"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Almeera berkali-kali membenarkan posisi kerah gaun rajut berwarna peach yang dipaksakan mamanya untuk ia pakai malam ini. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Gaun itu terlalu feminin, bahunya terasa kaku, dan ia merindukan kaos hitam longgar bergambar tengkorak serta celana jin robeknya.
"Al, berhenti cemberut. Lipstik kamu bisa retak nanti," tegur Mama dari arah dapur sambil membawa mangkuk berisi sup iga hangat.
Papa yang sedang duduk di meja makan sambil membaca koran digital di ponselnya hanya terkekeh. "Anak gadis Papa sekali-sekali tampil cantik begini, dong. Masa setiap hari penampilannya mirip tukang pukul pasar."
"Pa, Al ini drummer, bukan tukang pukul!" gerutu Almeera sambil menghempaskan dirinya ke kursi makan. Ia melirik jam dinding. Sudah jam tujuh malam lewat. "Sebenarnya tamu penting siapa sih, Ma? Sampai Al harus dandan kayak mau kondangan begini?"
"Teman lama Papa sama Mama, Al. Dulu waktu kuliah, kami sering susah senang bareng. Sekarang mereka baru pindah lagi ke Jakarta," jawab Mama sambil menata piring-piring porselen terbaik yang biasanya hanya keluar setahun sekali saat Lebaran. "Nah, itu mereka datang!"
Suara bel rumah berbunyi. Papa langsung berdiri dengan wajah berseri-seri, melangkah lebar menuju pintu depan untuk menyambut tamu mereka. Mama menyusul di belakang, meninggalkan Almeera sendirian di meja makan.
Almeera menghela napas, menyandarkan dagunya di punggung tangan. Di kepalanya, melodi lagu Melompat Lebih Tinggi masih berputar-putar, bersahut-sahutan dengan bayangan senyum miring Akram yang tadi siang sukses merusak suasana hatinya. Mengingat cowok itu membuat Almeera reflek menusuk-nusuk potongan wortel di piringnya dengan garpu. Awas aja lo besok di sekolah, Kram. Gue kempesin ban motor lo.
Dari arah ruang tamu, terdengar suara tawa bariton pria yang saling bersahutan, disusul suara pekikan heboh khas ibu-ibu yang sedang melepas rindu.
"Ya ampun, Jihan! Kamu nggak berubah ya, tetap awet muda!" suara Mama terdengar antusias.
"Bisa aja kamu, Ratna. Eh, ini anak laki-laki aku. Sini, Nak, salaman sama Om dan Tante."
Almeera memutar bola matanya malas. Ah, paling anak cowok cupu berkacamata yang bakal sibuk sama dunianya sendiri, batinnya prasangka.
Langkah kaki terdengar mendekati ruang makan. Almeera terpaksa menegakkan tubuhnya, memasang senyum formal paling ramah yang bisa ia paksakan di wajahnya. Pintu ruang makan terbuka. Papa dan Mama masuk terlebih dahulu, diikuti oleh sepasang suami istri paruh baya yang berpenampilan sangat elegan.
Dan tepat di belakang mereka, muncul seorang cowok.
Cowok itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak hitam-merah yang kancing atasnya dibuka santai, dipadukan dengan celana jins gelap. Rambutnya yang tadi siang agak berantakan karena angin aula, kini tertata rapi. Wangi parfum mint yang sangat familier langsung menyergap indra penciuman Almeera.
Senyum formal di wajah Almeera langsung membeku. Matanya membelalak sempurna. Garpu di tangan kanannya nyaris terlepas.
Cowok itu juga sedang melangkah masuk dengan senyum sopan di bibirnya. Namun, begitu matanya menangkap sosok Almeera yang duduk di ujung meja, langkahnya terhenti seketika. Mata hitamnya melebar, ekspresi santai dan percaya dirinya runtuh dalam hitungan detik.
"Lo?!" Almeera berdiri dari kursinya begitu cepat hingga kursi itu berderit nyaring di atas lantai keramik. Jarinya menunjuk langsung ke arah cowok itu.
"Almeera?" Akram mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang bermasalah akibat terlalu lama membaca proposal OSIS.
"Lho, kalian sudah saling kenal?" Papa Almeera menoleh bergantian ke arah putri dan anak temannya dengan wajah heran.
Mama Akram—Tante Jihan—tersenyum lebar, tampak sangat gembira. "Wah, bagus dong kalau sudah kenal! Kalian satu sekolah, kan? Akram sering cerita tentang sekolahnya, tapi dia nggak pernah bilang kalau satu sekolah sama anak kamu, Ratna."
Almeera masih mematung, otaknya mendadak macet total. Dari jutaan remaja laki-laki di kota Jakarta, kenapa harus makhluk menyebalkan ini yang berdiri di ruang makannya?
Sementara itu, Akram dengan cepat menguasai keterkejutannya. Sudut bibirnya perlahan merayap naik, membentuk senyuman tipis yang sangat dikenal Almeera sebagai sinyal bahaya. Cowok itu maju selangkah, menunduk sopan ke arah orang tua Almeera. "Iya, Om, Tante. Kami satu sekolah. Bahkan sering... interaksi di sekolah."
Interaksi katanya?! Berantem, bego! Almeera menjerit dalam hati, matanya mendelik tajam pada Akram, mengirimkan sinyal ancaman pembunuhan lewat tatapan mata. Namun Akram justru membalasnya dengan kedipan mata jail yang tak terlihat oleh orang tua mereka.
"Ya sudah, ayo duduk-duduk. Kita makan dulu sambil ngobrol," ajak Papa Almeera ramah.
Posisi duduk malam itu benar-benar menjadi malapetaka bagi Almeera. Akram duduk tepat di hadapannya. Setiap kali Almeera mengangkat sendok, ia terpaksa harus melihat wajah cowok itu yang sedang mengunyah sup dengan gaya sok anggun. Beberapa kali Akram sengaja menatap Almeera sambil menaikkan sebelah alisnya, memamerkan ekspresi mengejek yang membuat Almeera ingin sekali menyiramkan kuah sup iga panas ini ke kepala Akram.
"Jadi," Papa Akram membuka suara setelah hidangan utama hampir habis, suaranya terdengar tenang namun berwibawa. "Hendra, Ratna... karena anak-anak kita sepertinya sudah saling kenal dan tidak canggung lagi, bagaimana kalau kita langsung bicarakan tujuan utama pertemuan malam ini?"
Almeera menghentikan kunyahannya. Perasaan tidak enak mendadak menyergap dadanya. Ia melirik Akram, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat guratan ketegangan yang sama di wajah cowok itu.
Mama Almeera tersenyum manis, meraih tangan Almeera dan mengelusnya lembut. "Al... kamu ingat kan, dulu waktu kamu masih kecil, Papa dan Om Baskoro pernah membuat sebuah janji?"
Almeera mengernyitkan dahi. "Janji apa, Ma? Janji mau ngasih Al set drum baru?"
Papa terkekeh, menggelengkan kepala. "Bukan, Sayang. Ini tentang masa depan kamu. Dan masa depan Akram." Papa menatap Akram dan Almeera bergantian dengan tatapan serius namun penuh kasih sayang. "Dulu, saat perusahaan keluarga kami berdua hampir bangkrut dan kami saling bahu-membahu menyelamatkannya, kami mengikat janji. Kami ingin persahabatan dan keluarga kami menyatu secara permanen."
Suasana di meja makan mendadak hening. Almeera bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang mulai berpacu cepat. Di seberang meja, Akram tampak menegakkan punggungnya, tangannya mengepal di atas lutut.
"Maksud Papa...?" suara Almeera mencicit, egonya yang biasa tinggi mendadak menciut.
"Kami ingin menjodohkan kalian berdua," ujar Om Baskoro, papa Akram, dengan nada final yang tidak menerima bantahan. "Kalian berdua akan menikah."
Hening.
Detik berikutnya, Almeera tersedak air liurnya sendiri hingga terbatuk-batuk hebat. Mama dengan sigap menyodorkan segelas air putih yang langsung ditenggak habis oleh Almeera.
Di seberang meja, Akram yang biasanya selalu punya seribu kata untuk membalas ucapan orang, kini hanya bisa melongo. Mulutnya sedikit terbuka, matanya menatap sang papa dengan tatapan tidak percaya. "Pa... ini bercanda, kan? Akram masih SMA. Akram masih Ketua OSIS. Dan... sama dia?!" Akram menunjuk Almeera dengan ekspresi horor yang tidak disembunyikan.
"Heh! Lo pikir gue mau sama lo?!" semprot Almeera, melupakan sopan santun di depan orang tua karena syok. "Ma, Pa, Al nggak mau! Al masih mau main band, masih mau kuliah! Lagian, dari semua cowok di dunia ini, kenapa harus si tukang cabut kabel ini sih?!"
"Almeera, jaga bicara kamu," tegur Papa dengan nada rendah yang tegas, membuat Almeera bungkam seketika. Papa memandang Akram. "Akram, Om tahu ini mengejutkan buat kalian. Tapi ini sudah keputusan mutlak dari kedua keluarga. Surat-surat dan semuanya sudah diurus. Pernikahan kalian akan dilangsungkan minggu depan. Secara agama dulu."
"Minggu depan?!" teriak Akram dan Almeera berbarengan. Suara mereka bersahutan, menggema di ruang makan yang mendadak terasa seperti ruang sidang.
Tante Jihan menghela napas, menatap putranya dengan pandangan memohon. "Akram, kesehatan Kakek kamu di Bandung makin menurun. Keinginan terakhir Kakek sebelum operasi besar bulan depan adalah melihat kamu, cucu laki-laki pertamanya, sudah memiliki pasangan hidup yang jelas dari keluarga yang kami percayai. Tolong, Nak... lakukan ini buat Kakek."
Akram tertegun. Kata-kata mamanya menghantam tepat di titik terlemahnya. Kakek adalah orang yang sangat ia hormati. Namun, menikah di usia tujuh belas tahun? Dengan Almeera Azzahra? Cewek galak yang hobi meneriakinya setiap hari di koridor sekolah? Ini adalah definisi dari mimpi buruk yang menjadi nyata.
Almeera memandang Akram, berharap cowok itu akan mengeluarkan argumen-argumen cerdasnya yang biasanya dipakai untuk mendebat guru atau anak-anak OSIS. Tapi, melihat Akram yang hanya diam menunduk dengan rahang mengeras, Almeera tahu... cowok itu kalah telak oleh alasan keluarga. Dan itu berarti, dirinya juga kalah.
"Tapi, Pa... sekolah gimana?" Almeera mencoba mencari celah terakhir. "SMA Bina Bangsa itu ketat banget. Kalau ketahuan ada siswanya yang menikah, kita berdua bisa dikeluarkan secara tidak hormat! Prestasi Akram sebagai Ketua OSIS bakal hancur, dan Al... Al nggak bakal bisa lulus!"
Papa Almeera tersenyum tipis, seolah sudah mengantisipasi pertanyaan itu. "Pernikahan ini akan dirahasiakan dari pihak sekolah. Hanya keluarga inti kita yang tahu. Di sekolah, kalian tetaplah Akram si Ketua OSIS dan Almeera si anak band. Tidak ada yang berubah. Kalian tinggal di rumah masing-masing dulu sampai lulus, baru setelah lulus kalian akan tinggal bersama."
Almeera menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Dunianya rasanya baru saja runtuh. Menikah rahasia dengan musuh bebuyutannya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa menyembunyikan hal sebesar ini di sekolah, terutama dari Sophia yang memiliki radar gosip setajam elang, dan anak-anak NOISE yang setiap hari bersamanya?
Ia melirik ke arah Akram. Cowok itu kini sedang menatapnya juga. Tidak ada lagi senyum menyebalkan, tidak ada lagi tatapan jail. Yang ada hanyalah sorot mata yang sama-sama frustrasi dan tak berdaya.
Malam itu, di bawah pendar lampu ruang makan yang hangat, sebuah kesepakatan tak tertulis namun mengikat resmi terjadi. Almeera dan Akram, dua kutub magnet yang selalu tolak-menolak, dipaksa untuk menyatu dalam sebuah ikatan suci yang sakral, sekaligus menjadi rahasia paling berbahaya dalam hidup remaja mereka.
Gue nikah... sama Tom (Nama karakter kucing di kartun Tom&Jerry) di sekolah gue? batin Almeera meratapi nasibnya, sementara sup iga di depannya mendadak terasa hambar sama sekali.