NovelToon NovelToon
Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pagi itu matahari belum sepenuhnya bersinar terang di langit kota.

​Deni sudah duduk santai di warung bubur ayam pinggir jalan sambil memegang ponsel bututnya.

​Slurp.

​"Halo paman Jono, ini aku Deni si kurir tampan langgananmu," sapa Deni saat teleponnya tersambung.

​"Ada apa kau meneleponku pagi-pagi buta begini Deni, aku masih mengantuk tahu," keluh suara serak dari seberang telepon.

​Jono adalah mantan preman senior yang sekarang alih profesi menjadi penjual informasi rahasia di dunia bawah tanah.

​"Aku cuma mau tanya alamat cabang Serikat Bayangan Hitam di kota ini paman, kebetulan aku ada sedikit urusan dengan mereka," ucap Deni santai.

​Uhuk uhuk.

​Terdengar suara Jono terbatuk keras dari telepon seolah dia baru saja tersedak ludahnya sendiri.

​"Kau sudah gila ya Deni, cari mati berurusan dengan kelompok pembunuh paling kejam itu," marah Jono dengan suara gemetar.

​Deni mengaduk bubur ayamnya dan menyuapkannya ke dalam mulut dengan santai.

​Nyam.

​"Aku tidak cari mati paman, aku cuma mau cari ulasan bintang lima dari mereka," jawab Deni seenaknya.

​"Cepat beritahu saja alamatnya atau aku laporkan utang-utang judi paman ke bibi Siti sekarang juga."

​Jono menghela nafas panjang karena merasa terancam dengan rahasia dapurnya itu.

​"Baiklah bocah gila, markas mereka ada di pabrik baja tua yang sudah terbengkalai di kawasan industri barat," jelas Jono pasrah.

​"Tapi ingat ya, aku tidak ikut campur kalau kau pulang tinggal nama nanti siang."

​Deni tersenyum lebar dan langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak.

​Tut.

​"Kawasan industri barat ya, lumayan dekat dari kantor Nona Clara," batin Deni sambil menghabiskan sisa buburnya.

​Sementara itu di gedung perkantoran Grup Nirvana, suasana pagi yang biasanya tenang mendadak berubah sangat tegang.

​Kaca pintu lobi utama hancur berkeping-keping berserakan di lantai marmer.

​Prang.

​Belasan pria bertubuh besar dengan setelan jas hitam rapi sudah berdiri memenuhi area lobi tersebut.

​Para karyawan dan satpam kantor hanya bisa berjongkok ketakutan di sudut ruangan tanpa berani melawan.

​Clara yang baru saja turun dari lift bersama Siska langsung membeku melihat kekacauan di depannya.

​"Siapa kalian ini dan berani sekali merusak fasilitas di kantor perusahaanku," teriak Clara berusaha menutupi rasa takutnya.

​Seorang pria berambut panjang yang memakai kacamata hitam maju selangkah dari barisan para penyerang itu.

​Tap.

​"Selamat pagi Nona Clara yang cantik, kami datang untuk menagih jawaban atas surat peringatan semalam," sapa pria berkacamata hitam itu.

​Pria itu memutar-mutar sebuah pisau lipat perak di tangannya dengan sangat lincah.

​Srak srak.

​"Aku adalah Riko, komandan regu dari Serikat Bayangan Hitam cabang kota ini," perkenalan nya dengan senyum meremehkan.

​Siska langsung bersembunyi di belakang punggung Clara karena tubuhnya mulai gemetar ketakutan.

​"Nona Clara, di mana Deni sekarang, kenapa dia tidak berangkat bersamamu pagi ini," bisik Siska dengan suara bergetar.

​Clara menggigit bibir bawahnya karena dia sendiri yang menyuruh Deni untuk mencari sarapan di luar lebih dulu tadi.

​"Aku tidak akan pernah menyerahkan proyek itu kepada kalian para preman rendahan," jawab Clara tegas menatap Riko.

​Riko tertawa keras hingga bahunya berguncang naik turun.

​Hahaha.

​"Keberanian yang sangat bagus Nona, tapi sayangnya keberanian tidak bisa menghentikan pisau memotong lehermu," ancam Riko menghentikan tawanya.

​Dua orang anak buah Riko langsung berjalan cepat mendekati Clara dan Siska untuk menangkap mereka berdua.

​Clara memejamkan matanya rapat-rapat bersiap menerima kenyataan pahit bahwa perusahaannya akan hancur hari ini.

​Namun tiba-tiba terdengar suara siulan melengking dari arah pintu lobi yang kacanya sudah hancur tadi.

​Fuiit.

​"Wah wah, aku baru pergi sebentar makan bubur ayam dan kalian sudah mengotori lobi kantorku ya," ucap sebuah suara yang sangat akrab di telinga Clara.

​Clara langsung membuka matanya dan melihat Deni sedang berdiri santai menyandarkan punggungnya di kusen pintu.

​Pemuda berjaket oranye itu sedang mengorek giginya menggunakan tusuk gigi bambu.

​"Deni, syukurlah kamu datang tepat waktu," teriak Siska dengan wajah lega yang luar biasa.

​Riko menengok ke arah Deni dan menatap pemuda itu dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.

​"Oh jadi kau kurir peliharaan yang katanya bisa mengalahkan si bodoh Jagat itu ya," ejek Riko tersenyum sinis.

​"Pakaianmu jelek sekali, pantas saja kau cuma bisa jadi pesuruh untuk wanita kaya ini."

​Deni membuang tusuk giginya ke sembarang arah lalu berjalan perlahan membelah kerumunan pria berjas hitam itu.

​Tap tap tap.

​"Pakaianku memang jelek paman kacamata, tapi seenggaknya aku beli pakai uang halal hasil antar makanan," balas Deni santai.

​"Bukan pakai uang hasil memeras dan menakuti orang-orang lemah seperti kalian ini."

​Mendengar hinaan itu, wajah Riko langsung memerah karena marah.

​"Habisi kurir mulut besar ini sekarang juga, cincang dagingnya untuk makanan anjing," perintah Riko kepada belasan anak buahnya.

​Belasan pria berjas hitam itu serentak mengeluarkan tongkat besi dari balik punggung mereka.

​Sring.

​Mereka langsung mengepung Deni dari segala arah dan mengayunkan tongkat besi itu secara brutal ke tubuh sang kurir.

​Wush wush wush.

​Para karyawan kantor yang menonton menjerit histeris karena mengira Deni akan mati dipukuli beramai-ramai.

​Kyaaa.

​Tapi Deni hanya berdiri diam di tempatnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket oranyenya.

​Saat tongkat-tongkat besi itu hampir mengenai kepalanya, tubuh Deni tiba-tiba menghilang dari pandangan semua orang di sana.

​Syuut.

​"Ke mana perginya bocah itu," teriak salah satu penyerang karena targetnya menghilang seperti hantu.

​Bruk brak.

​Tiba-tiba saja belasan pria berjas hitam itu terpental ke udara satu per satu dan jatuh menghantam lantai lobi dengan sangat keras.

​Mereka semua mengerang kesakitan sambil memegangi perut dan dada mereka yang terasa seperti ditabrak truk tronton.

​Arghh.

​Deni kembali muncul berdiri tepat di depan Riko sambil menepuk-nepuk sedikit debu di bahu jaketnya.

​"Bagaimana paman kacamata, apa kau mau mencoba mencincang dagingku sendiri sekarang," tawar Deni tersenyum sangat polos.

​Riko mundur tiga langkah dengan wajah pucat pasi dan kacamata hitamnya hampir melorot jatuh.

​Dia tidak melihat gerakan Deni sama sekali, anak buahnya tiba-tiba saja sudah terkapar kalah dalam hitungan detik.

​"M-monster macam apa kau ini sebenarnya," teriak Riko dengan suara serak menahan panik.

​Riko langsung mengayunkan pisau lipat peraknya lurus ke arah mata kiri Deni dengan sekuat tenaga.

​Trang.

​Pisau tajam itu berhenti seketika di udara karena ujungnya dijepit dengan sangat mudah oleh dua jari Deni.

​"Pisau mainan begini cuma cocok dipakai untuk mengupas apel paman, bukan untuk bertarung," ejek Deni pelan.

​Krak.

​Deni mematahkan pisau perak itu dengan jari-jarinya lalu menendang perut Riko dengan tenaga yang sangat ringan.

​Bug.

​Tubuh Riko melayang mundur sejauh lima meter dan menabrak meja resepsionis hingga hancur berantakan.

​Brak.

​Riko langsung pingsan di tempat dengan mulut mengeluarkan busa putih dan mata mendelik ke atas.

​Hening kembali menyelimuti lobi kantor yang sudah berantakan mirip kapal pecah tersebut.

​Para karyawan yang awalnya ketakutan kini menatap Deni dengan pandangan memuja layaknya melihat seorang dewa pelindung pahlawan.

​Clara berlari kecil menghampiri Deni dan langsung memeriksa tubuh pemuda itu dari atas ke bawah.

​"Kamu tidak apa-apa kan Deni, tidak ada bagian yang terluka sama sekali kan," tanya Clara dengan wajah sangat khawatir.

​Deni tersenyum lebar menatap wajah bos cantiknya yang sedang cemas itu.

​"Aku tidak apa-apa Nona bos, aku cuma sedikit menyesal karena pakaian kerjaku jadi agak bau keringat preman," canda Deni.

​"Tolong Nona Clara panggil polisi saja untuk mengurus sampah-sampah yang berserakan di lobi ini."

1
Asmara Kacau
alur cerita nya bagus dan MC nya kocak
Asmara Kacau
kelazz ceritanya bagus dan mc nya deni sangat kocak orang nya 🤣🤣🤣 gass terus thor lanjutkan👊🏻
kiyoe: heheh pantengin terus kelanjutan cerita nya kak jangan lupa subscribe biar langsung muncul notif nya hehe 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!