Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Identitas yang Kusimpan
Suara koper beroda yang ditarik terdengar dari arah teras.
"Ma, akhirnya pulang juga!" seru Saras sambil berlari kecil menyambut wanita berusia empat puluhan yang baru masuk ke dalam rumah.
Ranti tersenyum lebar.
"Anak Mama."
Ia langsung memeluk Saras erat, lalu mengusap rambut putri kandungnya itu penuh sayang.
"Kamu kurusan, ya? Selama Mama pergi, kamu makannya gak bener ya?"
Saras tersenyum manja. "Kangen, Ma."
"Kata Mbok Tun, kamu beberapa hari ini sering pulang malam. Jangan kerja terlalu keras."
"Iya, Ma."
Barulah setelah itu Ranti mengalihkan pandangan.
"Oh, Chantika," sapanya dengan nada suara tetap ramah, tetapi jauh lebih datar. "Kamu juga di rumah."
"Iya, Tante," sahut Chantika.
"Kabarnya baik?"
"Baik," jawab Chantika singkat.
Hanya menanyakan kabar. Tak ada pelukan atau usapan kepala. Tak ada pertanyaan apakah ia sudah makan atau kelelahan.
Perhatian Ranti kembali sepenuhnya kepada Saras. "Mama bawain tas yang kemarin kamu minta."
Mata Saras langsung berbinar. "Serius, Ma?"
"Tentu saja."
Ranti membuka salah satu koper dan mengeluarkan sebuah tas bermerek.
"Wah! Makasih, Ma!" Saras langsung memeluk ibunya lagi.
Di sisi lain, Chantika hanya tersenyum tipis. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini.
Sejak ibunya meninggal, Chantika tinggal bersama neneknya di kampung. Setelah Rahardja menikahi Ranti, Saras pun menjadi bagian dari keluarga mereka.
Rahardja baru menjemput Chantika pulang ketika akan melanjutkan ke SMA karena sang nenek meninggal dunia.
Sejak Chantika tinggal di rumah itu, Ranti memang tidak pernah membentak atau berlaku kasar kepadanya. Namun, wanita itu juga tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai anak sendiri.
Perhatian, pelukan, dan kasih sayang selalu diberikan wanita itu kepada Saras. Sedangkan kepada Chantika, yang ada hanyalah keramahan seperlunya
***
Menjelang sore, ponsel baru Chantika bergetar. Keningnya berkerut saat melihat nama yang muncul di layar.
Suamiku.
"Suamiku?" gumamnya pelan. "Percaya diri banget bakal jadi suamiku."
Tanpa sadar, sudut bibir Chantika terangkat tipis sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
"Halo."
"Aku mau ngajak kamu makan malam," ujar Enzo tanpa basa-basi. "Nanti aku jemput ke rumah."
Chantika langsung menggeleng, seolah pria itu bisa melihatnya. "Jangan."
Di seberang sana Enzo terdiam beberapa detik. "Kenapa?"
"Jangan datang ke rumah," larang Chantika.
"Aku tetep mau datang," tegas Enzo. "Aku ingin berkenalan sama keluarga kamu."
Chantika mengembuskan napas pelan. "Ini terlalu cepat."
"Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" lanjut Enzo. "Cepat atau lambat aku juga harus mengenal mereka."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa melarangku?"
Chantika terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, "Karena aku belum ingin keluargaku tahu kalau kamu seorang CEO."
Enzo yang duduk di kursi kerjanya mengernyit. "Kenapa?"
"Masalah semalam belum selesai." Nada suara Chantika berubah lebih serius. "Aku masih menyelidiki siapa yang meracuniku."
Enzo mendengarkan tanpa menyela.
"Aku bahkan belum yakin..." Chantika berhenti sejenak. "Apakah ada pengkhianat di keluargaku sendiri."
Tatapan Enzo langsung berubah tajam. "Kau mencurigai keluargamu?"
"Aku gak mau nuduh siapa pun tanpa bukti. Itu sebabnya aku harus berhati-hati."
Chantika mengembuskan napas pelan.
"Kalau keluargaku tahu calon suamiku adalah CEO perusahaan besar, orang yang memang punya niat buruk bisa saja mengubah rencana mereka. Atau malah mulai mendekat karena uang dan jabatanmu."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Hingga akhirnya suara helaan napas Enzo terdengar.
"Aku mengerti," ucap Enzo akhirnya. "Jadi, aku harus gimana?"
"Kalau mau datang, datang saja sebagai pria biasa."
"Maksudmu?"
"Kalau Papa nanya pekerjaanmu..." Chantika tersenyum tipis. "Cukup bilang kamu bekerja di perusahaan ekspor-impor."
Enzo mengangkat sebelah alis. "Gak usah bilang aku CEO?"
"Tidak."
"Berarti aku harus menyembunyikan identitasku?"
"Bukan menyembunyikan." Chantika mengoreksinya tanpa terburu. "Hanya belum waktunya."
Enzo tersenyum kecil. "Ternyata istriku cukup licik."
Chantika mendengus pelan. "Itu namanya strategi."
Enzo terkekeh. "Baiklah, Bu Polisi. Malam ini CEO Arkana Global Logistics akan jadi pria biasa.
"Terima kasih."
"Tapi..." suara Enzo kembali terdengar. "Kalau nanti ayahmu bertanya terlalu jauh?"
Chantika berpikir sejenak. "Jawab seperlunya aja."
"Oke."
"Aku percaya padamu."
Kalimat sederhana itu membuat senyum Enzo semakin lebar. "Kalau begitu, selesai makan malam nanti..."
Enzo menggantung kalimatnya.
"Hm?"
"Bilang saja kamu ada tugas mendadak," kata Enzo.
Chantika memicingkan matanya. "Kenapa?"
"Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu." Suara Enzo terdengar rendah dan lebih berat.
Tiba-tiba pipi Chantika bersemu merah. Suara itu mengingatkan ia pada keintiman mereka semalam dan tadi pagi.
"Jangan macam-macam." Chantika memperingati. "Kita belum menikah."
"Nanti juga nikah."
"Kalau gitu nanti. Tunggu setelah kita nikah," tegas Chantika.
"Oke, oke. Kamu siap-siap aja. Nanti aku jemput."
"Hum."
Telepon pun berakhir. Chantika menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang.
"Semoga keputusanku benar. Sampai aku tahu siapa kawan dan siapa lawan... identitas Enzo harus tetap menjadi rahasia."
Chantika melangkah menuju balkon kamarnya.
Tanpa sengaja, ia melihat Ranti sedang berdiri di taman sambil berbicara melalui telepon.
Pemandangan itu membuat ingatannya kembali melayang pada kejadian setahun lalu.
Malam itu, pelayan rumah yang biasa mengantarkan susu untuk Saras tiba-tiba sakit perut.
Karena kebetulan sedang tidak sibuk, Chantika menggantikan tugasnya.
Namun, siapa sangka langkahnya justru terhenti di depan pintu ruang kerja yang sedikit terbuka ketika mendengar percakapan di dalam.
"Pa," suara ibu tirinya terdengar pelan. "Chantika itu polisi, sedangkan Alex calon CEO. Mama rasa mereka kurang serasi."
Rahardja mengangkat wajahnya. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana kalau Alex dijodohkan dengan Saras saja?"
Saat itu Chantika tidak terlalu memikirkannya. Ia memang belum berniat menikah dan lebih memilih fokus pada kariernya sebagai polisi.
Beberapa hari kemudian, Alex bersama keluarganya datang ke rumah untuk membicarakan perjodohan.
Sejak pertama kali memasuki rumah, Alex beberapa kali diam-diam mencuri pandang ke arah Chantika.
Hingga akhirnya Rahardja menyampaikan bahwa putri yang akan dijodohkan dengannya adalah Saras.
Alex justru menolak.
"Maaf, Pak Rahardja." Suaranya terdengar mantap. "Kalau pernikahan ini tetap dilanjutkan, saya hanya bersedia menikah dengan Nona Chantika."
Suasana ruang tamu seketika berubah hening.
Ranti segera menyela. "Tapi Chantika masih ingin fokus pada kariernya. Lagi pula dunia bisnis dan penegak hukum sangat berbeda."
Namun, Alex tetap pada pendiriannya. "Saya menghormati keputusan Nona Chantika. Kalau beliau menolak, saya juga akan menolak perjodohan ini."
Pada akhirnya, kedua keluarga sepakat memberikan waktu hingga Chantika siap, dan jika perjodohan itu benar-benar terlaksana, maka Alex akan menikah dengan Chantika.
Namun, takdir berkata lain.
Dalam perjalanan pulang malam itu... Mobil yang ditumpangi Alex mengalami kecelakaan. Pria itu meninggal di tempat.
Ingatan itu membuat Chantika mengembuskan napas panjang. Kini ia semakin yakin dengan keputusannya.
"Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang. Sampai semuanya jelas... lebih baik identitas Enzo sebagai CEO tetap menjadi rahasia."
...🔸🔸🔸...
..."Kadang, menyembunyikan bukan berarti berbohong. Kadang itu adalah cara paling bijaksana untuk menjaga seseorang dari orang-orang yang belum pantas mengenalnya."...
..."Kepercayaan bukan dibangun dari seberapa cepat kita membuka semua kartu, melainkan dari kebijaksanaan memilih mana yang harus diungkap dan mana yang harus menunggu waktu."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.