Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Arga datang bersama kedua orang tuanya. Pria itu membawa sebotol obat, sementara kedua orang tuanya membawa sekotak suntikan. Ketiganya langsung terkejut melihat barang-barang yang berserakan di lantai, lalu pandangan mereka beralih pada gadis yang tengah menangis di pangkuan pria yang kini menatap mereka dengan tajam.
Bukannya Marchel yang harus mereka tenangkan, justru Tirta. Satu hal yang pasti, mereka semua benar-benar terkejut. Pria yang biasanya hanya bisa ditenangkan dengan obat penenang atau dibiarkan sendirian setelah suntikan menancap di tubuhnya, kini justru tampak tenang hanya karena gadis yang baru ditemuinya sebanyak tiga kali.
"Ini semua ulahmu!"
Ibu Asmirah menyenggol lengan Arga yang hanya bisa diam. Ia sudah pasrah jika pria itu benar-benar akan membunuhnya setelah ini.
"Nak..."
Panggil wanita itu dengan lembut.
Tirta mengusap air matanya, lalu perlahan menoleh. Ia juga dibantu turun saat tangan kekar Marchel perlahan melepaskan pelukannya.
"Ayo duduk dulu."
Wanita itu tersenyum penuh rasa bersalah sambil membantu Tirta duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.
"Arga."
Suara bariton itu memanggil pria yang sejak tadi sudah pasrah.
Tanpa banyak bertanya, Arga berjalan mendekat lalu mendorong kursi roda Marchel menuju kamarnya. Sementara itu, Tirta diberi segelas air putih agar sedikit lebih tenang.
Prang!
Sebuah botol minuman melayang dan menghantam dinding kamar bercat abu-abu itu hingga pecah berkeping-keping. Arga yang nyaris terkena lemparan hanya berdiri diam. Ia sudah sangat mengenal kemarahan sepupunya.
Kamar itu dipenuhi botol-botol kosong yang berserakan. Botol minuman yang hampir setiap hari dikonsumsi oleh Marchel.
"Kesalahan fatal apa yang sedang kamu lakukan, Arga?!" Bentaknya penuh amarah.
Arga hanya menunduk. Lengannya mulai berdarah akibat terkena serpihan kaca.
"Maaf. Ini memang salahku. Aku sengaja membawanya ke sini untuk bertemu denganmu."
Jawabnya jujur.
"Alasannya?"
"Karena beberapa hari terakhir kamu sempat membicarakannya tanpa sengaja. Selama delapan tahun terakhir tidak pernah ada seorang pun yang menjadi topik pembicaraanmu. Jadi aku berpikir mempertemukan kalian sebentar. Tapi aku sama sekali tidak memintanya datang. Dia memang datang untuk mengantarkan pesanan makanan."
Jelas Arga dengan wajah serius. Ia benar-benar tidak berniat jahat.
"Kamu sudah membahayakan dirinya dengan mempertemukannya denganku! Apa kamu tidak pernah berpikir sebelum melakukan sesuatu?"
"Maaf..."
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu mengalihkan pembicaraan mereka. Ayah Arga masuk sambil memberi tahu bahwa gadis itu sudah ingin pulang.
"Dia bilang ingin pulang. Tapi sepertinya tangan gadis itu sedikit terluka. Bisakah kamu menahannya di sini sampai makan siang? Kita tidak enak kalau membiarkannya pulang begitu saja." Ucap Ayah Miller.
Marchel terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Tapi sepertinya ada pria yang tadi menunggu gadis itu di depan rumah. Apa dia masih di sana?" Tanya Arga.
"Iya. Pria itu masih menunggu di depan rumah. Katanya dia akan tetap menunggu gadis itu." Jawab ayahnya santai sebelum kembali keluar.
"Siapa pria itu?" Nada penasaran terdengar jelas dari suara Marchel. Arga menoleh sambil menahan senyum.
"Entahlah. Tapi mereka terlihat cukup akrab. Mungkin kekasihnya."
"Mungkin? Kenapa jawabanmu tidak pasti?" Tanyanya dengan nada kesal. Arga hanya mengangkat bahu.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang aku tidak boleh mencari tahu tentang gadis itu?"
"Apa aku pernah berkata begitu?" Tanya Marchel sambil mengangkat sebelah alis. Arga langsung menggeleng.
"Tidak. Sepertinya aku yang salah paham. Lagipula, untuk apa peduli? Bukankah kalian juga tidak akan bertemu lagi setelah ini?"
"Sepertinya akhir-akhir ini mulutmu sudah belajar mengeluarkan protes dan ocehan yang tidak berguna. Perlu aku kirim kamu belajar bicara di Kutub Selatan?"
Ancaman itu langsung membuat Arga menggeleng keras. Ucapan Marchel memang selalu terdengar seperti ancaman kosong. Sayangnya, semua itu hampir selalu menjadi kenyataan.
"Ayo keluar. Sepertinya Tirta sudah mau pulang." Marchel hanya mengangguk. Bukan karena menurut, tetapi kini ia tahu nama gadis yang tadi sempat dipeluknya adalah Tirta.
...****************...
Di luar, Tirta sudah bersiap pulang. Namun langkahnya terhenti saat melihat dua pria keluar dari kamar yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu. Tadi ia sempat mendengar suara benda pecah dari dalam kamar.
Kini tatapannya langsung tertuju pada lengan Arga yang terluka.
Tirta menatapnya dengan kesal.
Mulutnya memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi wajahnya sama sekali tidak mampu menyembunyikan rasa tidak sukanya.
"Keluarlah. Aku ingin bicara dengan gadis ini." Ucap Marchel dari kursi rodanya.
Tanpa diminta dua kali, ketiga orang yang sejak tadi berada di sana langsung meninggalkan ruangan tanpa membantah. Tirta hanya melirik tajam saat Marchel perlahan mendekat. Wajah pria itu tetap datar tanpa sedikit pun menunjukkan ekspresi.
"Coba aku lihat, di mana luka yang kubuat?" Suara Marchel terdengar jauh lebih tenang dibanding saat tadi.
"Apa urusanmu? Aku mau pulang." Tirta baru saja hendak melangkah ketika suara tegas itu kembali menghentikannya.
"Duduk." Nada perintah itu membuat Tirta refleks berhenti.
Sebelum akhirnya kembali duduk di sofa, mereka sempat saling bertatapan tajam. Marchel kemudian mengambil sebuah kotak P3K dari bawah meja kaca di depan mereka.
"Buka bajumu." Kalimat itu langsung membuat mata Tirta membelalak.
Tak!
Sebuah ketukan pelan mengenai dahi gadis itu.
"Pikiranmu terlalu jauh. Maksudku blazer-mu. Ternyata wajah polosmu tidak sesuai dengan isi kepalamu." Tanpa membalas, Tirta membuka blazer yang dikenakannya. Setelah itu ia refleks menutupi sebagian tubuhnya yang hanya dibalut tank top.
"Tidak ada yang menarik untuk dilihat dari tubuhmu. Jadi tenang saja, aku tidak tertarik."
Dustanya.
Padahal pria itu hanya ingin membuat Tirta merasa aman dan tidak salah paham. Lengan gadis itu terlihat mulai membiru.
Marchel mengambil beberapa bongkah es dari kulkas, membungkusnya dengan kain bersih, lalu perlahan menempelkan kompres dingin itu pada lengan Tirta yang lebam akibat ulahnya sendiri.
Keheningan memenuhi ruangan.
Tirta memilih diam karena sedang tidak ingin berbicara dengan pria yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Apa kamu sudah berubah jadi bisu? Sampai suara cemprengmu tidak terdengar lagi."
"Diamlah. Aku sedang tidak ingin bicara dengan pria sekasar dirimu." Jawab Tirta pada akhirnya. Marchel kembali mengompres lengan gadis itu dengan hati-hati.
Senyum tipis sempat terukir di sudut bibirnya. Namun sorot matanya tetap tajam memperhatikan wajah Tirta yang sejak tadi enggan menoleh ke arahnya.
"Jadi, katakan. Apa yang bisa kuberikan sebagai ganti rugi?" Tanyanya sambil menatap dalam wajah gadis di depannya. Sayangnya, Tirta sama sekali tidak menyadari tatapan itu.
"Tidak perlu. Aku hanya tidak ingin bertemu denganmu lagi." Jawabnya mantap. Ia benar-benar tidak ingin ikut terlibat lebih jauh dengan pria itu.
"Sayangnya... kita akan terus bertemu, Nona." Jawaban itu membuat Tirta spontan menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Mata tajam Marchel yang selalu memancarkan ketegasan kini seolah menahan sesuatu yang tidak mampu ia ucapkan. Entah sejak kapan, keduanya kembali tenggelam dalam tatapan masing-masing.
Hingga akhirnya momen itu terputus oleh suara ketukan pintu. Arga masuk sambil memberi tahu bahwa ia siap mengantar Tirta pulang.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜