elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Tanpa Penghasilan, Tanpa Suara
Pada halaman baru buku catatan biru, Nan Shin menulis tiga judul.
Pengeluaran wajib.
Waktu yang bisa dipakai.
Penghasilan yang harus dicari.
Ia tidak menulis pertengkaran semalam lebih dulu. Angka membuat kepalanya lebih tenang daripada mengulang suara Ibu Kho dan Cheng An. Dengan pulpen hitam, ia menghitung biaya pribadinya: ongkos transportasi, paket data, pencetakan dokumen, kebutuhan kesehatan, dan cadangan jika harus keluar rumah beberapa hari.
Pesangon Rp 45 juta tampak besar ketika masuk sekaligus. Setelah dibagi menjadi kebutuhan bulanan tanpa penghasilan baru, jumlah itu berubah menjadi garis waktu yang pendek.
Nan Shin menuliskan satu kalimat di bawah semua angka.
Tanpa penghasilan, saya tidak punya suara.
Ia menatap tulisan tersebut. Bukan karena orang yang tidak berpenghasilan tidak berhak bicara. Justru sebaliknya. Namun di rumah ini, setiap kali ia membuat batas, Cheng An menyebut cicilan yang dibayarnya. Ibu Kho menyebut makanan dan sekolah anak. Seluruh percakapan selalu berakhir pada orang yang membawa uang pulang.
Nan Shin tidak bisa menunggu mereka mengubah cara berpikir.
Ia harus membangun pilihannya sendiri.
Pukul lima pagi, sebelum rumah ramai, laptop dibuka di meja kecil dekat jendela. CV yang selama berhari-hari hanya disentuh beberapa menit kini memenuhi layar.
Nama: Nan Shin Sim.
Pengalaman: dua belas tahun sebagai perawat IGD di RSUD Serpong Utama.
Ia menghapus kalimat bertanggung jawab membantu pelayanan pasien karena terdengar seperti dirinya hanya berdiri di sisi orang lain. Sebagai gantinya, ia menulis kemampuan yang benar-benar dilakukan: triase awal, pemantauan tanda vital, pencatatan kondisi pasien, koordinasi pemeriksaan, edukasi keluarga, pengendalian infeksi, dan penanganan situasi gawat sesuai kewenangan perawat.
Setiap baris mengembalikan bagian dirinya yang hilang di gerbang sekolah.
Pintu kamar terbuka sedikit. Yi Ming mengintip dengan rambut masih berantakan.
“Mama belum tidur?”
“Mama sudah tidur. Bangun lebih awal.”
Anak itu masuk dan melihat layar. “Itu riwayat kerja yang kemarin?”
“Sudah hampir selesai.”
“Aku bisa bikin sarapan sendiri.”
“Kamu bisa mengambil roti dan susu. Kompor tetap Mama yang pakai.”
“Biar Mama punya waktu.”
Nan Shin menyentuh bahunya. “Terima kasih. Membantu boleh, tapi bukan tugasmu menggantikan orang dewasa.”
“Aku cuma ambil roti.”
“Itu boleh. Tapi jangan mulai bangun lebih pagi karena merasa harus menjaga Mama.”
Yi Ming memandang layar. “Kalau CV-nya selesai, Mama langsung dapat kerja?”
“Belum tentu. Mama harus mengirim, menunggu, dan mungkin diwawancara.”
“Kalau ditolak?”
“Mama kirim ke tempat lain dan cari alasan yang bisa diperbaiki.”
“Kalau alasannya umur?”
Nan Shin merapikan rambutnya. “Umur tidak bisa diperbaiki. Jadi Mama cari tempat yang menghargai pengalaman.”
Yi Ming mengangguk, lalu berjalan ke dapur. Beberapa menit kemudian terdengar suara lemari dibuka dan Ibu Kho bertanya mengapa anak mengambil sarapan sendiri.
Nan Shin menyimpan CV sebelum keluar kamar.
“Saya yang minta dia mengambil roti,” katanya di dapur.
Ibu Kho menaruh panci lebih keras di atas kompor. “Sekarang anak disuruh urus diri karena ibunya sibuk main laptop?”
“Dia hanya mengambil roti dan susu. Saya tetap menyiapkan telur.”
“Dulu kamu tidak menghitung pekerjaan kecil begini.”
“Dulu saya juga tetap punya waktu kerja karena semua orang tahu jadwal saya.”
“Masih mau mulai lagi?”
Nan Shin mengambil telur dari kulkas. “Saya tidak sedang bertengkar. Saya sedang menyiapkan sarapan dan mencari kerja.”
Ibu Kho mendengus, tetapi tidak melanjutkan. Untuk pertama kalinya, Nan Shin tidak menutup laptop sepanjang hari. Ia hanya mengunci layar setiap kali meninggalkan kamar.
Setelah anak-anak berangkat, ia mengeluarkan map profesinya. STR masih tersimpan dalam pelindung bening, terpisah dari kartu pegawai rumah sakit yang sudah dikembalikan. Ia memotret dokumen itu di dekat jendela, lalu memeriksa masa berlaku dan berkas pendukung yang diminta berbagai lowongan.
Surat pengalaman kerja dari rumah sakit dimasukkan ke berkas digital. Sertifikat pelatihan yang lama dipindai. Ia menulis daftar tempat yang mungkin membutuhkan kemampuannya: rumah sakit swasta, klinik, layanan perawatan lansia, pusat pemeriksaan kesehatan, dan layanan kesehatan rumah.
Pada pukul sepuluh lewat tiga puluh, Cheng An mengirim pesan.
Mama masih marah. Nanti minta maaf saja supaya selesai.
Nan Shin membaca pesan itu, lalu memindahkannya ke folder arsip tanpa membalas. Dua jam yang kemarin diperdebatkan akhirnya ia sisihkan sendiri, bukan karena pekerjaan rumah berkurang, melainkan karena ia berhenti menunggu izin.
Ia mengirim lamaran pertama ke sebuah klinik. Sistem membalas otomatis bahwa usia maksimal pelamar adalah tiga puluh lima tahun.
Lamaran kedua tidak menyebut batas usia, tetapi meminta pengalaman di rumah sakit swasta dalam lima tahun terakhir.
Lamaran ketiga menerima berkas. Tidak ada balasan lain.
Nan Shin membuat tabel baru di buku catatan: nama tempat, posisi, tanggal kirim, syarat, dan hasil. Penolakan tidak lagi dibiarkan menjadi rasa malu tanpa bentuk. Masing-masing diberi baris.
Menjelang siang, ia mengirim tujuh lamaran.
Tiga alamat surel memberikan balasan otomatis. Dua posisi ternyata sudah ditutup. Satu nomor rekrutmen meminta foto terbaru dan sertifikat tambahan. Satu lagi tidak menunjukkan tanda dibaca.
Nan Shin menelepon nomor rekrutmen yang meminta dokumen tambahan.
“Selamat siang, saya Nan Shin Sim. Saya baru mengirim lamaran untuk posisi perawat.”
“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa kami bantu?”
“Saya diminta mengirim foto terbaru dan sertifikat. Posisi itu masih terbuka?”
“Masih, tetapi seleksi administrasinya cukup ketat.”
“Di pengumuman tidak ada batas usia. Apakah pelamar usia tiga puluh tujuh tahun tetap diproses?”
Suara di seberang berhenti sebentar. “Kami memprioritaskan kandidat di bawah tiga puluh lima.”
“Memprioritaskan atau menolak yang lebih tua?”
“Berkas tetap boleh dikirim, Bu. Keputusannya ada pada tim pengguna.”
“Pengalaman dua belas tahun di IGD rumah sakit daerah diperhitungkan?”
“Kami lebih mengutamakan pengalaman rumah sakit swasta.”
“Apakah itu syarat wajib?”
“Tidak tertulis wajib, tetapi menjadi pertimbangan.”
Nan Shin menahan pulpen di atas tabel. “Baik. Saya akan tetap melengkapi berkas.”
“Silakan kirim sebelum pukul lima sore.”
“Saya kirim satu jam lagi. Mohon konfirmasi kalau berkasnya sudah diterima.”
“Baik, Bu.”
Setelah sambungan berakhir, Nan Shin menulis dua catatan pada baris lowongan itu: usia tidak disebut sebagai larangan, pengalaman rumah sakit daerah tidak dianggap utama.
Ketika Ibu Kho menyuruhnya membeli buah, Nan Shin menulis waktu berhenti pada tabel. Saat kembali, ia melanjutkan dari dokumen terakhir tanpa membersihkan meja lain lebih dulu.
“Belanjaannya sudah ditaruh?” tanya Ibu Kho dari ruang keluarga.
“Sudah.”
“Tolong pisahkan anggurnya.”
“Setelah saya mengirim berkas ini.”
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
“Sekarang semua harus menunggu pekerjaanmu yang belum tentu ada?”
Nan Shin memeriksa nama berkas sekali lagi. “Lima menit, Ma.”
“Dulu kalau Mama minta tolong, kamu langsung keluar.”
“Dulu saya membiarkan berkas sendiri menunggu sampai malam.”
“Memangnya lima menit membuat pekerjaan datang?”
“Lima menit membuat lamaran ini terkirim sebelum lowongannya ditutup.”
Ibu Kho berdiri di ambang pintu. “Kalau akhirnya ditolak, buah tetap belum dicuci.”
“Kalau akhirnya diterima, lima menit ini ikut membukakan pintu.”
“Kamu bicara seperti semua orang menghalangi.”
“Saya hanya meminta pekerjaan kecil menunggu sebentar, sama seperti pekerjaan saya selalu diminta menunggu.”
“Jangan samakan anggur dengan rumah sakit.”
“Saya tidak menyamakan bendanya. Saya sedang menata prioritas waktunya.”
Ia menekan tombol kirim sebelum keluar kamar. Anggur masih berada di meja ketika ia tiba di dapur. Tidak ada bencana yang terjadi karena buah menunggu lima menit.
Malamnya, setelah anak-anak tidur, Nan Shin kembali membuka tabel. Dua belas lamaran telah terkirim. Sepuluh tetap sunyi. Satu memberikan penolakan otomatis karena usia. Satu lagi meminta ia menunggu proses seleksi.
Cheng An masuk untuk mengambil pakaian, tetapi tidak bertanya apa yang dikerjakannya.
“Aku tidur di ruang kerja malam ini,” katanya.
“Baik.”
Cheng An melihat tabel di layar. “Berapa lamaran yang kamu kirim?”
“Dua belas.”
“Ada yang membalas?”
“Satu menolak karena usia. Satu meminta menunggu seleksi.”
“Jangan terlalu memaksakan. Baru beberapa hari.”
“Saya tidak memaksakan. Saya membuat pilihan.”
“Kalau kamu kelelahan lalu rumah berantakan, Mama akan marah lagi.”
Nan Shin menutup satu folder. “Kemarahan Mama bukan ukuran apakah saya boleh mencari kerja.”
“Aku cuma tidak mau rumah tambah tegang.”
“Rumah tegang karena semua orang ingin saya berhenti bergerak, bukan karena saya mengirim lamaran.”
Ia berhenti seolah menunggu Nan Shin menahan, lalu membawa bantal keluar.
Nan Shin menambahkan satu baris lagi pada tabel. Ia mencari lowongan sampai matanya terasa berpasir, lalu mengirim berkas terakhir pukul sebelas lewat delapan.
Pada kolom status pekerjaan, hampir semua formulir hanya memberi pilihan masih bekerja atau tidak bekerja. Nan Shin memilih pilihan kedua, meski baru beberapa hari lalu ia menangani pasien di IGD. Sistem tidak menyediakan ruang untuk menjelaskan bagaimana dua belas tahun pengalaman bisa terputus oleh satu keputusan administrasi.
Ia membuat surat pengantar pendek agar orang di balik sistem melihat lebih dari status itu. Ia menulis bahwa dirinya terbiasa bekerja dalam tekanan, berkomunikasi dengan keluarga pasien, dan menjaga pencatatan tetap akurat saat ruang IGD penuh. Kalimatnya tidak meminta belas kasihan. Ia menawarkan kemampuan.
Nan Shin membaca ulang sampai tidak ada satu pun kata yang menyebut dirinya terlalu tua, terlalu lama menjadi karyawan kontrak, atau ibu rumah tangga. Semua sebutan yang dipakai orang lain ia keluarkan dari berkas tersebut.
Ponselnya tetap sunyi selama dua puluh menit.
Ketika ia hendak mematikan lampu, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
Selamat malam, Ibu Nan Shin. Apakah Ibu bersedia mengikuti wawancara besok pagi?