Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Gerbang Bencana Terbuka
Enam bulan terasa seperti kedipan mata. Tapi bagi Kota Fajar, itu lompatan waktu yang bernilai ribuan tahun.
Lembah tersembunyi itu kini dipenuhi dengungan konstan energi spiritual. Ribuan pemuda-pemudi berlatih tanpa lelah siang malam. Di bawah panji Akademi Fajar, mereka tak lagi membuang tenaga dengan pukulan membabi buta. Mereka bernapas, memanfaatkan, dan mengalirkan Qi ke meridian mereka dengan presisi.
Di pelataran Divisi Pertama, Ye Cangtian berjalan menyusuri barisan lima ratus ahli pedang elit.
"Pedang bukan sekadar batang besi yang kalian ayunkan," suaranya membelah kesunyian pagi. "Saat Qi kalian di Tingkat 1, pedang adalah senjata. Tapi saat kalian memanfaatkan Qi hingga titik ekstrem, pedang adalah perpanjangan jiwa kalian."
Ia mencabut sebilah pedang besi biasa dari rak senjata. Tanpa mengalirkan Qi keemasan yang menyilaukan, ia hanya menatap batu obsidian raksasa sepuluh meter di depannya, lalu mengayunkan pedang itu ke udara kosong secara perlahan.
Tidak ada ledakan energi. Tidak ada cahaya menyilaukan.
Tapi sedetik kemudian, batu obsidian sekeras baja di seberang terbelah dua, mulus, seolah dipotong benang tak kasat mata.
Gumam kekaguman meledak dari barisan prajurit.
"Itu disebut Niat Pedang," ucap Cangtian, menyarungkan kembali pedang biasa itu. "Tahap awal untuk menyentuh batas Master Bela Diri. Aku ingin kalian..."
Ucapannya terhenti.
Pedang di sarungnya tiba-tiba bergetar hebat. Bukan cuma pedangnya—seluruh senjata logam di pelataran itu bergetar.
Cangtian mendongak. Matanya yang sensitif terhadap energi alam langsung menyipit tajam.
Aliran Qi di sekitar lembah, yang biasanya bergerak tenang seperti sungai, kini bergejolak liar seperti air mendidih. Burung-burung beterbangan menjauh dari sarang dalam kepanikan massal.
Angin tiba-tiba berhenti, digantikan tekanan udara yang begitu berat hingga beberapa prajurit Tingkat 1 jatuh berlutut sambil memegangi dada.
Lalu langit berubah.
Warna biru cerah musim semi tersapu bersih dalam hitungan detik, digantikan merah darah yang pekat. Bukan pantulan matahari terbenam—langit itu sendiri seolah sedang berdarah. Dan itu tidak hanya terjadi di atas lembah, tapi menyelimuti seluruh wilayah sejauh mata memandang.
"Cangtian!"
Raungan panik memecah ketegangan. Xing Yun—Kepala Divisi Bayangan yang biasanya tampil tenang dengan senyum penuh perhitungan, kini berlari menaiki tangga pelataran hingga tersandung. Rambutnya berantakan, wajahnya sepucat kertas.
Ia menggenggam tiga Batu Suara yang sudah hancur dan terbakar.
"Ada apa, Xing Yun?" Cangtian segera menghampiri, menopang bahunya.
"Mata-mata kita... seluruh jaringan bayangan kita di perbatasan ibu kota hancur dalam hitungan menit." Napas Xing Yun tersengal. Matanya memancarkan horor total. "Mereka kirim pesan bunuh diri terakhir sebelum jiwa mereka hancur."
Long Zhan dan Su Ling'er, yang merasakan keanehan di udara, baru saja tiba di pelataran.
"Bicara yang jelas, Xing Yun! Surga Tiran kirim armada udara lagi?" tanya Long Zhan, menancapkan ujung tombaknya ke lantai batu.
"Bukan armada udara, dasar bodoh." Suara Xing Yun bergetar. "Pemimpin Surga Tiran bangkit dari singgasananya. Ia membelah langit dan membuka Gerbang Bencana."
Mendengar nama itu, wajah Su Ling'er kehilangan warna. Sebagai tabib yang sering mempelajari catatan kuno, ia tahu betul apa itu.
"Mustahil..." bisik Ling'er ngeri. "Itu portal dimensi yang hanya dipakai klan dewa ribuan tahun lalu, saat mereka berperang memusnahkan monster kosmis seukuran benua. Mereka tidak mungkin membukanya hanya untuk manusia fana!"
"Mereka membukanya." Xing Yun menelan ludah. "Dan dari balik gerbang itu, turun Pasukan Pemusnah Utama—sepuluh ribu prajurit lapis emas. Tapi itu bukan masalah utamanya. Pasukan itu dipimpin entitas kuno yang baru dibangunkan dari tidur panjang mereka."
Ia menatap tepat ke mata Cangtian.
"Mereka menurunkan Jenderal Bintang, Cangtian."
Udara di pelataran itu seakan membeku.
Jenderal Bintang bukan komandan yang bersembunyi di balik meriam kapal seperti yang dilawan Cangtian sebelumnya. Mereka dewa-dewa perang dari zaman kuno, entitas yang Otoritas bawaannya begitu murni hingga secara alami setara kekuatan Master Bela Diri manusia fana—bahkan tanpa perlu berkultivasi sedikit pun.
Tiba tiba Gempa dahsyat mengguncang Lembah Fajar. Retakan raksasa membelah alun-alun kota, meruntuhkan beberapa menara pengawas yang baru dibangun. Puluhan ribu warga fana menjerit histeris.
Gempa itu bukan gempa biasa.
Bam!... Bam!... Bam!
Itu suara langkah kaki raksasa—bergema dari jarak puluhan mil di utara.
"Laporan terakhir dari pos pantau utara." Xing Yun putus asa. "Salah satu Jenderal Bintang, pemegang Otoritas Tanah, sedang bergerak kemari. Ia tidak mencari jalan memutar lewat Pegunungan Utara. Ia meratakan tiga puncak gunung hanya dengan berjalan menerobosnya, menciptakan jalan lurus menuju lembah kita."
Kepanikan mulai menjalar di wajah lima ratus prajurit elit di belakang Cangtian. Bagaimana mungkin manusia melawan makhluk yang meratakan gunung hanya dengan berjalan?
Cangtian melepaskan cengkeramannya dari bahu Xing Yun, melangkah maju ke tepi tebing, menatap ke utara—di sana, debu setinggi langit mulai membubung, menutupi awan merah darah.
"Lembah ini dikelilingi tebing batu." Ia bergumam pelan. "Kalau kita bertahan di dalam Kota Fajar, Jenderal Bintang itu tinggal menjepit lembah ini dengan Otoritas Tanahnya, dan kita semua akan terkubur hidup-hidup jadi debu."
"Kita harus mengevakuasi rakyat kembali ke gurun!" seru Ling'er panik.
"Tidak ada waktu, dan tidak ada tempat untuk lari lagi." Cangtian menggeleng tegas. Matanya, memancarkan cahaya keemasan, menyala terang membelah aura ketakutan di udara.
Ia berbalik, menarik pedang barunya yang terbuat dari baja hitam pekat—Pedang Pemutus Surga.
"Selama ini kita bersembunyi di balik kabut dan bayangan!" raung Cangtian, suaranya diperkuat Otoritas Master Bela Diri hingga menjangkau seluruh sudut Kota Fajar. "Kita biarkan mereka percaya umat manusia hanyalah semut yang menunggu diinjak!"
Ia menunjuk ke langit yang berdarah.
"Mereka membuka Gerbang Bencana karena mereka takut! Mereka meratakan gunung karena mereka tahu kita bukan lagi budak pelarian!"
Long Zhan tertawa buas, darah petarungnya mendidih. Ia mengangkat tombak besarnya, meraung ke langit.
"Huuaaahhh!"
"Long Zhan! Kumpulkan seluruh Divisi Kedua! Bawa zirah terberat kalian!" perintah Cangtian mutlak. "Xing Yun, buka gudang senjata! Ling'er, siapkan pasukan medis di barisan belakang!"
Cangtian melompat ke atas pilar batu tertinggi, jubah hitamnya berkibar diterpa badai energi yang semakin mendekat.
"Mereka ingin menghancurkan rumah kita? Kalau begitu, kita tidak akan biarkan mereka menyentuh satu batu pun di lembah ini! Kita sambut mereka di dataran terbuka! Buka Gerbang Kota!"
Hari itu, sejarah baru terukir dengan tinta darah.
Untuk pertama kalinya sejak kota fajar diciptakan, gerbang batu raksasa Kota Fajar terbuka bukan untuk menerima pengungsi, melainkan mengeluarkan ribuan prajurit berseragam baja hitam.
Pasukan Pembelah Langit berbaris keluar, melangkah tegap menuju dataran pembantaian untuk menyambut para dewa kuno.
Perang teritorial yang sesungguhnya baru saja dimulai.