NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: BERDUA DI RUANG DOSEN

Hujan gerimis mulai turun ketika Kirana keluar dari ruang perpustakaan, membawa map berisi hasil revisi tugas kelompok yang harus dia serahkan ke Alden sebelum jam kerja dosen berakhir. Dia mempercepat langkah menyusuri koridor, berharap sampai ke ruang dosen sebelum gerimis berubah jadi hujan deras.

"Untung belum tutup," gumamnya lega begitu melihat lampu ruang dosen masih menyala dari kejauhan.

Dia mengetuk pintu yang setengah terbuka.

"Permisi, Pak."

"Masuk," jawab Alden dari dalam, suaranya terdengar sedikit teredam karena sedang menunduk membaca sesuatu di layar laptop.

Kirana melangkah masuk, mendapati ruangan itu lebih sepi dari biasanya. Meja meja dosen lain sudah kosong, hanya meja Alden yang masih menyala dengan lampu kerja kecil di sudut.

"Yang lain udah pada pulang, Pak?" tanya Kirana, sedikit heran melihat suasana ruangan yang lengang.

"Sudah dari tadi. Saya masih ada beberapa berkas yang harus diselesaikan," jawab Alden, akhirnya mendongak dari layar. "Ada perlu apa?"

"Ini, Pak, saya mau nyerahin revisi tugas kelompok. Katanya deadline pengumpulan hari ini," Kirana menyerahkan map yang dia bawa.

Alden menerima map itu, membukanya sekilas, matanya bergerak cepat menyusuri halaman demi halaman. "Kamu yang ngerjain bagian revisi ini?"

"Iya, Pak, semalam saya begadang buat ngoreksi bagian yang kemarin Bapak bilang kurang."

"Duduk dulu," kata Alden tiba tiba, menunjuk kursi kosong di depan mejanya. "Saya mau cek langsung, kalau ada yang perlu diperbaiki bisa langsung kamu revisi sekarang."

Kirana duduk, sedikit gugup meski mencoba terlihat tenang. Di luar, suara gerimis mulai berubah menjadi hujan yang lebih deras, menciptakan suara berisik yang samar samar terdengar dari jendela ruang dosen.

Alden membaca dengan teliti, sesekali mencoret bagian tertentu dengan pena merah, lalu menjelaskan apa yang perlu diperbaiki. "Bagian ini sudah bagus. Tapi di sini, penjelasan kamu masih terlalu umum. Coba tambahkan angka konkret."

"Baik, Pak," Kirana mencatat cepat di buku kecilnya, memperhatikan setiap masukan dengan seksama.

Mereka melanjutkan diskusi selama beberapa menit, membahas bagian demi bagian dengan detail. Kirana mulai merasa nyaman dengan suasana itu, cara Alden menjelaskan dengan sabar, tanpa nada menyindir seperti biasa dia tunjukkan di kelas.

"Pak, kenapa kalau lagi berdua kayak gini, Bapak jadi beda banget sama pas di kelas?"

Kirana bertanya tiba tiba, tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi.

Alden berhenti sejenak, menatap Kirana dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Beda gimana maksudnya?"

"Ya, di kelas Bapak keliatan galak banget, tegas, kadang nyindir. Tapi kalau lagi kayak gini, jelasin satu satu sabar, malah keliatan lebih... lembut," jelas Kirana, sedikit ragu ragu memilih kata yang tepat.

Alden terdiam sejenak, meletakkan pena yang tadi dia pegang. "Di kelas, saya harus tegas. Kalau saya terlalu lunak, mahasiswa nggak akan serius belajar. Tapi kalau berdua kayak gini, nggak ada gunanya saya galak, karena yang saya hadapi cuma satu orang yang emang niat mau belajar."

"Jadi sebenernya Bapak nggak segalak yang keliatan di kelas?" Kirana bertanya lagi, tersenyum kecil.

"Anggap aja begitu," jawab Alden, sudut bibirnya sedikit terangkat, hampir membentuk senyum meski buru buru dia tahan.

Kirana tertawa kecil mendengar jawaban itu, suasana di antara mereka terasa lebih santai dari biasanya. "Untung aja saya tau sisi Bapak yang ini. Kalau nggak, saya bakal terus mikir Bapak itu robot tanpa perasaan."

"Robot?" Alden mengangkat alis, terdengar sedikit geli. "Serius ada yang bilang begitu?"

"Bukan cuma saya, Pak, hampir semua mahasiswa mikir gitu," Kirana mengaku jujur, meski sedikit khawatir kalimatnya terlalu blak blakan. "Habisnya Bapak jarang banget nunjukin ekspresi selain serius."

Alden terdiam sejenak, matanya menerawang seolah memikirkan sesuatu.

"Mungkin karena sudah terbiasa jaga jarak. Lebih aman kalau nggak terlalu banyak nunjukin emosi."

Kalimat itu terdengar lebih personal dari yang Alden biasanya ucapkan, membuat Kirana penasaran lebih jauh, tapi dia tidak berani mendesak lebih dalam, khawatir menyentuh sesuatu yang terlalu pribadi.

"Aman dari apa, Pak?" tanya Kirana pelan, meski dalam hati dia sudah menduga jawabannya akan berkaitan dengan gosip masa lalu yang pernah dia dengar dari Tesa.

Alden menatapnya lama, seperti sedang mempertimbangkan apakah akan menjawab jujur atau tidak. "Dari kecewa," jawabnya akhirnya, singkat tapi sarat makna.

Kirana tidak melanjutkan pertanyaan, merasakan ada sesuatu yang berat di balik jawaban singkat itu. Dia hanya mengangguk pelan, memberi ruang bagi Alden untuk tidak harus menjelaskan lebih jauh kalau memang belum siap.

Hujan di luar semakin deras, suara rintiknya memenuhi keheningan yang tercipta di antara mereka berdua. Kirana melirik jendela, menyadari langit sudah gelap total.

"Pak, hujannya deres banget," katanya, mencoba mengalihkan suasana yang terasa terlalu berat. "Saya jadi khawatir pulangnya gimana."

Alden ikut melirik ke jendela, memperhatikan hujan yang mengguyur halaman kampus.

"Kamu bawa payung?"

"Nggak bawa, Pak. Tadi pagi cerah, jadi saya nggak nyangka bakal hujan sederes ini," jawab Kirana, sedikit cemas.

"Tunggu di sini dulu sampai reda," kata Alden, kembali fokus pada laptopnya. "Nggak baik maksain jalan hujan deras kayak gini."

"Tapi kan udah malam, Pak. Nanti Bapak juga jadi telat pulang," Kirana mencoba menolak dengan sopan, meski dalam hati sedikit senang punya alasan untuk berlama lama di ruangan itu.

"Saya masih ada kerjaan yang belum selesai. Kamu tunggu aja, sambil saya lanjutin ini," jawab Alden santai, seolah tidak ada masalah dengan situasi itu.

Kirana mengangguk, kembali duduk di kursinya sambil memperhatikan Alden yang kembali fokus mengerjakan sesuatu di laptop.

Suasana hening kembali menyelimuti ruangan, hanya diselingi suara ketikan keyboard dan derasnya hujan di luar jendela.

"Pak," Kirana memberanikan diri bicara lagi setelah beberapa menit berlalu dalam diam,

"boleh saya bantu sesuatu selagi nunggu? Daripada cuma duduk diem aja."

Alden mendongak, sedikit terkejut dengan tawaran itu. "Kamu bisa bantu apa?"

"Nggak tau, Pak, apa aja yang bisa saya bantu. Rekap data, atau apa gitu," Kirana menawarkan, merasa canggung kalau hanya duduk diam sementara Alden sibuk bekerja.

Alden mempertimbangkan sejenak, lalu menyodorkan setumpuk kertas kecil. "Kalau kamu mau bantu, tolong urutin nilai ujian ini berdasarkan nomor absen. Saya belum sempat rapiin."

"Siap, Pak," Kirana menerima tumpukan kertas itu dengan semangat, mulai mengurutkan satu per satu di meja yang kosong di sebelahnya.

Mereka bekerja dalam diam beberapa saat, hanya suara kertas yang bergesekan dan ketikan keyboard yang mengisi ruangan. Sesekali Kirana melirik ke arah Alden yang tampak serius menatap layar, kerutan tipis muncul di dahinya setiap kali menemukan sesuatu yang perlu dia perbaiki.

"Pak," Kirana memecah keheningan lagi,

"kalau boleh tau, Bapak ngajar udah berapa lama sih?"

"Lima tahun," jawab Alden singkat, tidak mendongak dari layarnya.

"Lama juga ya. Terus dari awal ngajar udah segalak ini, atau ada alasan tertentu kenapa jadi kayak gini?" tanya Kirana lagi, penasaran meski berusaha bertanya dengan hati hati.

Alden berhenti mengetik, menatap Kirana sejenak. "Kenapa penasaran banget sama masa lalu saya?"

Pertanyaan itu membuat Kirana sedikit gelagapan. "Maaf, Pak, kalau kelewat batas. Saya cuma... penasaran aja. Habisnya Bapak keliatan kayak orang yang punya banyak cerita di balik sikap dinginnya."

Alden terdiam cukup lama, seperti mempertimbangkan sesuatu. "Suatu saat mungkin saya cerita. Tapi belum sekarang."

Jawaban itu tidak memuaskan rasa penasaran Kirana sepenuhnya, tapi dia mengangguk mengerti, tidak ingin memaksa lebih jauh. "Oke, Pak. Nggak apa apa, saya tunggu aja kalau emang belum siap cerita."

Alden menatapnya sejenak lebih lama dari biasanya, ada sesuatu di matanya yang sulit Kirana artikan, campuran antara terkejut dan sesuatu yang lebih hangat. "Terima kasih sudah ngerti."

Mereka melanjutkan pekerjaan masing masing sampai akhirnya hujan mulai mereda, menyisakan gerimis tipis yang jauh lebih ramah untuk ditembus berjalan kaki. Kirana menyelesaikan pengurutan kertas nilai, menyerahkannya kembali ke Alden dengan rapi.

"Sudah, Pak," katanya, tersenyum puas dengan hasil kerjanya.

"Terima kasih bantuannya," Alden menerima tumpukan kertas itu, memeriksa sekilas. "Rapi juga kerjaannya."

"Kalau gitu saya pamit dulu ya, Pak, hujannya udah reda," Kirana berdiri, merapikan tasnya.

"Hati hati di jalan," kata Alden, kembali fokus ke laptopnya, meski matanya sempat mengikuti Kirana yang berjalan menuju pintu.

"Siap, Pak. Makasih buat hari ini," Kirana tersenyum lebar sebelum akhirnya benar benar keluar dari ruangan.

Begitu pintu tertutup, Alden menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi. Dia menatap tumpukan kertas yang baru saja dirapikan Kirana, lalu tanpa sadar bibirnya membentuk senyum kecil, senyum yang sudah semakin sering muncul akhir akhir ini setiap kali nama gadis itu terlibat.

"Suatu saat," gumamnya pelan, mengulang kalimatnya sendiri tadi, "mungkin memang sudah waktunya."

Di luar ruangan, Kirana berjalan menyusuri koridor yang mulai basah oleh sisa hujan, hatinya dipenuhi kehangatan yang sulit dia jelaskan. Percakapan singkat tadi, tentang kekecewaan yang dijaga rapat rapat, tentang janji cerita yang belum siap diungkap, semuanya membuat rasa penasarannya semakin besar, sekaligus menumbuhkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa ingin tahu biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!