergerak sebelum tahu harga orang yang harus kusentuh."

"Dia hanya satu orang."

"Satu orang yang membuat enam orang Klub Pangeran jatuh dalam setengah menit."

Tegar yang duduk di samping ayahnya mengepalkan tangan. "Mereka lengah."

Rahmat tertawa. "Anak kaya selalu punya alasan bagus untuk kalah."

Wajah Tegar memerah.

Herman mengangkat tangan agar anaknya diam.

"Namanya Arya Suryanegara."

Rahmat berhenti tertawa.

Nama Suryanegara bukan nama yang bisa diperlakukan seperti nama pengusaha biasa. Bahkan di Kota Selatan, beberapa pintu tertutup hanya dengan mendengar nama itu.

"Suryanegara mana?"

"Yang baru ribut di Kota Awan. Anak Bagaskara."

Rahmat mengisap rokok lebih dalam. "Harga naik."

"Berapa?"

"Dua kali lipat. Dan aku tidak membunuh."

Herman menatapnya tajam. "Sejak kapan kamu punya batas?"

"Sejak aku ingin hidup panjang. Membunuh Suryanegara membuat kota ini terbakar. Menakutinya, membuat dia pergi, mengambil perempuannya sebentar... itu urusan lain."

Tegar tersenyum kotor. "Perempuan itu Nayla Wicaksana."

Rahmat menatap Tegar. "Kau menyukai masalah yang lebih mahal dari otakmu."

Herman meletakkan cek di meja.

"Buat Arya keluar dari Kota Selatan sebelum dia merusak urusan tanah."

Rahmat mengambil cek itu, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya.

"Awasi hotel. Jangan sentuh dulu sampai aku bilang."

Malam itu, dua motor mulai mengikuti mobil Arya dari jarak jauh.

Namun di suite hotel, Arya sudah melihat titik yang sama bergerak di layar laptop.

Pak Satria duduk di meja samping, membuka rekaman kamera jalan yang ia akses melalui kontak lokal.

"Dua motor sejak Klub Pangeran. Satu mobil pickup berhenti di gang belakang hotel. Mereka belum masuk."

Nayla berdiri di dekat jendela, tirai sedikit terbuka. "Jadi mereka benar-benar mengirim geng."

"Bukan sekadar geng," kata Arya. "Geng yang dibayar pengusaha takut kehilangan tanah."

"Apa kita lapor polisi?"

"Sudah ada laporan dasar lewat pengacara Wicaksana. Tapi kalau polisi lokal ada yang dipegang Herman, gerakan kita akan bocor."

"Jadi kita diam?"

Arya menatap peta Kota Selatan. "Kita biarkan mereka merasa sedang mengawasi."

Nayla mengerutkan kening. "Itu terdengar seperti kamu punya rencana yang tidak akan kusukai."

"Kemungkinan besar."

Ponsel terenkripsi Arya bergetar. Nama di layar membuat Pak Satria menoleh.

Alice.

Arya mengangkat.

Suara perempuan beraksen asing terdengar ringan, percaya diri, dan sedikit terlalu akrab.

"Arya, kamu datang ke Kota Selatan tanpa memberi tahuku. Aku tersinggung."

"Kamu selalu tersinggung jika ada peluang bisnis yang belum kamu hitung."

"Itu karena aku menyayangimu sebagai aset."

Nayla menoleh.

Pak Satria menunduk ke laptop dengan ekspresi paling polos.

Arya berkata datar, "Aku butuh struktur umpan."

Alice langsung berubah serius. "PT Pelayaran Jaya?"

"Herman Santoso. Dia serakah, terhubung ke geng lokal, dan memakai lahan Wicaksana sebagai bagian dari rencana logistik."

"Aku sudah melihat laporan kasarnya. Mereka sedang mencari proyek baru untuk menutup utang bank."

"Bisa kita beri sesuatu yang terlihat seperti jalan keluar?"

Alice tertawa pelan. "Tentu. Ada lahan danau di utara Kota Selatan. Di atas kertas bisa terlihat seperti proyek resort seratus lima puluh miliar. Dalam kenyataan, izin lingkungannya bermasalah, akses jalan belum pasti, dan biaya reklamasi akan membunuh siapa pun yang masuk tanpa due diligence."

Nayla berbisik, "Siapa perempuan itu?"

Pak Satria berbisik balik, "Perwakilan Prima."

"Kenapa suaranya seperti itu?"

Pak Satria memutuskan tidak menjawab.

Arya berkata kepada Alice, "Kita tidak memalsukan dokumen."

"Aku tahu aturanmu. Kita hanya menunjukkan data publik yang mereka terlalu malas baca sampai akhir. Kalau Herman tergoda, itu karena dia memilih membaca keuntungan dan melewatkan risiko."

"Siapkan."

"Sudah kubuat setengah jam lalu."

"Aku belum meminta."

"Kamu tidak pernah meneleponku tanpa akhirnya meminta sesuatu yang berbahaya."

Arya diam sesaat. "Terima kasih."

"Kamu bisa berterima kasih langsung kalau sudah menang."

Telepon terputus.

Nayla menyilangkan tangan. "Perwakilan Prima?"

"Ya."

"Dia selalu bicara begitu denganmu?"

"Begitu bagaimana?"

"Seperti dia pemilik separuh rahasiamu."

Arya menatap peta. "Alice memang memegang beberapa rahasia bisnis."

"Aku bertanya bisnis?"

Pak Satria berdiri cepat. "Saya cek perimeter."

Ia keluar sebelum suasana menjadi lebih berbahaya daripada geng di luar.

Arya menatap Nayla. "Kamu cemburu?"

Nayla tertawa satu kali. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tidak suka informasi penting disampaikan dengan nada menggoda."

"Catatan diterima."

"Bagus."

Di luar, dua motor masih berputar.

Arya menutup laptop. "Malam ini jangan keluar kamar."

"Aku bukan anak kecil."

"Aku tahu. Justru karena itu mereka akan memilihmu."

Nayla hendak membantah, tetapi kalimat itu berhenti di tenggorokan.

Arya melanjutkan, "Mereka tidak bisa menekan aku dengan ancaman biasa. Mereka akan mencari orang di sekitarku."

"Aku bisa menjadi umpan."

"Tidak."

"Aku Wicaksana. Ini urusan keluargaku."

"Dan karena itu kamu target paling bagus."

Nayla menatapnya keras. "Kalau kamu terus menyuruhku diam, aku akan melakukan sesuatu yang lebih bodoh."

"Aku percaya."

"Itu bukan pujian."

"Aku tahu."

Mereka saling menatap beberapa detik. Di antara keduanya, udara menjadi tegang dengan cara yang tidak sepenuhnya berasal dari bahaya.

Akhirnya Nayla mendengus. "Baik. Aku tidak keluar. Tapi kalau ada gerakan, aku ikut tahu."

"Setuju."

Kesepakatan itu bertahan sampai pukul sebelas malam.

Sebuah pesan masuk ke ponsel Nayla dari nomor yang tampak seperti nomor staf Wicaksana.

Nona, ada dokumen tambahan dari Eyang untuk Arya. Kurir menunggu di lobi belakang karena tidak boleh naik.

Nayla membaca pesan itu sambil mengerutkan kening.

Ia tahu harus memanggil Arya.

Ia juga tahu Arya akan melarangnya turun.

Dan bagian keras kepala dalam dirinya, bagian yang selama ini membuat Soedirman berkata ia paling mirip neneknya, memilih mengambil jaket.

"Hanya lobi belakang," gumamnya. "Dua menit."

Lift turun tanpa suara.

Di koridor belakang hotel, lampu berkedip.

Tidak ada kurir.

Yang ada hanya bau rokok dan pintu darurat yang terbuka sedikit.

Nayla berhenti.

Terlambat.

Sebuah kain kasar menutup mulutnya dari belakang. Ia menendang lutut penyerang pertama, menyikut orang kedua, dan hampir lepas. Namun ada tiga orang. Satu lagi menahan tangannya.

Ponselnya jatuh ke lantai.

Sebelum kain itu benar-benar menutup napasnya, Nayla sempat menekan tombol panggilan terakhir.

Di suite, ponsel Arya bergetar.

Tidak ada suara Nayla.

Hanya napas tertahan, suara perkelahian pendek, lalu tawa pria.

Kemudian suara berat masuk ke saluran.

"Arya Suryanegara."

Mata Arya berubah dingin.

"Rahmat."

"Perempuan Wicaksana ada padaku. Besok siang sebelum matahari tepat di atas pelabuhan, kamu tinggalkan Kota Selatan. Kalau tidak..."

Arya berjalan menuju pintu.

"Kamu menyentuh orangku."

Rahmat tertawa. "Di kota ini, orangmu hanya barang tawar."

Arya membuka pintu suite.

Pak Satria sudah berdiri di lorong, wajahnya tegang.

Arya berkata ke telepon, suaranya tanpa getar.

"Dengar baik-baik. Kamu baru saja menandatangani akhir Geng Macan Hitam."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!