Gia, adalah gadis yang tidak suka dengan hal berbau ketidakadilan. Hal ini membawa Gia lebih memilih bekerja menjadi staff di sebuah Lembaga Perlindungan Anak, dari pada bekerja di perusahaan papanya. Semua orang termasuk pimpinan LPA tidak suka dengan sifat keras Gia yang kokoh bak semen tiga kodi ini. Hingga sebuah kasus perebutan anak dan KDRT membuat Gia bertemu dengan duda tampan bernama Airlangga.
Kesalahpahaman terjadi, Gia menganggap Airlangga pria jahat karena meminta bantuan pimpinannya. Hingga semua berbalik, Gia dengan sekuat tenaga membantu pria itu untuk mendapatkan hak asuh sang putra.
“Kamu itu bekerja melindungi anak, atau melindungi pria itu? Gia, ini Lembaga Perlindungan Anak, bukan Lembaga Perlindungan Duda!”
Gia hanya diam saat dibentak Rafli atasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Penculikan
Gia sangat terkejut saat Airlangga menarik tangannya, dia bingung kenapa pria itu tiba-tiba berada di sana seperti jalangkung.
“Ah... kamu, apa maksudnya ini narik-narik?” Gia berusaha memberontak tapi tak digubris Airlangga.
“Kamu harus ikut aku,” kata Airlangga mengabaikan protes Gia, bahkan saat gadis itu mengatainya CEO kecap pun, Airlangga sama sekali tidak peduli.
Satpam tempat Gia bekerja pun melihat Airlangga yang terus menarik tangan gadis itu. Pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Tomon itu pun mendekat, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa ini?” tanya Pak Tomon sambil menatap ke tangan Gia yang dipegang Airlangga.
Gia memandang Airlangga kemudian beralih ke Pak Tomon.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya kenal,” kata Gia.
Pak Tomon mengangguk, lantas kembali ke posnya karena Gia berkata mengenal Airlangga.
“Kita harus bicara,” kata Airlangga masih dengan memaksa Gia untuk ikut.
“Aku nggak mau! Kamu ini maunya apa, sih?” Gia berusaha melepas tangannya.
“Aku tuh nggak ada waktu buat bicara sama kamu, dasar CEO kecap!” gerutu Gia karena terus dipaksa ikut.
Airlangga tidak peduli dengan penolakan Gia, hingga masih menarik bahkan memaksa gadis itu masuk ke mobilnya. Pria itu langsung menutup pintu dan menyalakan mesin mobil.
“Hei! Kamu nggak bisa maksa-maksa orang sembarangan!” geram Gia. Dia lantas beringsut untuk menjauh.
Gia hanya merasa jika ini seperti sebuah penculikan, bagaimana bisa pria itu memaksanya ikut sedangkan dia tak mau. Airlangga melajukan mobil menjauh dari gedung LPA.
“Kamu jangan macam-macam, ya! Di lingkungan kantorku ada CCTV, kalau kamu berbuat yang tidak-tidak, maka aku akan melaporkanmu ke kantor polisi atas tuduhan penculikan!” ancam Gia seraya menunjuk ke belakang.
Airlangga menghela napas kasar mendengar ancaman Gia, melirik sekilas ke belakang melalui spion tengah sebelum memandang Gia.
“Kalau tidak begini, kamu tidak akan mau mendengarkan aku. Tolong dengarkan dulu apa yang akan aku katakan,” pinta Airlangga mengalah.
Gia masih bersungut kesal karena sikap Airlangga, tapi entah kenapa ingin mengabaikan pria itu dia juga tidak bisa.
“Aku hanya ingin membicarakan soal atasanmu, aku benar-benar tidak tahu bagaimana sifat dan karakter pria itu sebenarnya,” ucap Airlangga.
Gia agak girang mendengar ucapan Airlangga yang ingin membahas tentang Rafli, tapi kemudian dia sadar dan mencoba bersikap biasa. Tatapan matanya nampak waspada dan terus tertuju ke Airlangga.
“Aku pikir Rafli baik, sebab itu aku meminta bantuannya,” ujar Airlangga kemudian.
“Heh! Pak, mana ada orang baik mau disogok!” ketus Gia yang merasa Airlangga berpura-pura jika tak tahu bagaimana sifat Rafli sebenarnya.
Airlangga menghela napas kasar, dia merasa salah karena terlalu percaya kepada Rafli.
“Benar aku memberinya uang sogokan, tapi aku melakukan itu karena memang ingin dibantu agar menang dipersidangan nanti. Aku pun tidak menyangka jika ternyata Rafli sana-sini oke. Dia menerima uang dariku, tapi juga menerima uang dari mantan istriku,” ujar Airlangga menjelaskan.
Gia sendiri cukup terkejut karena Airlangga menceritakan semua itu kepadanya, sedangkan pria itu tahu jika dia tak terlalu menyukai dirinya.
“Kenapa kamu menceritakan semua ini kepadaku?” tanya Gia seraya memicingkan mata curiga.
Airlangga lagi-lagi menghela napas berat, ternyata bicara dengan Gia memanglah tidak mudah.
“Aku mengatakan ini semua, karena ingin kamu tahu jika aku sebenarnya berniat baik,” jawab Airlangga.
Gia tertawa mengejek, lantas berhenti tertawa dengan cepat dan memandang Airlangga yang dianggapnya hanya sedang bersandiwara.
“Dengarkan aku! Di dunia ini, tidak ada orang baik yang mengaku dirinya baik!” ketus Gia.
“Kalau aku tidak mengaku baik, kamu pasti tidak akan percaya,” ucap Airlangga, memandang Gia yang susah sekali diajak bicara dengan tenang.
Gia tertawa mengejek, berpura-pura terbahak, dia merasa aneh mendengar ucapan Airlangga.
“Tetap saja, ya. Aku tidak akan percaya!” ketusnya lagi.
Sepertinya Airlangga harus benar-benar banyak bersabar untuk bisa mendapatkan kepercayaan Gia, sekarang ini hanya gadis itu yang bisa dipercaya untuk menangani masalahnya. Airlangga tak mungkin menekan Rafli, karena tentunya itu akan membuat dirinya semakin dipersulit nantinya.
“Gia, aku mohon--” Apa yang ingin dikatakan Airlangga terjeda saat ponselnya berdering.
Airlangga menatap ponsel di dashboard, dia melihat nama Zie terpampang di sana. Gia sendiri merasa penasaran dengan siapa yang menghubungi Airlangga, hingga melongok ke layar ponsel untuk melihat nama yang terpampang di sana.
Belum juga Gia melihat, Airlangga sudah menekan tombol hijau lantas menempelkan ke telinga.
“Halo, Zie.” Airlangga langsung menyebut nama anak tirinya itu.
“Zie?” Dahi Gia berkerut halus mendengar Airlangga menyebut nama Zie.
“Pa, aku di rumah Marsha. Papa jemput ke sini bisa nggak?” tanya Zie dari seberang panggilan.
Airlangga tak langsung menjawab karena urusannya dengan Gia belum selesai. Hingga dia menoleh dan melihat Gia yang melotot.
"Kamu tahu aturan 'kan? dilarang mengendarai mobil sambil telponan seperti ini, kamu mau membuatku menyandang gelar almarhumah, Hah? tunggu! aku belum kawin," sungut Gia.
Ndak usah ngalor ngidul, langsung Des Des Des...