Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 2
Alysia melangkah cepat menuju mobil, langkah kakinya yang tenang di atas paving block halaman menutupi badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Begitu pintu mobil tertutup, aroma parfum yang tertinggal di kursi belakang. Sisa dari keberadaan Damian beberapa detik lalu menyambutnya. Alysia memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam untuk menstabilkan detak jantungnya yang masih terasa bergemuruh.
"Mama, nanti di sekolah ada sesi 'Show and Tell'. Aku mau cerita soal robot dasi itu!" Arkhasa berceloteh riang, kakinya mengayun-ayun di kursi belakang.
Alysia menoleh, menatap wajah polos itu melalui kaca spion tengah. Tatapannya melembut, menyentuh binar mata yang merupakan satu-satunya alasan dia bertahan di rumah ini.
Arkhasa, bayi yang dulu dia temukan di ranjang bayi dengan tangis yang memilukan, kini telah tumbuh menjadi anak yang penuh warna. Alysia tidak pernah melupakan hari itu, hari di mana dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa anak ini tidak akan pernah merasakan dinginnya tembok rumah ini seperti yang dia rasakan.
"Tentu saja, Sayang. Itu ide yang hebat," jawab Alysia lembut, suaranya kini kembali stabil dan hangat.
"Tapi ingat, cerita yang bagus harus punya pesan moral. Apa pesan moral tentang robot dasi itu?"
Arkhasa mengerutkan kening, berpikir keras sampai ujung hidungnya berkerut lucu.
"Hmm... harus disiplin biar tidak disuruh lembur?"
Alysia tertawa kecil, suara tawa yang jujur dan tulus.
"Pintar. Tapi ingat juga, robot yang baik harus punya waktu untuk bermain bola, kan?"
"Betul sekali!" Arkhasa tertawa lebar.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, suasana di dalam mobil terasa kontras dengan kediaman mereka. Alysia mendengarkan setiap celoteh Arkhasa, menanggapi dengan antusias seolah dia tidak baru saja mengalami penolakan yang paling menyakitkan di pagi hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, Alysia tahu bahwa perannya hari ini baru saja dimulai.
Setelah menurunkan Arkhasa di depan gerbang sekolah, Alysia tidak langsung pulang. Dia memarkir mobil di sudut yang tenang, menatap gedung sekolah yang megah itu untuk beberapa saat. Jemarinya masih sedikit gemetar saat menyentuh setir. Dia teringat kembali pada gerakan Damian yang menghindar tadi. Seolah tangannya adalah sesuatu yang bisa menularkan kotoran atau wabah.
Enam tahun, batinnya. Berapa banyak lagi kancing yang harus kupasang, berapa banyak lagi kopi yang harus kusajikan sebelum dia benar-benar melihatku sebagai manusia? Sebagai seorang istri? Padahal Damian datang padanya dengan cara yang baik-baik menikahinya. Saat itu dia bekerja sebagai salah satu staff magang di perusahaan Damian.
Ponsel di sampingnya ber-ge-tar. Sebuah notifikasi masuk. Itu adalah email dari sekolah Arkhasa mengenai kegiatan "Family Day" yang akan diadakan minggu depan. Alysia membukanya, lalu matanya terpaku pada satu poin. Kehadiran kedua orang tua sangat diharapkan untuk mendukung partisipasi siswa.
Alysia mematikan layar ponselnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak bisa membiarkan Arkhasa kecewa lagi seperti tahun lalu, di mana Damian hanya menitipkan pesan melalui asisten pribadinya bahwa dia ada rapat penting di luar kota.
Alysia menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin mobil. Dia menghapus sisa embun di sudut matanya, memulas kembali lipstik berwarna lembut, dan menegakkan bahunya.
"Hari ini, Alysia," bisiknya pada diri sendiri.
"Hari ini, kamu akan melakukan sesuatu yang berbeda."
Dia akan menanyakan tentang Family Day itu malam nanti, bukan sebagai istri yang meminta belas kasihan, melainkan sebagai seorang ibu yang menuntut komitmen bagi kebahagiaan anaknya. Meskipun dia tahu risikonya adalah tatapan dingin yang akan kembali menghujamnya, Alysia tidak peduli. Untuk Arkhasa, dia rela menjadi tameng yang lebih kuat lagi.
Mobil pun melaju meninggalkan sekolah, membawa Alysia kembali ke rumah besar yang kini terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Namun, ada tekad baru yang menyala di matanya. Tekad yang mungkin, hanya mungkin, akan mengubah sedikit saja dinamika di antara mereka berdua.
Suara denting bel pintu kafe setiap kali ada pelanggan masuk menjadi musik latar yang kontras dengan keheningan rumah Damian. Alysia duduk di sudut yang tenang, memesan secangkir teh camomile yang uapnya perlahan menari di udara. Begitu layar laptopnya terbuka, atmosfer di sekitar Alysia berubah total.
Bukan lagi istri yang kaku dan tertunduk, di balik layar itu, Alysia adalah seorang profesional yang cekatan. Nama samarannya, ‘A.L.S’, sudah dikenal luas di kalangan agensi desain grafis dan konsultan konten digital internasional. Selama enam tahun, setiap kali Damian terkunci dalam dunianya sendiri atau sedang dalam perjalanan bisnis, Alysia menggunakan waktu tersebut untuk mengasah bakatnya. Dan dia baru benar-benar menekuni pekerjaannya ini dua tahun terakhir.
Jari-jemarinya menari dengan ritme yang energik di atas keyboard.
Ping.
Sebuah notifikasi project masuk dari kliennya di London. Mereka memuji hasil revisi logo yang dikirimkan Alysia tadi malam.
"Sangat presisi, minimalis, namun punya karakter yang kuat," tulis klien tersebut.
Alysia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah dia tunjukkan di hadapan Damian.
Di dunia virtual ini, Alysia memiliki kendali. Dia adalah pengambil keputusan, dia dihargai atas opininya, dan dia memiliki suara.
Namun, saat dia sedang memproses file besar, matanya sempat teralih pada folder tersembunyi di desktop-nya. Folder itu berisi rincian tabungan pribadi yang selama bertahun-tahun dia sisihkan dari hasil kerjanya. Angkanya sudah cukup untuk menyewa apartemen kecil dan memulai hidup baru. Sebuah rencana pelarian? Mungkin lebih tepatnya, sebuah rencana cadangan.
Alysia menutup folder itu dengan gerakan cepat saat ponselnya bergetar. Bukan email klien, melainkan pesan singkat dari Damian.
Damian: Pastikan Arkha sudah makan siang. Aku ada pertemuan mendadak di Singapura malam ini.
Tidak pulang.
Pesan itu singkat, dingin, dan otoriter, seperti biasanya. Alysia terdiam, menatap layar ponsel itu selama beberapa detik. Ada rasa lega yang menyelinap. Tidak perlu ada ketegangan makan malam nanti, namun di saat yang sama, ada kesedihan yang sudah menjadi teman setianya.
"Singapura lagi," gumamnya pelan.
Dia kemudian teringat Family Day yang ia baca tadi pagi. Jika Damian tidak pulang malam ini, berarti dia harus mencari celah lain untuk membicarakan acara sekolah itu.
Alysia tidak bisa mengandalkan pesan teks untuk hal sepenting ini. Alysia menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas kulit kecil yang selalu dia bawa. Dia menatap ke luar jendela kafe, memperhatikan jam yang menunjukkan pukul dua siang. Sebentar lagi sekolah Arkhasa usai.
Dia berdiri, merapikan blazer hitam yang dia kenakan, pakaian yang menurut Damian ‘tidak perlu’ untuk seorang ibu rumah tangga, namun bagi Alysia, ini adalah seragam perangnya.
Saat ia berjalan keluar kafe, Alysia merasa dirinya sedang menjalani dua kehidupan yang berjalan secara paralel. Di satu sisi, dia adalah istri yang terasing; di sisi lain, dia adalah wanita mandiri yang sedang membangun jalan keluar.
Dia melangkah menuju mobil, bersiap menjemput Arkhasa. Di jok penumpang, dia sudah menyiapkan buku cerita baru yang Arkhasa inginkan. Dia akan memastikan anak itu tetap bahagia, tidak peduli seberapa dingin dunia yang sedang dibangun ayahnya di sekitar mereka.
Pikiran tentang Family Day masih menghantui. Malam nanti, jika Damian benar-benar tidak pulang, Alysia berencana melakukan satu hal yang selama ini tidak pernah dia berani lakukan. Dia akan menelpon langsung ke kantor Damian, bukan ke ponsel pribadinya, untuk memastikan sang asisten memasukkan jadwal itu ke kalender pria itu.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,