NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

uring-uringan

Ruangan kerja Dikta di gedung D&N Aroma Indonesia terasa hening, hanya terdengar suara ketikan jari Gavin di atas meja kaca di sudut ruangan, suara yang berirama tegas, menandakan kekesalan yang sudah ditahan sejak beberapa hari terakhir.

Di hadapannya, Dikta duduk memandangi layar laptop yang sama sekali belum menyentuh dokumen presentasi rencana peluncuran produk parfum terbaru mereka.

Aroma sampel parfum yang disemprotkan ke kertas uji tadi masih menggantung di udara perpaduan matcha dan wangi bunga segar yang seharusnya menjadi simbol keanggunan sekaligus kekuatan, namun kini terasa sia-sia karena satu-satunya orang yang paling paham konsepnya tampak kehilangan arah.

"Dikta, ini sudah hari ketiga," ucap Gavin akhirnya memecah keheningan. Suaranya rendah, tapi tak bisa menyembunyikan nada kesal. "Target peluncuran tinggal dua minggu lagi. Konsep iklan, kerja sama dengan influencer, hingga kemasan edisi terbatas, semua masih menunggu keputusan darimu. Tapi lihatlah dirimu... sejak tadi pagi layar saja yang kau tatap, tidak satu pun dokumen yang kau tanda tangani."

Dikta menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. Ia menyeka wajahnya dengan kedua telapak tangan, terlihat lelah meski tak melakukan pekerjaan fisik berat.

"Aku tahu, Vin... maaf," jawabnya pelan. "Aku cuma... kepalaku agak berantakan akhir-akhir ini."

"Berantakan soal apa? Soal Sera? Atau soal Delara yang tiba-tiba kembali muncul?" Gavin mencondongkan tubuh, menatap tajam sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu. "Dikta, aku mengerti kalau hatimu sedang gelisah. Tapi tolong pisahkan perasaan dan pekerjaan, ya? Perusahaan ini bukan cuma milikmu. Banyak orang yang bergantung pada kesuksesan peluncuran produk ini. Kalau konsentrasimu terpecah, semuanya bisa berantakan. Apa kau tidak iba pada karyawan yang bahkan lembur sampai berhari-hari hanya demi launching produk terbaru kita ini?"

Dikta terdiam. Hatinya merasa bersalah.

Gavin benar. Yak seharusnya dia mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan.

Tapi setiap kali ia mencoba fokus menyusun konsep, bayangan wajah Sera yang selalu menghindarinya dan memblokirnya terus muncul dikepalanya. Belum lagi pesan-pesan dari Delara yang terus berusaha menghubunginya, memohon kesempatan untuk berbicara. Semua itu membuat pikirannya tak pernah benar-benar tenang.

"Aku tidak bermaksud mengabaikan semuanya, Vin," ucap Dikta pelan. "Aku hanya... masih berusaha menemukan jalan tengah. Antara apa yang aku inginkan, dan apa yang seharusnya aku lakukan."

"Kalau begitu, selesaikan dulu urusan hatimu sebelum menyeret pekerjaan ke dalamnya," sahut Gavin tegas, lalu nada bicaranya sedikit melembut. "Aku sahabatmu sekaligus asisten mu, Dikta. Aku mau kau bahagia, aku mau kau dapatkan Sera kembali. Tapi aku juga tidak mau kerja keras kita berbulan-bulan hancur begitu saja hanya karena kau tak bisa fokus."

Gavin kemudian mendorong selembar kertas berisi jadwal kerja ke arah Dikta. "Mulai sekarang, selama jam kerja, urus pekerjaan. Soal Sera, soal Delara, soal perasaanmu, bicarakan setelah jam kantor selesai. Bisa?"

Dikta menatap kertas itu, lalu menatap Gavin.

Perlahan ia mengangguk meskipun dirinya juga tak yakin apakah bisa fokus.

"Okey," jawabnya. "Terima kasih sudah menegurku, Vin. Kau benar. Aku tidak boleh membiarkan masalah pribadiku mengganggu semuanya. Ini mimpiku dan ini juga tanggungjawab ku terlebih untuk pembuktian kepada papa karena telah menyerahkan urusan perusahaan kepadaku..."

Gavin tersenyum tipis, lalu menepuk bahu sahabatnya itu. "Bagus. Itu baru Dikta Rey Ibrahim yang aku kenal. Sekarang, mari kita selesaikan semuanya. Kita harus memastikan parfum terbaru ini sukses meluncur. Siapa tahu, aroma yang kau buat ini bisa menjadi jembatan untuk kembali memenangkan hati Sera."

Dikta tersenyum tipis, lalu kembali menatap layar laptopnya. Kali ini, tatapannya lebih fokus. Di luar sana, masalahnya belum selesai. Tapi setidaknya, untuk saat ini, ia tahu harus mulai dari mana.

...****************...

Sedang serius berdiskusi, pintu ruang kerja Dikta tiba-tiba terbuka, sebelum sempat sekretarisnya melapor. Gavin langsung mengerutkan kening, sementara Dikta yang baru saja menegakkan punggung kembali menatap ke arah pintu dengan tatapan tak percaya.

Delara berdiri di sana, mengenakan setelan kerja rapi dan senyum yang sengaja dibuat manis. Di tangannya terdapat map berlogo perusahaan klien besar yang memang sedang mereka kerjasamakan untuk peluncuran parfum terbaru.

"Maaf mengganggu," suaranya terdengar lembut, berusaha seolah-olah tak ada masalah di antara mereka. "Saya datang mewakili Pak Hendrik untuk membahas rincian kontrak kerja sama yang harus segera ditandatangani sebelum peluncuran."

Gavin melirik Dikta sekilas, lalu berdiri. "Kami sedang membahas jadwal peluncuran, Nona Delara. Ini bukan waktu yang tepat."

Delara melangkah masuk, menaruh map di atas meja dengan perlahan. "Bukankah justru ini waktu yang tepat? Biar saya sekalian bisa menyampaikan masukan dari pihak klien. Lagipula... saya dan Pak Dikta sudah lama kenal, kan?"

Dikta menghela napas kasar, menahan emosi yang tiba-tiba memuncak. Rahangnya mengeras.

Muak pada sikap Delara yang dinilai tak tahu malu.

Dikta tahu betul kedatangannya secara tiba-tiba tanpa janji temu bukan sekadar urusan bisnis. Delara selalu saja punya cara untuk menyisipkan urusan pribadi di antara urusan profesional.

"Kita bicara soal kontrak saja, Delara. Tidak ada yang lain," ucap Dikta dingin, tanpa menyambut senyum perempuan itu.

Delara tertawa kecil, lalu duduk di kursi tepat di seberang Dikta. "Kau masih saja kaku, Dikta. Padahal dulu kita begitu hangat. Bukankah bagus kalau kerja sama kita juga diiringi dengan hubungan yang akrab? Lagipula... Aku dengar kemajuan proyek ini agak lambat akhir-akhir ini. Apa mungkin ada yang mengganggu konsentrasi Anda Pak Dikta Rey Ibrahim!?" sebuah kalimat sindiran diucap oleh Delara mampu membuat Dikta semakin kesal.

Pandangan tajam itu tertuju lurus ke arah Delara.

Gavin pun sama, menahan amarah di sisi lain meja.

"Kemajuan proyek di tangan kami, Nona Delara. Pihak klien cukup menunggu hasilnya sesuai jadwal," jawab Gavin tegas, memotong. "Dan soal hubungan pribadi, biarlah urusan masing-masing. Di ruangan ini, kita semua rekan kerja."

Delara tersenyum miring, lalu membuka map di depannya. "Baiklah, kalau begitu. Mari kita bicara soal revisi konsep wangi parfum yang diajukan. Pak Hendrik menginginkan wangi yang lebih... memikat. Lebih seperti aroma yang tak bisa dilupakan begitu saja. Seperti kenangan yang terus kembali, meski sudah berusaha dihapus."

Lagi, Dikta mengepal tangan di atas meja.

Ia paham betul makna tersirat di balik kalimat itu. Delara tak pernah berhenti berusaha menyusup masuk ke dalam pikirannya. Setiap kata, setiap senyum, seolah-olah selalu bermaksud menyisipkan kehadirannya di tengah-tengah segalanya.

"Kami akan pertimbangkan masukan itu," jawab Dikta singkat, tanpa menatap mata perempuan itu. "Sekarang, kalau tidak ada hal lain yang mendesak, kami masih ada rapat lanjutan."

Delara berdiri perlahan, kedua tangannya ditumpu pada meja lalu dia sedikit mencondongkan badannya kedepan hingga Dikta ataupun Gavin bisa melihat sesuatu yang tersembunyi dibalik blazer biru yang dikenakan oleh Delara.

Perempuan itu lalu berbisik pelan tepat dideoan wajah Dikta, yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Aku tahu kau sedang kesulitan, Dikta. Kalau kau butuh teman bicara... Kau tahu harus cari aku dimana..."

Dikta menatapnya tajam. "Terima kasih, Nona Delara. Lebih baik tawaran itu Anda berikan kepada pria-pria diluar sana yang jauh lebih membutuhkannya...." balas Dikta sedikit sarkas dan terdengar kejam.

Delara bukannya tersinggung, dirinya justru tersenyum penuh arti, lalu melangkah menuju pintu. "Tidak masalah jika kau menolaknya... Aku pergi dulu, sampai jumpa lagi, Dikta"

Begitu pintu tertutup, Gavin menghela napas panjang dan memijat pangkal hidungnya. "Dia itu kayak bukan utusan dari sebuah perusahaan besar tapi lebih kayak" Gavin tak melanjutkan kalimatnya yang Dikta sendiri sudah bisa menebaknya.

Dikta menatap map yang ditinggalkan Delara, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Dia sengaja. Dia tahu saat ini aku mulai mengejar Sera, makanya dia bersikap lebih agresif dari sebelumnya...."

"Kalau begitu, kita harus cari cara agar urusan profesional dan pribadi tidak tercampur aduk," kata Gavin tegas. "Mulai sekarang, semua pertemuan dengan pihak klien harus ada aku atau staf lain yang ikut. Tidak boleh ada pertemuan berdua saja dengan Delara. Bahaya? Selain agar Sera tak salah paham, ini juga bisa menjagamu dari hal-hal yang tidak kita inginkan... Delara itu licik dan akan melakukan segala macam cara agar kau tidak kembali bersama Sera"

Dikta mengangguk pelan, meski di dalam hatinya ia tahu, menutup pintu untuk Delara tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi perempuan itu kini memegang peran penting di perusahaan yang sedang mereka kerjasamakan.

"Setuju," jawabnya lemah. "Entah kenapa aku dulu begitu lemah padanya... Padahal inilah sifat aslinya" ucap Dikta diiringi hela nafas berat.

"Untung kau cepat sadar, jika tidak... " Gavin menggeleng kecil."Kau akan berakhir jadi gembel karena harta yang usahakan susah payah justru diambil oleh uget-uget itu" sambungnya yang memang tak menyukai Delara sejak dulu.

Dikta hanya terkekeh mendengar julukam Gavin pada mantan pacarnya itu.

bersambung....

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!