NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Main Hakim Sendiri

Cahaya pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, cahaya itu berhasil membentuk garis tepat di wajah Kaivandra, belum juga puas dengan tidurnya, sudah harus bangun dan kembali ke rutinitas yang sama. Aroma khas dari dalam kamarnya, berhasil menambah kesan hangat.

Guling berserakan, dengan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya, seakan mengajaknya untuk menikmati pagi yang cerah ini. Tidak lama dari situ, suara panggilan dari ponselnya pun mulai terdengar nyaring.

“Iya Ma, bentar lagi abang turun,” jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.

“Cepat ya, Nak. Nanti makanannya keburu dingin, jangan lama-lama mandinya,”

“Okay cantiknya abang.”

Kaivandra tidak langsung bangun dari tempat tidurnya, dia malah kembali tidur dengan selimut yang sudah melingkar hangat di tubuhnya.

20 menit kemudian, suara pintu terbuka, tapi tidak mengusik ketenangan tidur Kaivandra. Delina menggeleng-gelengkan kepala heran, selalu saja begini, kebiasaan putra sulungnya tak pernah berubah sejak dulu.

“Kai bangun,”

Delina membuka gorden, kemudian mendorong jendela agar ada pergantian udara yang masuk ke dalam kamarnya. Ia mendekat ke arah gumpalan selimut dan mengelusnya perlahan.

“Eunghh … Mama,” Kaivandra melenguh, tanpa berniat membuka matanya.

“Abang Kai, hari ini ada meeting kan?”

Sontak, Kaivandra pun langsung terduduk tapi dalam kondisi mata tertutup.

“Ya Tuhan, ini mata dikasih liur jin apa gimana ya? Kok sepet banget nih mata kalau dibuka, mau tidur untuk beberapa hari ke depan,” celotehannya berhasil membuat sang mama tertawa.

Hendak mengucek matanya, tapi langsung ditepis oleh Delina.

“Kenapa lagi, Mama?”

“Jangan dikucek ah, nanti matanya merah.”

“Bangun, mandi, sarapan, itu Papa sama adek udah nunggu di meja makan,” jelas Delina, lalu meninggalkan putranya.

“Yang kerja bisa si bocil aja gak? Kan dia morning person banget.” Gerutu Kaivandra. Meski demikian, dia masih tetap melaksanakan printah dari mama tercintanya.

***

Sekitar pukul 08.30 pagi, jalanan yang biasanya masih sedikit lengang mulai dipenuhi kendaraan. Deretan mobil mengular di sepanjang Jalan Senopati, sesekali diselingi bunyi klakson yang saling bersahutan.

Pagi ini matahari terasa hangat, sementara di luaran sana ada orang-orang yang berlari demi mengejar waktu agar lebih cepat sampai di tempat kerja.

Di tengah kepadatan itu, suasana pun mendadak berubah mencekam.

"Woi! Copet!"

Teriakan nyaring yang lokasinya tidak jauh dari mobil Kaivandra, berhasil membelah

hiruk-pikuk jalanan. Dalam hitungan detik, atensi para pengendara langsung tertuju ke arah seorang pria berjaket cokelat lusuh yang berlari dengan napas terengah-engah.

Beberapa orang mengejarnya, sementara yang lain berusaha menghadang langkah pria itu hingga tubuhnya persungkur di tengah jalan.

Kaivandra yang sedang menunggu rambu lalu lintas berubah hijau ikut menurunkan kaca mobil untuk melihat lebih jelas. Dari jarak yang tak jauh darinya, ia pun dapat merasakan bahwa kerumunan di depan sana kian membesar.

"Ada apa itu?" gumamnya pelan.

Belum sempat mencari tahu lebih jauh, seorang ibu berteriak sambil menunjuk pria berjaket cokelat lusuh.

"Copet! Tas saya diambil!"

Ucapannya seakan menjadi pemantik amarah pengendara yang hendak berangkat kerja. Tanpa berpikir panjang, beberapa orang langsung melayangkan pukulan. Satu demi satu, tendangan demi tendangan, berhasil menghantam tubuh pria itu tanpa ampun.

Brak!

Sebuah tendangan keras mengenai perutnya hingga tubuhnya kembali terjatuh.

BRAK!

Dan kali ini dia hanya mampu meringkuk di atas aspal, melindungi kepala dengan kedua tangan sambil sesekali mengerang kesakitan.

"Tolong ... ampuni saya ..."

Namun, tak ada seorang pun yang menggubris perkataannya itu. Mereka sudah tersulit emosi hingga lupa kendali. Beberapa pengendara bahkan ikut turun dari motor hanya untuk melampiaskan amarahnya.

Kaivandra mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras melihat pemandangan di depan mata, dan tanapa ba-bi-bu, ia mematikan mesin mobil, menutup kaca jendela, kemudian turun menghampiri kerumunan.

Dia jalan tergesa sampai tidak peduli dengan jas yang dikenakannya, boleh jadi akan kusut. Meeting kali ini akan sedikit telat, tapi memberikan seseorang dipukuli hingga lemah tak berdaya bukanlah pilihan.

"Apa-apaan ini?!" pertanyaan demikian berhasil membuat mereka kicep.

Tegas. Nyaring. Berpakaian rapi, didukung oleh postur tubuh yang ideal.

"Ini pasti orang have," ucap salah satu penumpang sepeda motor kepada temannya.

"Berhenti!" serunya lantang, kali ini suaranya membuat beberapa orang menoleh.

"Cukup! Kalau memang dia bersalah, kalian tidak berhak memukulinya!"

Sebagian orang mulai menghentikan pukulannya, tetapi masih ada yang menggerutu kesal.

"Dia copet, Pak! Biar kapok!"

"Kalau ingin dia dihukum, serahkan ke polisi," balas Kaivandra tegas.

"Jangan main hakim sendiri." Lanjutnya mulai tenang.

Menurutnya, tindakan mencuri memang harus dipertanggung jawabkan. Namun, membalas kejahatan dengan kekerasan hanya akan melahirkan pelaku baru. Hukum ada agar setiap orang mendapatkan proses yang adil, bukan dihukum berdasarkan emosi sesaat.

"Ini kalian marah karena tas ibu itu dicopet, atau kalian sedang melampiaskan amarah pribadi pada orang yang gak kalian kenali?"

Diam. Semua orang orang yang ada di sana tidak ada yang berani menjawab. Beberapa memang ada yang tersindir, dia bukan marah pada pencuri, tapi dia marah pada dirinya sendiri sehabis dimarahi atasan, istri, atau pada takdir yang membuatnya seperti ini.

Beberapa menit kemudian, suara sirene polisi terdengar mendekat. Dua orang petugas segera menerobos kerumunan dan mengamankan pelaku.

"Pak, tolong segera bawa dia ke kantor polisi," ujar Kaivandra.

Salah seorang polisi mengangguk.

"Terima kasih sudah membantu menenangkan warga."

Kaivandra hanya mengangguk pelan. Setelah memastikan situasi benar-benar kondusif, ia kembali masuk ke dalam mobil.

Kaivandra melirik jam yang melingkar rapi di tangan sebelah kirinya. "Sial ... telat dua puluh menit."

***

Meeting telah dimulai lebih lama dari biasanya. Selama presentasi berlangsung, kejadian tadi pagi masih memenuhi isi kepalanya. Kali ini Kaivandra tidak terlalu fokus hingga harus banyak bertanya mengenai pembahasan yang baru saja disampaikan.

Baru sekitar pukul 13.30, meeting khirnya selesai.

Kaivandra ke luar dari ruang meeting sambil melonggarkan dasinya. Kepalanya terasa berat, ditambah dengan matanya yang mulai lelah, bukan hanya karena pembahasan meeting yang terlalu berat, melainkan karena kejadian tadi pagi yang belum juga hilang dari pikirannya.

Sesampainya di ruangan, ia langsung mengambil segelas air dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Setelah itu, tubuhnya dijatuhkan ke sofa di sudut ruangan. Kaivandra memejamkan mata sejenak, berharap rasa lelahnya sedikit berkurang.

"Makasih ya, Mbak."

Suara perempuan itu membuat Kaivandra terbangun.

Di depan pintu, Prisha berdiri sambil membawa dua kantong makanan dan segelas kopi. Senyum kecil menghiasi wajahnya.

Pagi tadi, Prisha memang sempat menghubunginya. Hari ini ia tidak memiliki jadwal koas sehingga memutuskan datang ke kantor untuk menemaninya makan siang.

"Kai ..."

Prisha menghampiri sofa.

"Kamu kenapa? Kelihatan capek banget."

Kaivandra duduk perlahan, lalu tersenyum tipis.

"Duduk sini."

Prisha menaruh makanan di atas meja sebelum duduk tepat di sampingnya.

"Kamu udah makan siang, Sayang?" tanya Kaivandra.

Prisha menggeleng lembut.

"Belum. Aku kan mau makan siang di sini, bareng kamu."

Kaivandra tersenyum kecil, lalu mengelus pipi kekasihnya.

"Harusnya aku yang nungguin kamu."

"Lah, kamu sendiri udah makan?"

Kaivandra ikut menggeleng diakhiri dengan kekehan ringan. Sama saja ternyata.

"Belum sempat."

Prisha menghela napas pelan. Andai kalau Valeska masih ada, mungkin dia akan kena marah karena abangnya ini selalu lupa makan, terlebih saat sibuk.

"Valeska tahu, kamu kena marah lho. Lain kali gak boleh kayak gini, nanti perutnya sakit. Mau perutnya sakit? Jawab, bulan malah senyum Kaivandra Girga."

Kaivandra tertawa kecil mendengar omelan lembut itu. Tatapannya kemudian berubah sendu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!