Yang suka silahkan lanjut. Bima Arsaka, ahli bedah top dan terkenal. Tak ada yang menyangka, Bima juga seorang mafia yang kejam dan menakutkan. Bima adalah penerus klan Macan Putih, kelompok terkuat Mafia saat ini. Akankah Bima dapat menyeimbangkan tugas yang bertolak belakang sebagai seorang dokter dan juga Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Keesokan hari, selepas Subuh Bima mendapatkan telpon dari IGD rumah sakit. "Pagi dokter Bima, ini dengan dokter Anisa dokter jaga IGD ingin mengonsulkan pasien" sapa dokter Anisa si seberang.
"Iya dokter Anisa, silahkan" jawab Bima dengan suara seraknya.
"Baik dok, Tuan A datang ke IGD dengan luka tusuk senjata tajam di perut kanan atas dokter, perdarahan aktif. Sementara senjata masih menancap di badannya. Untuk sementara kita hanya bisa merestorasi cairan yang masuk dan menjaga keadaan umumnya supaya tidak jatuh dalam keadaan syok. Mohon advisnya dokter Bima" ucap dokter Anisa menggambarkan keadaan umum pasiennya.
"Baik dok, siapkan operasi secepatnya. Jangan lupa periksa Ro-nya dulu. Mau aku evaluasi sejauh mana senjata itu mengenai organ dalamnya. Restorasi cairan dilanjut. Siapkan darah. Pertahankan keadaan umumnya" jelas Bima memberi advis.
"Oh ya dokter Anisa, saya meluncur sekarang. Segera siapkan pasien dan kamar operasi" Bima menutup panggilan telponnya dan bersiap.
Sesampai di kamar operasi, Bima memindai berkas rekam medik pasien yang mau ditanganinya. Haemoglobinnya turun drastis, darah yang keluar pasti melebihi 2 liter. Tak lupa Bima cek hasil rontgen pasien itu. Untung hanya menyenggol heparnya saja, gumam Bima.
Bima pun bersiap masuk ke kamar operasi. "Bagaimana dok, keadaan umumnya?" tanya Bima ke dokter Anesthesi yang sedang memeras infus yang terpasang. Sementara lengan kiri pasien sudah tertancap kantong darah.
"Sebaiknya dokter Bima segera bersiap. Sampai saat ini saya masih bisa menjaga tekanan darahnya tidak turun lagi. Masih lumayan bagus dok, tensi bertahan di angka 80-90. Saturasi juga masih bagus, di atas 95" jelas dokter Anesthesi itu.
Bima segera mencuci tangan bedah, dan memakai jubah operasi. "Kita berdoa bersama, semoga operasi berjalan lancar" Bima memimpin doa memulai operasi. Semua yang berada di ruang operasi mengaminkan doa Bima.
"Ijin pak Anas, saya mulai ya" Bima meminta ijin ke dokter anesthesi itu.
"Silahkan dokter" jawab pak Anas. Di dalam kamar operasi, semua tim harus bahu membahu demi keselamatan seorang pasien.
Bima mulai mencabut pelan senjata yang menancap itu. Dan segera mengeksplor sumber luka. Didapatkan robekan colon transversum, sehingga isi colon itu memenuhi rongga perut. Bima masih mencari sumber darah yang mengucur itu. Bima yang dibantu asisten yang cekatan, sehingga cepat menemukan sumber perdarahannya. Yang ternyata berasal dari robekan vena hepatica. Bima segera menjahit bagian itu dengan cekatan. Perdarahan teratasi.
"Sudah naik dok tekanan darahnya, dan keadaan umumnya lebih stabil daripada yang tadi" dokter Anas menyampaikan laporannya.
"Baik dokter. Terima kasih. Darahnya lanjut aja dokter Anas. Mas sekarang waktunya menjahit colonnya" ujar Bima ke asistennya.
"Siap dokter" asisten menyerahkan benang yang akan dipakai menjahit dan tak lupa dia menata supaya lapangan operasi terlihat jelas oleh sang operator. Bima menjahit colon pasien dengan cermat dan tangkas. Setelah selesai Bima mengeksplor rongga perut dan mencucinya dari sisa-sisa kotoran yang terbuai dari colon yang robek tadi. Operasi dinyatakan selesai setelah Bima menjahit kulit pasien.
Pasien dipindahkan ke ruang recovery, dan Bima menyelesaikan laporan operasinya. Saat akan keluar, Bima mampir ke ruang recovery untuk melihat keadaan pasiennya. "Mas, ke sini sebentar" Bima memanggil perawat yang jaga ruang RR. Bima menyampaikan advis-advisnya, dan dijawab anggukan oleh perawat itu. "Jika kurang jelas, semua sudah kutulis di rekam medik pasien" jelas Bima.
Saat hendak berlalu dari ruang recovery, Bima tak sengaja melihat sebuah tato yang berbentuk seperti tompel di punggung tangan pasiennya.
"Serigala hitam" batinnya. "Barusan yang kuoperasi ternyata salah satu dari mereka" senyum terselubung nampak di wajah Bima.
Selepas operasi, Bima berjalan ke ruang direktur. Ternyata di sana sudah berkumpul dokter Brahma dan dokter Bagus. "Dari pagi aku datang ke rumah sakit, kalian malah enak-enakan di sini. Ngopi lagi" ejek Bima.
"Hei, jangan lupa aku direktur di sini lho. Secara silsilah, kamu masih berada di bawahku" Brahma tak mau kalah.
"Bukannya hari ini emang jadwal jagamu Bim? Terang aja IGD konsulnya ke kamu. Kalau aku yang ditelpon, ya aku ogah" tutur Bagus.
"Bilang sekretarismu, suruh antar kopi satu cangkir lagi. Pahit ya" perintah Bima. Brahma pun menelpon sekretarisnya. Tidak sampai sepuluh menit, kopi pesanan Bima datang diantar sekretarisnya. Wanita cantik dengan rok di atas lutut, mengedip ke arah Brahma. Dia juga sengaja membungkuk untuk memperlihatkan tonjolan di dadanya yang bahkan sudah keluar separuhnya. Brahma hanya meneguk salivanya. Dia terkaget saat Bima menimpuknya dengan sebuah remot AC. "Kebiasaan" sarkas Bima. Brahma tertawa sepeninggal sekretarisnya itu.
"Kau mau???? Ambil aja!!!!" seru Brahma. "Wah, bukan seleraku tuh" terang Bima.
"Iya..iya...seleramu kan laki...ha...ha...." ejek Brahma. Tinju Bima mendarat di perut Brahma.
"Enak aja...stok perempuan masih banyak. Lagian kalau aku mau pasti kau akan kalah saing denganku" sombong Bima. Bagus hanya menikmati gurauan-gurauan sahabatnya itu.
Ponsel Bima berdering lagi, IGD calling. Bima menunjukkan layar ponselnya ke Bagus. Bagus pun terbahak melihatnya. "Brahma, ada yang laris manis tuh" ejek Bagus.
Bima menggeser tombol hijau ponselnya, "Halo dengan dokter Bima" sapanya.
"Pagi menjelang siang dokter, dengan dokter Anisa ijin konsul pasien lagi" terdengar lago suar dokter Anisa. Dokter jaga IGD, dokter cantik yang sebenarnya juga mengincar seorang Bima
"Iya dokter Anisa, silahkan!" jawab Bima. Sementara Brahma dan Bagus menutup mulutnya setelah tau yang menelpon Bima. Dokter idola dari seluruh dokter yang ada di rumah sakit.
Dokter Anita menyampaikan keadaan pasien yang diterimanya. Setelah Bima memberikan advis, Bima pun menutup ponselnya.
"Bim, aku aja yang visite pasien yang barusan dikonsulkan" sela Bagus berdiri dan mendahului Bima. "Emang kenapa sih, katanya tadi ogah nerima panggilan IGD kalau aku yang jaga?" Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Halah, itu hanya modus kak Bagus aja. Mau ndekatin dokter Anisa. Ya kan Kak?" Brahma mengeraskan suaranya karena melihat Bagus yang keluar tergesa dari ruangan direktur itu.
"Namanya juga usaha" kepala Bagus kembali menyembul ke dalam. Bima pun terkekeh.
"Padahal tau nggak Bim, doktee Anisa itu tergila-gila padamu" terang Brahma. Bima hanya menanggapi dingin ucapan sang sahabat.
Setelah menghabiskan kopinya, Bima ikut berlalu dari ruangan direksi. "Eh Bim, mau ke mana kau?" tanya Brahma.
"Visite ke ruangan. Abis ini aku balik ya" Bima pun keluar. Brahma tinggal sendirian, dia pun memanggil sang sekretaris. Bagai kucing dikasih umpan ikan, Brahma sangat menikmati paginya ini bersama sang sekretaris. Pintu ruang direksi terkunci. Setelah menghabiskan secangkir kopi, pagi ini sepasang susu juga terhidang di hadapannya. Brahma menyesap susu-susu itu dengan kuat, seperti orang yang setahun tidak pernah minum.
Bersambung. Like, vote, komen dan yang lain othor tunggu ya.
☕☕☕ coffe morning hari ini 🤗
gimana sama nasib Joana pas th kl ayahnya di tangkap 🤔🤔🤔 trus gimana kelanjutannya hubungan Bima dan Rani kn blm jls 🤔🤔🤔