NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERETA SENJA MENUJU MATARAM

Langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga keunguan saat Zaid dan Khadijah tiba di Stasiun Gambir. Sesuai janji Zaid, mereka berangkat sore itu setelah kelas terakhir usai. Zaid tampak berbeda; jaket kulit kebanggaannya digantikan oleh kemeja koko modern berwarna abu-abu gelap yang dipadukan dengan celana kain hitam, memberikan kesan rapi namun tetap maskulin. Di sampingnya, Khadijah berjalan anggun dengan gamis berwarna senada, cadarnya terpasang rapi, menyembunyikan senyum bahagia yang sejak tadi tak kunjung pudar.

"Mas Zaid yakin tidak apa-apa meninggalkan teman-teman geng motor Mas?" tanya Khadijah saat mereka duduk di ruang tunggu eksekutif.

Zaid menoleh, lesung pipinya muncul sekilas. "Biarkan saja. Haikal bisa mengurus mereka. Lagipula, sesekali mereka harus belajar hidup tanpa ketua yang 'berandalan' ini, kan?"

Khadijah terkekeh pelan. Ia merasa Zaid mulai bisa menertawakan label yang selama ini melekat padanya. Perjalanan kali ini terasa sangat spesial bagi Khadijah; ini adalah momen pertamanya pulang ke rumah orang tuanya sebagai seorang istri, dan ia membawa pria yang dulu hanya bisa ia kagumi dari kejauhan.

Di dalam gerbong kereta eksekutif yang nyaman, keheningan menyelimuti mereka berdua. Zaid duduk di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai menjauh. Khadijah di sampingnya tampak sibuk dengan buku catatan kecil, sesekali bibirnya bergerak tanpa suara, rupanya ia sedang mengulang hafalan surahnya.

"Khadijah," panggil Zaid pelan.

Khadijah menutup bukunya dan menoleh. "Iya, Mas?"

"Kenapa kamu dulu mengagumi Bang Farhan?" pertanyaan itu akhirnya keluar. Selama ini Zaid hanya menduga-duga, namun melihat Khadijah yang begitu setia pada wasiat sang kakak, rasa penasaran itu tak tertahankan.

Khadijah terdiam sejenak, menatap jemarinya sendiri. "Karena Kak Farhan adalah cerminan dari apa yang saya pelajari dalam Al-Quran. Dia sopan, menjaga pandangan, dan sangat menghormati wanita. Bagi gadis seperti saya yang tumbuh di lingkungan pesantren, dia adalah sosok ideal."

Zaid mendengus pelan, ada rasa sesak yang aneh. "Lalu sekarang kamu malah dapat aku. Jauh dari ideal, kan?"

Khadijah tersenyum di balik cadarnya, matanya menyipit manis. "Ideal menurut manusia belum tentu terbaik menurut Allah, Mas. Kak Farhan adalah masa lalu yang saya kagumi, tapi Mas Zaid adalah masa depan yang saya pilih untuk saya cintai. Mas mungkin tidak seperti Kak Farhan, tapi Mas punya keberanian untuk berubah. Itu jauh lebih berharga bagi saya."

Zaid tertegun. Ia meraih tangan Khadijah dan menggenggamnya erat di bawah tutupan jaket yang ia sampirkan di pangkuan mereka. Ucapan Khadijah bukan sekadar penghibur, tapi sebuah pengakuan yang membuat Zaid merasa benar-benar diterima sebagai dirinya sendiri.

Kereta tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta saat fajar mulai menyingsing. Udara Jogja yang tenang dan beraroma tanah basah menyambut mereka. Di pintu kedatangan, seorang pria paruh baya dengan sorban rapi dan wajah yang teduh melambaikan tangan. Itu adalah Habib Abdullah, ayah Khadijah.

"Assalamu’alaikum, Bah!" Khadijah berlari kecil dan langsung mencium tangan ayahnya dengan penuh kerinduan.

"Wa’alaikumussalam, mutiara Abah..." Habib Abdullah memeluk putrinya sejenak, lalu matanya beralih pada sosok pemuda di belakang Khadijah.

Zaid maju dengan langkah kaku. Ia merasa sangat terintimidasi oleh aura kesalehan ayah mertuanya. Namun, saat ia mengulurkan tangan untuk mencium tangan Habib Abdullah, pria tua itu justru menarik Zaid ke dalam pelukan hangat seorang ayah.

"Zaid Al-Idrus... putra sahabatku Umar. Selamat datang di rumah, Nak," bisik Habib Abdullah tulus.

Sepanjang perjalanan menuju rumah mereka di daerah Krapyak, Zaid hanya banyak diam, mendengarkan percakapan hangat antara ayah dan anak. Ia merasa asing namun sekaligus merasa damai. Sesampainya di rumah, Ummah Khadijah sudah menunggu di depan pintu dengan air mata bahagia.

"Anakku..." Ummah memeluk Khadijah lama, lalu beralih menatap Zaid. "Zaid, terima kasih sudah menjaga Khadijah dengan baik. Kamu terlihat sangat mirip dengan ayahmu waktu muda."

Kamar lama Khadijah masih tertata rapi. Aroma buku dan minyak wangi khas pesantren memenuhi ruangan. Zaid duduk di atas karpet, menatap rak buku Khadijah yang penuh dengan kitab-kitab tebal.

Khadijah masuk membawa nampan berisi teh hangat dan camilan. Ia sudah melepas cadarnya. Di rumah ini, di depan suaminya, ia merasa benar-benar bebas.

"Zaid, apa kamu betah di sini? Rumah ini tidak semewah rumah di Jakarta," ujar Khadijah cemas.

Zaid menarik tangan Khadijah agar duduk di sampingnya. "Rumah ini punya sesuatu yang nggak ada di Jakarta, Khadijah."

"Apa itu?"

"Ketenangan. Dan wajah kamu yang nggak pernah berhenti tersenyum sejak kita sampai," jawab Zaid jujur.

Zaid memperhatikan Khadijah yang sedang menuangkan teh. Lampu kamar yang kuning temaram menyinari wajahnya, membuatnya tampak seperti lukisan indah. Zaid teringat ciuman mereka di dapur kemarin ciuman yang masih menyisakan debar di jantungnya.

"Khadijah..." Zaid memajukan wajahnya.

"Iya, Ma—"

Belum sempat Khadijah menyelesaikan panggilannya, Zaid sudah menariknya perlahan. Namun, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

"Khadijah, Zaid... turunlah sebentar. Ada tamu, paman-pamanmu ingin menyapa suami baru keponakan mereka!" suara Habib Abdullah terdengar dari luar.

Zaid menghela napas panjang, sementara Khadijah tertawa kecil melihat ekspresi suaminya yang kembali 'terganggu' oleh keadaan.

"Sabar ya, Mas Pangeran," goda Khadijah sambil memasang kembali hijabnya.

Zaid tersenyum pasrah. "Sepertinya di Jogja pun kamu harus antre untuk mendapatkan waktu bersamamu."

Malam itu, Zaid tidak hanya bertemu dengan keluarga besar Khadijah, tapi ia mulai memahami mengapa istrinya begitu istimewa. Akar yang kuat di tanah ini telah membentuk Khadijah menjadi wanita luar biasa, dan Zaid berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pelindung terbaik bagi akar tersebut.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!