"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Raka tidak pergi ke gudang Bekasi Timur.
Nadia melarangnya dengan satu kalimat: "Kalau kita datang tanpa dasar, kita memberi mereka kesempatan menyebut kita mengintimidasi."
Jadi pada hari kelima belas, Raka datang ke ruang pertemuan kecil di Bekasi sesuai undangan resmi. Arif duduk di sebelahnya dengan ponsel tertutup di atas meja. Nadia duduk paling ujung, membawa map tipis dan wajah yang tidak menunjukkan apa pun.
Danu Kurniawan masuk sepuluh menit terlambat.
Ia memakai batik mahal dan jam tangan yang terlalu mencolok untuk ruangan sesederhana itu. Senyumnya lebar, seolah mereka adalah teman lama yang akan berbagi makan siang.
"Pak Raka, selamat. Nama Lentera sedang ramai."
"Ramai tidak selalu bagus," jawab Raka.
"Tergantung siapa yang mengaturnya." Danu duduk dan mendorong satu lembar proyeksi kebutuhan. "Ada sekolah swasta dengan rencana asrama baru. Ratusan kasur. Kalau masuk sekarang, nama kalian langsung naik kelas."
Angka di bagian bawah membuat Arif mengangkat alis. Harga yang diminta lebih rendah dari biaya produksi standar Lentera.
"Ini di bawah biaya," kata Raka.
Danu tersenyum makin lebar. "Harga depan memang tipis. Tapi ada biaya layanan, koordinasi, hubungan, pengamanan jalur. Itu biasa. Nanti bisa kembali dari sana."
Raka mengambil pena. "Baik. Biaya layanan untuk siapa?"
Danu berkedip. "Maksudnya?"
"Nama penerima jasa, pekerjaan yang dilakukan, dasar pajak, nomor invoice. Kalau bagian dari transaksi, kita tulis."
Senyum Danu bergerak sedikit turun. "Pak Raka masih muda. Tidak semua hal harus ditulis begitu kaku."
"Di perusahaan saya, uang keluar harus punya bukti. Pak Yusuf akan menahan kalau tidak jelas."
"Ini bukan soal bukti. Ini soal pintu." Danu mengetuk meja. "Kalau Bapak mau masuk pengadaan sekolah, jangan sok bersih di depan orang yang pegang kunci."
Ia menurunkan suara, seolah sedang memberi nasihat. "Saya sudah lihat banyak pabrik kecil. Awalnya semua bicara kualitas, pekerja, transparansi. Begitu bahan menumpuk dan gaji jatuh tempo, mereka cari orang seperti saya. Bedanya, saya datang sebelum Bapak kehabisan napas."
Raka menatap lembar harga. Angkanya menggoda jika hanya dilihat sebagai pintu masuk. Satu pesanan sekolah bisa membuat nama Lentera masuk ratusan kamar sekaligus. Namun angka yang sama juga seperti kail. Umpannya besar karena kaitnya disembunyikan di bawah kata koordinasi.
"Kalau sekolah butuh barang bagus, kenapa biaya layanan tidak dibuka ke komite?" tanya Raka.
Danu tersenyum tipis. "Karena komite suka berpura-pura tidak tahu cara dunia bekerja."
Nadia membuka map. Ia belum bicara, tetapi gerakan itu membuat Danu menatapnya.
"Pengacara ikut semua rapat?" sindir Danu.
"Saat ada biaya tanpa penerima jelas, iya," jawab Nadia.
Danu mengubah arah. Ia mengeluarkan selembar halaman berlogo laboratorium. "Kalau kalian tidak bisa memenuhi harga, ada produk lain. Sudah lulus uji. Lebih murah. Saya hanya memberi kesempatan sebelum komite memilih."
Nadia menarik kertas itu mendekat. Matanya bergerak dari kop, nomor, tanggal, lalu tanda tangan digital.
"Nomor dokumennya aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Format nomor lembaga ini tidak memakai garis miring seperti ini sejak tahun lalu." Nadia meletakkan kertas kembali. "Saya tidak menyatakan palsu di ruangan ini. Saya hanya menyatakan formatnya tidak sesuai dengan dokumen uji yang pernah kami verifikasi."
Danu menarik kertas itu kembali terlalu cepat.
Arif melihat gerakan tersebut. Ia tidak bereaksi besar. Ia hanya mencatat waktu, posisi kertas, dan nama file yang sempat terlihat di pojok halaman. Kompas Pasar miliknya adalah kebiasaan bertahun-tahun di jalan membuatnya tahu kapan seseorang menyesal memperlihatkan sesuatu.
Arif baru bicara setelah itu. "Pak Danu, gudang mitra Bapak di Bekasi Timur masih dipakai?"
Danu menoleh cepat. "Banyak gudang di Bekasi."
"Yang dekat drop point kurir. Saya tanya karena beberapa barang promosi sekolah biasanya lewat sana, kan?"
"Itu urusan logistik."
"Jadi benar itu titik kerja sama lama?"
Danu diam terlalu lama.
Arif tidak menekan lagi. Ia hanya menandai sesuatu di catatan. Semua yang ia pegang adalah chat penawaran, foto papan gudang dari area publik, dan ucapan Danu sendiri yang tidak langsung membantah.
Raka mendorong proyeksi harga kembali. "Kami tidak ikut dengan biaya layanan yang tidak bisa ditulis. Kami juga tidak akan mengalahkan harga dengan menghapus BPJS, tes, atau bahan yang sudah kami nyatakan."
Wajah Danu mengeras. "Kalau begitu, Bekasi berat untuk kalian."
"Berat tidak apa-apa."
"Bukan berat. Tertutup." Danu mencondongkan badan. "Tiga distributor yang kemarin mulai tanya Lentera masih dengar kata saya. Saya bisa membuat kasur kalian tidak keluar satu pun dari Bekasi."
Raka berdiri. "Silakan. Tapi kami akan mengirim halaman sertifikasi ini, penawaran harga, dan catatan rapat kepada komite pengadaan. Mereka yang memutuskan apakah pintu seperti ini layak dipakai."
"Kalian menuduh saya?"
Nadia menutup map. "Kami menyerahkan dokumen untuk diperiksa. Itu berbeda."
Danu tertawa pendek. Tidak ada hangatnya. "Perusahaan kecil biasanya belajar setelah kehabisan udara."
"Kami baru memperbaiki ventilasi," kata Raka. "Udara kami cukup."
Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, Danu tidak langsung membalas. Ia menatap Raka seperti baru sadar anak muda di depannya tidak datang mencari belas kasihan kanal, melainkan membawa senter ke lorong gelapnya.
Arif hampir tersenyum, tetapi menahannya sampai mereka keluar dari ruangan.
Di mobil, Nadia langsung mengirim paket dokumen ke kontak resmi komite. Tidak ada unggahan, tidak ada tuduhan publik, tidak ada drama. Hanya penawaran, halaman uji bermasalah, dan ringkasan pertemuan.
"Kenapa tidak langsung unggah?" tanya Arif.
"Karena kita mau pintu resmi terbuka, bukan komentar menang satu jam," jawab Nadia.
Raka melihat gedung kecil tempat mereka baru keluar. Di dalam sana, Danu mungkin sedang menelepon orang-orangnya. Raka tidak membawa kontrak, tidak membawa uang, dan tidak membawa janji order. Untuk sesaat, kekalahan itu terasa sangat nyata.
Lalu ia melihat salinan dokumen terkirim di ponsel Nadia. Kali ini, yang mereka bawa pulang adalah sesuatu yang bisa bekerja tanpa berteriak.
Sore itu, tiga distributor membalas pesan Arif dengan kalimat yang hampir sama: stok Lentera ditahan dulu sampai situasi jelas.
Bima mengirim angka dampaknya. Jalur Bekasi turun tajam.
Dimas menulis di grup: Jadi dia benar-benar menekan pintu?
Raka mengetik pelan.
Kalau pintu itu harus dibayar pakai uang gelap, kita cari pintu lain.
Malamnya, pesan dari komite pengadaan masuk.
Rapat penjelasan daring diadakan besok pukul dua. Semua pihak diminta membawa data harga, dokumen uji, dan sampel pembanding.
Raka membaca pesan itu dua kali.
Danu ingin menutup Bekasi.
Nadia mengirim satu catatan pendek: jangan datang membawa emosi, datang membawa urutan dokumen. Raka menyimpan kalimat itu seperti alat kerja.
Besok, mereka akan membuka mejanya.