Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Sebenarnya...
Seberapa pandai kita menyembunyikan bangkai, baunya pasti akan tercium juga...
***
"Mas..."
Usapan di pundak Rendra membuat pria itu tersentak kaget.
"Ha? Ada apa?"
"Kamu kenapa? Sejak Reynald dipindahkan ke kamar rawat, sikap kamu kok jadi aneh."
Rendra membenahi posisi duduknya. "Aneh gimana? Aku hanya ... panik karena Reynald sakit."
"Apa kamu memikirkan alergi Reynald? Menurut dokter, masih bisa terjadi karena kamu dan Reinhart kan saudara seayah. Kamu jangan khawatir, Mas." Raisa mencoba menenangkan Rendra.
Rendra mengangguk sebagai jawaban.
"Sebaiknya kita istirahat. Reynald juga sudah tidur," ajak Raisa.
"Iya, kamu masuk dulu ke kamar nanti aku menyusul."
Raisa berjalan masuk ke kamar tunggu untuk keluarga pasien. Kamar kelas VVIP ini sengaja di desain agar keluarga pasien bisa nyaman menunggui pasien yang sakit. Tentu saja harga permalam kamar rawat ini tidaklah murah. Namun, karena ini milik keluarga, jadi Rendra bebas menggunakan fasilitas ini.
Rendra masih duduk di sofa sambil mengusap kasar wajahnya. Hatinya resah mengetahui jika Reynald memiliki riwayat alergi seperti Reinhart.
"Meski masih ada kemungkinan kalau alergi Reynald karena keturunan, tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Aku harus cari obat penawar ampuh yang membuat Reynald gak mengalami alergi lagi. Jadi, diagnosa dokter tadi bisa dibilang salah atau keliru. Dan Reynald akan dinyatakan sebagai anak biologisku seutuhnya. Aku harus bertindak cepat sebelum Kakek curiga dengan hal ini. Tadi saja Kakek yang menemukan kalau alergi Reynald sama dengan yang dialami Reinhart. Gak! Aku gak akan biarkan siapapun tahu semua ini, sebelum semua rencanaku berhasil untuk jadi pemegang kekuasaan utama harta keluarga Kramawijaya," tekad Rendra dalam hati.
Keesokan harinya, Rendra menemui Reno. Beruntung Rendra langsung bertemu Reno saat pria itu baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Rendra? Ada apa?" tanya Reno heran yang melihat wajah panik Rendra.
"Reno, kamu harus bantu aku lagi."
"Hmm? Bantu apa?" Reno masih bingung dengan maksud Rendra.
"Reynald mengalami alergi yang sama dengan Reinhart. Kamu harus bantu carikan penawar alergi ini, Ren."
Dahi Reno mengerut dalam. "Maksudnya? Ceritakan yang jelas dong."
Rendra mengembus napas kasar. Mereka berdiri berhadapan di lorong rumah sakit yang cukup sepi. Meski begitu, Rendra memastikan kondisi sekitar dengan celingukan ke kanan dan kiri.
"Reynald sakit. Dia lagi dirawat disini. Dan dokternya bilang kalau Reynald mengalami alergi. Trus Kakek Raka bilang kalau alergi yang dialami Reynald sama dengan alergi yang dialami Reinhart. Aku harus cari obat penawar alergi ini, Ren."
Reno mulai paham dengan arah pembicaraan Rendra. "Rendra, kamu tau sendiri kalau obat alergi gak bisa bekerja selamanya. Mereka hanya menangkal dalam kurun waktu tertentu aja. Dan salah satu cara yang ampuh ya ... Reynald harus menghindar dari apa yang membuatnya alergi."
"Tapi, aku takut kalau Kakek sampai curiga."
Reno menggeleng pelan. "Kalau kamu bersikap normal, gak akan ada orang yang curiga. Raisa gimana? Dia bilang apa soal ini?"
Rendra mengedikkan bahu. "Raisa percaya dengan diagnosa dokter karena aku dan Reinhart masih saudara satu ayah. Kemungkinan masih bisa menurun karena genetik."
Reno menjetikkan jari. "Nah itu dia! Bersikaplah seperti Raisa yang menganggap semuanya hanya masalah genetik. Oke?"
Rendra mengangguk paham.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ingat, sebentar lagi adalah hari penetapan kamu jadi penguasa tertinggi bisnis Grup Kramawijaya kan? Kamu fokus aja kesitu. Jangan terdistraksi oleh hal kecil begini."
Rendra mencoba mengulas senyum meski masih terasa berat. "Thanks ya, Ren. Aku cuman panik aja tadi."
"It's okay." Reno menepuk-nepuk pelan punggung Rendra.
Tanpa mereka berdua ketahui, rupanya sejak tadi Ridha menguping pembicaraan Reno dan Rendra. Rencananya akan menemui Reno, tapi ternyata ia malah mendengar hal lain.
"Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Kamu dan Raisa sudah banyak melakukan kebohongan, Rendra. Entah kapan semua ini akan terbongkar." Ridha memejamkan mata. Sungguh kini ia menyesal telah bersedia membantu Raisa untuk memanfaatkan Anisa.
"Ya Tuhan, bagaimana kabar Anisa dan putrinya sekarang? Aku selalu berdoa agar kalian baik-baik saja dimanapun kalian berada."
*
*
*
"Bagaimana, Romi? Apa kamu sudah temukan dimana Reinhart?" Raka bertanya pada asisten kepercayaannya.
Romi meletakkan selembar kertas di atas meja. "Tuan Muda Reinhart terpantau pergi ke kota terpencil."
"Hmm?" Raka mengambil kertas itu lalu membacanya. "Apa yang dia lakukan di sana?"
"Tuan Muda bekerjasama dengan Dokter Boy Avicenna. Sepertinya ada misi sosial di desa yang bernama 'Selimut'."
Raka tak lagi bertanya. Ia membiarkan cucu bungsunya untuk melakukan semua yang diinginkan setelah mereka berdebat penuh ketegangan lima tahun lalu. Raka tak lagi memaksakan kehendaknya dan membebaskan Reinhart memilih jalan hidupnya sendiri.
"Baiklah, kamu boleh pergi."
Romi membungkuk hormat kemudian keluar dari ruang kerja Raka. Di luar ruangan, Rindi melihat Romi baru saja menemui ayah mertuanya.
"Ada apa Papa memanggil Pak Romi kemari?" Rindi bermonolog. "Ah biarkan saja. Aku harus ke rumah sakit untuk menjenguk cucuku." Rindi menemui Raka terlebih dulu untuk berpamitan.
Di tempat berbeda dengan jarak yang cukup jauh membentang, Reinhart baru saja tiba di tempat yang baru. Seorang pria paruh baya menyambut kedatangannya.
"Selamat datang, Pak Dokter Reinhart. Perkenalkan, saya Rizal. Saya yang akan memandu Pak Dokter selama ada di desa sesuai dengan arahan Dokter Boy."
Reinhart mengangguk. "Iya, Pak. Salam kenal juga ya." Reinhart menyalami Pak Rizal.
"Mari, Pak Dokter. Mobil jemputan sudah menunggu. Untuk menuju ke desa Selimut butuh waktu sekitar enam jam dari sini."
"Wah lama juga ya."
"Pak Dokter bisa tiduran dulu di mobil nanti."
Reinhart mengangguk. "Oke lah. Kebetulan saya juga capek."
Mobil mulai melaju membelah jalanan kota kecil yang didatangi Reinhart kali ini. Sejak kepergian Anisa lima tahun lalu, Reinhart memilih untuk bekerja amal dan berkeliling dari satu kota ke kota lain. Niatnya sih untuk melupakan cintanya pada Anisa. Namun, sejauh apapun ia pergi, nyatanya sosok Anisa terus melekat dihati dan pikirannya. Bahkan sosok Renata yang selalu setia menunggunya tak mampu menggantikan Anisa dihatinya.
Reinhart menguap merasakan kantuk mulai menyerang. Samar-samar ia ingat percakapannya dengan Boy dan Aleya sebelum memutuskan untuk pergi ke desa Selimut. Konon katanya, desa itu selalu tertutup kabut yang menyelimuti desa, makanya dinamakan Desa Selimut, desa yang berselimut kabut.
"Pak Dokter mau minum?" tawar Pak Rizal sambil menyodorkan sebotol air mineral untuk Reinhart.
"Oh, iya. Terima kasih, Pak. Panggil Reinhart aja, Pak. Gak perlu terlalu formal."
Pak Rizal mengangguk. "Sepertinya Nak Reinhart ini seumuran sama anak saya."
Reinhart mengulas senyum. "Saya baru tiga puluh tahun bulan kemarin."
"Oh ya sama persis kayak anak saya. Tapi, sayangnya anak saya sudah jadi duda sejak dua tahun lalu. Nak Reinhart ini masih lajang ya?"
Reinhart tersenyum sebagai jawaban.
"Masa tampan begini kok belum dapat jodoh sih?"
"Jodoh saya masih abu-abu, Pak. Inginnya sama dia, tapi dia kayaknya gak mau sama saya."
Pak Rizal malah tertawa. "Nak Reinhart ini ada-ada saja. Semoga saja Nak Reinhart segera ketemu jodohnya."
"Aamiin."
Reinhart kembali menatap jalanan yang sudah mulai masuk ke daerah terpencil. Mendengar ucapan Pak Rizal membuat Reinhart ingat dengan ucapan Aleya, istri Boy.
"Semoga nanti kamu di sana dapat jodoh ya. Asal kamu tahu, pertemuan pertama Om dan Tante adalah di Desa Selimut. Saat Om Boy membangun klinik untuk pertama kali disana."
"Maksudnya klinik yang mau di renovasi ini, Tante?"
Aleya mengangguk. "Iya. Klinik itu seperti tanda bukti cinta kami. Semoga kamu juga bisa menemukan cinta sejati kamu di sana."
Reinhart tersenyum kecut mengingat percakapannya dengan Aleya itu.
"Aku hanya mau Anisa. Hanya dia. Entah dimana kamu berada sekarang, Anisa. Aku akan tetap menunggu kamu seperti janjiku dulu."
Reinhart memejamkan mata memulai perjalannya ke alam mimpi. Inginnya sih mimpi bertemu Anisa.
"Anisa..." gumam Reinhart di alam bawah sadarnya.
Pak Rizal hanya tersenyum simpul mendengar gumaman Reinhart. "Sepertinya dia sudah punya seseorang yang dicintai."
"Anisa..."
"Hmm? Anisa?" Dahi Pak Rizal berkerut. "Kok namanya sama ya? Apa mungkin hanya kebetulan saja?"
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸