Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Mobil sedan hitam yang dikendarai Kenzo membelah jalanan protokol ibu kota dengan kecepatan tinggi. Di kursi samping, Clara hanya menatap kosong keluar jendela. Gaun hitam yang dikenakannya terasa dingin, seolah membungkus jasad tanpa jiwa.
Dua koper besar berisi seluruh pakaian dan barang pribadinya kini berada di dalam bagasi mobil. Rumah keluarga, satu-satunya tempat yang memberikan ilusi kehidupan normal selama bertahun-tahun telah ditinggalkan di belakang.
"Kau terlalu diam, Clara,"
ujar Kenzo, matanya melirik singkat pada gadis di sebelahnya.
"Aku lebih suka saat kau memberontak. Setidaknya itu menunjukkan kau masih punya energi."
Clara tidak menjawab. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Ia mengusap kerah gaun tingginya yang sengaja ia pilih untuk menutupi lebam keunguan di lehernya, bekas penandaan beringas Kenzo tadi pagi.
"Setidaknya izinkan aku pamit pada teman-temanku,"
suara Clara akhirnya keluar, begitu pelan dan parau.
"Mereka akan bingung kenapa aku tiba-tiba menghilang dari kampus."
Kenzo tersenyum miring, membelokkan kemudi memasuki pelataran gedung penthouse pencakar langit paling mewah di pusat kota.
"Sudah ada yang mengurusnya. Sekretarisku telah mengirimkan email resmi atas namamu ke grup angkatan, menyatakan bahwa kau mengundurkan diri karena alasan kesehatan keluarga dan butuh perawatan intensif di luar negeri."
Mata Clara terpejam erat. Kenzo telah memikirkan segalanya hingga detail terkecil. Di mata dunia, Clara tidak diculik, ia hanya seorang mahasiswi yang sedang berobat.
LIFT pribadi membawa mereka meluncur naik menuju lantai paling atas, lantai empat puluh. Bunyi denting halus menandai berhentinya lift, dan pintunya terbuka langsung menyajikan pemandangan penthouse seluas ratusan meter persegi.
Ruangan itu mengusung konsep modern minimalis dengan dominasi warna marmer hitam, abu-abu, dan kaca. Dinding-dindingnya hampir seluruhnya terbuat dari kaca tebal tembus pandang yang menampilkan lanskap pencakar langit kota dari ketinggian yang mengerikan. Mewah, megah, namun terasa sangat dingin dan hampa.
Dua orang pengawal pribadi bersetelan hitam membawa koper-koper Clara masuk, meletakkannya di dekat kamar utama, lalu membungkuk hormat pada Kenzo sebelum kembali turun menggunakan lift.
Pintu lift tertutup rapat. Bunyi kait elektronik otomatis terpasang dengan suara klik yang berat.
"Selamat datang di rumah barumu, Dear,"
bisik Kenzo dari balik punggung Clara.
Pria itu melepaskan jas mewahnya, melemparkannya ke atas sofa kulit, lalu berjalan menghampiri Clara. Clara melangkah mundur secara refleks hingga punggungnya menyentuh dinding kaca tebal. Ia menatap sekeliling dengan pandangan liar, mencari celah atau pintu darurat.
"Jangan buang-buang tenagamu,"
kata Kenzo seolah bisa membaca alur pikirannya. Pria itu menyandarkan satu tangannya di kaca, mengurung Clara di dalam bayangannya.
"Lift ini hanya bisa diakses menggunakan pemindai sidik jari dan retina milikku. Tangga darurat dikunci dari luar. Bahkan jendela kaca tempatmu bersandar ini dibuat dari bahan tahan ledakan."
"Kau benar-benar membangun penjara untukku" bisik Clara, air matanya kembali meluncur deras membasahi pipinya.
"Aku membangun tempat teraman untuk kita," koreksi Kenzo halus. Jemari tangannya yang panjang merayap naik, meraba lembut kerah baju tinggi Clara lalu menurunkan sedikit lipatannya, memamerkan tanda merah keunguan buatan bibirnya tadi pagi.
Kenzo menunduk, menempelkan hidungnya di lekukan leher Clara, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu yang selalu membuatnya bertekuk lutut.
"Tidak akan ada lagi Julian yang mengganggumu. Tidak akan ada lagi janji manis dari Jerman. Di tempat ini, hanya ada aku yang mengisi seluruh harimu,"
gumam Kenzo dengan nada suara yang begitu dalam dan sarat akan obsesi murni.
Clara memalingkan wajahnya, menahan kepasrahan yang mendera badannya.
"Sampai kapan, Kenzo? Sampai kapan kau mau mengurungku seperti ini?"
Kenzo mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Clara yang basah. Senyuman yang terukir di bibir pria itu begitu tampan, namun tatapan matanya begitu gelap, sebuah tatapan seorang predator yang telah berhasil membawa mangsanya ke dalam sarang.
"Sampai kau sadar bahwa kau tidak butuh siapa pun lagi di dunia ini selain aku."
Kenzo meraih tangan Clara, lalu meletakkan sebuah benda kecil berteknologi tinggi di atas telapak tangan gadis itu. Benda itu berbentuk seperti gelang perak tipis tanpa pengait konvensional.
Sebelum Clara sempat bertanya, Kenzo melingkarkan gelang itu di pergelangan tangan kiri Clara. Gelang tersebut langsung mengunci secara otomatis dengan bunyi klik halus, menyesuaikan ukurannya dengan sempurna pada pergelangan tangan Clara yang mungil.
"Apa ini?"
seru Clara panik, mencoba menarik gelang perak itu dari tangannya, namun materialnya terlalu kokoh dan tak memiliki celah.
"Gelang pelacak dengan sensor detak jantung," jawab Kenzo santai seraya mengecup pergelangan tangan Clara yang terpasang gelang tersebut.
"Jika kau mencoba memotongnya, atau jika detak jantungmu melonjak ekstrem karena mencoba melarikan diri, sistem pengamannya akan langsung mengunci seluruh penthouse dan mengirimkan sinyal darurat ke ponselku."
Clara menatap gelang di tangannya dengan pandangan tidak percaya. Rantai tak terlihat yang selama ini mengikatnya kini telah menjelma menjadi rantai besi yang nyata di pergelangan tangannya.
Sayapnya telah patah sepenuhnya. Kebebasannya telah direbut tanpa sisa. Dan di atas lantai empat puluh ini, di dalam sangkar emas yang kedap suara, Clara menyadari bahwa Fase pertama dari hidupnya telah berakhir, digantikan oleh kegelapan mutlak bersama monster yang sangat dibencinya.
Kenzo melangkah mundur perlahan, menikmati raut keputusasaan yang terukir jelas di wajah pucat Clara. Pria itu menyapu pandangannya ke seluruh penjuru penthouse, sebuah mahakarya arsitektur yang dirancangnya khusus hanya untuk satu tujuan, menjadi dunia tunggal bagi adik tirinya.
"Kau bisa membenciku sesukamu, Clara,"
ujar Kenzo seraya meraih dua koper besar milik Clara dan menyeretnya menuju kamar utama.
"Tapi mulai detik ini, setiap detik dalam hidupmu, setiap makanan yang kau makan, dan setiap pakaian yang melekat di tubuhmu berada di bawah kendaliku."
Clara tetap berdiri mematung di samping dinding kaca. Dinginnya material kaca di punggungnya seolah meresap langsung ke dalam tulang-tulangnya. Dari ketinggian lantai empat puluh ini, mobil-mobil di jalan raya tampak kecil seperti mainan, dan manusia terlihat seperti semut yang tak berarti. Dunia di luar sana masih berputar seperti biasa.
Ia melirik gelang perak di pergelangan tangan kirinya. Pantulan cahaya lampu gantung di permukaan logam dingin itu seolah mengejek kesucian niatnya untuk bebas. Tidak ada lagi jalan untuk kembali. Tidak ada lagi teman yang bisa dipanggil, dan tidak ada lagi rumah tempat belindung.
Kenzo keluar dari kamar, membawa cangkir berisi air hangat dan meletakkannya di meja kaca. "Masuklah ke kamar dan beristirahatlah. Besok, aturan baru di tempat ini akan mulai berlaku."
Pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju ruang kerjanya, meninggalkan Clara yang meluruh ke lantai marmer yang dingin. Di dalam kegelapan penthouse yang megah namun mencekik, Clara memeluk dirinya sendiri, perjalanan panjangnya terkunci bersama sang monster.