NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Genggaman Tangan

KLIK.

Ibu jari Ayana menekan tombol putar di layar ponselnya. Seketika itu juga, keheningan di dalam ruang tengah penthouse pecah oleh sebuah gelombang suara yang teramat dihindari oleh indra pendengaran Arkananta.

Wiuuu... wiuuu... wiuuu...

Suaranya sangat pelan, hanya berkisar di volume lima persen, seperti suara ambulans yang melintas beberapa blok dari kompleks apartemen mewah ini. Namun, bagi syaraf-syaraf di otak Arka, volume lima persen itu bertransformasi menjadi sebuah palu godam yang menghantam langsung pusat traumanya. Ruang amigdala di otaknya langsung mengirimkan sinyal bahaya universal ke seluruh tubuh, melepaskan hormon adrenalin dan kortisol dalam jumlah besar secara instan.

Rahang Arka mengencang begitu keras hingga urat-urat di lehernya menegang. Sepasang mata elangnya yang biasanya memancarkan otoritas mutlak, kini melebar, menatap lurus ke arah ponsel di atas meja marmer dengan tatapan penuh permusuhan dan kilat ketakutan yang pekat. Tubuhnya condong ke depan, kaku bagai patung yang siap pecah kapan saja.

"Matikan..." suara Arka keluar dalam bentuk geraman rendah yang bergetar. "Ayana... saya bilang matikan."

"Tidak, Arka. Tetap di posisi Anda," sahut Ayana tegas, suaranya mengalun tenang namun tidak menerima bantahan sedikit pun. Ia tidak bergeser satu milimeter pun dari sofanya. "Lihat ponsel itu. Itu hanya benda mati berukuran enam inci. Suara yang keluar dari sana tidak bisa meruntuhkan gedung ini, tidak bisa memanggil truk kontainer, dan tidak bisa mengubah siang ini menjadi malam kecelakaan itu. Suara itu tidak berdaya di depan Anda."

"Kamu... tidak mengerti..." napas Arka mulai kembali memburu. Keringat dingin yang baru saja mengering di pelipisnya kini kembali merembes keluar, membasahi dahi dan memicu detak jantungnya untuk berpacu melewati ambang batas normal.

Bagi Arka, suara itu bukan sekadar polusi suara. Suara sirine itu adalah mesin waktu terkutuk yang secara paksa menyeret jiwanya kembali ke dalam rongsokan mobil yang ringsek, ke dalam aroma besi berkarat bercampur darah ibunya, dan ke dalam dinginnya air hujan yang mengguyur tubuh remaja empat belas tahunnya yang tak berdaya.

Melihat respons fisik Arka yang mulai memasuki fase flight or fight, Ayana tahu ia harus bertindak cepat sebelum pasien VIP-nya ini mengalami syok vasovagal atau pingsan karena kekurangan oksigen akibat hiperventilasi.

Ayana menggeser duduknya, berlutut langsung di atas karpet bulu tebal tepat di depan lutut Arka. Dengan gerakan yang penuh presisi namun lembut, ia meraih kedua pergelangan tangan Arka yang terkepal kuat di atas lutut, lalu memaksanya untuk terbuka. Ayana menyatukan jemarinya sendiri di sela-sela jari kekar Arka, mengunci genggaman mereka berdua dengan erat.

"Arka, fokus ke saya! Jangan lihat ponselnya, lihat mata saya!" seru Ayana, menaikkan volume suaranya untuk mengalahkan gaung sirine yang berputar di kepala pria itu.

Arka tersentak. Rasa hangat yang tiba-tiba menyengat telapak tangannya bertindak seperti sebuah kabel sekring yang menahan korsleting di otaknya. Ia mengalihkan pandangan liarnya dari ponsel, lalu menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Ayana.

Di dalam jarak yang begitu dekat, Arka bisa melihat bayangan dirinya sendiri terpantul di bola mata dokter mudanya itu. Mata Ayana tidak memancarkan rasa kasihan, tidak juga memancarkan ketakutan atau kepanikan yang biasa ia lihat dari orang-orang di sekitarnya saat ia mengamuk atau tumbang. Mata Ayana memancarkan keyakinan yang luar biasa kokoh, sebuah ketenangan absolut dari seorang profesional yang tahu persis apa yang sedang dilakukannya.

"Tarik napas, Arka... hitung sampai empat bersama saya," bisk Ayana, meremas pelan jemari Arka untuk memberikan stimulasi taktil yang nyata. "Satu... dua... tiga... empat. Tahan. Keluarkan pelan-pelan... satu... dua... tiga... empat. Bagus. Lakukan lagi."

Arka memejamkan matanya, mengandalkan genggaman tangan Ayana sebagai satu-satunya jangkar penahan jiwanya agar tidak hanyut ke masa lalu. Ia mengikuti panduan napas itu. Setiap kali suara sirine di latar belakang terasa mendesak otaknya, remasan tangan Ayana di jemarinya seolah mengirimkan pesan tegas: “Kamu aman. Aku di sini. Siksaan ini akan berlalu.”

Perlahan tapi pasti, keajaiban klinis dari metode exposure yang dipadukan dengan teknik grounding interpersonal mulai bekerja. Detak jantung Arka yang tadinya berdentum gila-gilaan di dalam dadanya lambat laun mulai menurunkan temponya. Paru-parunya yang semula terasa menyempit dan kaku kini mulai bisa mengembang sempurna, meraup pasokan oksigen dengan lebih teratur.

Dua menit berlalu dalam posisi yang sangat intim dan menegangkan itu, hingga akhirnya audio rekaman berdurasi tiga menit di ponsel Ayana berhenti berputar secara otomatis. Sunyi kembali menguasai ruang tengah penthouse.

Arka membuka kelopak matanya perlahan. Napasnya masih agak berat, namun kilat ketakutan di matanya telah digantikan oleh rasa lelah yang amat sangat. Ia menatap ke bawah, menyadari bahwa ia masih mencengkeram tangan Ayana dengan begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan kembali jatuh ke dalam jurang kegelapan.

Bukannya buru-buru menarik tangannya seperti yang biasa ia lakukan jika bersentuhan dengan orang lain, Arka justru mengendurkan cengkeramannya sedikit namun tetap membiarkan telapak tangan hangat Ayana berada di dalam genggamannya.

"Bagaimana?" tanya Ayana lirih, masih dalam posisi berlutut di depan Arka dengan wajah yang mendongak menatap sang CEO. "Volume lima persen sudah berhasil kita lewati. Otak Anda tidak meledak, kan? Anda masih hidup, dan Anda masih menjadi pemilik Pradipta Group yang paling ditakuti di kota ini."

Arka menatap wajah polos Ayana yang berada hanya belasan sentimeter dari wajahnya. Sudut bibir pria itu bergerak tipis, membentuk sebuah senyuman getir yang sangat langka. "Kamu... benar-benar dokter yang kejam, Ayana. Metode penyembuhanmu ini lebih mirip seperti interogasi tingkat tinggi badan intelijen."

Ayana terkekeh renyah, melepaskan genggaman tangannya perlahan lalu duduk bersila di atas karpet dengan santai, meluruskan kakinya yang agak pegal. "Hehehe, di dalam dunia medis, kadang-kadang kita harus merobek luka lama yang bernanah dulu, Pak, dibersihkan sampai ke akar-akarnya, baru setelah itu lukanya bisa dijahit dengan rapi dan sembuh total tanpa bekas. Kalau cuma ditutupi pakai plester atau obat penenang, selamanya Anda akan jadi tawanan masa lalu."

Arka menyandarkan kepalanya di bantalan sofa, menatap langit-langit penthouse-nya dengan pandangan yang kosong namun terasa jauh lebih ringan. "Tawanan masa lalu... kata-katamu sangat puitis untuk ukuran dokter yang hobi makan tumis kangkung sisa kemarin."

"Heh! Jangan menghina tumis kangkung ya! Itu sumber zat besi yang bagus buat otak Anda yang kekurangan asupan ketenangan!" semprot Ayana tidak terima, langsung kembali ke mode rewelnya yang biasa.

Arka tertawa pelan—sebuah tawa lepas yang tulus tanpa ada unsur kepalsuan atau sarkasme di dalamnya. Suara tawa itu terdengar begitu merdu dan hangat, membuat Ayana sempat terpaku selama beberapa detik. “Ternyata kalau lagi ketawa begini, tingkat ketampanannya naik lima ratus persen,” batin Ayana, mendadak merasa pipinya sedikit menghangat.

Sesi terapi sore itu akhirnya ditutup dengan evaluasi klinis singkat. Ayana mencatat beberapa poin penting di papan jalannya mengenai respons somatik Arka terhadap paparan audio volume rendah.

"Untuk hari ini, kita cukupkan sampai di sini, Pak Bos. Otak Anda butuh istirahat untuk memproses adaptasi baru ini. Jangan dipaksa lagi," ujar Ayana sembari membereskan peralatan medisnya ke dalam tas. "Malam ini, pastikan makan makanan yang kaya magnesium seperti pisang atau almond sebelum tidur, biar syaraf Anda rileks."

Arka berdiri dari sofanya, berjalan menuju dinding kaca raksasa untuk menatap pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala satu per satu di bawah langit malam yang menggelap. "Ayana."

"Ya, Pak?" Ayana menoleh sembari menyampirkan tas medisnya di bahu.

"Terima kasih," ucap Arka lirih tanpa membalikkan badannya. Suaranya terdengar sangat tulus, bergema pelan di dalam ruangan yang luas itu. "Untuk... tidak melepaskan tangan saya tadi."

Ayana tertegun di tempatnya berdiri. Sebuah kehangatan yang aneh mendadak menyusup ke dalam hatinya, membuat dadanya berdesir hebat. Ia tersenyum manis, meskipun Arka tidak bisa melihatnya dari belakang.

"Sudah kewajiban saya sebagai dokter pribadi Anda, Pak Arka," jawab Ayana lembut. "Saya sudah bilang, kan? Saya tidak akan membiarkan pasien saya bertarung sendirian. Sampai ketemu besok di kantor, Pak Bos. Jangan lupa minum air putihnya!"

Ayana melangkah pergi menuju lift privat dengan hati yang terasa sedikit lebih ringan, meninggalkan Arka yang masih berdiri di depan dinding kaca. Pria itu menyentuh telapak tangan kanannya sendiri, merasakan sisa kehangatan dari genggaman tangan Ayana yang masih tertinggal di sana—sebuah kehangatan yang perlahan mulai mencairkan dinding es yang selama ini membekukan hatinya. Perjalanan mereka menuju babak-babak selanjutnya masih sangat panjang, namun untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, Arkananta Pradipta merasa ia memiliki alasan yang kuat untuk menang dalam pertempuran ini.

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!