Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahas anak kedua
Tring
Sebuah pesan masuk ke handphone Arin. Dia membaca pesan tersebut. "CK, Dina ada-ada saja. Aku malu jika harus ikut reuni seperti ini," gumam Arin sambil melempar handphone ke atas ranjang.
Setelah itu dia menghampiri Flora. Arin mengajak Flora bersepeda di depan rumah. Kebetulan pagi ini cuaca agak mendung jadi tidak ada matahari. Hanya saja tidak berangin jadi Arin aman saat mengajak anaknya bersepeda.
"Eh, dek Flora sini mampir," panggil Bu Totok.
Arin pun mendekat ke arah Bu Totok. "Ibu punya camilan kamu mau?" Bu Totok mengambil sepotong kue yang diberikan pada Flora.
"Anakmu umur berapa Rin?" tanya Bu Totok.
"Dua tahun, Bu," jawab Arin.
"Wah kalau dibuatkan adek sudah bisa tuh. Nanti kalau adiknya lahir kan sekitar umur tiga tahun. Selisih yang pas untuk jarak kelahiran," tutur Bu Totok.
"Nanti saja, Bu. Kalau sudah punya rumah sendiri," jawab Arin. Jujur saja gaji suaminya yang pas-pasan membuat Arin enggan memiliki anak lagi. Dia takut kalau gaji suaminya tak cukup untuk membiayai dua anak nantinya.
"Memangnya kenapa, Rin? Bukannya tambah anak tambah rejeki?"
"Gaji suami saya pas-pasan, Bu. Saya takut kalau kamu tidak bisa membiayai kebutuhan dua orang anak," ungkap Arin.
"Rejeki itu datang dari mana saja Arin. Kamu tidak tahu rumus matematika Allah itu berbeda dengan perhitungan manusia."
"Saya percaya Bu tapi nanti sajalah kalau kami sudah siap. Lagipula Flora masih butuh perhatian saya," elak Arin.
"Iya, ibu cuma ngasih saran aja."
"Kalau gitu kami permisi, Bu. Saya mesti bantu ibu masak di rumah," pamit Arin dengan sopan.
Tak sengaja dia bertemu lagi dengan Ridho. Laki-laki itu tersenyum tapi Arin tak membalasnya. Meski berkali-kali dicuekin Arin nyatanya Ridho masih saja mencari perhatian Arin secara diam-diam. "Ya ampun kenapa tiap kali ketemu orang itu perasaan aku tidak enak ya. Ya Allah semoga lain kali aku tidak lagi berpapasan dengannya," gumam Arin.
Di tempat lain, Ikbal yang sedang beristirahat jam makan siang berbincang dengan teman kerjanya. Sofyan yang merupakan teman satu sekolahan dulu mengajak Ikbal mendatangi reuni yang akan diadakan tiga hari lagi.
"Ah aku malas datang ke acara seperti itu. Terlebih lagi aku malu sama teman-teman yang lain. Mereka sudah sukses. Bawa mobil lah gue cuma punya motor buntut. Malulah kalau ditanya pekerjaan gue apa?" tolak Ikbal.
"CK, nggak asyik Lo. Reuni buat seneng-seneng aja. Lagipula ketemu teman sekolah kan nggak tiap tahun, Bro. Ajak istri Lo sama anak Lo juga." kata Sofyan.
"Arin mana mau? Dia pasti punya pemikiran yang sama kaya gue," jawab Ikbal.
"Istri Lo itu dulu disegani Bro. Jadi mereka nggak kan memandang rendah istri Lo. Dia itu udah pinter keren lagi di sekolah. Gue aja sempet kagum sama dia."
Ikbal langsung melotot ketika mendengar pengakuan Sofyan. Sofyan malah terkekeh. "Santai, Bro. Dia hanya tertarik sama Lo. Dulu Arin tuh kalem banget nggak suka pacaran. Bahkan dideketin cowok aja dia menjauh. Nggak nyangka kalau dia bakal nikah sama Lo."
"Jodoh memang nggak ada yang tahu. Kalau aku ingat lagi pas di sekolah dulu kita nggak pernah tegur sapa. Bahkan nggak saling kenal. Eh tahunya setelah sama-sama kerja malah deket," terang Ikbal menceritakan sedikit tentang perkenalannya dengan sang istri.
"Lo beruntung langsung dikaruniai anak. Lah gue nikah udah lima tahun belum dapat momongan juga," keluh Sofyan.
"Sabar, Bro. Nanti juga dikasih. Yang penting Lo tetep usaha."
"Usaha tiap malam, Bro," timpal Sofyan. Ikbal terkekeh.
"Ya, nikmati saja masa-masa berdua nanti kalau udah bertiga susah kalau mau minta jatah," sahut Ikbal. Sofyan tertawa lepas.
"Jadi Lo uring-uringan karena kurang jatah?" ledeknya. Ikbal menonjok bahu temannya itu. "Sialan Lo," umpat Ikbal yang kesal.
Ketika Arin sedang membuka sosial media miliknya, dia melihat foto-foto lawas sewaktu dia sedang hamil. "Apa udah waktunya aku punya anak lagi?" gumam Arin di dalam kamarnya.
Saat ini Flora sedang tidur setelah meminta ASI. Dina kembali mengirim pesan. Akan tetapi Arin malas membalasnya. Tak lama kemudian Dina malah menelepon.
"Hish, ngapain sih ni anak ganggu banget," gumam Arin tapi dia tetap mengangkatnya.
"Hallo. Rin lusa ikut reuni ya. Aku panitianya. Nanti aku bayarin kamu tinggal ikut aja. Soalnya yang ikut cuma sedikit Rin," bujuk Dina.
"Nanti aku tanya dulu sama mas Ikbal ya."
"Iya aku tunggu kabar baiknya ya Rin. Aku jamin kamu nggak akan menyesal kalau dateng ke acara reuni SMA kita." Setelah itu Arin menutup teleponnya.
Apakah Arin akan datang ke acara reuni?
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...