NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Genggaman yang Dingin

Genggaman Sebastian seharusnya terasa dingin.

Anehnya, kulit Vivi justru kesemutan di tempat ibu jarinya mengusap punggung tangan.

Gerakan itu lambat dan berulang. Bukan belaian yang lembut. Lebih seperti seseorang sedang menghapus noda yang tak terlihat.

“Sebas?”

Ia tidak menjawab.

Tatapannya tertuju pada jemari mereka yang bertaut. Keningnya berkerut tipis, seolah seluruh kekacauan kantor tadi bisa dibersihkan hanya dengan menyentuh Vivi lebih lama.

Jocelyn berdeham keras.

“Aku masih ada di sini.”

Vivi tersentak dan menarik tangannya. Sebastian membiarkannya pergi, tetapi perubahan di wajahnya terjadi seketika. Kehangatan samar yang tadi muncul lenyap. Garis rahangnya kembali tajam, udara di sekelilingnya dingin.

Jocelyn melirik tangan mereka, lalu menatap Vivi dengan alis terangkat.

Vivi pura-pura tidak mengerti.

“Duduk,” kata Sebastian.

Perintah itu ditujukan kepada keduanya. Jocelyn menjatuhkan diri ke sofa tanpa keberatan, sementara Vivi duduk di ujung lain. Sebastian tetap berdiri, menjaga jarak dari pakaian Celine yang belum disentuh tim bukti.

“Aku mengenal Celine saat masih kecil,” katanya tanpa diminta. “Keluarga Wijaya beberapa kali hadir di acara keluarga besar Gunawan. Tidak lebih.”

Vivi menatapnya.

Sebastian jarang menjelaskan sesuatu. Biasanya ia menganggap satu kalimat sudah cukup, lalu membiarkan orang lain mengejar maknanya sendiri.

Sekarang ia berbicara seperti seseorang yang takut terlambat membetulkan kesalahan.

“Dia bilang kalian dekat,” ujar Vivi.

“Dia berbohong.”

“Tidak pernah bertemu berdua?”

“Tidak.”

“Tidak pernah menghubunginya diam-diam?”

“Tidak.”

Jocelyn menyandarkan dagu pada telapak tangan. “Silakan lanjut. Aku suka sesi interogasi suami seperti ini.”

Sebastian mengabaikannya. Tatapannya tak pernah meninggalkan Vivi.

“Pertemuan hari ini dijadwalkan sebagai pembahasan tiga proyek logistik,” lanjutnya. “Celine datang mewakili ayahnya. Setelah sekretaris keluar, dia mengunci pintu, lalu mulai membuka pakaian.”

“Kenapa kamu tidak langsung menekan alarm?” tanya Vivi.

“Dia berdiri di antara meja dan tombol.”

“Kamu bisa berteriak.”

“Aku bukan kamu.”

Jawaban itu begitu kering sampai Jocelyn tertawa.

Vivi menahan sudut bibirnya agar tidak ikut terangkat. “Jadi kamu hanya berdiri kaku?”

“Aku sedang mencari cara mengeluarkannya tanpa menyentuh.”

“Kamu bisa memakai kursi untuk mendorongnya,” usul Jocelyn.

“Joce,” tegur Vivi.

“Apa? Kursi kantor punya roda. Sangat efisien.”

Sebastian menatap Jocelyn sejenak. “Aku akan mempertimbangkannya lain kali.”

Vivi tak yakin pria itu bercanda.

Suasana yang tadi mencekik mengendur sedikit. Namun, ketika Vivi melihat blus merah di lantai, rasa kasihan yang tak diundang muncul. Celine mungkin memalukan, tetapi jika Gunawan Group benar-benar bergerak, bukan hanya karier perempuan itu yang hancur. Perusahaan keluarganya bisa ikut terseret.

“Sebas,” Vivi memulai hati-hati. “Soal Celine...”

Tatapan pria itu mendingin.

“Apa?”

“Mungkin jangan terlalu keras.”

Sunyi turun.

Jemari Sebastian yang berada di sisi tubuhnya mengepal. “Dia menyuruhmu menceraikanku.”

“Aku tahu. Tapi dia belum benar-benar melukaiku hari ini.”

Kalimat terakhir nyaris menjadi akhir permintaannya.

Lalu ingatan lain berkelebat.

Celine berdiri di tengah acara keluarga sambil menunjukkan tangkapan layar yang sudah diedit. Bisik-bisik tentang Vivi yang tak tahu malu. Sebuah kotak berisi bangkai bunga dikirim ke rumah Winata. Telepon anonim yang membuat Mama takut keluar rumah. Satu malam ketika Vivi menangis begitu lama sampai pandangannya kabur dan kepalanya berdenyut.

Ia tidak ingat setiap detail. Namun, tubuhnya mengingat rasa takut yang ditinggalkan perempuan itu.

Kebaikan tanpa batas pernah membuatnya membiarkan bahaya datang berulang kali.

Vivi mengembuskan napas. “Maksudku, beri dia jalan untuk pergi.”

Rahang Sebastian masih keras.

“Tapi jangan sampai dia bisa mengganggu kita lagi,” lanjut Vivi. “Jangan biarkan dia mendekatiku, keluargaku, atau kamu.”

Kata kita keluar begitu alami hingga ia sendiri terdiam.

Tatapan Sebastian berubah.

“Kita?” ulangnya.

Pipi Vivi kembali panas. “Kita masih suami istri.”

“Benar.”

Sebastian mengucapkan satu kata itu dengan kepuasan yang terlalu dalam untuk pembicaraan hukum.

“Aku akan memberinya jalan keluar,” katanya. “Satu kali.”

“Dan tidak ada kekerasan.”

Ia diam sesaat.

“Sebas.”

“Aku dengar.”

“Itu bukan jawaban.”

“Tidak akan ada sesuatu yang perlu kamu lihat.”

Vivi menyipitkan mata. “Kalimatmu mencurigakan.”

Jocelyn mengangkat tangan seperti murid di kelas. “Aku setuju. Kalimat itu biasanya diucapkan penjahat sebelum kamera mati.”

Sebastian memandang mereka berdua, lalu menekan tombol interkom.

“Kirim rekaman ke tim hukum. Bekukan semua pembahasan proyek dengan Wijaya Group sampai audit selesai.”

Suara sekretaris menjawab, “Baik, Pak Sebastian.”

Keputusan itu terdengar legal dan bersih. Namun, Vivi melihat urat di punggung tangan Sebastian masih menegang.

Sebastian belum selesai memberi perintah.

“Setelah tim bukti keluar, ganti karpet, kursi, dan semua benda yang disentuh Celine. Kemeja ini juga dimusnahkan.”

Vivi melihat kancing yang lepas di dadanya. “Dimusnahkan? Cukup dicuci.”

“Tidak.”

“Itu kemeja mahal.”

“Dia menyentuh kainnya.”

Jocelyn menunjuk sofa tempatnya duduk. “Untung dia tidak menyentuh seluruh gedung. Kalau tidak, SCBD kehilangan satu menara malam ini.”

“Joce ada benarnya,” ujar Vivi. “Kamu tidak bisa menghancurkan semua benda yang disentuh orang yang tidak kamu suka.”

Tatapan Sebastian turun ke tangan Vivi. “Aku tidak menghancurkan semua benda.”

Vivi mengikuti arah matanya dan baru sadar maksudnya. Tadi Celine gagal menyentuh kulitnya, tetapi Vivi sudah menggenggam tangan itu cukup lama.

Dan Sebastian sama sekali tidak ingin membersihkannya.

***

Tiga detik.

Sebastian tadi menghitung tiga detik sejak Vivi mencoba menarik tangan. Ia bisa menahan satu detik lagi tanpa terlihat aneh. Dua detik jika Jocelyn tidak membuka mulut.

Sentuhan Celine meninggalkan rasa kotor bahkan tanpa benar-benar mengenai kulitnya. Hanya bayangan perempuan itu berada terlalu dekat sudah cukup membuatnya ingin mengelupas kemeja dan membakar seluruh ruangan.

Lalu Vivi berkata percaya.

Tangannya menghapus semuanya.

Sebastian memandang pintu lift yang sudah tertutup. Membekukan tiga proyek hanya permulaan. Ada banyak cara membuat Wijaya Group hilang dari Jakarta tanpa meninggalkan sidik jari. Lebih banyak lagi cara membuat Celine tak berani menyebut nama Vivi.

Tetapi Vivi baru saja meminta jalan keluar.

Sebastian akan memberikannya.

Sebuah jalan yang hanya mengarah ke luar negeri dan tak pernah kembali.

***

“Kamu sedang memikirkan sesuatu yang buruk, ya?” suara Vivi menariknya kembali.

Sebastian menoleh. “Tidak.”

“Bohong.”

“Kamu tidak punya bukti.”

Jocelyn tertawa sambil berdiri. “Wah, sekarang Pak CEO sudah belajar bercanda. Aku harus pergi sebelum gedung ini runtuh karena keajaiban.”

Ia menerima telepon dari sopirnya dan berjalan ke area luar kantor, sengaja memberi jarak beberapa langkah.

Vivi ikut berdiri. “Aku juga harus pulang.”

“Aku antar.”

“Kamu masih bekerja.”

“Pekerjaanku bisa menunggu.”

Vivi hendak membantah, tetapi tatapan Sebastian turun.

Berhenti tepat pada bibirnya.

Udara dingin kantor tiba-tiba terasa lengket. Vivi masih bisa merasakan tekanan ciuman mereka semalam, rasa sakit yang berubah menjadi kehangatan, dan tangan Sebastian yang tadi mengusap punggung tangannya seolah tak ingin berhenti.

Pria itu maju setengah langkah.

Vivi lupa kalimat yang hendak diucapkan.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!