NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Atmosfer di sudut kelas teori sejarah seni itu seketika membeku. Percakapan antar mahasiswa yang tadinya riuh perlahan menyurut, berganti menjadi keheningan tegang saat sepasang mata dari berbagai sudut ruangan mulai tertuju ke arah meja Lux.

Cairan kopi hitam yang meluber dari cangkir yang disenggol Ambar perlahan menetes dari tepi meja kayu, mengotori lantai marmer. Di atas meja, lembaran kertas sketsa eksklusif milik Lux yang dipenuhi guratan pensil halus kini menyerap noda cokelat pekat tersebut hingga rusak tak berbentuk.

Namun, alih-alih panik, menjerit, atau menunjukkan raut wajah marah seperti yang diharapkan Ambar, Lux hanya menatap kertas sketsanya yang basah selama dua detik.

Keanggunan dan ketenangan murni seorang Lux Victoria sama sekali tidak tergoyahkan. Dengan gerakan yang teramat santai dan halus, Lux mengambil selembar tisu kering dari dalam tasnya, lalu menyapu perlahan jemarinya yang terkena sedikit cipratan kopi.

Reaksi Lux yang begitu dingin dan meremehkan justru membakar harga diri Ambar. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada, melangkah setengah senti lebih dekat dengan tatapan mata yang dipenuhi amarah dan iri hati yang tak lagi tersembunyi.

"Apa kau bilang?" desis Ambar dengan nada menantang yang nyaring, cukup keras hingga bisa didengar oleh separuh penghuni kelas. "Meminta bersihkan dengan bajuku? Kau pikir kau siapa, Lux?"

Ambar tertawa sinis, menyunggingkan senyuman merendahkan yang sengaja dipamerkan ke arah kawan-kawannya di barisan depan.

"Apa kau merasa keluargamu begitu berkuasa di kota ini? Hah?" cecar Ambar dengan nada provokatif yang membakar. "Itulah kenapa kau bisa bersikap sangat sombong dan sok berkuasa di depan semua orang?! Kau pikir karena namamu selalu dipuji-puji oleh para profesor, kau bisa memerintahku seenaknya seperti pembantu?!"

Bisik-bisik kasak-kusuk seketika merebak halus di antara para mahasiswa. Beberapa orang saling bertukar pandang, menantikan reaksi meledak-ledak yang biasanya terjadi jika sebuah perkelahian antar mahasiswi elit pecah.

Namun, harapan mereka untuk melihat drama heboh pupus seketika.

Lux menegakkan punggungnya secara anggun. Gadis itu menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Ambar dari atas ke bawah dengan pendar mata abu-abu yang teramat santai—sebuah tatapan bosan dan acuh tak acuh, seolah-olah sosok Ambar di hadapannya tak lebih penting dari sekadar debu yang menempel di ujung sepatunya.

Bagi Lux, melayani kemarahan orang seperti Ambar adalah sebuah pemborosan energi yang teramat konyol. Lux sudah sangat terbiasa menghadapi manusia-manusia yang merasa tersaingi oleh bakat dan keberadaannya.

Semakin seseorang berteriak keras dan berakting dramatis di depan umum, semakin jelas terlihat seberapa dangkal dan tidak percayanya orang tersebut pada kualitas dirinya sendiri.

Sebuah senyuman miring—sangat halus, dingin, dan sarat akan dominasi berkelas—terukir manis di bibir merona Lux.

"Keluargaku berkuasa?" bisik Lux dengan nada suara yang begitu tenang, santai, namun memancarkan wibawa yang amat pekat. "Kau tidak perlu membawa-bawa nama keluargaku untuk menutupi rasa minder dan ketidakmampuan mu, Ambar."

Wajah Ambar seketika memerah padam. "Apa kau bilang?! Minder?!"

"Ya, minder," pungkas Lux santai seraya merapikan ujung blus kremnya. "Hanya orang-orang yang merasa terancam dan tersaingi oleh kualitas orang lain yang akan menyenggol cangkir kopi secara sengaja, lalu berteriak-teriak soal kekuasaan di tengah kelas seperti orang yang kehilangan akal sehat."

Lux mendongak sedikit, menyatukan pandangannya lurus ke dalam sepasang mata Ambar yang menyipit murka.

"Kalau kau menginginkan nilai sempurna atau tempat di pameran semester ini, kejarlah dengan lukisanmu... bukan dengan membuat keributan murah seperti ini," lanjut Lux dengan suara yang amat datar namun menghujam tepat di ulu hati Ambar. "Atau... jari-jemarimu memang hanya sanggup merusak karya orang lain karena tidak pernah bisa menciptakan karya yang bernilai?"

Deg!

Kalimat tajam yang dilontarkan Lux secara santai namun penuh kelas itu seketika menghantam Ambar tanpa ampun.

Beberapa mahasiswa di barisan belakang bahkan tak mampu menahan kekehan kecil mereka mendengar skakmat yang teramat telak dari Lux. Ambar berdiri mematung kaku dengan rahang bertaut keras, napasnya memburu menahan malu dan amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya.

"Kau... kau benar-benar menyebalkan, Lux!" gertak Ambar dengan suara bergetar murka, menunjuk wajah Lux dengan jarinya yang gemetar. "Kita lihat saja nanti di pameran seleksi minggu depan! Aku akan memastikan namamu hancur!"

Lux bahkan tidak mengedipkan matanya saat jari Ambar menunjuk ke arahnya. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya secara rileks di sandaran kursi kayu.

"Aku akan menunggunya dengan sangat sabar, Ambar," balas Lux halus. "Sekarang... pergilah dari hadapanku sebelum bajumu benar-benar kugunakan untuk mengelap lantai ini."

Ambar menghentakkan kakinya keras-keras, membalikkan tubuhnya dengan wajah merah padam, lalu melangkah lebar-lebar menuju bangkunya di barisan depan diiringi tatapan sinis dari penghuni kelas lainnya.

Lux menghembuskan napas pelan, mengambil kertas sketsanya yang basah dan membuangnya ke dalam tempat sampah kecil di samping mejanya tanpa beban sedikit pun. Ia mengeluarkan buku gambar baru dari dalam tasnya, kembali fokus menyiapkan pensilnya seolah-olah drama konyol tadi tak pernah terjadi dalam hidupnya.

Di balik ketenangan dan keanggunan wajah cantiknya, Lux tersenyum dingin. Bagi seorang Nyonya Desmon yang baru saja menaklukkan teror gila Amelia Giger, gertakan konyol dari gadis manja seperti Ambar hanyalah hiburan kecil di hari Senin pagi yang cerah.

...****************...

Suara dering panggilan masuk di ponsel Braxton bergetar nyaring tepat saat pria tampan itu baru saja menyelesaikan sesi kuliahnya di Fakultas Ekonomi.

Begitu melihat nama "Istriku" tertera di layar, senyum narsis Braxton seketika terkembang. Pria itu buru-buru menyepi ke sudut koridor dosen yang sepi dan mengangkat teleponnya dengan nada paling manis.

"Ya, Sayangku? Ada apa—"

"Braxton! Aku benar-benar ingin Membunuh seseorang hari ini!"

Suara pekikan melengking, penuh emosi, dan amat menggebu-gebu dari Lux di seberang sana seketika memotong kalimat Braxton.

Pria itu refleks menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinganya seraya membelalak terkejut.

"Woah, woah... tenang dulu, Sayang," ujar Braxton menahan senyum gembiranya saat mendengar istrinya yang biasanya bersikap sangat anggun kini mendadak berubah menjadi meriam emosi yang siap meledak. "Ada apa, Sayang? Siapa yang berani membuat Mawar Beracunku ini mengamuk di kampus?"

"Gadis bernama Ambar! Gadis udik berotak kerdil itu!" cerocos Lux tanpa jeda, napasnya terdengar naik-turun menahan kekesalan yang membakar dadanya. "Dia menyenggol cangkir kopiku sampai tumpah dan merusak kertas sketsa eksklusifku yang kubeli dari Paris! Dan tahu apa yang dia katakan? Dia menuduhku sombong karena merasa keluargaku berkuasa! Rasanya aku ingin sekali menyiramkan seluruh cat minyak warna hitam ke dalam mulut besarnya itu agar dia tidak bisa berkicau lagi selamanya!"

Lux terus mengoceh panjang lebar, mengutuk sikap Ambar dengan berbagai perumpamaan liar khas seniman yang teramat dramatis.

Dari seberang telepon, Braxton hanya mengangguk-angguk khidmat, menyandarkan tubuh tegapnya ke dinding koridor seraya mendengarkan setiap omelan istrinya dengan pendar mata cokelat yang dipenuhi rasa gemas yang luar biasa.

Bagi Braxton, mendengar Lux mengamuk dan mengomel seperti ini jauh lebih menghibur daripada menonton pertunjukan komedi papan atas. Pria narsis itu terkekeh pelan tanpa suara agar tidak kena semprot.

"Lalu, apa yang kau lakukan padanya, Sayang?" tanya Braxton memancing dengan suara selembut sutra.

"Aku skakmat dia sampai wajahnya merah padam seperti kepiting rebus!" seru Lux bangga sekaligus jengkel. "Tapi tetap saja aku emosi! Kopiku terbuang sia-sia, Braxton! Dan gaun sutraku terkena cipratan! Rasanya aku ingin menjambak rambut palsunya itu sampai terlepas!"

Braxton memegang dadanya, berpura-pura bersimpati meskipun tawa renyahnya sudah nyaris meledak di dalam tenggorokan. Pria itu menarik napas panjang, lalu berbisik dengan nada sok serius yang teramat menggelitik.

"Ck, ck, ck... kasihan sekali Ambar itu," ujar Braxton menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dia benar-benar tidak tahu sedang bermain api dengan siapa. Dia belum tahu saja seberapa mengerikan dan brutalnya kalau istriku ini sudah marah. Ambar itu sungguh tidak tahu diri!"

Lux terdiam sejenak di seberang sana, mengembuskan napasnya yang terengah-engah. "Memang! Dia pikir aku ini cewek lemah yang cuma bisa diam?"

"Tentu saja tidak, Sayang," potong Braxton cepat dengan nada memprovokasi secara jenaka. "Bagaimana kalau suamimu yang tampan ini turun tangan? Apa perlu aku beri tahu Ambar sekarang juga bahwa kau bisa membuatnya tidak lulus dari kampus ini dalam hitungan lima detik? Atau perlu kusuruh pengawal membungkus dia pakai karpet goni?"

Mendengar tawaran konyol dan berlebihan dari suaminya, kemarahan membara Lux seketika mengendur. Gadis itu tertegun, lalu dengusan geli meluncur dari hidungnya.

"Tidak perlu!" potong Lux cepat, memutar bola mata abu-abunya meski bibirnya tak mampu menahan senyuman. "Jangan kekanak-kanakan, Braxton! Ini urusan antar mahasiswi. Kalau kau ikut campur dengan gaya bos mafiamu itu, nanti yang ada seluruh kampus makin heboh!"

Braxton tertawa renyah, tawa lepasnya yang amat seksi bergema halus di sepanjang koridor dosen. "Lho, aku kan hanya menawarkan jasa perlindungan suami yang sangat mencintai istrinya, Sayang."

"Tolong disimpan saja jasamu itu untuk hal lain, Tuan Desmon," dengus Lux, meski rasa kesalnya pada Ambar kini sudah menguap sepenuhnya berganti menjadi rasa hangat yang menggelitik di dalam dadanya. "Pokoknya aku mau makan siang steak yang paling mahal nanti. Kau yang bayar!"

"Siap, Nyonya! Apapun untuk memulihkan suasana hati Mawar Beracunku ini," balas Braxton tengil seraya menyunggingkan senyum kemenangan.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!