"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Konfrontasi Dewan Direksi
Pesawat jet pribadi Mahendra Group mendarat di Jakarta saat malam telah larut. Viona langsung dibawa kembali ke penthouse lantai tiga puluh enam di bawah pengawalan ketat. Arkan tidak ikut pulang ke penthouse malam itu. Pria itu langsung menuju kantor pusat bersama Baskara, menenggelamkan diri dalam persiapan menghadapi rapat darurat dewan direksi yang akan menentukan masa depan posisinya sebagai CEO.
Keesokan paginya, tepat pukul 07.45, atmosfer di lantai paling atas Gedung Mahendra Group terasa sangat mencekam. Ruang rapat utama yang berkapasitas tiga puluh orang itu sudah terisi hampir penuh oleh para pemegang saham dan jajaran direksi senior.
Tepat pukul delapan, pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Arkan Mahendra melangkah masuk dengan setelan jas hitam tiga potong yang sangat rapi. Aura dominasi mutlak yang dingin menguar dari tubuh tegapnya, membuat beberapa direktur senior yang tadinya berbisik-bisik langsung membungkam mulut mereka.
Namun, perhatian Arkan langsung tertuju pada kursi komisaris utama di ujung meja panjang. Di sana, Nyonya Sofia Mahendra sudah duduk dengan anggun. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun formal berwarna hitam pekat dengan bros berlian besar di dadanya, memancarkan wibawa aristokrat yang tak tergoyahkan. Di sampingnya, duduk Tuan Wijaya—ayah Clarissa—yang menatap Arkan dengan pandangan penuh permusuhan akibat pembatalan pertunangan sepihak tempo hari.
Arkan tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Dia berjalan mantap menuju kursi CEO di kepala meja, lalu mendudukkan diri dengan gerakan tenang namun mengintimidasi. Baskara segera berdiri di belakangnya, memegang berkas-berkas digital.
"Selamat pagi, para anggota dewan," suara bariton Arkan menggema rendah, memecah keheningan ruangan. "Saya tahu agenda rapat darurat hari ini diajukan oleh Komisaris Utama terkait pembekuan beberapa proyek investasi dengan Wijaya Corps. Silakan, Ibu. Sampaikan keberatan Anda."
Nyonya Sofia menegakkan punggungnya, menatap putra kandungnya sendiri dengan sepasang mata yang dingin dan tajam. "Arkan, sebagai CEO, tindakanmu membatalkan kerja sama bisnis dan rencana aliansi keluarga dengan Wijaya Corps adalah keputusan emosional yang sangat tidak profesional. Tindakanmu telah menyebabkan saham Mahendra Group berfluktuasi dan merugikan para pemegang saham di meja ini."
Tuan Wijaya ikut menggebrak meja dengan pelan. "Benar! Pembatalan sepihak itu adalah penghinaan bagi keluarga kami! Jika Mahendra Group tidak bisa memberikan kejelasan, kami akan menarik seluruh rantai pasok logistik kami dari proyek strategis di koridor timur!"
Beberapa direktur senior mulai berbisik, menyuarakan kekhawatiran mereka atas potensi kerugian bernilai triliunan rupiah jika aliansi itu benar-benar hancur. Mereka menatap Arkan, menunggu pembelaan dari sang CEO tiran.
Arkan bersandar pada kursi kulit mewahnya, menyatukan jemarinya di atas meja dengan sikap yang sangat tenang. Sebuah senyuman sinis, sangat tipis, terukir di sudut bibirnya.
"Kerugian?" Arkan mendengus pelan, sebuah tawa meremehkan yang membuat ruangan kembali senyap. "Baskara, tampilkan data audit keuangan Wijaya Corps kuartal terakhir di layar utama."
Baskara segera menekan tombol pada tabletnya. Detik berikutnya, layar proyektor raksasa di dinding ruangan menampilkan grafik dan angka-angka keuangan yang diberi tanda merah di beberapa bagian.
"Seperti yang Anda semua lihat," suara Arkan kembali terdengar, dingin dan tanpa ampun. "Wijaya Corps mengalami kebocoran anggaran sebesar dua belas persen pada proyek koridor timur akibat tata kelola internal mereka yang buruk. Pembatalan kerja sama yang saya lakukan semalam bukan tindakan emosional, melainkan langkah mitigasi risiko sebelum Mahendra Group ikut terseret ke dalam lubang kerugian yang lebih dalam."
Wajah Tuan Wijaya seketika memucat melihat data rahasia perusahaannya terpampang nyata di depan dewan direksi Mahendra Group. Dia menatap Arkan dengan tubuh yang gemetar karena terkejut.
Arkan berdiri dari kursinya, menumpu kedua tangannya di atas meja marmer, menunduk ke arah para anggota dewan dengan aura intimidasi yang pekat. "Aliansi keluarga melalui pernikahan hanyalah cara lama yang tidak efisien jika performa bisnisnya cacat. Saya memotong kerja sama ini demi menyelamatkan aset kita. Dan jika ada di antara kalian yang merasa keputusan saya salah... silakan jual saham kalian hari ini juga. Saya sendiri yang akan membelinya dengan harga pasar."
Pernyataan mutlak dan berani dari Arkan seketika membungkam seluruh ruangan. Tidak ada satu pun direktur atau pemegang saham yang berani bersuara. Mereka tahu betul, di bawah kepemimpinan Arkan yang berdarah dingin, keuntungan perusahaan justru meningkat pesat. Menjual saham mereka adalah kebodohan terbesar.
Nyonya Sofia mengepalkan tangannya di bawah meja, menyadari bahwa putranya telah mengantisipasi langkah politiknya dengan sangat matang. Dia kalah telak di dalam ruang rapat ini.
"Rapat selesai," ucap Arkan datar. Dia memutar tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan ruang rapat utama, diikuti oleh Baskara yang membawa kemenangan mutlak bagi sang CEO.
Sementara itu, di penthouse lantai tiga puluh enam, Viona sedang duduk di tepi ranjang besar. Pagi ini, dua pelayan wanita mengantarkan sarapan mewah ke kamarnya, namun dia tidak menyentuhnya sama sekali. Pikirannya dipenuhi oleh kecemasan tentang ibunya yang dipindahkan secara sepihak ke rumah sakit di Bogor.
Ponsel khusus penthouse yang terletak di atas meja ruang tengah mendadak berdering nyaring. Viona tersentak, lalu berjalan perlahan keluar dari kamar untuk mengangkatnya. Dia mengira itu adalah panggilan dari Arkan yang ingin mendiktenya lagi.
Namun, begitu dia menempelkan gagang telepon ke telinganya, suara yang terdengar bukanlah suara bariton Arkan, melainkan suara wanita paruh baya yang sangat dia kenali ketegasannya.
"Viona," panggil Nyonya Sofia dari seberang telepon.
Tubuh Viona seketika menegang, rasa takut kembali merayapi tengkuknya. "Nyo... Nyonya Mahendra?"
"Putraku mungkin baru saja memenangkan pertempuran di ruang sidang direksi hari ini, Gadis Kecil," ucap Nyonya Sofia dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan racun kebencian yang pekat. "Dia merobek cekku dan mengancam aliansi bisnisku demi menahanmu di sisinya. Tapi jangan mengira kau sudah menang."
Viona meremas gagang telepon dengan tangan yang mendadak dingin. "Saya tidak pernah ingin menang, Nyonya. Saya sudah memohon pada Tuan Arkan untuk melepaskan saya, tapi dia yang menolak..."
"Aku tidak peduli dengan alasanmu," potong Nyonya Sofia kejam. "Arkan telah dibutakan oleh obsesinya padamu hingga dia berani menentang ibunya sendiri. Karena dia menolak menyingkirkanmu, maka aku sendiri yang akan menggunakan caraku. Aku tahu ibumu dipindahkan ke Bogor hari ini. Jangan mengira tim keamanan Arkan bisa melindunginya selamanya dariku. Jika kau ingin ibumu tetap bernapas besok pagi, temui aku di kafe Le Petit siang ini jam satu. Sendiri."
Klik. Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Nyonya Sofia, meninggalkan Viona yang terpaku di tempatnya dengan tubuh yang gemetar hebat karena rasa takut yang luar biasa ngeri.
Ancaman itu kembali datang, dan kali ini sasarannya adalah nyawa ibunya yang sedang sekarat di atas ranjang rumah sakit. Viona tahu dia tidak memiliki waktu banyak. Dia harus keluar dari penthouse ini sekali lagi, meskipun dia tahu amukan Arkan yang jauh lebih mengerikan sedang menantinya jika pria posesif itu tahu dia kembali melanggar perintah.
Pukul 12.45 siang, Viona berhasil keluar dari penthouse setelah membohongi pengawal luar dengan alasan yang sama seperti di Singapura—perlu membeli keperluan medis darurat di apotek bawah gedung. Dia menumpang taksi menuju kawasan Menteng dengan jantung yang berdegup liar sepanjang perjalanan.
Begitu melangkah masuk ke dalam kafe Le Petit, suasana tampak sangat sepi karena Nyonya Sofia telah menyewa seluruh area privat di lantai dua. Viona melangkah naik ke lantai atas dengan kaki yang terasa amat berat.
Di sudut ruangan yang menghadap ke jalan raya, Nyonya Sofia duduk dengan anggun sambil menyesap teh kamomilnya. Di sampingnya, berdiri dua pengawal pribadi bertubuh tegap dengan setelan jas hitam.
"Duduk, Viona," perintah Nyonya Sofia tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat dingin.
Viona mendudukkan diri di kursi seberang meja, meremas jemarinya yang sedingin es di atas pangkuannya. "Apa yang Anda inginkan dari saya, Nyonya Besar? Saya benar-benar tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawan putra Anda."
Nyonya Sofia meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi dentingan halus yang mematikan. Dia menatap Viona dengan pandangan merendahkan yang sangat pekat. "Aku tahu kau tidak punya kekuatan, karena itu aku memberikanmu kekuatan ini. Di dalam tas ini, ada paspor baru atas namamu, tiket penerbangan ke Swiss yang akan berangkat malam ini jam delapan, dan sebuah surat pernyataan pembatalan kontrak yang sudah ditandatangani oleh tim hukum pribadiku."
Nyonya Sofia mendorong sebuah tas jinjing kecil ke hadapan Viona. "Ibumu sudah berada di dalam ambulans khusus milik jaringanku sekarang. Dia sedang dalam perjalanan menuju bandara untuk diterbangkan ke klinik spesialis terbaik di Swiss. Kau hanya perlu melangkah masuk ke dalam mobil yang sudah kusiapkan di bawah, pergi ke bandara, dan jangan pernah menginjakkan kakimu di Asia lagi."
Viona menatap tas itu dengan napas yang tercekat di tenggorokan. Ini adalah kebebasan yang dia impikan, namun cara Nyonya Sofia yang ekstrem membuatnya menyadari satu hal: dia sedang dipaksa menjadi buronan dari sang tiran, Arkan Mahendra.
"Bagaimana... bagaimana jika Tuan Arkan menemukan kami di sana?" tanya Viona dengan suara yang bergetar hebat karena ketakutan.
"Di Swiss, jaringanku jauh lebih kuat daripada jaringan bisnis Arkan," jawab Nyonya Sofia dengan keyakinan aristokratnya yang angkuh. "Pilihannya ada di tanganmu, Viona. Ikut denganku malam ini dan selamatkan ibumu, atau tetap tinggal di sini menjadi mainan Arkan sampai kau hancur berkeping-keping karena amukanku."
Belum sempat Viona menyentuh tas tersebut atau memberikan jawaban, suara langkah kaki yang sangat cepat dan berat terdengar menggema dari arah tangga kayu kafe.
Pintu area privat di lantai dua itu didorong terbuka dengan sentakan yang sangat keras hingga membentur dinding.
Arkan Mahendra berdiri di sana. Pria itu tampaknya langsung datang dari kantor pusat begitu mendapatkan laporan bahwa Viona menghilang dari penthouse. Wajah tampannya kini sepenuhnya tertutup oleh topeng kegelapan amarah dan cemburu yang luar biasa ekstrem. Sepasang mata elangnya berkilat merah laksana iblis yang siap membumihanguskan apa saja yang berani menyentuh atau membawa pergi wanitanya.
"Ibu..." suara bariton Arkan menggelegar rendah di keheningan kafe, sarat akan getaran tiran yang sangat mematikan. Dia melangkah maju, mengabaikan dua pengawal pribadi ibunya yang langsung bersiap menghalanginya. Dengan satu tatapan tajam dari Arkan, kedua pengawal itu langsung gentar dan mundur selangkah.
Arkan berhenti tepat di samping meja, menatap ibunya dengan kilat pengkhianatan yang pekat sebelum tatapannya terkunci mati pada figur Viona yang sudah menangis histeris karena ketakutan yang luar biasa ngeri. Pria posesif itu mencengkeram lengan Viona dengan sentakan yang sangat kuat, menarik tubuh ramping gadis itu hingga berdiri di sampingnya dalam satu gerakan kasar.
"Berani-beraninya kau mengabaikan perintahku lagi, Viona?!" desis Arkan tepat di depan wajah pucat Viona, suaranya bergetar hebat oleh amarah yang meledak di dalam dadanya. "Berani-beraninya kau datang menemui ibuku untuk merencanakan pelarian ini di belakangku?!"
"Tuan Arkan, tidak! Ibu saya diancam!" jerit Viona di tengah tangisnya, mencoba melepaskan cengkeraman tangan baja Arkan yang kian menjepit tulang lengannya.
Arkan tidak mendengarkan pembelaan itu lagi. Kewarasannya telah runtuh sepenuhnya melihat tas berisi paspor dan tiket di atas meja. Dia menoleh ke arah ibunya dengan pandangan membunuh yang sangat pekat. "Aku sudah memperingatkanmu kemarin, Ibu. Mulai detik ini, aku menarik seluruh investasiku dari yayasanmu, dan aku bersumpah tidak akan membiarkan Ibu menginjakkan kaki di gedung Mahendra Group lagi selamanya."
Tanpa menunggu balasan dari Nyonya Sofia yang terpaku terkejut, Arkan langsung menyeret tubuh Viona keluar dari area privat kafe dengan paksa, membawa wanitanya kembali masuk ke dalam sangkar emas yang kini jerujinya telah berubah menjadi jauh lebih tebal, rapat, dan mematikan bagi sisa hidup dan jiwa mereka berdua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.