NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 29 — Sedikit Lelucon Setelah Hari yang Panjang bg. 2

Setelah kepergian Qin Chen yang memecah suasana dengan leluconnya, keheningan kembali menyelimuti Qin Mu dan Qin Lian.

Suasana di antara mereka berdua kini terasa sedikit canggung, jauh berbeda dari percakapan santai yang biasa mereka lakukan.

Di dalam benak Qin Mu, bayangan Qin Lian malam ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, pemuda itu menyadari bahwa gadis di sampingnya ini tumbuh menjadi sosok yang begitu manis dan menawan.

Meski hatinya masih dibebani oleh kondisi sang ayah dan pesan-pesan berat dari para senior, ada perasaan hangat yang tak biasa ketika ia melirik ke arah Qin Lian.

Sementara itu, Qin Lian merasakan hal yang lebih membingungkan lagi di dalam dadanya. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, dan tubuhnya seolah diselimuti oleh kehangatan yang menjalar dari pipi hingga ke telinganya.

Kecanggungan ini... membuatnya gugup dan salah tingkah.

Sebenarnya perasaan apa ini? Apakah aku jatuh sakit?

Ingin segera melarikan diri dari kecanggungan tersebut, Qin Lian berbicara dengan nada tergesa-gesa.

"Ah, Mu ge... Aku ingat teringat sesuatu! Aku harus berbelok ke kanan sekarang," ujarnya sambil menunjuk sebuah persimpangan jalan yang sepi.

Qin Mu menaikkan alisnya, menatap gadis itu dengan pandangan heran.

"Berbelok ke kanan? Bukankah kediamanmu masih cukup jauh, berada tepat di ujung sudut jalan sana?" tanya Qin Mu dengan polos, tidak menyadari alasan sebenarnya.

Qin Lian tertegun sejenak sebelum otaknya yang panik bekerja cepat menciptakan sebuah kebohongan singkat.

"Ah... I-itu... Guru tadi berpesan agar aku mengambil beberapa barang di paviliun penyimpanan sebelum pulang! Ya, ada beberapa ramuan yang harus kuambil malam ini juga untuk jaga-jaga," bohong Qin Lian dengan suara terbata-bata.

Mendengar penjelasan tersebut, Qin Mu sama sekali tidak meragukannya. Ia mengangguk paham dan tidak ingin memaksa gadis itu berjalan terlalu jauh di tengah malam yang dingin.

"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan, Lian er. Jangan pulang terlalu larut," pesan Qin Mu dengan nada lembut.

"Tentu, Mu ge! Selamat malam," jawab Qin Lian sambil bergegas melangkah ke arah yang ia sebutkan.

"Ya! Selamat malam juga, Lian er."

Qin Mu berdiri di tempatnya untuk beberapa saat, menatap punggung Qin Lian yang menjauh di bawah cahaya rembulan.

Langkah gadis itu anggun dan tenang. Di balik rambutnya yang tergerai, sinar perak memantul dari tusuk konde berbentuk bulan sabit yang pernah ia berikan beberapa waktu lalu.

Senyuman tipis tanpa sadar tersungging di bibir Qin Mu sebelum ia menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menepis pikiran-pikiran yang dianggapnya tidak pada tempatnya di situasi seperti ini.

"Mengapa aku memikirkan hal seperti ini di saat kondisi Ayah sedang kritis? Aku harus menjadi kuat," batin Qin Mu, mengepalkan tangannya di dekat batang besi hitam meteorit yang ia panggul.

Sementara itu, di sebuah sudut jalan yang agak jauh dan tak terlihat oleh Qin Mu, Qin Lian menghentikan langkahnya. Ia menyentuh dadanya yang masih berdebar kencang, lalu menggumamkan kekesalan kecil pada rekannya yang baru saja pergi.

"Kakak Qin Chen itu benar-benar bodoh... Mengapa dia harus mengatakan hal seperti itu di saat-saat yang tidak tepat?" gerutu Qin Lian pelan, wajahnya merona merah hingga ke leher.

Jari-jarinya beralih menyentuh tusuk konde bulan sabit yang terpasang di rambutnya. Ia menatap benda itu sejenak sebelum memalingkan pandangannya kembali ke arah Qin Mu yang masih terlihat gagah memanggul batang besi hitam meteor di pundaknya.

Mata Qin Lian berbinar dengan antusiasme yang tertahan. Jauh di lubuk hatinya, ia sangat ingin memuji kehebatan Qin Mu atas keberhasilannya saat upacara uji spiritual.

Semangatnya selama setengah tahun lebih yang tidak pernah putus asa walaupun ia tertahan di Pembentukan Fondasi tahap pertama... Akhirnya membuahkan hasil dan keberaniannya menghadapi krisis hari ini...

Ia ingin mengatakan betapa bangganya serta bahagianya ia pada pemuda itu...

Namun, saat ia menatap punggung Qin Mu yang berjalan menjauh di bawah keremangan malam, ia sadar bahwa suasana berkabung dan kepedihan ini bukanlah saat yang tepat.

"Tidak apa-apa... Masih ada banyak waktu di masa depan," pikir Qin Lian dengan senyuman lembut.

"Aku akan memujinya dan memberikan semangat kepadanya nanti, pada suasana yang jauh lebih indah dan damai."

Dengan langkah yang terasa lebih ringan dan hati yang penuh pengharapan, Qin Lian berbalik dan berjalan menuju kediamannya di ujung jalan.

Di bawah cahaya rembulan yang dingin, Qin Mu melanjutkan perjalanannya sendirian menuju kediamannya. Beban batang besi hitam meteor di pundaknya terasa berat, tetapi tidak seberat beban tanggung jawab yang kini berada di pundaknya.

Pesan dari Senior Luo Yan dan nasihat dari Tetua Qin Xuanyu terus terngiang di kepalanya, saling bertautan.

"Di dunia kultivasi ini, seseorang tidak akan pernah bisa menjadi kuat jika selalu berlindung di balik punggung orang lain..."

Qin Mu mengepalkan tangannya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang anak berusia 15 tahun yang lemah atau sampah keluarga. Ia bertekad untuk segera mencapai lapisan ranah kultivasi berikutnya, demi melindungi orang-orang yang ia cintai.

***

Sinar matahari pagi menyusup melalui celah-celah jendela, membawa suhu hangat yang kontras dengan dinginnya hati Qin Mu semalam.

Pemuda itu terbangun dengan kelopak mata yang terasa berat. Bayang-bayang rencananya untuk membuat sang ayah bangga di Upacara Uji Spiritual kini terasa seperti mimpi buruk yang jauh.

Seharusnya, kemarin adalah hari di mana seluruh Keluarga Qin membicarakan kejeniusannya yang telah mencapai ranah Spiritual Mendalam. Namun kenyataannya, ayahnya terdiam dalam Meditasi Abadi, dan klan mereka berada di ambang kehancuran.

Qin Mu menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia menoleh ke sudut kamar, berniat melihat Batang Besi Hitam Meteor yang menjadi saksi perjuangannya...

Namun, bukannya pemandangan logam hitam yang dingin, matanya justru menangkap sebuah pemandangan yang tidak masuk akal.

Ada seseorang yang sedang membungkuk di sudut kamarnya, membelakanginya, dengan posisi yang sangat canggung hingga yang terlihat hanyalah bagian belakang tubuhnya...

Alias bokongnya.

"Hah?! Apa-apaan ini?!"

Qin Mu tersentak kaget hingga hampir terjatuh dari tempat tidur.

Sosok itu berbalik perlahan sambil terkekeh ringan. Wajah tua dengan janggut putih tipis itu muncul dengan cengiran lebar.

"Heh, apa kau baru bangun, Mu er?" ujar sosok itu santai.

"P-Paman Futian?! Mengapa Anda ada di sini?"

Qin Mu membelalakkan mata. Ia segera menyadari jendela kamarnya sudah terbuka lebar ketika cahaya matahari pagi masuk kedalam matanya.

"Dan mengapa Anda masuk lewat jendela pagi-pagi buta begini?!"

Chao Futian tidak langsung menjawab. Ia justru mendekati tempat tidur Qin Mu, matanya menatap tajam ke arah dada pemuda itu seolah-olah bisa menembus kulitnya.

"Oh... Jadi kau mempelajari teknik Hawa Tak Kasat Mata milik ayahmu, ya? Pantas saja semalam aura keberadaanmu terasa sangat samar meski kau berada di dekatku," gumam Chao Futian lebih kepada dirinya sendiri.

Qin Mu menyadari, ia memang melatih Hawa Tak Kasat Mata... Tapi mengapa Tetua Kehormatan ini langsung mengetahui nya? Tidak... Ia baru ingat, Tetua Chang juga langsung dapat menembus teknik Hawa Tak Kasat Mata miliknya.

Qin Mu mengernyit seolah bingung. "Hawa Tak Kasat Mata? Apa maksud Anda? Tapi sudahlah... Paman Futian, sebenarnya ada perlu apa Anda datang sepagi ini ke kamar pribadiku? Bukankah Anda seharusnya mengurus obat-obatan di aula medis?"

Chao Futian mendengus, lalu melipat tangan di depan dada.

"Bukankah sudah kukatakan semalam bahwa aku akan berkunjung pagi ini?"

Qin Mu terdiam sejenak, memutar ingatannya tentang kejadian di reruntuhan arena lapangan utama.

"Kapan? Paman sama sekali tidak bicara apa-apa sebelum pergi. Anda hanya diam dan..."

Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul. Qin Mu segera berdiri dan memeragakan kembali gerakan aneh yang dilakukan Chao Futian semalam: menepuk dada dengan gerakan tangan melingkar, lalu menunjuk ke bawah dengan dua jari secara berulang-ulang.

"Gerakan aneh ini... Apa maksudnya?" tanya Qin Mu dengan wajah datar.

Chao Futian menepuk dahinya, merasa bangga dengan kode tangannya sendiri.

"Dasar bodoh! Menepuk dada itu artinya 'Aku', tangan melingkar itu 'Akan', menunjuk ke bawah itu 'Berkunjung', dan dua jari itu adalah simbol matahari terbit alias 'Besok'. Jadi artinya... Aku Akan Berkunjung Besok!"

Wajah Qin Mu seketika menjadi masam. Ia menatap Tetua Kehormatan itu dengan pandangan tidak percaya.

"Paman Futian... Orang waras mana di dunia ini yang akan paham dengan gerakan anehmu itu?!" gerutu Qin Mu kesal.

"Aku mengira Anda menyuruhku untuk jangan memasukkan masalah ini ke dalam hati! Siapa sangka itu adalah janji untuk membobol jendela kamarku pagi-pagi!"

"Hahaha."

"Kau masih terlalu muda Mu er."

Chao Futian tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi frustrasi Qin Mu, seolah-olah duka yang menyelimuti klan semalam sedikit terangkat oleh perdebatan konyol ini...

Namun, perlahan tawa itu mereda, dan tatapan sang Alkemis kembali menjadi serius.

"Sudahlah, lupakan soal jendela itu. Aku ke sini karena ada hal yang lebih penting."

1
Putu Gunastra
seharus nya di cantumkan urutan Kultivasi nya Thor ..di bab2 awal..ato mungkin di bab setelah ini yaa..
Blueria: Terimakasih sudah memberikan saran, sudah author tambahkan tingkatan kultivasi di Chapter 1.😄💪
total 2 replies
T28J
sama sama👍
Blueria: sama-sama👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
yg bnyk tor up ya
Blueria: Siap💪 Gaskan. Vote dan Like ataupun gift agar author tambah semangat 👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
update
Blueria: Besok pagi ya updatenya, author lagi ada kerjaan. Terimakasih udah hadir Kak Roy👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Blueria: Siap, semoga terhibur. 👋😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!