Ketika Kamila Santoso pulang membawa kue ulang tahun pernikahan, ia tidak menyangka akan menemukan suaminya bersama perempuan lain di ranjang mereka sendiri. Tujuh tahun pengorbanan, harta yang dijual demi bisnis keluarga, dan semua hinaan yang ia telan runtuh dalam satu malam.
Kali ini Kamila tidak menangis dan tidak memohon. Ia mengumpulkan bukti, menuntut haknya, dan pergi dengan kepala tegak. Namun saat ayah sang selingkuhan, Gibran Beltran, muncul untuk meminta maaf, hidup Kamila berubah ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.
Di antara perceraian, perebutan harta, keluarga mertua yang tamak, dan hati yang perlahan belajar percaya lagi, Kamila harus memilih: tetap menjadi korban masa lalu, atau merebut kembali martabatnya dengan cara yang membuat semua orang terdiam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Menantu yang Balas Menangis
Saat Maulana pulang, ia menemukan Teresa bekerja di dapur.
Meja penuh dengan berbagai hidangan.
Ia mengernyit dan cepat-cepat masuk.
"Ma, kenapa Mama memasak sebanyak ini? Mama seharusnya istirahat."
Mata Teresa langsung memerah.
"Pagi tadi Ibu membuatkan sarapan untuk Valerie dan dia tidak suka. Ibu ingin menyiapkan makanan lebih banyak untuk menebusnya. Ibu tidak mau menantu dan cucu Ibu kelaparan."
Amarah naik mendadak di dada Maulana.
Ia hampir masuk ke kamar dan menuntut Valerie meminta maaf.
Lalu ia mengingat pernikahannya dengan Kamila.
Bukankah pernikahan itu berakhir justru karena ia impulsif dan tidak pernah bisa menangani konflik antara istri dan ibunya?
Kali ini ia harus tetap tenang. Ia meletakkan tangan di bahu Teresa.
"Valerie sedang hamil. Bersabarlah sedikit dengannya."
Kilatan penuh perhitungan melintas di mata ibunya yang tampak terluka.
Maulana tidak pergi menghadapi Valerie seperti dulu.
Teresa harus menahannya untuk sementara, tetapi ia sudah tahu cara memanfaatkan situasi untuk menempelkan label "tidak tahu terima kasih" kepada menantunya.
"Ibu tahu. Ibu hanya berpikir pernikahan pertamamu berakhir karena Ibu tidak melakukan hal yang benar. Kali ini Ibu ingin berusaha agar Valerie menyukai Ibu."
Suaranya pecah.
"Kalau dia dan Ibu akur, pernikahanmu bahagia dan keluarga kita damai. Ibu tidak keberatan bekerja lebih. Tapi... apa Ibu salah lagi?"
Ia mengangkat mata kepada putranya.
Setetes air mata turun perlahan di pipinya.
Ia tampak hampir hancur.
Hati Maulana melilit.
"Tidak, Ma. Mama sudah sangat baik. Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Kamu sudah pulang, sayang?"
Valerie mendengar pintu terbuka.
Ia menunggu sebentar, dan karena Maulana tidak masuk menemuinya, ia keluar sendiri.
Saat menemukan Teresa menangis di hadapan Maulana, alisnya berkerut.
"Mama, ada apa? Ada yang memperlakukan Mama buruk?"
Valerie curiga perempuan itu sedang menuduhnya di belakang, tetapi tetap berpura-pura menunjukkan kepedulian seorang menantu baik.
"Tidak apa-apa. Ibu hanya rindu rumah lama."
Teresa memilih alasan pertama yang ia temukan.
"Rindu rumah? Seharusnya Mama bilang dari tadi. Aku antar."
Valerie langsung mengeluarkan ponsel.
"Tunggu. Aku telepon sopir agar mengantar Mama."
Wajah Teresa menegang.
Secara refleks ia mencengkeram lengan Maulana.
Maulana memahami isyarat itu dan menghentikan Valerie.
"Untuk apa memanggil orang? Mama hanya bicara begitu. Dia akan sangat kesepian kalau kembali tinggal di sana."
Valerie mengangkat wajah.
"Kamu tujuh tahun menikah dengan Kamila, dan selama lima tahun terakhir kamu meninggalkan mamamu di rumah itu. Waktu itu kamu tidak pernah bilang dia akan kesepian."
"Kamu..."
Maulana kehabisan jawaban.
Ia menahan marah dan merendahkan suara.
"Valerie, Mama sudah tua dan tidak seharusnya bolak-balik. Yang terbaik adalah dia tinggal bersama kita."
"Valerie..."
Teresa menyela dengan suara bergetar.
"Ibu hanya berkomentar. Kalau kamu akan menanggapinya seserius itu, Ibu tidak akan bicara lagi. Kamu masih muda. Papamu memanjakanmu sejak kecil, jadi hatimu polos. Kamu belum tahu cara memahami dan menghibur orang tua."
Ia menunduk.
"Ibu tahu kamu tidak bermaksud buruk. Jangan bertengkar dengan Maulana. Mulai sekarang Ibu akan lebih sedikit bicara."
"Mama tidak perlu menanggung ini," kata Maulana. "Valerie masih muda dan bisa salah. Kita hanya perlu menjelaskannya."
Dada Maulana terasa terbelah.
Tatapan yang ia arahkan kepada Valerie jelas berisi marah.
"Mama hanya berkomentar. Perlu sekali kamu bereaksi seperti itu? Pagi tadi dia bangun awal untuk menyiapkan sarapanmu dan kamu mengeluh. Lalu dia bekerja sepanjang siang untuk memasak lagi. Kenapa kamu begitu tidak pengertian?"
Valerie menatap Teresa dengan ekspresi rumit.
Perempuan itu meringkuk di sisi putranya seperti kelinci terluka, tetapi Valerie memahami setiap kata yang ia ucapkan.
Teresa sedang memasang label yang sama seperti yang dulu dipikul Kamila.
Saat melihat Maulana dan Teresa, Valerie merasa seolah seember air es disiramkan ke kepalanya.
Perempuan yang dibutakan cinta itu mendadak mendapatkan sedikit kejernihan.
Valerie memegang ponsel di udara dan matanya memerah.
"Sayang, Mama bilang rindu rumahnya. Aku ingin menjalankan tanggung jawab sebagai menantu dan membantunya pulang secepatnya. Aku melakukannya karena peduli. Kenapa di matamu itu berarti aku tidak pengertian? Apa aku melakukan sesuatu sampai kalian salah paham?"
Air matanya jatuh, suaranya gemetar.
"Ya, aku masih muda dan tidak memahami banyak hal. Aku tumbuh dalam kenyamanan karena Papaku memanjakanku. Aku pikir mencintai seseorang berarti memenuhi keinginannya."
Ia terisak.
"Mama bilang ingin pulang dan aku mengatur perjalanan. Apa itu salah? Aku melakukannya karena menyayangi kalian. Bagaimana bisa berubah menjadi kesalahan?"
Teresa tidak menyangka reaksi itu.
Menurut perhitungannya, gadis muda kurang pengalaman seharusnya menjawab dengan marah atau berteriak.
Ia seharusnya membuat keributan seperti Kamila dan meninggalkan kesan sebagai istri histeris yang tidak pengertian di mata Maulana.
Bukan berubah menjadi korban yang manis dan rapuh.
Maulana menatap ibunya dan istrinya bergantian.
Ia tidak tahu lagi siapa yang benar.
"Valerie, bukan itu maksudku..."
Suaranya melemah.
"Lalu apa maksudmu?"
Valerie mundur selangkah.
Air mata menutupi wajahnya dan ia tampak hampir runtuh.
"Mama bilang rindu rumahnya dan aku mencoba mengantarnya. Itu sikap anak yang baik. Lalu Mama bilang aku tidak memahami orang tua, dan aku menerimanya. Tapi kenapa satu keluarga tidak bisa bicara jujur? Kenapa harus menyembunyikan perasaan?"
Tangisnya makin deras.
"Kalian tidak menganggapku bagian dari keluarga ini?"
"Bukan begitu. Mamaku tidak bermaksud seperti itu."
Maulana mulai kehilangan kesabaran.
"Kalau begitu kenapa aku harus menebak semuanya? Apa keluarga perlu begitu banyak sindiran? Papaku tidak pernah memperlakukanku begitu."
Valerie menangis sampai terengah.
"Kalau Mama tidak puas denganku, kenapa tidak bilang langsung? Kenapa harus berputar-putar? Aku tidak bisa memperbaiki kesalahan kalau tidak tahu. Apa Mama mengira aku menantu seburuk Kamila? Mama terlalu tidak percaya kepadaku."
Melihatnya begitu hancur membuat Maulana luluh.
Ia menoleh kepada Teresa.
"Ma, mulai sekarang kalau ada sesuatu, katakan langsung. Kita keluarga."
Bibir Teresa bergerak.
Ia tidak mampu menyusun jawaban.
Kedinginan tajam melintas di mata Valerie.
Ia terus menangis.
"Aku melihat Mama bangun pagi untuk membuat sarapan dan tidak ingin Mama lelah. Aku bilang Mama istirahat karena aku bisa pesan makanan. Aku melakukannya untuk Mama. Kenapa Mama bilang aku meremehkan masakannya?"
Ia menatap Teresa.
"Mama, bukankah pagi ini aku bilang Mama tidur lebih lama dan beristirahat kalau punya waktu?"
Maulana menoleh.
"Dia bilang begitu?"
Teresa tidak tahu harus menjawab apa.
Ya, Valerie memang menyuruhnya beristirahat, meski pesan sebenarnya adalah berhenti mencari masalah.
"Ibu..."
Ia tidak bisa membela diri. Ia kalah.
"Mama salah memahami kata-kataku? Aku tidak pernah meremehkan makanan Mama. Aku hanya ingin Mama beristirahat karena aku khawatir. Mama terlalu banyak berpikir. Satu kalimat polos pun Mama bayangkan sebagai hal terburuk. Mama selalu meragukanku."
Valerie mengulurkan tangan kepada Maulana dengan mata penuh luka.
Maulana melepaskan Teresa dan berlari memeluknya.
"Jangan menangis, cantik. Mamaku memang mudah salah paham. Aku tahu kamu ingin menjaganya. Kamu baru beberapa hari menikah dan mungkin dia masih sedikit tidak percaya. Jangan seperti ini."
Teresa membeku.
Tekanan di dadanya nyaris tak tertahankan.
Ia mengepalkan tangan dan menatap Valerie lekat-lekat.
Dari pelukan Maulana, di luar pandangannya, Valerie sedikit mengangkat bibir.
Matanya menunjukkan kemenangan.
"Sayang, aku sedih sekali. Aku ingin kembali ke kamar."
Suaranya manis dan rapuh.
Tatapan yang diarahkan kepada Teresa dingin dan bersemangat, seperti pemburu yang baru menemukan mangsa.
"Baik. Aku antar."
Maulana memapah Valerie ke kamar.
Teresa tertinggal sendirian.
Ia gemetar karena marah dan menggertakkan gigi.
"Perempuan pura-pura polos."
Di dalam kamar, Valerie menangis di bahu Maulana.
Maulana khawatir sekaligus frustrasi.
"Sayang, maafkan aku. Aku sungguh khawatir mamamu lelah. Karena itu aku bilang dia tidak perlu menyiapkan sarapan dan cukup istirahat. Aku tidak menyangka dia salah paham. Akulah yang tidak tahu cara bersikap."
"Aku yang harus minta maaf. Aku tidak menangani situasi dengan baik."
Maulana berbicara lembut.
"Mama sudah tua dan mudah berpikir berlebihan. Dia melakukan semua ini karena takut pernikahan kita tidak berhasil. Cobalah memahami dia. Aku akan menjelaskan bahwa dia harus bicara langsung dan tidak salah mengartikan kata-katamu. Kamu sedang hamil. Jangan menangis."
Valerie mengangkat wajah.
Matanya seolah akan pecah jika Maulana menjawab salah.
"Mau, sayang, kamu mencintaiku, kan?"
Maulana merasa sedikit bersalah. Ia menyukai Valerie dan tidak kehilangan apa pun dengan bersamanya.
Ia putri tunggal Gibran Beltran. Sebagai menantu keluarga Beltran, Maulana bisa menarik rekan bisnis.
Penampilan dan kepribadian Valerie sesuai seleranya.
Jika ia tidak menentang Teresa dan keluarga tetap damai, Maulana bersedia tinggal bersamanya selamanya.
"Tentu saja aku mencintaimu. Sekarang kamu meragukanku?"
Ia menghapus air mata Valerie.
"Kamu pikir aku membuat mamamu menderita? Kalau begitu... apa dia akan lebih bahagia kalau mulai sekarang aku hanya makan masakannya?"
Valerie bicara dengan suara terluka.
"Aku tahu kamu ingin menjaganya. Tidak perlu makan sarapannya. Biarkan dia istirahat. Besok aku akan membelikanmu sesuatu."
Nada Maulana makin lembut.
Valerie memeluknya.
"Mama bilang aku harus bangun pagi demi bayi, tapi aku susah sekali. Aku akan berusaha."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi dia tetap harus bersih-bersih dan masuk pagi-pagi membawa sapu."
Maulana mengernyit.
Sekarang ia mengerti kenapa Teresa begitu ngotot membeli sapu ketika mereka ke supermarket.
Ia dan Valerie sudah memintanya memakai robot penyedot debu, tetapi Teresa menolak bahkan untuk belajar.
Kini ia tahu untuk apa sapu itu.
"Mamaku sudah tua dan tidak terbiasa memakai alat. Mulai sekarang aku yang akan bersih-bersih. Dia tidak akan masuk mengganggumu lagi."
Valerie meringkuk seperti kucing kecil.
"Sungguh? Mungkin dia akan marah. Lebih baik aku mencoba bangun pagi. Besok aku ingin pastel goreng yang baru matang."
Sikap itu membuat Maulana makin luluh.
Ia menghela napas.
"Tidak apa-apa. Kamu tidur saja. Kalau Mama menyiapkan sarapan, dia akan meninggalkannya di dapur dan kamu bisa makan saat bangun. Aku akan menjelaskannya sekarang."
"Terima kasih."
Valerie mengangkat wajah dan mencium Maulana.
"Kamu yang terbaik."
Maulana keluar dengan puas dan menemukan Teresa duduk di meja.
Begitu melihatnya, Teresa berdiri dan berlari mendekat.
"Bagaimana?"
Maulana mengernyit.
"Ma, Valerie dan aku sudah menikah. Kita keluarga dan harus bicara jelas. Mama salah memahami kata-katanya. Dia ingin Mama istirahat, karena itu dia meminta Mama tidak menyiapkan sarapan."
Teresa tidak menjawab.
Valerie memang mengucapkan kata-kata itu.
Kalau ia mengulang seluruh percakapan, permukaannya tetap terlihat seperti bentuk perhatian.
Bersikeras hanya akan membuktikan dirinya yang curiga.
"Bukan itu maksud Ibu."
Teresa menarik napas lewat hidung dan kembali memasang ekspresi menderita.
"Ibu hanya ingin menyiapkan sarapan karena khawatir makanan pesan antar tidak sehat. Ibu sudah tua. Memasak pun bisa dikritik. Ibu ini beban."
Melihatnya begitu sedih, Maulana merasa kembali mengecewakannya.
Di awal pernikahannya dengan Kamila, ia juga selalu membela istrinya.
Baru belakangan ia mulai berpikir Kamila punya terlalu banyak kekurangan dan Teresa sudah menanggung banyak ketidakadilan.
Sekarang setelah menikahi Valerie, ia harus menjadi anak yang lebih baik.
"Aku tahu Mama berusaha, dan Valerie juga tahu. Kalau Mama ingin memasak, dia setuju makan masakan Mama. Besok dia akan bangun untuk sarapan."
Maulana menghiburnya dengan suara lembut.
"Dia bilang ingin pastel goreng."
Wajah Teresa membeku.
Ia harus menyiapkan adonan sejak malam, bangun pagi, membuat isian, membentuk setiap pastel, lalu menggorengnya sampai renyah.
Anak manja itu benar-benar ingin memakai dirinya sebagai pembantu.
Tetapi Teresa tidak bisa menolak.
Bagaimanapun, dialah yang menangis dan bersikeras ingin memasak.
Saat Kamila baru menikah dengan Maulana, Teresa juga menyajikan bubur encer dan kacang kering.
Kamila langsung berkata ia tidak menyukainya.
Teresa menangis berhari-hari di depan Maulana dan berhasil membuat putranya menyebut Kamila tidak tahu terima kasih.
Valerie jauh lebih sulit.
"Baik."
Teresa menelan amarah dan mengangguk.
Maulana lega.
Ia mengingat ledakan emosi Kamila dan betapa itu membuatnya jengkel.
Valerie memang berbeda. Masalah yang sama bisa selesai dengan mudah.
"Lihat, Ma? Begitulah keluarga seharusnya. Ngomong-ngomong, Valerie perlu tidur lebih lama. Besok tinggalkan saja sarapannya, biar dia makan saat bangun."
Maulana mengambil sapu.
"Aku akan membuang ini. Mulai sekarang aku yang membersihkan rumah. Kalau Mama punya waktu, istirahat."
Dada Teresa kembali sesak.
Bahkan kata-kata putranya terasa menyimpan makna lain.
Ia marah dan benci, tetapi tetap mengangguk rendah hati.
"Baik. Ini salah Ibu sampai kalian bertengkar. Selama kalian bahagia, tidak masalah berapa banyak yang harus Ibu tanggung."
"Apa yang Mama tanggung?"
Suara Valerie terdengar dari kamar.
Ia membuka pintu dengan wajah penuh khawatir.
"Menyiapkan sarapan untukku membuat Mama menderita? Atau aku salah lagi sehingga Mama terluka?"
Matanya langsung memerah.
Maulana menjatuhkan sapu dan berlari memeluknya.
"Tidak. Mama tidak bermaksud begitu."
Valerie tidak mau melepas persoalan.
"Kalau begitu, apa yang Mama tanggung?"
Wajah Teresa berubah dari merah menjadi ungu.
Ia tidak menemukan jawaban.
Melihat penampilan rapuh Valerie, ia ingin menghancurkan sesuatu.
Valerie menyembunyikan wajah di dada Maulana.
"Mau, sayang, aku tidak tahu harus bagaimana. Kalau aku tidak makan masakannya, mamamu menderita. Sekarang aku setuju memakannya, dia juga menderita."
Ia terisak manis.
"Ma, jelaskan kepada kami," pinta Maulana, mulai tidak sabar. "Valerie begitu cemas sampai terus menangis, dan dia sedang hamil. Apa yang Mama tanggung? Kita bilang akan bicara jelas."
Teresa menarik napas dalam.
Ia berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
"Ibu tidak menanggung apa-apa. Hanya..."
Matanya kembali dipenuhi air dan ia bicara di sela isak:
"Ibu hanya merasa sudah tua dan tidak berguna. Ibu ingin memasak untuk menantu Ibu, tapi takut dia tidak suka. Kalau Ibu tidak memasak, Ibu khawatir dia kelaparan. Valerie memahami Ibu. Itu membuat Ibu bahagia. Ibu tidak menderita. Sungguh."
Meringkuk dalam pelukan Maulana, Valerie tersenyum.
Matanya menancap pada Teresa dengan ejekan terbuka.
"Kalau begitu, besok aku ingin pastel goreng, Mama."
Teresa memaksa bibirnya membentuk senyum harmonis.
"Tentu, tentu. Kalau kamu mengidam, Ibu akan membuatnya dengan senang hati. Besok Ibu bangun pagi dan menjaganya tetap hangat sampai kamu bangun."
Maulana mencium puncak kepala Valerie.
"Lihat? Kubilang Mama tidak ingin menyakitimu. Kita keluarga. Kalau dibicarakan, semuanya bisa dimengerti. Mulai sekarang, minta saja apa yang ingin kamu makan."
"Terima kasih, Mama. Mama yang terbaik."
Suara Valerie dipenuhi kegembiraan.
"Aku akan membuat daftar supaya Mama tahu harus memasak apa setiap hari."
Senyum Teresa menegang sekilas sebelum melebar lagi.
"Baik. Sekarang Ibu siapkan adonan untuk besok. Kalian istirahat."
"Ya. Mama juga tidur lebih awal," jawab Maulana.
Ia merangkul Valerie dan kembali ke kamar.
Setelah pintu tertutup, suara Valerie menembus dinding:
"Mau, sayang, mamamu luar biasa. Mulai sekarang aku hanya akan sarapan masakannya. Apa itu tidak terlalu merepotkan?"
"Jangan khawatir. Mama suka memasak untukmu. Dia akan sedih kalau kamu tidak makan."
"Baik. Yang penting dia bahagia."
Setiap kalimat menusuk telinga Teresa seperti jarum.
Ia menguleni adonan semakin kuat.
Ia menatap adonan itu seolah ingin menghancurkannya.
"Valerie Beltran..."
Ia menyebut nama itu di sela gigi dan tertawa dingin.
"Kita lihat sampai kapan kamu bisa berpura-pura, perempuan munafik."