Lea, adalah wanita muda yang berperan menjadi wanita penghibur. kerasnya kehidupan membuat gadis dengan paras cantik nan Ayu tersebut mengambil jalan pintas demi memenuhi kebutuhan nya. Lea hidup sebatang kara kedua orang tua nya telah meninggal karna sakit. "MOHON AMPUN YA ALLAH" ucap Lea kala ia mendapat sebuah hidayah untuk merubah jalan hidupnya. Namun perjalanan yang ia tempuh tidak lah mudah. Lea mendapat beberapa penekanan bahkan ancaman yang membahayakan hidupnya. Jika ia sampai bertaubat dan berhenti menjadi wanita penghibur. Akan kah Lea berhasil terbebas dari dunia malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Gemilang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"TAWARAN BEKERJA"
Entah kenapa? setelah mengetahui kebenaran tentang jati diriku. aku menjadi sangat malu,
malu sekali rasanya. harus terlahir dari hubungan gelap. mungkin ini sebab nya kah? Tuhan tidak pernah berpihak pada ku dan orang yang mengurusku?
Entah seperti apa rupa dua manusia yang membuatku terlahir ke'dunia?
Apa hubungan mereka masih berlanjut hingga saat ini? atau ajal sudah menjemput keduanya.
Entah kenapa? ada rasa benci yang teramat sangat untuk mereka berdua, bukan hanya melukai hati ku dan meninggalkan ku. karna mereka pula lah orang baik yang mengurusku harus menderita sepanjang hidupnya.
Tuhan, aku tak peduli seberapa engkau jijik saat menciptakan ku. dan atas dasar apa pula aku tercipta, tapi ku mohon untuk kali ini. pertemukan aku dengan dua manusia itu.
Ku langkahkan kaki ku kembali untuk menyusuri jalan, mencari sebuah rongsok.
Mataku terpana kala melihat beberapa anak seusiaku tengah berjalan beriringan mengenakan seragam putih abu,
Andai. aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. dan mendapat sebuah kesempatan untuk bisa duduk dan belajar untuk menyongsong masa depan. aku tidak akan pernah menyianyiakan semua itu.
tapi apa daya, Aku hanya anak haram. yang sengaja di buang dan di benci seluruh warga kampung tempat ku lahir. .
sampai karna kehadiran ku pula. aku membawa petaka untuk manusia yang menolongku.
Pantas saja aku selalu di pandang Hina, rupanya aku memang manusia Hina.
Ku ambil beberapa botol plastik dalam tempat sampah. dalam parit dan di pinggir jalan.
kaki ku terus melangkah. dengan di lindungi sebuah sendal yang sudah berbeda warna. rambut yang tidak terurus. pakaian ku yang sangat kumuh.
Aku terus berjalan. dengan sebuah harapan baru di tiap harinya. semoga keberuntungan menghampiri ku. namun bukan nya keberuntungan kadang aku tidak bisa membawa uang sama sekali dalam sehari.
("Hargailah kedua orang tuamu dikala masih ada bersama mu, hargai pula lah setiap tetes keringat yang keluar demi kebahagiaan mu. karna tidak sedikit anak di dunia, dan tidak pula sedikit manusia yang tidak memiliki keberuntungan dalam hidup."
Pandanglah kedua manik orang tuamu, lihatlah betapa lelah nya iya membesarkan mu. dengan tenaga yang di peras habis untuk kebahagiaan mu. memenuhi setiap kebutuhan mu. sudahkan kamu berterima kasih padanya? ..)
Seandainya aku masih memiliki kesempatan untuk bersama Ayah dan Ibu, tak apa walau satu menit pun. aku sangat merindukan mereka.
Teringat perjuangan mereka untuk ku. ingin sekali aku berkunjung ke makam dan memeluk erat mereka.
Kaki ku terus melangkah. hingga tiba di sebuah rumah makan. aku tak pernah pergi sampai sejauh ini.
mungkin karna pendapatan ku belum sampai ada setengah karung. aku berjalan sampai sejauh ini.
Ku lihat di sebuah meja. ada sepasang orang dewasa tengah merayakan ulang tahun seorang gadis kecil. ku yakini itu pasti putri mereka.
Ada raut kebahagian di wajah ketiganya.
***********
Sampai sore begini karung yang ku bawa belum juga penuh. ku tatap langit mulai berwarna jingga.
aku pun duduk di sebuah trotoar untuk mengistirahatkan kaki ku yang seharian ini terus berjalan.
Terasa lapar. karna aku belum mengisi kembali perut ku. Kue dari Mbak Nurma masih ada. aku bisa memakan nya untuk pengganjal perut nanti malam. tapi butuh waktu juga untuk sampai ke rumah ku.
tempat ini sangat jauh. sedangkan perutku sudah sangat keroncongan..
Aku terus memaksa kaki ku berjalan agar segera sampai ke rumah. sekitar 4 jam berjalan tanpa henti aku pun tiba di tempat yang ku jadikan sebuah rumah.
aku segera mencuci tangan dan kaki. lekas masuk ke dalam. rumah yang beralaskan beberapa dus bekas.
lekas ku buka kembali bungkusan yang berisikan kue dari Mbak Nurma hari itu. masih ada beberapa potong. ini akan cukup untuk mengganjal perut ku.
Tak lupa ku sisakan satu potong untuk sarapan nanti pagi. botol plastik yang ku dapat hanya setengah karung saja. kalau di jual pun harganya tidak akan seberapa?
mau tak mau besok aku harus mencari tambahan lagi. semoga saja besok adalah hari keberuntungan ku.
seperti yang di katakan ibu.
Malam pun tiba, hujan turun begitu deras malam ini. sampai air hujan bisa menembus celah atap ku yang terbuat dari triplek.
Aku hanya duduk memeluk lututku.air hujan telah membasahi sebagian lantai ku. yang memang terbuat dari kardus bekas.
Semalaman ini aku benar benar tak bisa memejamkan mataku. hujan baru reda setelah adzan subuh berkumandang. lekas ku buka pintu dari triplek dan mengeluarkan kardus kardus yang telah basah.
.
ku tatap langit masih gelap. tidak ada satu manusia pun di luar saat ini.
hidup sebatang kara memang tidak mudah. bukan hanya untuk mencari makan sendiri. aku juga harus belajar bagaimana membetulkan rumah ku sendiri.
Saat matahari mulai menampakan dirinya. aku telah bersiap untuk mencari rejeki baru. ku bawa karung yang baru berisi setengah. berharap hari ini akan ada rejeki baru untuk ku.
karna sore nanti aku harus membeli makan. karna makanan dari Mbak Nurma hari itu telah habis.
beberapa jam telah berlalu. namun hasil pungutan ku belum juga bisa memenuhi karung yang ku gendong. aku pun memasuki perumahan tempat Mbak Nurma bekerja. semoga di sini ada banyak botol bekas yang bisa ku jual.
Saat tengah memunguti beberapa botol di tempat sampah.
"Lea" ucap seseorang yang ku kenal suaranya.
"Eh mbak Nurma," jawabku sambil membalikkan badan menghadap ke arahnya.
"Kok baru kelihatan, kemana aja?" ucapnya menghampiri ku.
"Biasa mbak, berkeliling mbak dari mana?" jawabku.
"Ini mbak habis belanja sayur di depan sana" ucapnya seraya menunjukan beberapa kantong plastik yang iya bawa
"Oh iya mbak" jawabku.
"Lea, kamu mau kerja jadi pembantu gak?" ucapnya membuatku melongo.
"Pembantu mbak?" jawabku.
"Iya, di rumah kakak nya majikan ku lagi butuh pembantu. mungkin kamu minat dari pada kamu cape berkeliling begini." ucapnya meyakinkan ku.
"Eemm, memang nya ada yang mau memperkerjakan saya mbak?" jawabku sambil tertunduk.
Aku tahu. aku tidak harus memaksakan diriku untuk menjadi seperti wanita yang lain. tapi lihatlah, penampilan ku seperti gelandangan. apa akan ada yang mau memperkerjakan ku?
"Memang nya kenapa?tanya Mbak Nurma sambil menautkan alis nya.
"Mbak lihat penampilan ku. seperti gelandangan. apa mbak yakin ada yang Sudi memperkerjakan ku" jawabku.
"Iya juga ya" ucap mbak Nurma.
Sejenak kami saling diam. mbak Nurma masih terus memandangku. entah apa yang ada di pikiran wanita ini padaku.
"Mbak Tahu" ucapnya seketika membuatku kaget bukan main.
.
"Apa mbak?" jawabku penasaran.
"Kamu untuk beberapa hari jangan mulung, kamu mandi aja terus, ya minimal sehari tiga kali biar kamu kelihatan bersih. nanti mbak kasih beberapa baju layak pakai untuk kamu ya" ucapnya panjang lebar.
"Kalau saya gak mulung, saya mau makan apa mbak? lagian saya gak mau merepotkan mbak Nurma, masa mbak Nurma mau kasih baju ke saya" jawabku tak enak hati
"Kamu tunggu disini. dan jangan kemana mana oke" ucapnya seraya pergi meninggalkan ku sendiri.
Entah apa yang ada di pikiran mbak Nurma. jika aku tidak mulung mau makan apa coba aku, dan masa aku harus mandi sampai tiga kali sehari?
Beberapa lama menunggu mbak Nurma. wanita itu pun muncul kembali. dengan sebuah plastik hitam besar di tangan nya.....
aku ksh secangkir ☕ nieh kak
dah aku ksh vote y kak
aku yakin ini pasti kisah nyata.,