NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Demam Sang Iblis

​Lautan Grand Line perlahan menyembunyikan sisi kejamnya di balik warna jingga matahari terbenam. Angin sore bertiup membawa aroma garam yang menenangkan, menyapu geladak Kapal Bajak Laut Mugen yang masih dipenuhi oleh tubuh-tubuh kru yang tertidur pulas.

​Gelombang Haoshoku Haki yang meledak beberapa jam lalu telah menguras kesadaran setiap manusia lemah di sekitar perairan tersebut. Kapal kayu berbendera Sharingan itu kini hanya dikendalikan oleh keheningan dan tiga orang wanita yang masih memiliki cukup tekad untuk tetap terjaga.

​Namun, kedamaian di luar sama sekali tidak mencerminkan kekacauan yang sedang terjadi di dalam kapal.

​Di depan pintu kayu kabin utama, udara terasa sangat aneh. Nico Robin berdiri dengan tangan menyilang, menatap celah di bawah pintu tersebut. Hawa panas yang tidak wajar merembes keluar dari sela-sela kayu, membuat udara di lorong kapal terasa seperti di dalam ruang pemanggang.

​Vinsmoke Reiju melangkah mendekat dari arah dapur. Dia membawa sebuah koper besi kecil berwarna perak di tangan kanannya. Alis sang putri racun itu berkerut tajam saat dia merasakan suhu udara yang meningkat drastis hanya dengan berdiri di dekat pintu.

​Dari arah langit-langit geladak, kepulan salju turun perlahan. Monet mengubah wujud Logia miliknya kembali menjadi bentuk manusia seutuhnya. Gadis berambut hijau pucat itu mendarat tanpa suara di samping Robin.

​Ketiga wanita itu saling menatap dalam diam. Mereka memikirkan hal yang sama. Sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi pada dewa pelindung mereka di dalam sana.

​Robin mengulurkan tangannya dan memutar kenop pintu kuningan tersebut. Logam kuningan itu terasa sangat panas menyengat telapak tangannya. Robin menahan rasa sakit itu dan mendorong pintu kabin hingga terbuka lebar.

​Begitu pintu terbuka, sebuah gelombang panas yang luar biasa ekstrem menyapu wajah ketiga wanita tersebut.

​Hawa panas itu membuat napas mereka tercekat sesaat. Ruangan kabin utama yang biasanya sejuk dan gelap kini terasa seperti berada di dekat kawah gunung berapi.

​Di tengah ruangan, di atas ranjang kayu yang sederhana, terbaring sosok Uchiha Madara.

​Pemuda berarmor merah itu telah melepaskan pelindung dadanya yang rusak. Dia kini hanya mengenakan kemeja hitam tipis yang telah basah kuyup oleh keringat. Wajahnya yang biasa terlihat pucat dan datar kini berubah menjadi merah padam.

​Napas Madara terdengar sangat berat dan memburu. Dadanya naik turun dengan ritme yang sangat tidak beraturan. Udara panas mengepul langsung dari pori-pori kulitnya, menciptakan efek uap tipis yang membuat pemandangan di sekitar tubuhnya terlihat bergelombang.

​Ini adalah harga mutlak dari sebuah kekuatan dewa.

​Mangekyou Sharingan bukanlah teknik yang bisa digunakan tanpa bayaran. Mata itu adalah kutukan yang memakan energi kehidupan penggunanya. Di dunia asalnya, seorang Uchiha dewasa yang telah terlatih puluhan tahun pun akan mengalami pendarahan dan kelelahan ekstrem setelah menggunakan wujud awal Susanoo.

​Madara memaksakan kekuatan itu bangkit di dalam wadah tubuh remaja yang belum sempurna. Sel-sel biologisnya belum cukup kuat untuk menampung aliran chakra yang begitu padat dan merusak. Sistem kekebalan tubuhnya bereaksi terhadap kerusakan internal itu dengan menaikkan suhu tubuh secara drastis untuk melawan peradangan seluler. Suhu tubuh pemuda itu nyaris mencapai titik didih air.

​Sebuah gelas kayu berisi air minum yang terletak di atas meja di samping ranjang bahkan mulai mengeluarkan gelembung-gelembung kecil di permukaannya akibat suhu ruangan yang terlampau panas.

​Melihat kondisi tersebut, kepanikan yang jarang terjadi akhirnya meledak di antara ketiga wanita itu.

​Monet adalah orang pertama yang kehilangan ketenangannya.

​Mata emas kekuningan gadis itu melebar maksimal. Insting loyalitas butanya mengambil alih seluruh akal sehatnya. Monet melesat maju menerobos hawa panas ruangan.

​“Tuan Madara!” panggil Monet dengan suara bergetar panik.

​Gadis salju itu berlutut di samping ranjang. Dia melihat wajah pemuda yang menyelamatkannya kini terlihat sangat tersiksa oleh rasa sakit yang tidak terlihat. Darah kering masih menempel di sudut mata kanan Madara, menjadi bukti dari penderitaan diam-diam yang ditanggung sang iblis.

​Monet tidak ragu sedikit pun. Dia mengaktifkan kekuatan Buah Iblis Logia Yuki Yuki no Mi miliknya hingga batas maksimal.

​Kedua lengan Monet berubah menjadi bongkahan salju murni. Suhu di sekitar tubuh gadis itu anjlok seketika hingga mencapai titik beku. Dia memadatkan salju di tangannya menjadi sebuah kompres es abadi yang tebal dan memancarkan hawa dingin yang sangat pekat.

​Monet meletakkan kedua telapak tangannya yang telah berubah menjadi es tepat di atas dahi dan dada Madara.

​Suara desisan nyaring langsung terdengar memenuhi kabin.

​Pertemuan antara suhu tubuh Madara yang nyaris merebus air dan es abadi milik Monet menciptakan reaksi fisika yang sangat brutal. Kepulan uap air yang sangat tebal menyembur ke udara, menutupi langit-langit kabin dengan kabut putih.

​Es di tangan Monet mencair dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Air es yang menetes ke atas kemeja hitam Madara menguap kembali dalam hitungan detik.

​Namun Monet menolak untuk menyerah. Dia terus menyalurkan energi Logia miliknya tanpa henti. Setiap kali es di tangannya mencair, dia langsung membekukannya kembali. Dia menciptakan sebuah siklus kompres es abadi yang terus menerus melawan demam mengerikan di dalam tubuh kaptennya.

​“Suhu tubuhnya terlalu tinggi,” lapor Monet dengan suara yang terdengar sangat tegang. Wajahnya mulai memucat karena harus mengeluarkan banyak energi elemen untuk melawan panas murni dari chakra Madara.

​“Mendinginkan kulitnya dari luar tidak akan menghentikan kerusakan di dalam.”

​Sebuah suara dingin yang sangat tajam memotong kepanikan Monet.

​Vinsmoke Reiju melangkah masuk ke dalam kabin. Sang putri racun itu tidak menunjukkan wajah panik. Ekspresinya sangat fokus, dingin, dan penuh perhitungan analitis layaknya seorang ilmuwan medis di tengah medan perang.

​Reiju meletakkan koper besi peraknya di atas meja kayu. Dia membuka koper itu dengan cepat. Di dalamnya, terdapat deretan tabung kaca berisi cairan berwarna-warni, jarum suntik berbagai ukuran, dan peralatan medis tingkat tinggi buatan kerajaan sains Germa.

​Dia melirik ke arah Monet dengan tatapan meremehkan.

​“Ini bukan demam karena virus atau bakteri. Ini adalah reaksi dari kerusakan sel akibat penggunaan energi yang melampaui batas batas biologis wadahnya,” jelas Reiju sambil mengeluarkan sebuah tabung kaca berisi cairan kental berwarna biru menyala.

​Reiju memasukkan cairan biru itu ke dalam sebuah jarum suntik baja. Dia menyentil tabung jarum itu perlahan untuk mengeluarkan gelembung udara.

​“Otaknya mungkin akan terselamatkan oleh es konyolmu itu. Tetapi organ dalam dan otot jantungnya akan meledak jika kita tidak menstabilkan tingkat pembelahan selnya sekarang juga,” lanjut Reiju dengan nada memerintah.

​Reiju berdiri di sisi ranjang yang berseberangan dengan Monet.

​Gadis berambut merah muda itu memegang lengan kanan Madara yang terasa sangat panas. Dia mencari letak pembuluh darah utama di lipatan siku pemuda tersebut.

​Reiju menekan ujung jarum baja itu ke permukaan kulit Madara.

​Sebuah hal yang mengejutkan terjadi. Jarum baja tajam itu melengkung sedikit dan menolak untuk menembus kulit Madara. Meskipun pemuda itu sedang tidak sadarkan diri, sisa-sisa chakra yang mengalir di bawah jaringan kulitnya secara pasif membentuk sebuah lapisan pertahanan yang sangat alot.

​Alis Reiju berkedut kecil. Dia berdecak kagum di dalam hatinya.

​'Bahkan saat tertidur dan sekarat, tubuhnya masih menolak benda asing,' batin Reiju takjub.

​Dia tidak kehilangan akal. Reiju memusatkan sedikit kekuatan fisiknya yang telah dimodifikasi secara genetik ke ujung jari telunjuknya. Dia menekan pangkal jarum suntik itu dengan kekuatan dorong yang lebih besar, memaksanya menembus lapisan pertahanan pasif chakra tersebut.

​Jarum itu akhirnya berhasil masuk ke dalam pembuluh darah Madara.

​Reiju menekan tuas suntikan secara perlahan. Cairan biru yang merupakan serum penstabil sel tingkat tinggi buatan Germa mengalir masuk ke dalam aliran darah sang dewa perang.

​“Serum ini akan meredam rasa sakit di sistem saraf pusatnya, sekaligus memperlambat metabolisme selnya secara paksa. Ini akan memberikan waktu bagi tubuhnya untuk memperbaiki diri tanpa harus membakar sisa energinya menjadi panas,” ucap Reiju dengan nada bangga yang tidak disembunyikan.

​Dia mencabut jarum suntik itu dan menekan bekas lukanya dengan kapas bersih.

​Suhu tubuh Madara perlahan berhenti meningkat, meskipun hawa panas yang ekstrem belum sepenuhnya menghilang. Tarikan napas pemuda itu menjadi sedikit lebih panjang dan teratur berkat efek penenang dari serum tersebut.

​Monet mendengus pelan melihat tindakan Reiju. Gadis salju itu tidak suka melihat ada wanita lain yang mengambil peran lebih penting dalam menyelamatkan dewa pujaannya.

​“Serum kimia buatan manusia tidak akan cukup untuk menenangkan tubuh seorang dewa. Jika aku menghentikan kompres es ini, suhu tubuhnya akan kembali mendidih dalam hitungan menit,” sindir Monet tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Madara. Es di tangannya terus mengeluarkan suara desisan saat bersentuhan dengan dahi Madara.

​Reiju tersenyum misterius. Senyuman yang memancarkan aura arogansi elegan.

​“Ilmu pengetahuan adalah kekuatan mutlak di lautan ini. Tanpa bahan kimia dari kerajaanku, kapten kita akan mati karena kegagalan organ sebelum es buatanmu itu sempat mendinginkan ujung jari kakinya,” balas Reiju tidak mau kalah. Suaranya terdengar sangat halus namun mematikan.

​Di ambang pintu, Nico Robin berdiri mengamati perdebatan konyol tersebut.

​Gadis arkeolog itu menggelengkan kepalanya pelan. Dia menghela napas panjang melihat bagaimana kedua wanita mematikan itu justru saling bersaing di saat kapten mereka terbaring tidak berdaya.

​Robin melangkah masuk ke dalam kabin. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada yang tertutup kemeja ungu gelap.

​“Kalian berdua terlalu fokus pada kekuatan dan ilmu pengetahuan, hingga kalian melupakan hal yang paling mendasar dari sebuah perawatan,” ucap Robin dengan nada suara yang sangat tenang dan dewasa.

​Monet dan Reiju serentak menoleh ke arah Robin dengan tatapan tajam.

​Robin tidak memedulikan tatapan permusuhan itu. Dia memejamkan matanya sejenak.

​“Ojos Fleurs,” bisik Robin pelan.

​Kelopak bunga berwarna merah muda bermekaran di udara kabin yang dipenuhi oleh uap panas. Kelopak-kelopak itu berjatuhan dan menempel di berbagai permukaan perabotan.

​Dalam sekejap mata, puluhan tangan manusia yang lentik dan putih tumbuh menyembul dari meja, dinding, dan lantai di sekitar ranjang Madara.

​Tangan-tangan ilusi itu bergerak dengan kecepatan dan koordinasi yang sangat mengagumkan.

​Dua tangan mengambil sebuah baskom kayu dan mengisinya dengan air bersih dari kendi. Tiga tangan lainnya mengambil tumpukan handuk bersih dari dalam lemari. Tangan-tangan itu mencelupkan handuk ke dalam air, memerasnya hingga kering, dan mulai mengelap keringat yang membanjiri leher dan dada Madara dengan gerakan yang sangat lembut.

​Sementara itu, tangan yang lain melepaskan kancing kemeja hitam Madara yang sudah basah agar udara bisa mendinginkan tubuhnya lebih baik.

​Tidak berhenti sampai di situ, Robin juga menggunakan tangan-tangan bunganya untuk menahan kepala Madara sedikit lebih tinggi.

​Sebuah tangan ilusi yang tumbuh di meja memegang gelas berisi air bersih. Tangan lainnya mengambil sebuah sendok kecil, menyendok air tersebut, lalu membawanya mendekati bibir Madara yang kering dan pecah-pecah.

​Dengan kehati-hatian tingkat tinggi, Robin memberikan tetesan air ke dalam mulut Madara agar pemuda itu tidak dehidrasi di tengah demamnya, dan memastikannya tidak tersedak.

​“Es akan membuatnya membeku, dan bahan kimia akan memberikan efek samping,” kata Robin sambil mengendalikan puluhan tangannya secara bersamaan.

​Mata biru gelap Robin menatap tajam ke arah Reiju dan Monet.

​“Tubuh manusia yang sedang kelelahan membutuhkan kenyamanan dasar. Hidrasi, kebersihan, dan sirkulasi udara. Hal-hal kecil yang tidak bisa diselesaikan oleh bongkahan salju maupun jarum suntik baja.”

​Monet mengerutkan alisnya. Es di tangannya mengeluarkan kepulan uap yang lebih tebal akibat emosi yang mulai tidak stabil.

​“Kenyamanan dasar? Kau pikir tubuh dewa ini sama rapuhnya dengan manusia biasa sepertimu? Dia tidak butuh sentuhan manjamu, dia butuh stabilitas suhu ekstrem!” bantah Monet dengan nada dingin yang menusuk.

​Reiju menyilangkan tangannya di depan dada, memihak untuk menyerang Robin secara pasif.

​“Nona Robin benar-benar memiliki jiwa keibuan yang luar biasa. Sayangnya, membasuh tubuh yang terbakar dari dalam dengan air biasa sama tidak gunanya dengan menyiramkan air ke atas lahar panas. Hanya serumku yang benar-benar bekerja mematikan peradangan di tingkat seluler,” ucap Reiju dengan senyuman yang menyembunyikan bisa beracun.

​Robin tidak terpancing emosinya. Dia mengusap wajah Madara dengan handuk basah menggunakan tangan ilusinya, memastikan pemuda itu tetap nyaman.

​“Aku hanya melihat fakta di depan mataku. Kalian berdua berdebat tentang siapa yang paling hebat, sementara kemeja kapten kita menempel di kulitnya dan membuatnya semakin sesak napas. Jika kalian benar-benar peduli, belajarlah untuk memperhatikan detail kecil,” balas Robin telak.

​Ketegangan di dalam ruangan kabin itu kembali memuncak.

​Hawa dingin dari es Monet bertabrakan dengan suhu panas tubuh Madara. Aroma obat-obatan kimia dari perlengkapan Reiju memenuhi udara. Kelopak bunga berwarna merah muda berjatuhan di setiap sudut ruangan.

​Ketiga wanita itu saling melempar argumen pasif-agresif tanpa henti. Mereka saling menyindir metode keahlian masing-masing. Ruang perawatan yang seharusnya hening dan tenang kini berubah menjadi arena debat ego antara seorang pembunuh bayaran Logia salju, seorang putri pembunuh ahli racun, dan seorang buronan arkeolog yang elegan.

​Suara mereka berdengung bergantian.

​“Jika suhu tubuhnya kembali naik, esku akan langsung membekukan darahnya agar tidak rusak,” ancam Monet kepada Reiju.

​“Kau membekukan darahnya, maka organ dalamnya akan mati karena tidak ada pasokan oksigen. Simpan saljumu untuk membuat es serut, Gadis Burung,” balas Reiju tajam.

​“Aku sarankan kalian berdua keluar dari ruangan ini jika hanya ingin berdebat. Suara kalian mengganggu istirahat kapten,” potong Robin tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Madara.

​Di tengah perdebatan sengit yang tidak berujung itu, sebuah pergerakan kecil luput dari perhatian mereka.

​Jari telunjuk tangan kanan Madara berkedut pelan.

​Kesadaran pemuda itu perlahan tertarik kembali dari ruang hampa di dalam batinnya. Pengaruh serum penstabil sel milik Reiju telah memaksa sistem sarafnya untuk sedikit tenang, memberikan ruang bagi otaknya untuk mulai memproses rangsangan dari luar.

​Madara tidak langsung membuka matanya. Kepalanya masih terasa sangat berat, seolah baru saja dihantam oleh batu karang raksasa berulang kali. Rasa pusing yang berdenyut hebat di area matanya masih tersisa dengan jelas.

​Dia menggunakan indera perasanya untuk menganalisis situasi di sekitarnya.

​Hal pertama yang dia rasakan adalah sebuah bongkahan benda yang sangat dingin dan membeku menekan dahinya. Hawa dingin itu terasa tidak wajar, menembus langsung ke tulang tengkoraknya. Suara desisan uap air terdengar jelas di dekat telinganya.

​Kemudian, dia merasakan hawa dingin lain yang lebih menyengat di lengannya. Bekas tusukan jarum yang meninggalkan rasa kebas di lipatan sikunya. Rasa kebas itu menyebar ke seluruh tubuh, membuat otot-ototnya terasa kaku dan sulit digerakkan.

​Dan yang paling aneh, dia merasakan puluhan sentuhan yang bergerak di atas tubuhnya secara bersamaan. Ada yang mengusap lehernya dengan kain basah, ada yang menahan bahunya, dan ada setetes air yang masuk ke dalam mulutnya secara perlahan.

​Madara memfokuskan pendengarannya.

​Telinganya mulai menangkap suara-suara bising di dalam ruangan kabinnya.

​Suara tiga orang wanita yang sedang berbicara dengan nada tinggi dan saling menjatuhkan. Kata-kata seperti salju, racun, serum, kenyamanan, dan kebodohan saling dilemparkan tanpa henti. Suara dengungan itu menembus masuk ke dalam gendang telinganya, memperparah rasa pusing di kepalanya hingga berkali-kali lipat.

​Madara menarik napas panjang. Udara yang masuk ke paru-parunya tidak lagi sepanas sebelumnya, namun dadanya masih terasa berat.

​Dia mengumpulkan sisa-sisa chakra yang masih tersisa di pusat perutnya.

​Madara memaksa kelopak matanya untuk terbuka.

​Iris matanya masih berwarna hitam kelam. Cahaya lampu minyak yang baru saja dinyalakan oleh salah satu tangan ilusi Robin menyilaukan matanya sesaat. Dia mengerjap pelan, menyesuaikan pandangannya dengan lingkungan di sekitarnya.

​Pemandangan pertama yang dia lihat adalah kabut uap putih yang mengepul di atas wajahnya. Kemudian, dia melihat puluhan tangan melayang yang sedang sibuk membersihkan tubuhnya. Di sisi kirinya, Reiju memegang jarum suntik. Di sisi kanannya, Monet menekan balok es dengan wajah tegang. Dan di ujung ranjang, Robin berdiri dengan tangan menyilang seperti seorang mandor yang sedang mengawasi pekerjaan buruhnya.

​Perdebatan ketiga wanita itu tiba-tiba terhenti secara serentak.

​Mereka menyadari bahwa mata hitam kapten mereka telah terbuka. Aura dominasi yang redup mulai kembali memancar dari tubuh pemuda yang terbaring itu.

​“Tuan Madara!” seru Monet dengan nada lega yang luar biasa. Es di tangannya langsung menghilang berubah menjadi udara dingin.

​“Detak jantungnya sudah mulai stabil. Serumnya bekerja dengan sempurna,” lapor Reiju segera, tidak mau kehilangan momen untuk membuktikan keberhasilan metodenya.

​Robin menjentikkan jarinya pelan. Puluhan tangan ilusi yang bertebaran di sekitar ranjang langsung menghilang berubah menjadi kelopak bunga yang berjatuhan. Dia melangkah maju dengan wajah lega yang disembunyikan di balik ketenangannya.

​“Anda sudah sadar, Kapten. Apakah Anda membutuhkan air lagi?” tanya Robin dengan nada lembut.

​Madara tidak langsung menjawab. Dia menatap langit-langit kabin kayu itu dengan pandangan kosong.

​Dia bisa merasakan bahwa tubuhnya sudah melewati titik kritis. Sel-sel biologisnya tidak lagi berteriak meminta energi. Dia masih membutuhkan tidur yang panjang, tetapi dia setidaknya tidak akan mati karena kegagalan organ internal.

​Dia memutar bola matanya perlahan. Dia menatap ketiga wanita mematikan yang sedang mengelilingi ranjangnya. Tiga wajah cantik yang memancarkan rasa khawatir, loyalitas, dan persaingan yang tidak ada habisnya.

​Urat kekesalan mulai bermunculan di dahi Madara.

​Rasa terima kasih sama sekali tidak terlintas di dalam benak sang hantu Uchiha. Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana suara berisik dari ketiga wanita ini telah mengganggu proses pemulihan damainya.

​Dia mencoba mengangkat tangannya, tetapi otot lengannya menolak untuk merespons perintahnya akibat efek samping dari obat penenang yang disuntikkan oleh Reiju.

​Madara menutup matanya kembali. Dia membuang napas kasar dari hidungnya.

​'Jika aku punya tenaga, akan ku-Amaterasu kalian bertiga,' batin Madara dengan kekesalan yang sangat mendalam dan tulus.

​Api hitam yang tidak bisa dipadamkan terasa seperti solusi paling logis untuk menghentikan kebisingan dari harem fungsional ini. Dia bersumpah di dalam hatinya bahwa dia akan menemukan cara untuk mendapatkan kekebalan fisik yang lebih baik agar tidak perlu berurusan dengan perawatan yang merepotkan ini lagi.

​“Kalian sangat berisik,” ucap Madara dengan suara yang sangat serak dan pelan. Tenggorokannya terasa kering, membuat kata-katanya terdengar seperti bisikan parut.

​Ketiga wanita itu terdiam kaku. Mereka menahan napas.

​“Keluar dari ruanganku. Sekarang,” perintah Madara mutlak, tidak menerima negosiasi dalam bentuk apa pun.

​Robin, Reiju, dan Monet saling melempar pandangan. Kali ini, tidak ada persaingan di antara mereka. Sebuah titah dari kapten adalah hukum alam yang harus dipatuhi.

​“Sesuai perintah Anda, Kapten,” jawab Robin pelan. Dia membungkuk sedikit sebelum berbalik menuju pintu.

​“Kami akan berjaga di luar jika Anda membutuhkan sesuatu,” tambah Reiju sambil merapikan peralatan medisnya dan menutup koper peraknya dengan cepat.

​Monet adalah yang terakhir bergerak. Gadis bersayap itu menatap wajah Madara dengan rasa enggan yang besar, namun dia tahu batasan dari kesabarannya dewanya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu melangkah mundur mengikuti Robin dan Reiju keluar dari kabin.

​Pintu kayu kabin itu kembali ditutup dengan sangat pelan, mengunci keheningan yang sangat dirindukan oleh Madara.

​Kini, Madara kembali sendirian di dalam kegelapan.

​Suhu tubuhnya sudah mulai turun. Obat dari Reiju dan sisa-sisa hawa dingin dari Monet membuat tubuh remajanya masuk ke dalam kondisi relaksasi paksa.

​Madara menghela napas lega. Dia membiarkan kesadarannya kembali mengambang.

​Di dalam ruang batinnya, layar biru Sistem masih berkedip pelan. Poin reputasi dalam jumlah setengah juta masih menunggu untuk digunakan. Pertarungannya di awal Grand Line telah selesai, dan dia berhasil menanamkan teror yang akan bergema ke seluruh penjuru dunia.

​Besok, saat tenaga fisiknya sudah kembali, dia akan menggunakan poin-poin itu untuk memastikan bahwa pedang dan meriam tidak akan pernah lagi bisa melukai tubuh remajanya. Dia akan membuka lemari besi dari Sistem penaklukan ini, dan memanggil senjata sejatinya untuk membungkam mulut lautan yang sombong ini secara permanen.

​Sang iblis muda tertidur pulas dalam pelukan demam dan ambisinya. Bajak laut Mugen terus berlayar membelah lautan gelap, dipandu oleh keheningan malam dan penjagaan mutlak dari tiga sayap kematian yang kini berdiri di luar pintu kabin, memastikan tidak ada satu pun debu yang berani mengganggu tidur dewa mereka.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!