"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.7. Tatapan aneh para warga.
Kara lalu semakin turun ke bawah sana, sampai dia di sapa oleh seorang ibu - ibu yang sedang lewat sambil membawa sekarung rumput di punggung nya.
"Neng, bade (mau) kamana?" Tanya nya, Kara yang tidak mengerti bahsa mereka pun kebingungan.
"Maaf bu, saya nggak bisa bahasa daerah sini." Ucap Kara sopan, karena memang dia tidak mengerti.
"Oo bukan orang sini, ya? Mau kemana neng?" Tanya ibu itu meski masih dengan logat kental nya barulah Kara mengerti.
"Mau liat - liat daerah sini bu, saya baru pindah ke sini sama ayah saya." Ucap Kara, ibu itu manggut - manggut.
"Oo.. neng tinggal dimana? Saya teh baru lihat." Tanya ibu itu Kara pun tersenyum dan menjawab dengan ramah.
"Di rumah yang paling ujung itu, bu." Ucap Kara sambil menunjuk rumah milik kakek nya yang berada di paling ujung jalan yang hanya terlihat sebagian rumah nya saja. Mendengar itu, ibu - ibu itu justru jadi begitu terkejut.
"Rumah putih yang dua lantai itu!?" Tanya nya syok, Kara pun manggut - manggut sambil tersenyum.
Tapi aneh nya, setelah mendengar jawaban Kara.. Ibu itu langsung menatap Kara dengan tatapan penuh curiga dan menjadi sangat waspada, padahal Kara tidak melakukan apapun, ibu tadi pun juga buru - buru pergi meninggalkan Kara.
"Setan, keluarga setan!" Ucap nya pada Kara, tentu Kara syok mendengar itu.
"Eh, bu." Kara hendak mengejar tapi dia juga takut dengan pandangan orang - orang di sana.
Kara kesal karena dia ynag sudah berusaha ramah pada ibu tadi malah di katai keluarga setan oleh ibu itu, tapi Kara juga tidak bisa melakukan apapun. Akhirnya Kara pun pulang dengan perasaan sedih, dia baru saja tinggal di sana tapi sudah mendapat sambutan yang tidak mengenakan.
"Apa coba maksud nya ngatai aku setan, ibu - ibu aneh." Gumam Kara sambil berjalan kembali pulang ke rumah kakek nya.
Setelah Kara sampai di teras, dia duduk sendiri di sana masih dengan perasaan kesal, saking sakit hati nya dia di bilang "setan" Kara sampai menangis. Sudah lah dia sendirian di sana, dia juga tidak sama sekali mengenal warga yang tinggal di sana, tapi dia sudah di katai setan.
Sementara hari sudah mulai sore, Kara semakin takut sendirian sekarang apalagi Nurma pun bilang dia akan datang kembali besok. Kara pun masuk ke dalam dan kemudian mengunci semua pintu dan jendela..
Lalu pada saat dia hendak menutup jendela yang berada di paling ujung rumah, barulah Kara penasaran dengan bangunan di sebelah. Rumah kekak nya itu latter L yang Kara tempati berlantai dua tapi sebelah nya tidak, karena Kara penasaran.. Dia pun kembali keluar dan berjalan menuju ke bangunan sebelah.
"Di gembok, nyambung nggak ya sama di dalem." Gumam Kara.
Tiba - tiba, saat Kara sedang berdiri di depan pintu itulah Kara merasa ada yang sedang memperhatikan nya, Kara merasa merinding yang begitu hebat yang tidak pernah Kara rasakan seumur hidup.
"Srak!"
"Hh!!" Kara terkejut dan menoleh kebelakang.
Kara melihat ada seperti orang yang lari menggunakan pakaian serba hitam, melihat itu Kara pun langsung buru - buru masuk kedalam rumah dan menguncinya.
"BRAK!"
"Hhh.. Hhh.. Hh.." Kara sampai terengah - engah.
"Ada orang masuk, jangan - jangan maling!" Gumam Kara, dia kemudian pergi mencari apapun yang bisa dia jadikan senjata.
Saat Kara sedang mencari - cari alat apapun yang bisa dia gunakan sebagai pertahanan diri, dia akhir nya menemukan sebuah pisau, pisau berwarna hitam yang lumayan besar. Kara ambil pisau itu lalu dia sembunyi di kamar nya..
Akibatnya, Kara tidak berani melakukan apapun seorang diri, dia juga tidak menyalakan lampu di kamar nya dan terus mengawasi situasi dari jendela kamar nya. Sangat lama Kara berdiam di sana, dia takut jika orang dengan pakaian hitam itu kemudian masuk kesalah kamar nya.
'Nggak ada pergerakan apapun, apa aku yang salah lihat?' Batin Kara..
Karena dia tidak mendengar apapun dari luar kamar nya, jika memang ada maling .. seharus nya ada suara barang - barang yang di geledah oleh maling itu atau paling tidak terdengar suara langkah dari maling itu sendiri. Tapi ber jam - jam Kara berdiam diri di dalam kamar nya, dia sama sekali tidak mendengar suara apapun.
'Apa tadi halusinasi ku aja.' Batin Kara lagi, dia bahkan masih memegang pisau yang dia bawa tadi.
Tapi.. baru saja Kara membatin demikian, tiba - tiba Kara melihat ada orang yang menggunakan pakaian serba hitam yang dia lihat sebelum nya itu sungguhan muncul ada di halaman rumah kakek nya. Kara bisa melihat orang itu sedang berjalan biasa saja dan menuju ke samping rumah nya.
'Itu dia!' Batin Kara, Kara semakin yakin apa yang dia lihat itu bukan halusinasi sama sekali.
Kara memperhatikan orang itu dari atas jendela kamar nya, heran nya orang itu tidak melakukan apapun dan setelah Kara melihat orang itu yang ternyata bisa masuk kedalam pintu yang sebelum nyadi gembok, dia pun jasi berpikir bahwa mungkin orang itu bukan maling.
'Kok dia bisa masuk? Dia bawa kunci.. Berarti dia bukan maling, apa dia mang Jupri?' Batin Kara.
"Keluar nggak ya, tapi kalo dia bukan mang Jupri dan ternyata orang jahat gimana." Gumam Kara, dua juga sangat penasaran.
Kara terus memperhatikan nya, dan saat itulah Kara mendengar jam ding dong lantai yang besar yang ada di lantai satu rumah nya itu berbunyi yang menandakan itu sudah jam 12 malam. Saat jam itu berbunyi, tidak tahu kenapa.. Kara merasa hawa nya berubah, Kara secara tiba - tiba merasakan kantuk yang sangat luar biasa dan juga hawa sekitar rumah kakek nya menjadi sangat sunyi.
Sunyi nya tidak lazim, Kara yang sebelum nya masih mendengar suara - suara binatang kini tidak lagi seolah alam di sekitar nya berubah menjadi begitu sunyi dan senyap. Lalu pada saat itulah.. Kara mendengar suara teriakan perempuan yang sangat keras.
"AAAAAAAAAAAA!!!!"
"AAAAA!!!"
"Siapa yang teriak." Gumam Kara, dia menoleh kesana kemari dari jendela kamar nya.
Kara sampai tegang mendengar itu dan rasanya dia ingin turun untuk melihat siapa yang berteriak di luar sana, Tapi Kara tidan melihat ada siapapun di luar sana.. akhir nya Kara memilih diam saja sambil gemetar karena suara perempuan itu masih ada dan seperti orang yang kesakitan sambil purus asa.
Dia hanya bisa diam saja dengan jantung bergemuruh dan menahan suara tangis nya, Kara benar - benar ketakutan. Kara juga mencoba menelepon ayah nya, tapi ayah nya tidak bisa di hubungi..
"Ya Allah, aku takut." Gumam Kara, dia hanya bisa diam sambil terus berdoa dan duduk di sudut ruangan di bawah jendela kamar nya.
BERSAMBUNG!