NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi

Langit malam di atas Pulau Toroa yang tadinya tenang kini diwarnai warna jingga kemerahan akibat kobaran api. Asap tebal membumbung tinggi, menutupi cahaya bintang dan bulan sabit yang menggantung di ufuk timur. Jeritan kepanikan warga, suara ledakan mesiu, dan derit bangunan kayu yang runtuh berpadu menjadi

simfoni kehancuran yang memekakkan telinga.

Di tengah arus manusia yang berlarian menjauhi pelabuhan, Muzan Kibutsi berdiri tak bergeming. Mata hitamnya yang dalam memantulkan kilatan api dari kejauhan. Otaknya, yang terbiasa memproses informasi dengan kecepatan dan rasionalitas tinggi, langsung memetakan situasi.

*Kapten Barts memiliki nilai buronan 2.200.000 Belly. Dia membawa seluruh krunya. Mereka bersenjata lengkap dan sedang mengamuk. Sementara itu, markas Angkatan Laut cabang ke-77 hanya memiliki prajurit berpangkat rendah yang dipimpin oleh seorang Letnan.*

Muzan menunduk, menatap tubuhnya sendiri. Tangan yang memegang koper kulit berisi 650.000 Belly itu kurus dan gemetar ringan—bukan karena takut, melainkan karena batas fisik seorang anak berusia empat belas tahun yang kekurangan gizi. Kekuatan fisiknya hanya berada di angka 4. Satu peluru nyasar dari senapan *flintlock* atau serpihan kayu akibat ledakan meriam sudah cukup untuk mengakhiri kehidupan keduanya ini bahkan sebelum benar-benar dimulai.

"Aku tidak bisa membawa tubuh asliku ke medan pertempuran," gumam Muzan dalam hati. "Ini adalah kelemahan terbesar dari *Puppet System*. Tidak peduli sekuat apa pun boneka yang kumiliki, jika tubuh asliku hancur, semuanya selesai."

Ia menoleh ke arah bangunan-bangunan di sekitarnya. Matanya tertuju pada sebuah gereja tua yang terbuat dari batu bata abu-abu kokoh, berjarak sekitar lima ratus meter dari pusat pelabuhan. Gereja itu memiliki menara lonceng yang menjulang tinggi, memberikan titik pantau strategis yang sempurna untuk melihat seluruh kota tanpa terdeteksi.

"Kita bergerak ke menara itu," perintah Muzan secara mental kepada Giyu Tomioka yang berdiri setia di sampingnya.

Tanpa menarik perhatian warga yang sedang panik, Muzan berlari menuju gereja tersebut, diikuti oleh Giyu yang bergerak bagaikan bayangan. Sesampainya di gereja yang telah ditinggalkan oleh pendeta dan jemaatnya itu, Muzan segera menaiki tangga spiral kayu yang sempit dan berdebu menuju puncak menara lonceng.

Dari atas sana, angin laut berhembus kencang, membawa aroma belerang dan darah. Muzan meletakkan koper kulitnya di lantai kayu yang berderit. Ia duduk bersandar pada dinding lonceng perunggu raksasa, menyembunyikan dirinya sepenuhnya dalam bayang-bayang.

Muzan meletakkan tangannya di atas koper. "Sistem, serap semua mata uang fisik ini."

«"Mengonversi mata uang fisik ke dalam Belly Counter..."»

«"Total dikonversi: 650.000 Belly."»

«"Saldo Belly saat ini: 669.850 Belly."»

Koper itu kini kosong. Muzan menghela napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Ia menutup matanya dan memfokuskan seluruh kesadarannya pada *Sistem*.

"Mulai sekarang, aku akan mentransfer sembilan puluh persen kesadaranku ke dalam tubuh Giyu Tomioka. Sisakan sepuluh persen untuk menjaga insting bertahan hidup tubuh asliku," perintah Muzan.

«"Sinkronisasi Kesadaran Tingkat Lanjut diaktifkan."»

«"Peringatan: Mentransfer 90% kesadaran ke dalam Boneka akan membuat Host merasakan setiap sensasi yang dialami Boneka, termasuk benturan fisik, meskipun Boneka tidak bisa merasakan sakit secara biologis. Kelelahan mental akan meningkat secara signifikan."»

"Lakukan."

Dalam sekejap mata, persepsi Muzan berpindah. Kegelapan di menara lonceng tergantikan oleh pemandangan pelabuhan yang terbakar. Ia kini tidak lagi melihat melalui mata anak kecil yang rabun dan lelah, melainkan melalui sepasang mata biru gelap milik seorang Hashira—mata yang mampu melihat debu menari di udara, mata yang bisa membaca pergerakan otot musuh sebelum mereka menyerang.

Muzan menggerakkan jari-jemari tangan kanannya yang kini terbungkus seragam pemburu iblis.

Kekuatan, kelincahan, dan stamina yang meluap-luap mengalir di setiap pembuluh darah boneka ini. Ini adalah kekuatan puncak manusia yang telah dilatih hingga menembus batas neraka.

Ia menatap ke bawah, ke arah pelabuhan yang telah berubah menjadi medan pembantaian.

Dari atas menara, Muzan bisa melihat dengan jelas sang antagonis utama malam ini. Kapten Barts "Rahang Besi". Pria itu adalah raksasa setinggi dua setengah meter dengan otot yang menonjol seperti bongkahan batu. Sesuai julukannya, rahang bawah pria itu digantikan oleh pelat baja tebal berwarna perak kotor yang dipasang dengan baut-baut kasar menembus dagingnya. Di tangan kanannya, Barts memegang sebuah jangkar kapal raksasa berantai besi yang ia ayunkan layaknya mainan anak-anak.

Di sekeliling Barts, puluhan bajak laut bawahannya sedang menjarah dan membakar toko-toko.

Pasukan Angkatan Laut yang dipimpin oleh Letnan Roka telah tiba di lokasi, namun formasi mereka hancur berantakan. Senapan musket yang mereka tembakkan tidak mampu menembus otot tebal Barts, dan setiap kali Barts mengayunkan jangkarnya, tiga hingga empat prajurit Angkatan Laut terlempar ke udara dengan tulang yang remuk.

"Tembak! Terus tembak! Jangan biarkan dia maju ke alun-alun kota!" teriak Letnan Roka, wajahnya berlumuran darah dan jelaga. Ia mengangkat pedang kavalerinya, mencoba mencari celah untuk menyerang, namun raungan tawa Barts menggetarkan nyalinya.

"BAHAHAHA! Hanya ini kekuatan Angkatan Laut Cabang 77?!" Barts tertawa meremehkan. Suaranya terdengar seperti logam yang saling bergesekan. Ia menarik rantai jangkarnya, memutar senjata seberat ratusan kilogram itu di atas kepalanya menciptakan angin puyuh kecil, lalu menghantamkannya ke arah barisan prajurit Roka.

*BOOOM!*

Batu-batu jalanan hancur berkeping-keping. Letnan Roka nyaris tidak berhasil melompat menghindar, namun gelombang kejutnya membuat tubuh perwira itu terpelanting menghantam laras meriam yang hancur. Roka memuntahkan darah segar, pandangannya berkunang-kunang.

"Letnan!" teriak beberapa prajurit yang tersisa.

Barts berjalan mendekati Roka yang terkapar. Rahang besinya berderit saat ia menyeringai. "Katakan padaku, Letnan sampah. Di mana tiga anak buahku yang kau tangkap? Jika kau menyerahkan mereka kembali padaku beserta seluruh uang di brankasmu, aku mungkin akan menyisakan kepala di lehermu."

"M-Mimpi saja, kau bajingan..." Roka mendesis, mencoba berdiri meski kakinya gemetar. Sebagai prajurit, ia tidak akan memohon ampun pada bajak laut.

Barts mendengus kasar. "Kalau begitu, matilah!" Raksasa itu mengangkat jangkarnya tinggi-tinggi, bersiap meremukkan tubuh Letnan Roka menjadi daging giling.

Namun, sebelum jangkar besi itu sempat turun menjemput nyawa sang Letnan, sebuah suara yang sangat datar, dingin, dan tenang memotong riuhnya medan pertempuran. Suara itu tidak keras, namun entah bagaimana, ia menembus hiruk-pikuk api dan teriakan.

"Kau berisik sekali."

Barts menghentikan gerakannya. Matanya yang liar mencari sumber suara. Letnan Roka, yang mengira ajalnya sudah tiba, perlahan membuka mata dan menoleh ke arah tumpukan reruntuhan atap kayu di sebelah kanannya.

Di atas reruntuhan kayu yang terbakar itu, berjongkok sesosok pemuda dengan haori dua warna yang khas. Tangan kirinya beristirahat santai di atas lututnya, sementara tangan kanannya memegang gagang pedang yang belum dicabut dari sarungnya. Angin malam meniup rambut hitamnya yang diikat acak. Matanya yang berwarna biru gelap menatap lurus ke arah Barts, memancarkan ketiadaan emosi yang membuat bulu kuduk berdiri.

Itu adalah Giyu Tomioka, yang sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan Kibutsi.

Letnan Roka melebarkan matanya. "K-Kau... Pendekar Pedang Tomioka! Apa yang kau lakukan di sini? Menyingkirlah, dia monster!"

Muzan, melalui tubuh Giyu, sama sekali tidak mempedulikan peringatan Roka. Ia berdiri perlahan. Pandangannya tetap terkunci pada sosok raksasa di depannya. Dalam benaknya, kalkulasi matematis tentang pertarungan telah dimulai. *Tinggi musuh 2,5 meter. Berat diperkirakan 250 kilogram. Senjata: Jangkar besi berantai, jangkauan serang sekitar 4 meter. Titik buta: Kecepatan rotasi tubuh bagian bawahnya lambat. Titik vital yang terlindungi: Rahang bawah dan kemungkinan sebagian leher depan oleh pelat baja.*

"Siapa kau, bocah sialan?" geram Barts. Rahang besinya bergemeletuk. "Jangan ikut campur urusan Bajak Laut Taring Berdarah jika kau tidak ingin mati muda!"

Muzan tidak menjawab. Sebagai seorang perencana yang pragmatis, ia tahu penjahat sering mati karena terlalu banyak bicara. Ia tidak akan mengulangi klise kebodohan itu.

Giyu Tomioka mengambil napas dalam-dalam. Oksigen mengisi paru-parunya hingga kapasitas maksimal, mempercepat aliran darah yang membawa energi ke setiap serat ototnya. Ini adalah fondasi dari Ilmu Pernapasan (Total Concentration Breathing). Udara di sekitar Giyu tiba-tiba terasa lebih lembab dan dingin.

Tanpa sepatah kata pun, Giyu melompat dari reruntuhan bangunan itu. Alih-alih jatuh dengan berat ke tanah, kakinya menyentuh tanah berbatu dengan seringan bulu, dan dalam seperseribu detik kemudian, tanah di bawah kakinya retak.

Sosok Giyu menghilang dari pandangan Barts dan Letnan Roka.

"Cepat sekali!" batin Roka terkejut.

Barts, yang mengandalkan insting hewaninya untuk bertahan hidup di lautan, merasakan hawa dingin yang mematikan mendekat dari arah depan. Dengan panik, ia mengayunkan jangkarnya secara horizontal untuk menyapu apa pun yang mendekat.

Namun, ayunan itu hanya membelah udara kosong.

Muzan, dengan presisi luar biasa yang diwariskan oleh memori otot sang Hashira, telah memprediksi arah serangan itu berdasarkan pergerakan bahu Barts. Giyu merunduk di bawah ayunan jangkar besi seberat ratusan kilogram itu dengan jarak hanya selisih beberapa sentimeter dari ujung rambutnya.

Dalam posisi merunduk dan terus meluncur ke depan, tangan kanan Giyu mencabut pedang *Nichirin* dari sarungnya.

Suara *SRAATTT!* terdengar nyaring diiringi kilatan cahaya biru tua yang indah. Bilah pedang yang kini terekspos memancarkan aura dingin yang mengembunkan udara di sekitarnya.

**"Pernapasan Air, Bentuk Keempat: Pasang Surut Menyerang (Striking Tide)."**

Muzan mengarahkan pedang itu untuk melakukan serangkaian tebasan beruntun yang mengalir tanpa henti layaknya gelombang pasang surut. Sasarannya bukanlah bagian vital yang sulit dijangkau, melainkan titik-titik persendian musuh.

Tebasan pertama menyasar pergelangan tangan kanan Barts yang memegang jangkar.

Tebasan kedua mengarah ke tendon Achilles di kaki kiri Barts.

Tebasan ketiga membelah urat bisep di lengan kiri sang kapten raksasa.

Ketiga tebasan itu terjadi dalam waktu kurang dari dua detik. Begitu mulus, begitu elegan, namun sangat destruktif. Bilah *Nichirin* milik Giyu menebas daging dan otot musuh layaknya memotong mentega panas, diiringi ilusi aliran air biru yang mengikuti jejak lintasan pedang.

"AAARRRGGGGHHHH!!!!"

Raungan penderitaan yang luar biasa meledak dari tenggorokan Barts. Jari-jarinya kehilangan tenaga, membuat jangkar besinya terlepas dan menghantam tanah dengan suara dentuman keras. Ia terhuyung mundur, darah segar menyembur dari tiga luka sayatan yang sangat dalam. Otot-otot yang mengendalikan pergerakan utamanya telah diputus.

Para kru bajak laut yang tadinya sedang sibuk menjarah tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka. Mereka menoleh dan membeku melihat kapten mereka yang tak terkalahkan menjerit kesakitan, terhuyung mundur di hadapan seorang pemuda kurus yang pedangnya bahkan tidak memiliki noda darah di atasnya.

"K-Kapten!" teriak salah satu kru.

"Bunuh bocah itu! Cepat bunuh dia!" teriak bawahan lainnya yang panik.

Lebih dari belasan bajak laut mencabut pedang, tombak, dan senapan mereka, lalu berlari mengeroyok Giyu dari berbagai arah.

Di atas menara lonceng, sudut bibir Muzan sedikit terangkat membentuk seringai tipis. Pertarungan kelompok adalah tempat di mana Teknik Pernapasan Air bersinar paling terang. Fleksibilitas dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan aliran musuh tidak tertandingi.

Muzan tidak membuat Giyu mundur. Sebaliknya, ia melangkah maju ke tengah kepungan belasan orang tersebut.

"Tembak!" perintah salah satu bajak laut. Tiga orang penembak jitu mengarahkan senapan laras panjang mereka dan menarik pelatuk. Tiga butir peluru timah melesat dengan kecepatan tinggi ke arah tubuh Giyu.

**"Pernapasan Air, Bentuk Kesebelas: Ketenangan Mati (Lull)."**

Ini adalah teknik orisinal ciptaan Giyu Tomioka sendiri, dan Muzan kini memegang kuncinya.

Seketika, lingkungan di sekitar Giyu seolah berhenti bergerak. Waktu terasa melambat. Semua suara hiruk pikuk pertempuran memudar, digantikan oleh keheningan mutlak dari sebuah danau yang sangat tenang tanpa riak sedikit pun.

Dengan pergerakan pedang yang sangat minim, halus, dan nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, pedang *Nichirin* Giyu menangkis ketiga peluru timah tersebut dalam waktu bersamaan.

*Ting! Ting! Ting!*

Ketiga peluru itu terbelah menjadi dua dan jatuh tanpa bahaya di dekat kaki Giyu.

Para bajak laut ternganga. Mata mereka seolah keluar dari rongganya. Menangkis peluru dengan pedang bukanlah hal yang mustahil di Grand Line, tetapi melihatnya secara langsung di East Blue adalah pemandangan yang menghancurkan nalar dan mental mereka.

Ketenangan itu hanya berlangsung sedetik, sebelum Muzan mengubah ritmenya menjadi serangan mematikan.

**"Pernapasan Air, Bentuk Ketiga: Tarian Arus (Flowing Dance)."**

Giyu mulai bergerak. Kakinya melangkah dengan pola yang sangat tidak teratur, meliuk-liuk bagaikan aliran air sungai yang membelah bebatuan. Ia berayun melewati kerumunan bajak laut itu layaknya penari yang sedang melakukan pertunjukan mematikan.

Setiap kali Giyu melewati seorang bajak laut, kilatan pedang air birunya menyusul.

Muzan memastikan tidak ada gerakan yang sia-sia.

Ia tidak menargetkan leher untuk menghindari cipratan darah yang berlebihan, melainkan menargetkan urat nadi di pergelangan tangan, urat lutut, dan bagian punggung pedang untuk menghantam titik saraf di ulu hati. Ia ingin melumpuhkan, bukan sekadar membunuh tanpa alasan, karena orang-orang ini mungkin masih memiliki nilai buronan kecil.

Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, Tarian Arus itu berhenti. Giyu kembali berdiri dalam posisi netralnya, memunggungi kerumunan belasan bajak laut tersebut. Air ilusi dari pedangnya memercik pelan ke tanah.

Di belakangnya, belasan bajak laut itu serempak menjatuhkan senjata mereka. Beberapa detik kemudian, luka-luka sayatan meledak secara bersamaan, menyemburkan darah ke udara. Mereka berjatuhan ke tanah satu per satu bagaikan daun kering yang ditiup angin badai. Erangan kesakitan menggema memenuhi alun-alun.

Pasukan Angkatan Laut yang tersisa, termasuk Letnan Roka, hanya bisa menatap pemandangan itu dengan mulut menganga. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka baru saja menyaksikan pembantaian artistik terindah dan paling menakutkan yang pernah mereka lihat seumur hidup mereka.

"M-Monster..." bisik Letnan Roka tak percaya. "Apakah dia pemakan Buah Iblis? Kemampuan berpedang macam apa itu..."

Namun, pertarungan belum sepenuhnya usai.

Di ujung jalan setapak, Barts "Rahang Besi" menggunakan lengan kanannya yang masih berfungsi sebagian untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Matanya memerah akibat kombinasi rasa sakit yang luar biasa dan kemarahan yang mendidih. Ia telah kehilangan anak buahnya, harga dirinya, dan separuh kemampuan geraknya dalam hitungan detik.

"Sialan... KAU SIALAAAAAANNN!" Barts meraung keras hingga pita suaranya nyaris robek. "TIDAK ADA YANG BISA MEMPERMALUKAN RAHANG BESI BARTS!"

Dengan sisa tenaga terakhir yang didorong oleh adrenalin, Barts mengabaikan luka di kakinya. Ia berlari menerjang ke arah Giyu dengan mulut terbuka lebar. Rahang besinya, yang dilapisi logam keras dengan deretan gigi bergerigi tajam, siap mengoyak leher pemuda itu.

Ini adalah serangan bunuh diri terakhir. Kecepatannya jauh melampaui gerakan Barts sebelumnya. Tubuh besarnya bertindak seperti peluru meriam berdaging yang melesat untuk menghancurkan apa pun di depannya.

Muzan, dari atas menara lonceng, menatap serangan itu dengan dingin.

*Fisik yang luar biasa,* analisis Muzan. *Dunia One Piece memang memiliki manusia-manusia dengan vitalitas tidak masuk akal. Ototnya terpotong, tapi dia masih bisa menggunakan kontraksi paksa untuk menerjang. Sayangnya, tindakan emosional adalah jalan tercepat menuju kematian.

Muzan tidak menyuruh Giyu menghindar. Jika ia menghindar, tubuh raksasa Barts akan terus melaju dan menghantam markas Angkatan Laut atau warga yang mungkin bersembunyi di baliknya. Ia harus menghentikannya dari depan.

Giyu mengangkat pedangnya ke atas kepala. Ia mengambil napas yang jauh lebih dalam dan lambat dari sebelumnya. Oksigen mengalir menekan paru-parunya, memompa energi besar ke lengannya.

Udara di sekitar Giyu seolah berubah menjadi lautan yang bergejolak. Suara gemuruh air terjun gaib mulai terdengar menenggelamkan raungan kapten Barts.

**"Pernapasan Air, Bentuk Kedelapan: Benturan Air Terjun (Waterfall Basin)."**

Barts berada kurang dari satu meter di depan Giyu, rahang besinya siap mengatup leher sang Hashira.

Pada saat yang bersamaan, Giyu mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah dengan kekuatan penuh. Tebasan vertikal ini tidak tajam seperti pisau yang menyayat, melainkan membawa massa yang sangat berat, seolah-olah ton berton-ton air terjun raksasa dijatuhkan dari langit langsung ke atas pedangnya.

*TRANGGGGG!!!!!*

Bilah pedang *Nichirin* menghantam telak bagian tengah rahang besi Barts.

Benturan antara baja kuat melawan baja pembasmi iblis yang dilapisi teknik pernapasan menghasilkan percikan api yang menyilaukan mata. Gelombang kejut dari hantaman itu meledak, menyapu debu dan sisa-sisa reruntuhan kayu di sekitar mereka dalam radius sepuluh meter. Angkatan Laut yang menonton harus menutupi wajah mereka dari badai angin yang tercipta.

Waktu seolah membeku sesaat.

Mata Barts melotot lebar, urat-urat merah pecah di matanya. Ia tidak percaya pada apa yang dirasakannya. Raksasa seberat 250 kilogram yang menerjang dengan kecepatan penuh itu dihentikan sepenuhnya oleh tebasan vertikal seorang pemuda kurus, tanpa membuat pemuda itu mundur satu sentimeter pun dari posisinya!

Kemudian, terdengar suara kecil yang mematahkan kebuntuan itu.

*Kret... Krak...*

Garis retakan halus muncul di rahang baja kebanggaan Kapten Barts, tepat di bawah titik di mana pedang Giyu menekan.

*KRAK! PRANGGGG!!!*

Logam tebal itu hancur berkeping-keping. Tebasan *Waterfall Basin* yang sangat berat itu menerobos pertahanan besi Barts, membelah rahang buatan tersebut, dan terus melaju meremukkan tulang selangka serta tulang dada raksasa itu sebelum akhirnya menghantam tanah berbatu.

Tanah alun-alun meledak terbuka, menciptakan kawah dangkal dengan retakan memanjang layaknya jaring laba-laba.

Barts menyemburkan darah segar dari mulutnya. Tubuh besarnya ambruk ke tanah, matanya memutih, kehilangan kesadaran sepenuhnya. Rahang besinya yang menakutkan kini hanyalah rongsokan logam yang berserakan di genangan darah.

Giyu Tomioka berdiri di atas tubuh raksasa yang tumbang itu. Ia perlahan mengangkat pedangnya, mengibasnya dengan gerakan menyamping yang elegan untuk membuang sisa-sisa darah yang menempel di bilah *Nichirin*, lalu menyarungkannya kembali ke pinggangnya dengan bunyi *KLIK!* yang tajam.

Medan pertempuran itu kembali sunyi. Hanya suara api yang berderak melahap sisa bangunan yang terdengar. Pasukan Angkatan Laut dan Letnan Roka menatap Giyu dengan rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan absolut.

Di atas menara lonceng yang tersembunyi dalam kegelapan, Muzan Kibutsi melepaskan kendali utamanya. Ia kembali bernapas dengan ritme normal. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Mentransfer kesadaran penuh untuk pertarungan intens menggunakan stamina mentalnya secara drastis, menyebabkan sakit kepala yang berdenyut hebat.

Namun, rasa sakit itu hilang seketika saat sebuah layar holografik biru menutupi pandangannya, memancarkan cahaya kemenangan.

«"DING!"»

«"MISI DARURAT SELESAI: KEMARAHAN SANG KAPTEN."»

«"Evaluasi: Pertunjukan Kekuatan Mutlak. Menyelesaikan konflik dengan dominasi total."»

«"Hadiah didistribusikan: 50.000 Belly, Tiket Gacha Karakter Menengah x3."»

«"PENGUMUMAN PENTING: Kapasitas Pengendalian Boneka meningkat! (+1 Slot)."»

«"Host kini dapat mengendalikan 2 Boneka secara bersamaan."»

Senyum kepuasan mengembang di wajah pucat Muzan. Namun, sebelum ia sempat memeriksa hadiah-hadiah barunya, sebuah suara langkah kaki yang sangat pelan—terlalu pelan untuk didengar oleh telinga manusia biasa, namun tertangkap jelas oleh pendengaran sisa Giyu di alun-alun bawah—mendekat dari arah gang gelap di sebelah timur markas Angkatan Laut.

Di alun-alun, Giyu Tomioka tiba-tiba menoleh ke arah gang gelap tersebut. Tangan kirinya kembali mencengkeram gagang pedangnya.

Letnan Roka menyadari perubahan postur sang pendekar, dan segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk bersiaga.

Dari dalam kegelapan gang yang tidak tersentuh cahaya api, keluarlah sosok seseorang. Hawa keberadaan orang ini sangat berbeda dengan gerombolan bajak laut rendahan yang baru saja disapu bersih oleh Giyu. Hawa ini tenang, tajam, dan mematikan.

Orang itu berjalan keluar dari bayang-bayang. Ia adalah seorang pria bertubuh tegap, mengenakan kemeja tak dikancingkan, *haramaki* (sabuk perut tebal) berwarna hijau, dan celana gelap. Di pinggang kanannya, terselip tidak hanya satu, tidak dua,

melainkan tiga buah pedang katana bersarung rapi.

Rambut pria itu berwarna hijau lumut yang sangat mencolok.

Mata pria berambut hijau itu mengamati kehancuran di alun-alun, sebelum akhirnya tatapan tajam bagaikan pedang miliknya terkunci pada sosok Giyu Tomioka. Sudut bibirnya menyeringai antusias, memperlihatkan aura haus darah yang hanya dimiliki oleh mereka yang hidup di ujung mata pedang.

Di atas menara lonceng, mata Muzan menyipit tajam. Sakit kepalanya seolah menguap digantikan oleh lonjakan adrenalin baru.

*Roronoa Zoro,* batin Muzan.

Pemuda berambut hijau itu meletakkan tangan di gagang salah satu pedangnya. "Aku kebetulan sedang lewat karena mendengar ada bajak laut ber-bounty besar di kota ini," ucap Zoro dengan suara berat. Matanya menatap Giyu dengan tatapan menantang yang membakar. "Tapi sepertinya aku menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada uang. Hei, kau yang berhaori dua warna... Kau pengguna pedang, kan? Mau saling mengukur kekuatan denganku?"

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!