Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisik-bisik
Suasana di dalam aula utama istana sudah sangat ramai dan meriah jauh sebelum rombongan tiba. Lampu kristal yang tergantung tinggi memancarkan cahaya keemasan yang menyebar ke seluruh ruangan, menerangi lantai marmer yang berkilau dan dinding yang dihiasi ukiran indah. Musik lembut mengalun pelan, namun tidak cukup menutupi bisik-bisik dan percakapan yang terdengar dari setiap sudut.
Di satu sisi ruangan, sekelompok wanita bangsawan berdiri berkerumun, sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan tatapan yang penuh sindiran.
“Kau tahu kan kenapa banyak yang tidak setuju?” bisik seorang wanita sambil memutar gelas anggurnya. “Memang dia putri dari Duke Volkov, jadi keturunannya tidak bisa dianggap remeh, tapi siapa yang tidak ingat bagaimana kelakuannya selama ini?”
“Benar sekali,” sambung temannya dengan nada mengejek. “Dulu dia terkenal sangat agresif mengejar Putra Mahkota. Ke mana pun Pangeran Thiago pergi, dia selalu ada di belakangnya, terus memuji, memohon perhatian, bahkan sampai membuat suasana tidak nyaman. Banyak yang bilang dia hanya terobsesi, bukan benar-benar dicintai.”
“Mungkin saja dia memakai cara licik atau memanfaatkan nama besar ayahnya, Duke Volkov, agar bisa dipilih,” tambah yang lain.
“Mana ada wanita terhormat yang berani mengejar laki-laki seberani itu? Rasanya tidak pantas dia berdiri di posisi setinggi ini.”
Rasa iri pun menyelimuti banyak hati. Mereka merasa posisi itu seharusnya jatuh ke tangan keluarga yang lebih halus dan memiliki hubungan lebih dekat dengan istana, bukan pada Bellatrix yang memiliki reputasi buruk karena sifatnya yang dulu terlihat terlalu memaksa.
Di sudut aula yang lain, terlihat Lady Eleanor, putri dari Count Valdo. Wajahnya berusaha terlihat tenang, namun matanya memerah menahan rasa kesal. Beberapa kerabat dan temannya berdiri mengelilinginya, mencoba menghiburnya sambil ikut merendahkan Bellatrix.
“Sudahlah, Eleanor, jangan dipikirkan,” ujar salah satu wanita tua dengan nada menenangkan. “Kita semua tahu dulu kabarnya sudah tersebar luas bahwa kau sering ditemani Putra Mahkota, dan banyak yang mengira dialah yang akan dipilih. Siapa sangka justru gadis yang dulu terkenal berusaha keras mengejar-ngejarnya itu yang maju ke depan.”
“Memang benar,” tambah yang lain.
“Mungkin saja Putra Mahkota hanya terjebak, atau dia hanya memilihnya karena takut membuat marah Duke Volkov. Ingat saja, dulu semua orang menertawakan bagaimana Bellatrix terus mengikuti dan memohon perhatiannya. Posisi itu tidak akan bertahan lama. Suatu hari nanti, dia akan terungkap sifat aslinya dan jatuh kembali ke tempat asalnya.”
Eleanor mengangguk pelan, lalu mengangkat wajah sedikit memaksakan senyum. “Terima kasih atas dukungan kalian. Aku hanya menunggu dan melihat saja. Jika dia memang pantas, biarkan dia membuktikannya.”
Di luar pintu besar yang tertutup, Bellatrix bisa mendengar samar bisikan-bisikan itu. Ia sudah tahu betul apa yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Semua cerita tentang dirinya yang dulu agresif mengejar Thiago, yang kini menjadi alasan utama mereka mencibir dan meragukannya. Dia tersenyum miring mendengar itu.
Di sisinya, Thiago berdiri gagah, tangannya menggenggam lembut lengan Bellatrix. Sedikit di belakang, Cedric dan Bianca sudah terbiasa menyebutnya dengan panggilan yang akrab.
“Kak Bellatrix, jangan hiraukan omongan mereka,” ujar Cedric dengan nada mendukung. “Mereka hanya menilai dari apa yang mereka dengar dulu, belum melihat bagaimana Kakak berubah sekarang.”
“Iya,” tambah Bianca setuju. “Dulu mungkin memang begitu kabarnya, tapi sekarang semua akan berbeda. Biarkan lelaki di samping kakak menjawab semua tuduhan mereka.”
Bellatrix menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya. “Aku tahu. Dulu memang aku yang mulai mendekat, dulu memang aku yang terlihat terlalu keras mengejarnya. Tapi sekarang posisinya sudah berubah. Aku tidak perlu membela diri dengan kata-kata, cukup tunjukkan saja kenyataannya.”
Thiago meremas lengan Bellatrix sedikit, matanya penuh keyakinan. “Jangan pikirkan apa-apa. Lakukan saja apa yang menurutmu benar, aku akan selalu ada di belakangmu.”
Bellatrix menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. “Ya.”
Pintu besar aula utama terbuka lebar, dan suara pengumuman yang lantang serta jelas menggema ke seluruh penjuru ruangan, menembus dentingan gelas dan bisikan para tamu:
“Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado, dan calon pendamping takhta, Putri Mahkota Bellatrix Alexandra Volkov memasuki ruangan!”
Begitu nama-nama itu disebutkan, seketika seluruh ruangan menjadi hening seketika. Semua kepala menoleh serentak ke arah pintu masuk, dan ratusan pasang mata tertuju pada sosok yang baru saja melangkah masuk.
Thiago berjalan di sisi Bellatrix dengan sikap gagah dan berwibawa. Rambut pirang keemasannya berkilau terkena cahaya lampu kristal, dan matanya yang berwarna biru gelap memancarkan kewibawaan yang menenangkan sekaligus menuntut rasa hormat. Di sampingnya, Bellatrix melangkah dengan tenang dan percaya diri. Gaun berwarna biru laut yang dikenakannya berkilau bagai permata, rambut biru terangnya tersusun rapi namun tetap memancarkan keindahan alami, dan matanya yang sejernih air danau memandang lurus ke depan tanpa ragu sedikit pun.
Namun meskipun kehadiran mereka memukau pandangan mata, di balik keheningan itu tersembunyi berbagai perasaan yang berkecamuk. Rasa iri, keraguan, penasaran, dan ketidakpercayaan masih membayangi hati banyak orang. Mereka masih mengingat cerita lama: Bellatrix, putri dari Duke Volkov, yang dulu dikenal sangat agresif mengejar-ngejar Putra Mahkota ke mana pun ia pergi, yang dianggap hanya memaksakan kehendak dan memanfaatkan pengaruh ayahnya untuk mendapatkan posisi yang diidamkan banyak wanita bangsawan.
Upacara perkenalan pun segera dimulai. Berjalan sesuai protokol yang telah ditetapkan sejak lama. Kaisar dan Permaisuri memberikan sambutan resmi, menyampaikan bahwa pertunangan ini telah disetujui dan menjadi keputusan yang mengikat, demi kebaikan dan kestabilan kekaisaran. Para pejabat tinggi dan kepala keluarga bangsawan kemudian maju satu per satu untuk memberi hormat dan mengucapkan selamat. Secara lahiriah, semuanya berjalan lancar, tertib, dan teratur. Tidak ada gangguan, tidak ada suara yang mengganggu jalannya acara resmi.
Namun setelah bagian inti selesai dan suasana berubah menjadi lebih santai, di mana para tamu bebas berkeliling, berbincang, dan menikmati hidangan yang disajikan, ketegangan yang selama ini terpendam mulai perlahan muncul ke permukaan.
Thiago sebagai tuan rumah harus memenuhi kewajibannya. Ia melangkah meninggalkan Bellatrix sebentar untuk menyapa dan berbincang dengan Raja dari wilayah Selatan beserta rombongannya, membahas hal-hal penting mengenai hubungan antarwilayah dan keamanan kekaisaran. Meskipun sedang berbicara dengan orang lain, matanya sesekali melirik ke arah Bellatrix, seolah tidak ingin membiarkannya terlalu lama sendirian di tengah keramaian yang penuh pandangan tajam. Bahkan gerak tubuhnya pun terlihat seperti ingin segera menyelesaikan percakapan itu agar bisa kembali mendekat ke sisi Bellatrix. Hal yang justru diamati dan salah ditafsirkan oleh banyak orang.
“Lihatlah itu,” bisik seorang wanita bangsawan kepada temannya, matanya melirik ke arah Thiago. “Bahkan saat sedang berbicara dengan tamu penting, matanya tidak lepas darinya. Sepertinya dia yang terus-menerus mengawasi atau bahkan mengejar gadis itu, bukan sebaliknya. Tapi tentu saja, siapa yang percaya? Dulu semua orang melihat Bellatrix yang terus mengikuti dia ke mana-mana.”
“Mungkin dia hanya merasa terikat karena perjanjian, bukan karena suka,” jawab temannya dengan nada meremehkan. “Lihat saja nanti, begitu kesempatan terbuka, sifat aslinya akan keluar.”
Di tengah bisikan-bisikan yang mulai menyebar, suasana menjadi semakin memanas. Berbagai komentar mulai terdengar lebih keras, lebih berani, dan lebih menusuk.
“Benar saja, posisinya tidak membuatnya dihormati. Banyak yang bilang dia hanya berhasil merebut hati Putra Mahkota dengan cara-cara yang tidak terpuji.”
“Dulu Lady Eleanor dari keluarga Count Valdo sudah dianggap sebagai calon yang paling tepat. Mereka sering terlihat bersama, dan kabarnya sudah ada kesepakatan tidak resmi. Lalu tiba-tiba Bellatrix muncul dan mengambil alih segalanya.”
“Pantas saja Eleanor terlihat sedih dan kecewa. Siapa yang tidak akan sakit hati jika posisi yang seharusnya menjadi miliknya dirampas begitu saja oleh orang lain?”
Provokasi itu terus berulang, berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, sampai akhirnya sampai pula ke telinga Bellatrix. Ia berdiri sendirian sejenak di dekat meja hidangan, mendengar setiap kata yang dilontarkan dengan nada menyindir dan meragukan. Wajahnya tetap tenang, namun matanya menyipit perlahan, menyimpan ketenangan yang justru membuatnya terlihat lebih berbahaya. Ia tahu ini hanyalah awal. Jika ia diam saja, tuduhan itu akan semakin kuat dan menyebar luas, menjatuhkan harga dirinya serta nama baik keluarga Volkov.
Dan saat itulah, Lady Eleanor memutuskan untuk melangkah maju. Dengan wajah yang dibuat terlihat sedih, mata yang sedikit berkaca-kaca seolah menahan tangis, dan langkah yang terasa gontai seolah hatinya sedang terluka parah, ia mendekati Bellatrix, diiringi oleh beberapa kerabat dan pendukungnya yang sengaja mengikuti dari belakang.
Begitu tiba di hadapan Bellatrix, Eleanor berhenti, lalu menundukkan kepalanya seolah memberi hormat, namun suaranya terdengar cukup keras agar didengar oleh orang-orang di sekitar mereka:
“Yang Mulia Putri Mahkota… maafkan saya jika kehadiran saya mengganggu. Saya hanya ingin mengucapkan selamat, meskipun jujur saja, rasanya sangat berat bagi saya untuk melakukannya.”
Bellatrix menatapnya dengan tenang, tanpa ekspresi yang berubah sedikit pun. “Terima kasih. Jika ada hal yang ingin kau sampaikan, katakan saja.”
Mendengar tanggapan itu, Eleanor mengangkat wajahnya sedikit, membiarkan air mata yang sudah siap menetes mengalir perlahan di pipinya, menciptakan pemandangan seolah ia adalah pihak yang paling menderita.
“Yang Mulia… mungkin orang lain hanya mendengar kabar yang tidak jelas, tapi saya tahu kenyataannya. Dulu, hubungan saya dengan Yang Mulia Putra Mahkota sudah terjalin cukup dekat. Banyak orang yang mengira, bahkan berharap, bahwa saya yang akan berdiri di posisi ini. Lalu tiba-tiba Anda datang, dan dalam waktu singkat, semuanya berubah. Orang-orang bilang Anda merebut dia dari saya, dan saya pun merasa… seolah-olah kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik saya direnggut begitu saja.”
Suara Eleanor terdengar bergetar, seolah penuh rasa sakit, dan langsung menarik perhatian banyak orang yang berada di sekitar mereka. Kerumunan mulai berkumpul, ingin melihat apa yang akan terjadi. Bisikan-bisikan mulai mendukung Eleanor, merasa kasihan pada gadis yang dianggap menjadi korban.
“Lihatlah, dia pun mengakuinya. Memang benar Bellatrix yang merebut posisi itu.”
“Kasihan sekali Eleanor, dia pasti sangat terluka.”
“Bagaimana mungkin Putri Mahkota bisa bertindak seperti itu? Pantas saja dulu dia dikenal agresif.”