First
Mana yang harus kamu pilih? Keluarga besar mu atau pria yang sudah mencuri hatimu? Rain Reeves tidak menyangka pertemuannya kembali dengan Elang, teman masa kecilnya, membuat nyawanya hampir melayang membuat keluarga besarnya menentang hubungannya dengan pria itu.
Bonchap
Arjuna, pria tampan putra Elang dan Rain harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudah membuat skandal yang mencoreng nama baik keluarga besarnya. Namun yang lebih dia pentingkan adalah meyakinkan wanita yang menjadi ibu sambung putranya agar mau menerimanya supaya dia bisa membawa putranya menjadi bagian keluarga besarnya.
Storynya full halunya author.
Disarankan untuk membaca semua novel author karena saling berkaitan.
Follow Ig hana_reeves_nt
Thank you SHINee buat nemenin bikin novel ini... winter Wonderland
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rain
Rain menatap Elang dengan hati remuk redam apalagi kedua kakaknya memberikan semua data dan berkas yang tidak bisa dibantah. Rain melihat kedua kakaknya tangannya sudah bersiap dengan pistol di tangan.
Semua anak perempuan Keluarga besar bisa menembak termasuk Rain dan dia melihat Abang Duncan dan Abang Joshua sudah menyiapkan pistol PPK yang biasa dipakai James Bond di balik sweater yang mereka pakai. Rain melihat sekilas keduanya memakai rompi anti peluru.
Mereka sudah persiapan.
"Jeremy" ucap suara bariton Duncan.
"Duncan Blair. Joshua Akandra." Elang membalas ucapan Duncan.
"Ada acara apa kamu ke toko adikku?" tanya Duncan.
"Apa salah kalau aku menemui kekasihku?"
"AAAPPAA?" seru Joshua yang ditahan Duncan.
"Benarkah itu Rain?" tanya Duncan.
"Nggak bang. Aku belum memberikan jawaban waktu Elang nembak aku kemarin" jawab Rain apa adanya.
Duncan menatap kembali ke Elang. "Adikku bilang kamu bukan kekasihnya, kok bisa membual begitu Mr McCloud?"
Joshua berdiri dan pindah ke tempat duduk di sebelah Rain seolah memberikan perlindungan untuk adiknya.
"Kalian membawa PPK ?" kekeh Elang. "Dan Glock di balik belakang celana kalian."
"Dan kau membawa SIG di belakangmu" ucap Duncan.
"Wah Mr Blair. Ternyata selama ini kamu menahan darah mafiamu, sama dengan dirimu Mr Akandra atau boleh aku bilang Joshua Kim?"
"Bravo! Kau tahu banyak tentang kami" sindir Joshua dengan wajah sinis.
"Aku harus tahu siapa yang akan menjadi iparku" senyum Elang dengan pedenya. Pria bule itu masih dengan posisi berdiri di hadapan tiga saudara sepupu itu.
"Kamu bermimpi untuk bisa menjadi bagian keluarga kami!" hardik Joshua.
"Hohoho, aku sudah bertekad dengan atau tidak adanya restu dari keluarga besar kalian, aku tetap akan memiliki Rain, karena hanya aku, Elang yang pantas untuk Rain!"
"Siapa juga yang mau denganmu? Pembunuh!" teriak Rain dengan menangis.
Elang terkejut melihat wajah terluka Rain yang semula ketutup oleh dada bidang Joshua.
"Rain, please sayang. Aku benar-benar mencintaimu" suara Elang berbeda jika berbicara dengan Rain. "Please sayang. Aku akan wujud kan keinginan mu seperti Winter Wonderland impianmu."
"Aku tidak mau! Kamu pembunuh berdarah dingin! Bahkan bang Gozali hampir mati karenamu!" bentak Rain.
"Rain..."
"Pergilah Jeremy, sebelum kami berubah pikiran untuk memanggil aparat kepolisian" ucap Duncan melunak.
"Tidak! Aku mau berbicara dengan Rain."
"Aku yang tidak mau berbicara dengan mu! Pergi lah Lang! Kembali ke duniamu! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" Joshua memeluk Rain yang hampir histeris.
"Tenang lah Rain. Sssttttt ada Abang disini" bisik Joshua.
"Jauhkan tangan mu dari Rainku!" Elang maju beberapa langkah hendak menyingkirkan tangan Joshua.
"Kamu maju lagi, nyawamu melayang!" Duncan langsung menodongkan senjata nya ke arah Elang.
"Pergilah Jeremy. Jauhi Rain. Sebelum kami berubah pikiran!" desis Joshua yang mendekap adiknya yang nangis sesenggukan.
Elang menatap sendu ke arah Rain yang tidak mau menatapnya.
"Kami masih berbaik hati Jeremy. Entah jika Gozali bertemu dengan mu." Duncan menatap tajam mata hazel itu.
Elang menatap Joshua dan Duncan bergantian lalu menatap Rain.
"Aros i mi Glaw. byddaf yn ôl" ucapnya lirih.
( Tunggu aku Rain. Aku akan kembali )
"Dim ond mynd! Peidiwch â dod yn ôl!" sahut Duncan.
( Pergilah! Jangan pernah kembali )
Elang pun pergi meninggalkan ketiga bersaudara sepupu itu.
Rain menumpahkan semua isi hatinya yang terluka mengetahui siapa Elang sebenarnya.
"Aku nggak tahu Abang, aku benar-benar tidak tahu latar belakangnya. Aku hanya tahu SMP dia pindah ke Inggris dan kuliah di Cambridge."
Duncan memeluk Rain sayang.
"Ikuti saran Abang, Rain. Pergilah jauh-jauh dari Jakarta. Abang dan bang Joshua akan membicarakan hal ini ke Oom Ryu dan Tante Giselle."
"Aku harus kemana bang? Tempat yang tidak ada radar dari mafia macam dia?"
"Solo?" tanya Joshua.
"Ada Oom Yudhi dan Oom Rudy tapi terlalu beresiko apalagi Jeremy tahu betul kita siapa."
"Jangan ke Eropa. Klan mereka banyak tersebar disana, jangan ke Tokyo juga."
Duncan dan Joshua masih bingung harus menyembunyikan Rain dimana. "Kita harus bicarakan dengan Oom Ryu dan Tante Giselle dulu."
"Kamu nggak ketemu Oom Abi dan Tante Dara?" tanya Joshua.
"Kalau aku datang sendiri tanpa Rey, mama pasti tahu aku datang karena urusan Gozali dan aku tidak mau membuat Mama tensinya naik."
"Kita ke Gozali saja dulu. Siapa tahu dia punya ide."
"Rain, panggil semua pegawai mu. Sementara kamu harus pergi dan serahkan toko kue ini kepada mereka dulu. Soal gaji dan operasional, kirim rutin seperti biasanya."
"Baik bang." Rain menelpon Tini dan meminta mereka semua masuk ke toko. Rain memberitahukan bahwa ada urusan keluarga yang membuatnya harus pergi keluar negeri sementara waktu. Setelah brifing sebentar, Rain pun pergi bersama Joshua dan Duncan masuk ke dalam mobil Innova. Jimmy sudah siap di balik kemudi.
Joshua duduk di depan bersama Jimmy, sedangkan Duncan dan Rain di kursi tengah. Beberapa saat keluar dari ruko masuk ke jalan raya, ketiga pria disana sudah merasakan sesuatu.
"Kita dibuntuti." Jimmy yang melihat dua buah mobil Range Rover berada di belakang Innova mereka.
"Kebut Jim, cari kantor polisi terdekat!" perintah Joshua.
Jimmy langsung menginjak gas dalam-dalam, sedangkan Duncan dan Rain segera memakai sabuk pengaman.
"Bang, kasih Glock nya" pinta Rain.
Duncan memberikan Glock nya sedangkan Joshua membuka laci dashboard mengambil SIG nya untuk diberikan kepada Jimmy.
Rain mengkokang senjatanya dan membuka kunci pengaman dan bersiap-siap. Duncan menyiapkan dua PPK di tangan sedangkan Joshua selain PPK di tangan kiri, tangan kanan dia memegang Glock juga.
Range Rover berwarna abu-abu segera menyalip Innova yang dikemudikan oleh Jimmy namun sopir itu dengan lincah bisa menghindari mobil itu. Beruntung ini hari Sabtu jadi jalanan agak lengang.
Kebut-kebutan pun terus berlanjut dan Joshua sudah emosi tidak menemukan pos polisi.
"Kita habisi saja D!" Joshua membuka kaca jendelanya dengan seatbelt dibuat kencang, dia membidik mobil Range Rover itu.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan dari masing-masing dua pistol Joshua berhasil membuat dua ban belakang mobil mewah itu kempes dan mengalami selip.
Joshua menutup jendelanya lagi.
"One down one to go!"
Suara tembakan terdengar dari sisi kanan yang hampir mengenai Rain, beruntung peluru mengenai kaca belakang. Rain membuka jendela dan langsung melepaskan tembakan yang tepat mengenai penembaknya. Mobil Range Rover hitam itu sempat oleng.
"Good Rain!" puji dua Abangnya.
Range Rover hitam itu masih berusaha mengejar Innova yang sudah berantakan terkena tembakan.
"Boss! Mereka menembak grenade launcher!" teriak Jimmy yang melihat dari spion mobil.
"FU***!!! Menghindar Jim!" Joshua berteriak. "Kantor polisi di depan. Segera belok Jim!"
Belum sempat Jimmy berbelok, grenade launcher itu ditembakkan dan masuk ke dalam mobil melalui kaca belakang yang pecah.
Grenade yang diluncurkan adalah gas tidur dan asap membuat Jimmy oleng menyetirnya dan mobil itu menabarak pembatas jalan hanya beberapa meter dari kantor polisi. Innova itu pun terpelanting dan berguling dengan posisi miring. Jimmy pingsan setelah kepalanya terbentur setir sebelum kantong udara muncul.
Joshua dan Duncan yang masih agak sadar berusaha melepaskan diri dari sabuk pengaman ketika melihat orang-orang berbaju hitam seperti tentara khusus datang untuk membuka paksa pintu dimana Rain pingsan. Orang-orang itu segera membebaskan Rain dari belitan seatbelt.
"Hei! Hei! Mau dibawa kemana adikku!" teriak Duncan dengan lemas. Darah mengalir dari kepalanya.
Joshua berusaha fokus untuk menembak namun dirinya juga tidak lebih baik dari Duncan.
"Heeiii!" teriak Joshua dengan suara lemah.
Orang-orang itu menarik Rain dan menyerahkan kepada orang yang memakai topeng elang.
"Adikmu aku bawa!" ucapnya sambil menggendong Rain seperti bridal style.
Duncan merasa lemas tidak bisa bangun, sedangkan Joshua semakin kehilangan kesadarannya.
Brengseeeekkkk!
Bersambung di My Rey Chapter 49
***
Sorry kalau nggak seru 😁😁😁
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
reread yang ke sekiannnnn