"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kode di Balik Nama
Dengungan frekuensi tinggi dari drive portabel di saku Nio makin nyaring menembus bau lembap lorong bawah tanah.
Pendar hijau kecil di permukaannya berkedip tak beraturan, menandakan adanya proses eksekusi otomatis yang tersembunyi.
'Cih! Virus keparat itu masih mencoba memakan sisa data dari dalam!' batin Nio menggeram gusar.
Nio mendadak menghentikan langkahnya di tengah genangan air dingin yang merendam mata kaki.
Cengkeraman tangannya pada pergelangan Nora melonggar secara presisi, berganti menjadi pegangan yang menenangkan namun mengikat penuh.
"N-Nio? Ada apa... kenapa kita berhenti?" bisik Nora halus, menatap Nio dengan pandangan bergantung sepenuhnya.
"Tahan napasmu sebentar. Jangan panik," sahut Nio datar dengan vokal yang begitu dingin dan terkendali.
"Nio, ada apa? Kita masih di bawah saluran utama," panggil Kael sambil mengawasi kegelapan di belakang mereka.
Nio menarik laptop tangguh berukuran mini dari balik jaketnya lalu menghubungkan kabel drive tersebut secara cepat.
Layar mungil itu menyala seketika, memancarkan pendar biru yang memotong kesunyian pekat di sekeliling mereka.
"Gue harus membedah sisa kode serangan Zero sekarang juga sebelum data Milo terhapus total," ujar Nio tenang.
"T-tapi d-di sini gelap sekali... apa tempat ini benar-benar aman?!" bisik Nora merapat, mengikis jarak di samping bahu Nio.
Nio menoleh sekilas, menatap mata Nora dengan sorot tajam yang penuh kepastian tanpa perlu meninggikan suara.
"Selama lu tetap berdiri di samping gue, tempat ini aman," jawab Nio singkat, penuh karisma yang mengunci ketakutan cewek itu.
Nora tersentak halus, napasnya yang tadinya memburu mendadak reda mendengar nada percaya diri dari Nio. "I-iya, Nio... aku percaya..."
'Anak ini jauh lebih mudah dikendalikan kalau gue mengarahkan fokusnya dengan tenang,' batin Nio tersenyum tipis.
Jemari Nio mulai bergerak menari di atas papan ketik mini, mengisolasi kluster data yang terkontaminasi malware.
Deretan perintah baris meluncur cepat, membongkar struktur algoritma penyusupan yang ditinggalkan peretas Zero.
"Coba kita lihat permainan macam apa yang lu tancapkan di dalam sini, Zero," gumam Nio datar.
Pendar biru dari monitor memantulkan bayangan wajah Nio yang dingin tanpa ekspresi di tengah keheningan lorong.
Nora mengintip ragu dari balik punggung Nio, matanya terpaku pada kelincahan jemari pria yang melindunginya itu.
'Gila... di tengah situasi semencekam ini, dia bisa setenang dan seberwibawa ini?' batin Nora takjub, mengagumi presensi Nio.
Anomali muncul saat Nio berhasil menembus enkripsi tingkat tiga dari kode jahat tersebut.
Struktur algoritma penyusupan itu tidak disusun dengan pola peretasan modern yang rumit dan berbelit-belit.
Sebaliknya, baris syntax itu ditulis dengan gaya amat bersih, efisien, dan memiliki estetika simetris yang sangat langka.
Jantung Nio mendadak berdegup lebih kencang, memicu rasa terasing yang mendalam dari dalam dadanya.
'Tunggu... pola perulangan fungsi ini... cara penyusunan variabelnya...' batin Nio menegang mendadak.
Nio meraba tekstur kertas kosong di sakunya dengan jemari kiri yang gemetar halus demi mencari presensi jiwanya.
"Tidak mungkin... ini bukan sekadar kode acak..." bisik Nio samar, matanya terbelalak menatap baris ke-104.
void_anchor_null() { delete_existence(target_id); return tabula_rasa; }
Sebuah fungsi rahasia dengan struktur kustom yang amat spesifik terpampang nyata di depan matanya.
Ini adalah baris syntax legendaris yang hanya pernah diciptakan dan ditulis oleh satu orang di masa lalu.
Seseorang yang ingatan Nio rasakan sangat familier, meski wajah dan namanya telah tereliminasi dari ingatannya sendiri.
"Nio? Ada apa? Raut wajahmu berubah," tegur Kael menyadarkan Nio dari lamunannya.
"Paman... algoritma ini... gue kenal gaya penulisannya," sahut Nio dengan suara rendah bertempo berat.
"Hah?! A-apa maksudmu, Nio?! Kamu tahu siapa peretas itu?!" tanyal Nora ingin tahu, memiringkan kepalanya.
Nio menoleh perlahan, menatap Nora dengan ketenangan misterius yang begitu memikat sekaligus mengintimidasi.
"Gue paham cara kerjanya melebihi siapa pun di dunia ini, Nora," tutur Nio dengan nada dingin yang menundukkan ego cewek itu.
"Ngh... N-Nio... tatapanmu... membuatku yakin kamu pasti bisa menyelesaikan ini..." rintih Nora pelan, pasrah pada keputusan Nio.
Nora menekurkan kepalanya sedikit, memberikan kepatuhan penuh pada kepemimpinan Nio tanpa ada keraguan tersisa.
'Bagus. Kepercayaan tanpa batas dari cewek ini adalah kunci kelancaran langkah gue,' batin Nio puas.
Nio kembali menatap layar monitor, menelusuri penanda rahasia yang tersembunyi di balik variabel terenkripsi.
"Bukan sekadar kenal\, Paman. Fungsi void_anchor_null ini adalah karya buatan gue sendiri di masa lalu\," aku Nio.
Kael terperanjat hebat hingga linggis di tangannya hampir terlepas ke dalam genangan air. "Apa?! Karya buatanmu?!"
"Tepatnya, logika dasar yang pernah gue kembangkan sebelum seluruh identitas gue terhapus tanpa preseden," jelas Nio.
"T-tapi... kalau itu kreasimu... kenapa Zero bisa menggunakannya untuk menghapus adikku?!" tanya Nora berbisik lirih.
"Karena Zero adalah sosok yang mencuri seluruh catatan sejarah gue," desis Nio mengepalkan tangannya rapat-rapat.
Ruangan lorong yang senyap itu seolah makin dingin menekan kesadaran mereka bertiga.
Bagi Zero, Nio bukan sekadar musuh biasa yang harus disingkirkan dari sirkuit digital.
Nio adalah pemilik asli dari teknologi penghapusan eksistensi yang kini disalahgunakan oleh Zero untuk meneror kota.
"Jadi... Zero menggunakan senjatamu sendiri untuk melawanmu?" gumam Kael dengan raut wajah berkerut berat.
"Dia mengambil sisa-sisa jejak gue, memodifikasinya, lalu memakainya untuk mencabut sejarah orang lain," jawab Nio.
'Gue seperti mengejar bayangan masa lalu gue sendiri yang menjelma menjadi iblis,' batin Nio meringis pahit.
Nio mengetikkan kunci dekripsi tandingan menggunakan pola logika aslinya yang masih tersisa di kepala.
Bip!
Sebuah berkas teks tersembunyi mendadak terekstraksi dari dalam sisa serangan Zero yang terisolasi.
Berkas itu tidak berisi data Milo, melainkan sebuah pesan singkat yang ditujukan khusus untuk Nio.
"Ada pesan masuk... dari peretas itu," bisik Nio menarik perhatian Kael dan Nora.
"A-apa isinya, Nio?!" bisik Nora menahan napasnya yang menggebu-gebu.
Nio membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di layar monitor kecilnya dengan tatapan dingin.
"Karya masa lalu tidak boleh memiliki presensi di masa depan. Aku akan menghapusmu bersama nama Milo."
Sebuah metafora kelam yang mengonfirmasi bahwa Zero menganggap Nio sebagai anomali yang harus ditumpas habis.
"Argh! Bajingan itu benar-benar terobsesi padamu, Nio!" umpat Kael mengepalkan tinjunya gusar.
"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata. Dia pikir dia bisa menghapus gue begitu saja?" gumam Nio.
Nio menutup laptop mini tersebut lalu memasukkannya kembali ke balik jaket dengan gerakan satset.
"Nio... sekarang kita harus ke mana? Di luar pasti tidak aman..." bisik Nora lembut, mencari pegangan tangan Nio.
Nio mengusap jemari Nora pelan, menyalurkan rasa aman yang dominan tanpa perlu gertakan kasar.
"Ikuti langkah gue, simpan cemasmu. Gue yang pegang kendali situasi ini," tutur Nio penuh wibawa.
"I-iya, Nio... aku mengerti... aku bakal turuti semua arahanmu..." sahut Nora pasrah, menyerahkan arah hidupnya pada Nio.
Sikap tunduk yang tulus dari Nora menguatkan tekad dan posisi Nio sebagai pemimpin mutlak kelompok ini.
"Paman Kael, kita keluar lewat muara saluran air di dekat dermaga tua Distrik Timur," perintah Nio berpaling.
"Dermaga tua? Bukankah itu area mati yang sudah tidak beroperasi sejak sepuluh tahun lalu?" tanya Kael heran.
"Tepat. Tempat itu nirnama di peta digital modern. Zero tidak akan bisa melacak sinyal kita di sana," tegas Nio.
Nio berjalan paling depan menembus kegelapan lorong bawah tanah yang pekat, menuntun langkah mereka.
Tangannya kembali masuk ke dalam saku pakaian, meraba lembaran kertas kosong yang menjadi anchor hidupnya.
'Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku,' batin Nio meneguhkan tekad.
Langkah kaki mereka bertiga menciptakan kecipak air yang bergema teratur di sepanjang saluran beton tua tersebut.
Namun, beberapa meter di depan mereka, pendar merah asing mendadak menyala redup dari balik dinding tikungan.
Sebuah sinyal anomali baru telah menunggu kehadiran mereka di ujung kegelapan.